
“Alasan apa?”
Lin Zian terperangah. Pendengaran wanita ini cukup tajam juga.
"Apa aku mengatakan sesuatu?” Lin Zian mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ia tidak ingin Shen Yanzhia mengetahui lebih jauh, karena dirinya sendiri pun masih menerka-nerka dan belum menemukan kebenaran yang pasti. Orang-orang istana begitu tertutup perihal Selir Rui dan Ratu Shi Honglan. Entah karena Kaisar melarang segala pembicaraan tentang kedua wanita itu, atau karena orang-orang istana memang benar-benar tidak mengetahuinya, tidak ada yang tahu.
“Ibu kandungmu, Ratu Shi Honglan, seberapa jauh kau mengetahui tentang dirinya?”
Lin Zian memilih untuk menutupkan matanya dan mengeratkan jubah berbulunya. Hari ini, Shen Yanzhia sudah terlalu banyak bicara dan sudah tahu terlalu banyak perihal kehidupan orang penting Lin Zian. Cukup sampai di sini, gadis itu tidak boleh tahu lebih dalam lagi. Terlalu menyakitkan dan terlalu mengesalkan jika Lin Zian harus menceritakan seseorang yang lain lagi.
Jalanan ibukota kekaisaran Ling dipenuhi salju. Jika Shen Yanzhia tidak salah menebak, hari sudah pasti beranjak sore. Ia tidak kesal ketika pertanyaannya tidak dijawab Lin Zian, karena tubuhnya juga sudah lelah setelah perjalanan menyusuri perbukitan dan membekukan diri di makam keluarga kerajaan. Shen Yanzhia menatap sekilas Lin Zian. Pria itu masih memerlukan banyak waktu untuk mengembalikan kesehatan tubuhnya. Memaksakan diri berada di luar dalam keadaan cuaca dingin seperti ini bukanlah hal yang baik.
Kereta berhenti begitu tiba di depan pintu gerbang kediaman Qin. Seorang pelayan laki-laki lalu meletakkan sebuah tangga pijakan untuk turun dari kereta. Begitu Lin Zian dan Shen Yanzhia keluar, di hadapan mereka sudah berdiri Xu Chi dan Tan’er. Kedua pelayan itu berjalan tergesa menyambut majikan masing-masing. Melihat kesetiaan para pelayannya, Shen Yanzhia tersenyum. Tidak salah jika mereka dapat bertahan dalam segala cuaca karena rasa hormat dan bakti mereka tidak pernah surut.
“Tuan Muda, mengapa kau keluar? Kalau Tuan Muda terus memaksakan diri dan jatuh sakit lagi, apa yang harus kukatakan kepada Yang Mulia Ibu Suri dan Yang Mulia Kaisar?”
“Kau juga, Nona. Bagaimana jika tubuhmu melemah kembali? Apa yang harus aku katakan kepada Yang Mulia Pangeran Yun dan Yang Mulia Ibu Suri?”
Lin Zian dan Shen Yanzhia saling pandang. Sejak kapan pelayan pribadi mereka menjadi begitu cerewet seperti ini? Saat keduanya berangkat, semuanya masih baik-baik saja. Melihat reaksi tak biasa dari kedua majikannya, Xu Chi dan Tan’er segera menutup mulut mereka dengan jari tangannya seolah mereka telah salah berbicara.
“Ada yang aneh,” ujar Shen Yanzhia pelan. Lin Zian mengangguk.
“Apa seseorang telah mengancam kalian?” tanya Lin Zian. Xu Chi dan Tan’er seketika panik dan menggelengkan kepala secara bersamaan.
“Sudahlah. Udara sedang dingin, sebaiknya segera masuk ke dalam.”
Keempat orang pasangan tuan-majikan itu lalu masuk melewati gerbang utama. Hujan salju kembali turun. Kali ini, hujan salju itu disertai angin hingga butir-butir halus berwarna putih yang jatuh dari langit itu terbang seperti kapas. Pohon-pohon gundul di sepanjang jalan dan di dalam wangfu bergoyang, menjatuhkan serpihan-serpihan salju yang menempel di setiap dahan dan reranting.
...***...
Musim dingin berada di puncaknya tahun ini. Selama satu minggu ini, salju tidak berhenti turun dan suhu udara benar-benar turun secara drastis. Di siang hari, suhu udara sedikit hangat jika ada cahaya matahari. Jika tidak, maka suhu udara akan terasa seperti malam, hingga membuat semua orang merasakan dingin seolah terjadi sepanajang malam tanpa menemui pagi.
__ADS_1
Puncak musim dingin tahun ini datang lebih cepat dari tahun kemarin. Langit kota Rouwu tidak pernah berhenti menurunkan hujan salju sepanjang hari. Suhu udara yang benar-benar dingin ini sedikit menghambat pergerakan dan aktivitas para penduduk kota. Mereka yang biasanya bangun di subuh hari dan bersiap menyongsong pagi kini hanya bisa mengurung diri di rumah dengan selimut tebal dan perapian yang selalu menyala setiap saat.
Bagi mereka yang tidak mempunyai rumah, musim dingin adalah sebuah bencana dan jalan yang membawa mereka menuju kematian. Kesengsaraan dan kelaparan yang mereka rasakan dan mereka alami adalah cara tercepat untuk mati. Para pengemis dan budak yang tidak mempunyai tuan, seringkali memaksakan diri berteduh di emperan toko dan gubuk-gubuk tua serta tempat pos di seluruh kota dan perbatasan.
Pada malam yang panjang, tubuh mereka menggigil kedinginan dan darah mereka menjadi beku. Para petugas, yang tidak sempat mengamankan mereka seringkali mendapati bahwa para orang tunawisma itu sudah mati di pagi hari.
Kegiatan mencari nafkah dan penghidupan juga terganggu karena cuaca benar-benar dingin dan ekstrem. Berbagai laporan dan keluhan mulai berdatangan ke kantor-kantor pemerintah dan mengusik kedamaian para menteri. Laporan-laporan itu datang seperti badai yang bergelombang silih berganti. Kertas-kertas kosong yang tersedia di kantor-kantor pemerintah bahkan hampir habis digunakan untuk menulis laporan.
“Yang Mulia, musim dingin tahun ini benar-benar berbeda,” ujar Shen Yanzhia pada suatu pagi yang dingin.
“Apa yang kau khawatirkan, Zhi’er?” tanya Ibu Suri. Di pagi buta, wanita mulia nomor satu itu sudah kedatangan tamu terhormat dari kediaman Qin.
“Puncak musim dingin sudah tiba. Banyak orang miskin dan pengemis, budak-budak, dan orang-orang tunawisma yang menderita. Mereka pasti sangat sengsara dan kelaparan,” jawab Shen Yanzhia dengan nada rendah. Napasnya terasa berat seolah sesuatu telah dibebankan di atas dadanya.
“Bukankah pemerintah dan pengadilan sudah menanganinya?” tanya Ibu Suri lagi. Wanita tua itu rupanya belum puas mendapatkan jawaban. Wajah Shen Yanzhia masih murung.
“Tanah ini begitu luas. Kita tidak tahu ada berapa banyak orang seperti mereka di luar ibukota sana.”
Ibu Suri mengangguk paham. Musim dingin tahun ini, perbedaannya juga terasa olehnya.
Setelah musim dingin berakhir, pihak istana dan pemerintah setempat dibantu oleh beberapa pengusaha dan pengrajin membina orang-orang itu hingga mereka mempunyai keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bertahan hidup. Mereka diajarkan menjahit, menyulam, mengolah makanan, membuat senjata, dan berdagang. Ibu Suri masih mengingat dengan jelas, saat itu Shen Yanzhia ikut turun tangan mengajari anak-anak dan orang tua yang tidak bisa menulis dan membaca.
Meskipun sudah dilarang mengingat status dan kedudukannya sebagai seorang putri dan perangainya yang keras kepala dan sering berbuat onar, Ibu Suri tetap tidak bisa menghentikan atau menghalangi keinginan dan tekad Shen Yanzhia. Gadis itu bahkan sempat tumbang setelah beberapa bulan membantu orang-orang miskin itu.
Melihat laporan yang masuk di tahun ini, sepertinya masalah tidak akan dapat diatasi dengan mudah. Di luar sana, jumlah orang terlantar mungkin meningkat lebih banyak dari tahun kemarin. Para pejabat dan menteri yang biasanya mengadakan rapat selama empat kali dalam satu minggu, kini menaikkan intensitasnya menjadi enam hari dalam satu minggu. Rapat-rapat mereka juga kebanyakan bubar sebelum matahari terbenam. Tampaknya, bencana yang ditimbulkan musim dingin tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Zhi’er, jangan memaksakan kehendak lagi. Sekarang keadaanmu sudah berbeda,” ujar Ibu Suri sambil menebak isi kepala Shen Yanzhia. Sejak perkataannya yang terakhir kali, Shen Yanzhia hanya termenung sambil memutar-mutar gelas berisi teh hongca.
“Aku rasa itu tidak berhubungan sama sekali, Yang Mulia. Selama aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri, aku akan tetap berusaha membantu mereka,” ucap Shen Yanzhia kemudian. Ia sudah mengira bahwa Ibu Suri pasti akan melarangnya untuk turun tangan lagi seperti tahun kemarin.
“Perkataan nenekku ada benarnya. Wangfei, kau tidak perlu turun tangan lagi.”
Shen Yanzhia dan Ibu Suri menoleh pada seorang laki-laki bertubuh tegap berjubah cokelat muda yang tengah berjalan ke arah mereka. Wajahnya dingin seperti sedang menahan kekesalan. Hari ini, ia dipaksa datang ke istana karena Kaisar memintanya hadir di rapat pengadilan untuk membahas penanggulangan bencana.
__ADS_1
“Zian, apa yang dikatakan oleh para pejabat tua itu?” tanya Shen Yanzhia tanpa menghiraukan sopan santunnya di hadapan Ibu Suri.
“Biarkan aku duduk dan minum teh dulu.”
Lin Zian duduk di hadapan Ibu Suri dan Shen Yanzhia. Setelah meneguk secangkir teh hongca yang masih panas, Lin Zian membenarkan posisi tubuhnya. Ia lalu mulai menceritakan hasil rapat pengadilan yang berlangsung hampir satu hari penuh itu dengan lancar. Shen Yanzhia dan Ibu Suri menanggapi cerita Lin Zian seperti seorang anak kecil yang tengah mendengarkan cerita dari seorang pendongeng di tengah kota. Sesekali raut wajah Shen Yanzhia berubah kesal dan marah.
“Sudah kuduga, para orang tua itu hanya fokus pada satu hal saja,” lirih Shen Yanzhia setelah Lin Zian selesai bercerita.
“Apa ada hal lain yang mengganggumu, wangfei?”
“Mereka sama sekali tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah musim dingin berakhir. Tanah kita dialiri banyak sungai yang besar. Setelah musim dingin berakhir, sungai-sungai yang menjadi es itu akan mencair dan mengaliri desa-desa. Kita dapat memastikan desa-desa di sekitar sungai itu pasti akan terendam banjir.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Lin Zian.
“Kita harus memastikan bahwa penduduk desa sekitar sungai sudah ada di tempat yang lebih tinggi sebelum musim dingin benar-benar berakhir.”
Ibu Suri dan Lin Zian mengangguk. Sesaat keadaan menjadi hening tanpa suara. Baik Shen Yanzhia, Ibu Suri, atau Lin Zian, tak ada satupun dari mereka yang melontarkan kata. Ketiganya sibuk dalam pemikirannya masing-masing. Para pelayan yang ada di sekitar mereka juga terdiam mengikuti arus keheningan yang diciptakan oleh ketiga majikan agung mereka.
“Tapi, bantuan dana dari pengadilan hanya cukup untuk menolong para orang miskin dan tunawisma,” kata Lin Zian.
“Zian, kau kan kaya. Kita bisa menggunakan kekayaanmu untuk membantu memindahkan mereka,” ujar Shen Yanzhia tanpa beban.
Lin Zian menggeleng tidak setuju. Meskipun ia seorang pangeran, kekayaan yang ia miliki tidak akan cukup jika harus digunakan untuk mengevakuasi penduduk sekitar sungai. Uang yang ia punya sudah dihitung dan diputar untuk menggaji para pelayan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari di kediaman. Walau setiap bulan pihak istana mengirimkan uang padanya, tetap saja tidak akan cukup. Bahkan jika digunakan semua, ia akan berubah menjadi seorang pangeran miskin yang hanya mempunyai gelar dan jasa serta status tanpa kekayaan.
Jika itu terjadi, kesengsaraan bukan hanya dirasakan oleh dirinya saja, melainkan oleh Shen Yanzhia, Xu Chi, Tan’er, serta seluruh orang-orang di kediaman Qin.
Jika meminta bantuan dan belas kasih dari para bangsawan dan pengusaha di ibukota, mereka harus berpikir keras untuk memberikan imbalan yang pantas hingga para bangsawan dan pengusaha itu merasa puas. Meyakinkan mereka saja tidak mudah, apalagi terang-terangan meminta bantuan. Shen Yanzhia dan Lin Zian menemui jalan buntu. Permasalahan ini sering terjadi di setiap tahun. Hanya saja sering tidak diperhatikan karena pihak pengadilan terlalu sibuk mengurusi urusan yang lain.
Melihat kebingungan di wajah putra dan putri kesayangannya, Ibu Suri merasa iba. Lin Zian dan Shen Yanzhia adalah dua orang manusia yang paling dicintainya setelah mendiang Kaisar dan Putra Mahkota terdahulu. Ia sangat tidak ingin melihat keduanya kebingungan dan berada dalam kesulitan. Sebagai seorang mantan ratu yang pernah memimpin negara seorang diri, Ibu Suri tahu betul kegelisahan yang dirasakan Shen Yanzhia dan Lin Zian.
Apakah ia harus menggunakan cara terakhirnya sebagai pilihan untuk membantu mengatasi kegelisahan keduanya? Ibu Suri, walaupun seorang ibu negara, tidak bisa menggunakan uang sesuka hati. Ia juga harus mengatur kebutuhan dirinya sendiri. Selain hadiah dari para bawahan dan dari negara tetangga, ia tidak bisa menggunakan harta miliknya seenaknya.
“Aku bisa membantu kalian. Zhi’er, An’er, datanglah tiga hari lagi ke istana.”
__ADS_1
Entah kenapa, angin musim dingin yang berhembus lewat celah jendela yang tertutup terasa menjadi angin segar yang hangat di awal musim semi. Wanita mulia ini sudah menyatakan diri untuk membantu Lin Zian dan Shen Yanzhia! Raut terkejut dan bahagia di wajah kedua putra putrinya membuat hati Ibu Suri menghangat. Sudah sangat lama, ia tidak merasakan kehangatan seperti ini. Lama, memang sudah sangat lama, belasan tahun yang lalu. ***