RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 38: Perihal Selir


__ADS_3

Festival puncak musim semi dimulai dua hari lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan. Rangkaian itu berupa pesta perjamuan, perlombaan, pesta kembang api, dan rangkaian kegiatan lain yang mengundang banyak orang dan keramaian. Bagi para penari, festival puncak musim semi adalah ladang yang subur untuk menghasilkan uang. Mereka bisa mengantongi hingga dua ratus tael emas hanya dalam waktu beberapa malam.


Di istana, festival puncak musim semi tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Perjamuan yang biasanya diadakan besar-besaran dan megah, kini hanya dilangsungkan secara sederhana tanpa mengundang banyak orang. Hanya para pejabat utama beserta keluarganya, tamu utusan dari kerajaan lain dan luar kota, serta keluarga kerajaan yang diundang datang. Hal ini dilakukan sebagai bentuk belasungkawa atas jatuhnya keagungan Kaisar yang sakit beberapa waktu lalu.


Meskipun tonggak pemerintahan dipegang sementara oleh Putra Mahkota, kekuasaannya masih kecil dan tidak terlalu kuat. Jika bukan karena bantuan dan bimbingan dari Ibu Suri, Putra Mahkota Lin Yang pasti sudah kewalahan menghadapi keras kepalanya para pejabat istana di pengadilan. Bahkan, dalam perihal pengadaan perjamuan musim semi pun, para pejabat itu masih tetap bersikukuh menginginkan kemeriahan dan kemegahan tidak peduli apapun keadaan yang sedang terjadi.


Sebagai seorang Putra Mahkota, mengutamakan martabat kerajaan adalah hal yang sangat penting. Akan tetapi, Lin Yang bukanlah seseorang yang gila kehormatan dan menutup mata atas berbagai kesulitan yang sedang dialami kerajaan ini, terutama yang berkaitan dengan permasalahan di dalam istana sendiri.


Bagaimana mungkin ia berpesta ria sementara Kaisar terbaring sakit dan adik kandungnya sedang berjuang antara hidup dan mati di perbatasan bersama ratusan ribu prajurit?


Lin Yang meneguk secangkir teh longjing yang baru diseduh. Ia duduk di singgasana yang tingginya hampir sama dengan singgasana Ibu Suri. Sementara itu, singgasana Kaisar dibiarkan kosong begitu saja. Lin Yang tidak mau menduduki kursi agung itu meskipun ia seorang calon penerus Kaisar. Baginya, dirinya belum pantas untuk duduk di kursi berharga itu.


Lin Yang lalu menatap Pangeran Mu yang sedang berada di pangkuan bibinya, Shen Yanzhia. Pria itu sedikit meringis ketika ia melihat wajah adik iparnya yang sedang tersenyum pada putranya. Lin Yang merasa iba karena di festival puncak musim semi ini, wanita itu harus melewatinya seorang diri tanpa kehadiran suaminya. Ia yakin wanita itu sedang berusaha menahan kesedihan dan kekesalan karena Lin Zian tak kunjung pulang.


“Bibi, kapan wangshu akan pulang?”


Lin Yang samar-samar mendengar pertanyaan putranya pada bibinya. Bocah kecil itu sepertinya sangat merindukan pamannya karena bocah itu tak bertemu lagi dengan Lin Zian sejak kunjungan terakhirnya beberapa minggu yang lalu.


“Mu’er sangat merindukan paman, ya?” Shen Yanzhia mencubit pipi gembul Pangeran Mu.


“Ayah bilang paman sedang menjadi pahlawan, apa itu benar?”


Shen Yanzhia mencubit kembali pipi Pangeran Mu dengan gemas.


“Pamanmu akan segera pulang. Mu’er harus bersabar, ya?”


Pangeran Mu kecil mengangguk. Ia kemudian mengambil sepotong kue kacang hijau dan menyuapkannya ke mulutnya sendiri. Beberapa pejabat dan tamu undangan yang menyaksikan tingkah lucu Pangeran Mu tertawa, ikut merasa gemas pada bocah kecil itu.


Setelah menghabiskan sepotong kue kacang hijau, Pangeran Mu lalu turun dari pangkuan Shen Yanzhia dan berlari ke pangkuan Ibu Suri.


Perjamuan sederhana untuk merayakan festival puncak musim semi itu berakhir setelah matahari hampir terbenam. Shen Yanzhia, dengan gaun panjang khas kerajaannya berjalan pelan keluar dari tempat perjamuan.


Di luar, Tan’er sudah menunggunya sejak tadi. Pelayan itu membungkuk memberi hormat dan segera membantu majikannya berjalan.


“Bantu aku berganti pakaian,” pinta Shen Yanzhia pada Tan’er. Pelayan itu mengangguk.


Keduanya lalu berjalan menuju gerbang istana yang letaknya cukup jauh dari aula perjamuan. Shen Yanzhia sengaja tak ingin berlama-lama berada di tempat besar ini. Ia juga melewatkan percakapan santai yang selalu ia lakukan bersama Ibu Suri. Malam ini, Shen Yanzhia akan pergi seorang diri, meleburkan dirinya ke dalam keramaian kota Rouwu dan menyaksikan pesta kembang api dari atas gedung Paviliun Lingxiang.


Sebelum kakinya menginjak tanah di luar gerbang istana, seorang kasim berlari tergopoh-gopoh ke arahnya sambil meneriakkan namanya. Shen Yanzhia seketika berbalik. Gaun panjangnya ikut terseret ke samping. Kasim itu tiba di hadapannya dengan napas terengah-engah.

__ADS_1


“Gongzhu… Taihou… Taihou niang-niang…”


“Bernapaslah dulu!”


Kasim itu menegakkan tubuhnya dan menarik napas dalam.


“Beliau memintamu menemuinya sebentar,” lanjut kasim itu.


Shen Yanzhia mengurungkan niatnya untuk keluar dari istana. Ia berbalik ke arah Istana Guanling. Shen Yanzhia tidak kuasa menolak permintaan Ibu Suri. Kasim utusan itu berjalan lebih dulu. Shen Yanzhia mengekorinya sambil sedikit mengangkat gaunnya. Sisa gaun yang tidak bisa ia jangkau jatuh terurai menyapu jalan yang dijejaki kakinya.


“Yang Mulia,” kata Shen Yanzhia begitu wanita itu sampai di hadapan Ibu Suri.


“Duduklah sebentar.”


Shen Yanzhia menurut.


“Bagaimana dengan tiga selir yang dikirimkan Selir Duan ke kediamanmu?”


Ah! Shen Yanzhia benar-benar tidak ingat bahwa ada tiga wanita lain di kediaman suaminya. Perjamuan festival puncak musim gugur di istana terlalu menarik perhatian dan membuatnya bersemangat melebihi apapun hingga ia lupa pada tiga wanita yang baru memasuki kediama Qin beberapa hari lalu. Ibu Suri menatapnya dengan gemas. Wanita ini benar-benar tidak mengerti apapun.


“Aku lupa keberadaan mereka,” jawab Shen Yanzhia sambil menunjukkan gigi-gigi putihnya.


“Yang Mulia, mengapa rubah betina itu melakukannya?”


Ibu Suri meletakkan kipasnya di meja. Wanita itu lalu memandang Shen Yanzhia dengan seriur.


“Bagaimanapun, Selir Duan adalah selir agung. Dia tetaplah seorang ibu dalam statusnya bagi Lin Zian. Setelah Ratu Shi Honglan meninggal, Kaisar tidak mengangkat ratu lagi. Selir Duan adalah satu-satunya wanita yang berada di sisi Kaisar sejak lama.”


“Lalu apa hubungannya dengan urusan rumah tanggaku?”


“Posisi Selir Duan begitu kuat di sini. Lin Zian hanya seorang Pangeran Kedua yang tidak bisa sembarangan menentukan pilihan. Posisi Lin Yang juga masih lemah. Jika kita tidak mengandalkan Selir Duan untuk mendukung Lin Yang, aku khawatir kakak iparmu akan jatuh bahkan sebelum ia dinobatkan.”


Selir Duan memang memiliki kekuatan besar. Orang-orang di belakang Selir Duan adalah para abdi setia Kaisar yang kuat dan berposisi. Apalagi, ayahnya adalah Perdana Menteri. Setelah Kaisar jatuh sakit, Selir Duan memiliki banyak kesempatan untuk mengambil alih kekuasaan. Tapi, rubah betina itu sepertinya tidak terlalu tertarik dengan takhta.


Selir Duan setuju untuk membantu menenangkan para pejabat asalkan Kaisar dan Putra Mahkota serta Ibu Suri bersedia memenuhi permintaannya. Selir Duan memilih untuk mengirimkan tiga orang wanita sebagai selir untuk Pangeran Qin, karena hanya dengan memperkuat ikatan pernikahan dengan keluarga istanalah dukungan dapat terbentuk.


“Jadi, Yang Mulia menyetujuinya?”


Ibu Suri mengangguk.

__ADS_1


“Tanpa membahasnya denganku?”


Ibu Suri merasa bahwa Shen Yanzhia mulai naik pitam.


“Mengapa harus dengan suamiku? Bukankah ada banyak pangeran di istana ini?”


Ibu Suri duduk di pinggir Shen Yanzhia. Wanita tua itu memegang erat tangan putri kesayangannya.


“Aku tidak punya pilihan lain.”


Shen Yanzhia memalingkan wajahnya, menghindari kemungkinan beradu tatap dengan Ibu Suri. Bagi Shen Yanzhia, kedatangan tiga wanita itu bukan semata-mata untuk menjadi selir biasa. Mereka lebih cocok disebut sebagai mata-mata yang sengaja dikirimkan Selir Duan untuk memantau pergerakan dan aktivitas di kediaman Pangeran Qin. Jika ketiga wanita itu menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka dapat langsung melaporkannya pada Selir Duan.


“Mereka adalah putri para pejabat. Bagaimana mungkin mereka rela merendahkan diri mereka untuk menjadi selir dari seorang pangeran kecil seperti Lin Zian?”


“Mari kita pikirkan cara untuk menyingkirkan mereka.”


Shen Yanzhia menghela napas. Urusan di kediamannya biarlah ia yang mengatur sendiri. Tidak perlu ada campur tangan orang lain. Apalagi ini adalah masalah harem Lin Zian yang sangat tidak boleh diumbar dan diketahui orang lain.


“Tidak perlu, Yang Mulia. Aku akan mengurus ini sendiri dan menyerahkannya pada Lin Zian jika ia sudah kembali.”


Ibu Suri melepaskan genggaman tangannya dan memeluk Shen Yanzhia. Gadis ini sekarang sudah bisa berpikir dewasa dan bertindak tidak tergesa-gesa. Ia sangat senang. Jika di sini tidak ada orang yang memperhatikan, Ibu Suri bisa saja menangis. Wanita tua itu benar-benar bahagia karena Shen Yanzhia sudah tumbuh dewasa, dengan begitu ia bisa melepaskannya tanpa khawatir suatu saat nanti.


“Mereka adalah mata dan telinga Selir Duan. Aku harus membutakan dan menulikannya agar Selir Duan tidak dapat melihat dan mendengar apapun.”


“Apa rencanamu selanjutnya?”


“Aku ingin menikmati pesta kembang api di puncak musim semi malam ini.”


Ibu Suri terpaku. Bisakah gadis ini fokus pada satu hal saja?


“Ah, maksudku, aku akan memikirkannya nanti,” Shen Yanzhia melanjutkan perkataannya. Ibu Suri menghela napas lega.


“Selir Duan benar-benar ingin mengacaukan hidupku!”


Ibu Suri kembali memeluk Shen Yanzhia. Bukan hanya Shen Yanzhia saja yang kesal pada selir agung itu, tapi dirinya juga. Dulu, saat Kaisar menurunkan titah pernikahan untuk Shen Yanzhia, Ibu Suri sangat berharap tidak akan ada wanita lain diantara keduanya.


Tampaknya, harapan itu pupus begitu saja ketika ia menyadari bahwa Lin Zian masihlah seorang pangeran yang tidak bisa bertindak dan mengambil keputusan sesuka hati. Cucu kesayangannya itu masih terikat dengan peraturan dan ketentuan yang sudah diatur sedemikian rupa di dalam istana. Segala tindak-tanduknya selalu dipantau dan diawasi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2