RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 33: Mengenang Seseorang


__ADS_3

Shen Yanzhia berjalan menyusuri taman sekitar Pavilun Timur dan Barat dengan langkah pelan. Netra matanya menatap sekumpulan bunga-bunga yang mulai bermekaran setelah beberapa bulan tertutup salju. Bunga-bunga itu adalah bunga-bunga yang ia tanam sendiri sebagai bentuk kemarahan dan hukuman dari Lin Zian.


Berbicara mengenai Lin Zian, pria itu sudah pergi selama beberapa minggu. Kepergiannya kali ini hanya diiringi oleh beberapa prajurit utusan istana dan beberapa kereta persediaan makanan dan pakaian. Pedati-pedati yang ditarik kuda itu seharusnya sudah sampai di perbatasan utara sekarang.


Pada sebuah lahan sempit yang dikelilingi bunga prem secara melingkar, Shen Yanzhia menghentikan langkahnya. Ia kemudian berjongkok dan meraih sebuah ranting kayu yang berada tak jauh dari tempatnya. Tanah basah yang kosong itu lalu ia gali hingga terbentuk sebuah lubang kecil. Dalam lubang kecil itu, Shen Yanzhia meletakkan beberapa tangkai benih bunga botan yang ia ambil dari halaman Istana Ruo Shui beberapa waktu lalu.


Setelah selesai dengan botan, Shen Yanzhia beralih ke pelataran tanah kosong yang lain. Di tanah kosong itu, ia menanam bunga lili. Beberapa saat kemudian, ia berjalan ke arah kolam air, memandang sekilas hamparan teratai yang bunganya masih kuncup. Dari atas permukaan air, Shen Yanzhia dapat melihat beberapa bayangan ikan-ikan koi sedang berenang dengan riang menyambut musim semi.


"Aku harus menanam lotus."


Shen Yanzhia lalu berjalan pergi ke arah Paviliun Timur. Di depan pintu kayu yang diukir hiasan naga dan harimau, Shen Yanzhia berhenti sejenak. Kemudian, pintu itu ia buka perlahan hingga menimbulkan decitan yang hanya dapat didengar oleh orang yang berada tak jauh dari tempatnya.


Ruangan dalam Paviliun Timur tampak seperti sebuah ruangan yang tak pernah ditempati. Debu-debu cukup tebal memenuhi permukaan meja dan kursi. Shen Yanzhia menarik ujung pakaiannya yang panjang lalu mengelapkannya ke atas kursi yang akan ia duduki. Ujung baju itu langsung kotor terkena debu.


Ah, berapa lama kediaman ini tidak dibersihkan?


Paviliun Barat bahkan jauh lebih baik dari tempat ini. Sejak kepergian Lin Zian ke perbatasan utara, Shen Yanzhia tak pernah lagi datang ke Paviliun Timur. Wanita itu selalu menghabiskan hari dengan berdiam di perpustakaan, membaca buku-buku berisi puisi kuno dan berbagai buku teknik pengobatan. Jika ia tak berada di perpustakaan, maka ia pasti sedang berdiam diri di Paviliun Barat, menatap gantungan giok putih sambil mencoret-coret kertas. Kebanyakan waktunya ia habiskan di kediaman Yun, bercengkrama dengan ayahnya atau berdiskusi obat dengan Ru Xiaolan.


"Menyebalkan! Pria itu pasti lupa pada janjinya!"


Shen Yanzhia membongkar laci lemari Lin Zian satu persatu. Isi dari laci-laci itu ia keluarkan lalu ia letakkan dengan sembarangan di atas lantai. Ia harus menemukan sesuatu yang bisa membuat suasana hatinya membaik dan tidak selalu mengingat Lin Zian. Jika tidak, Shen Yanzhia akan benar-benar marah dan menghancurkan seluruh isi kediaman ini karena bosan.


"Ah, ketemu!"


Matanya berbinar cerah. Shen Yanzia menggenggam erat sebuah gantungan berisi beberapa kunci kecil. Tanpa membereskan kembali kekacauan yang ia buat, Shen Yanzhia pergi meninggalkan Pavilun Timur sambil bersenandung. Xu Chi yang baru saja selesai membereskan dapur kebetulan berpapasan dengannya. Pelayan itu heran melihat ekspresi Shen Yanzhia yang seperti sedang menemukan sebuah harta karun.


"Xu Chi, bereskan kamar Tuan Mudamu. Ah ya, bersihkan juga debu-debunya, aku akan memeriksanya nanti."


Xu Chi hanya mengangguk. Kekacauan apa lagi yang dibuat oleh istri tuan mudanya itu?


Pekerjaan Xu Chi sedikit menjadi ringan karena sejak Lin Zian pergi, ia tak melayani siapapun lagi. Seluruh urusan keperluan kediaman diatur sepenuhnya oleh kepala pelayan. Ia juga kerap membersihkan Paviliun Timur setiap seminggu sekali. Akhir-akhir ini, Shen Yanzhia juga tidak sering berulah karena wanita itu selalu berdiam diri di dalam paviliunnya atau pergi ke kediaman Yun selama berhari-hari. Jika dipikir-pikir, istri tuan mudanya itu pasti sedang bosan setengah mati.


Sementara itu, Shen Yanzhia kembali masuk ke dalam Paviliun Barat. Kunci yang digenggamnya lalu ia simpan di sebuah laci bersama dengan gantungan giok yang sedang ia selidiki kebenarannya. Ia akan menggunakan kunci itu esok hari ketika dirinya sudah sangat bosan.

__ADS_1


"Tinggallah di sini sebelum aku pergi."


Shen Yanzhia teringat kembali dengan perkataan Lin Zian pada malam terakhirnya di kediaman sebelum berangkat ke perbatasan utara beberapa minggu lalu. Suara itu begitu menenangkan dan membuat Shen Yanzhia patuh begitu saja. Entah mengapa, malam itu suasana di kamar Paviliun Barat terasa begitu tenang dan damai. Saat Shen Yanzhia menatap Lin Zian, ada sebuah udara yang dingin berhembus ke dalam hatinya.


Ketika ia tetap ingin pergi, Lin Zian mencekal pergelangan tangannya. Sesuatu seperti sengatan listrik menjalar begitu kulit tangannya bersentuhan dengan kulit telapak tangan Lin Zian.


"Zhi'er, tinggallah di kediaman ini sebelum aku pergi," ulang Lin Zian. Matanya menatap dalam pada manik cokelat milik Shen Yanzhia.


"Kau memanggilku apa?"


"Zhi'er."


Shen Yanzhia menatap tak percaya pada pria di hadapannya. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar Lin Zian memanggilnya dengan sebutan itu. Selama berbulan-bulan sejak pernikahannya, pria itu hanya memanggilnya dengan sebutan wangfei atau namanya secara langsung.


"Aku tidak tahu apakah aku bisa kembali atau tidak kali ini," ujar Lin Zian sambil melepaskan cekalan tangannya.


"Tidak! Kau harus menepati janjimu!"


"Aku akan berusaha semampuku."


"Zhi'er, bagaimana rasanya menyukai seseorang?"


"Aku tidak tahu. Kau sedang menyukai seseorang?"


"Entahlah."


"Katakan, siapa yang sedang kau sukai? Aku akan memberi pelajaran kepadanya!"


"Jika aku tidak kembali, apa kau akan menikah lagi?"


Pertanyaan aneh, pikir Shen Yanzhia.


"Aku akan menjadi biksuni jika kau berani tidak kembali!"

__ADS_1


Lin Zian tertawa kecil. Ia mengacak rambut Shen Yanzhia seperti seorang anak kecil yang lugu.


"Mengapa?"


"Ibu Suri berkata bahwa perempuan mulia hanya bisa menikah satu kali. Kau pikir mudah menemukan seseorang yang sempurna seperti kau? Meskipun kau memang menyebalkan, tapi aku tidak keberatan. Jika kau berani tidak kembali pada puncak musim semi nanti, aku akan pergi ke kuil dan mencukur seluruh rambutku. Lin Zian, kau harus-"


Shen Yanzhia tak berkutik ketika Lin Zian membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman. Seluruh organ tubuhnya terasa seperti berhenti bekerja. Shen Yanzhia seperti sebuah patung dewi.


Wanita itu memejamkan matanya. Jantungnya berdetak kencang secara tiba-tiba. Dengan ragu, ia memberikan kesempatan pada Lin Zian untuk bergerak bebas. Wajah keduanya bertaut.


Tunggu, ini tidaklah benar!


Batin Shen Yanzhia berseru. Beberapa saat kemudian ia membuka matanya dan mendorong dada Lin Zian hingga menjauh beberapa jarak. Shen Yanzhia menatap heran pada Lin Zian, pada dirinya sendiri yang berlaku di luar akal sehatnya. Pria itu tersenyum cerah.


"Kau... Kau pergilah."


Shen Yanzhia lalu memanggil Tan'er yang sedang berjaga di luar dan memintanya untuk menyiapkan tempat tidurnya. Ia tak lagi menolehkan kepala pada Lin Zian saat pria itu pergi dengan senyuman di wajahnya.


Sejak kejadian malam itu, malam-malam yang dilalui Shen Yanzhia sendirian menjadi sangat panjang dan membosankan. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada dirinya akhir-akhir ini. Suasana hatinya cepat berubah dalam waktu singkat. Sesaat ia sering merasa bahagia, sesaat kemudian ia merasa hampa. Bahkan, kediaman besar yang ramai oleh pelayan ini pun terkadang terasa seperti sebuah rumah kecil di tengah hutan.


Shen Yanzhia perlu melihat ke dalam hatinya sendiri. Ia harus tahu pasti sesuatu yang membuatnya menjadi seperti orang gila di beberapa waktu.


"Ah, menyebalkan!"


Wanita itu menyobek kertas yang ia coret-coret dengan kasar. Bahkan di saat seperti ini pun, ia bisa kehilangan fokus!


"Lin Zian, jika kau benar-benar tidak kembali, aku akan mengutukmu bahkan sampai aku bereinkarnasi kembali!"


Setelah terdiam beberapa saat, Shen Yanzhia akhirnya memutuskan untuk pergi ke kediaman Pangeran Yun. Ia harus bertemu Ru Xiaolan untuk menanyakan sekaligus meminta sebuah obat yang bisa membuatnya kembali fokus dan tidak lagi memikirkan hal-hal yang menyebalkan yang membuat perasaannya tidak karuan!


...***...


Catatan: Wangfei, sebutan untuk permaisuri pangeran.

__ADS_1


Pertanyaan: Apakah jatuh cinta sesulit itu?


__ADS_2