RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 16: Panggil Aku Xiaolan!


__ADS_3

Tabib wanita itu membawa Shen Yanzhia dan Lin Zian ke sebuah tempat terpencil di ujung jalan ibukota. Jalan itu adalah jalan yang sama yang dilalui Shen Yanzhia ketika ia disergap pembunuh beberapa waktu lalu. Setelah memasuki area hutan tempat penyergapan, Shen Yanzhia baru menyadari bahwa hutan ini ditumbuhi banyak pohon wisteria yang gundul tak berdaun. Ranting-rantingnya yang hitam meranggas bak cakar-cakar tajam.


Jalan berbatu di hutan itu kemudian mulai menanjak. Pohon-pohon wisteria yang menyertainya terlihat setinggi kepala begitu jalan itu semakin tertuju ke tempat yang lebih tinggi. Shen Yanzhia hampir tidak bisa berjalan lagi, tapi ia cukup beruntung karena Lin Zian membantu memapahnya. Setelah berjalan cukup jauh, ketiganya sampai pada sebuah dataran berumput dan berbatu yang cukup subur di musim gugur. Di tengah dataran itu terdapat sebuah rumah sederhana yang cukup besar. Shen Yanzhia dapat menebak bahwa ini adalah rumah tabib wanita itu.


“Bagaimana kau bisa membawanya ke tempat yang jauh seperti ini?” tanya Shen Yanzhia setelah ketiganya sampai di depan pagar kayu yang sudah mulai habis dimakan rayap dan cuaca.


“Hei, aku juga punya uang. Aku masih sanggup membayar orang untuk mengangkutnya.”


“Kau seorang wanita tapi kuat berjalan sejauh ini, apa kau tidak lelah?” Lin Zian bersuara. Shen Yanzhia melempar pandangan padanya, menatapnya dengan kening berkerut.


“Pertanyaanmu itu, bukan untuk menyindirku bukan?” Shen Yanzhia mencibir. Entah kenapa ia merasa pertanyaan Lin Zian serasa ditujukan kepadanya. Pria itu terlalu frontal hingga selalu mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal setengah mati.


“Apa kau merasa seperti itu?”


“Sudahlah, kalian mau masuk atau tidak?” Tabib wanita itu menyela.


Sepasang suami istri itu kemudian menyadari kembali tujuan mereka datang kemari. Tabib wanita itu berjalan masuk. Pintu kayu dari rumah yang sudah tua itu perlahan terbuka. Tabib wanita itu lalu membimbing Shen Yanzhia dan Lin Zian menuju sebuah ruangan besar yang berisi peralatan pengobatan dan lemari kotak berisi berbagai macam herba yang biasa dijadikan obat. Tak jauh dari lemari itu, terdapat sebuah ranjang kayu tua yang kokoh dan lumayan besar. Seseorang tengah berbaring telentang dengan mata tertutup di atas ranjang kayu itu. Seseorang itu adalah pria setengah hidup dan setengah mati yang selama ini dicari Lin Zian.


“Tabib wanita, kenapa dia masih tidur? Apa tubuhnya tidak kaku?”


“Panggil aku Xiaolan. Namaku Ru Xiaolan.”


“Xiaolan? Hmm. Nama yang bagus, tapi terlalu panjang. Bagaimana kalau kau kupanggil Lanlan?”


Ru Xiaolan sedikit menimbang.


“Yanzhia, kau tidak boleh mengubah nama orang dengan sembarangan,” ujar Lin Zian.


“Tidak apa-apa. Aku suka nama itu. Kau boleh memanggilku Lanlan.”


Lin Zian mengeluarkan sebuah kertas berisi sketsa wajah lalu mendekatkannya ke samping wajah orang terbaring itu. Hasilnya sama. Orang di sketsa itu memang orang yang kini sedang terbaring. Penglihatan Shen Yanzhia memang sangat bagus hingga dapat mengingat wajah seseorang walaupun hanya bertemu atau melihatnya satu kali.


“Lihat, benar kan apa yang kukatakan! Orang ini sama!” seru Shen Yanzhia sedikit mencibir.


“Baiklah, kau benar.”.


“Kau harus memberiku imbalan.


“Wang-’’


Shen Yanzhia menutup mulut Lin Zian dengan telapak tangannya. Shen Yanzhia membisikkan sesuatu:


“Jangan panggil aku dengan sebutan wangfei. Identitas kita belum boleh ketahuan!”


Lin Zian mengangguk. Ru Xiaolan lalu memeriksa pergelangan tangan pria sekarat itu, memastikan apakah denyut nadinya masih ada atau tidak. Kemudian, tangannya menyentuh kening pria itu, memastikan suhu tubuhnya lewat kulitnya yang bersentuhan langsung dengan kulit tangannya. Hangat. Itu berarti pria ini sudah kembali ke kondisi normal.

__ADS_1


“Bagaimana keadaannya?” tanya Lin Zian.


“Racun di tubuhnya masih tersisa sedikit lagi. Mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi dia akan bangun.”


“Racun? Racun apa?” Kali ini, Shen Yanzhia yang bertanya.


“Apa hubungan kalian dengan pria ini?”


“Apa kau percaya jika aku mengatakan bahwa dia adalah seseorang yang kami butuhkan untuk menangkap ikan besar?”


“Tentu saja tidak, Putri Mei. Kau bukanlah orang yang suka ikut campur dengan urusan pengadilan istana. Tapi, aku bisa mengubah ketidakpecayaanku karena suamimu sedang terlibat. Jadi, aku akan mempercayaimu kali ini.”


“Kau tahu identitas kami?” tanya Shen Yanzhia tak percaya. Ru Xiaolan mengangguk.


“Memangnya siapa yang tidak tahu wajah Xiao Jing Mei kesayangan Yang Mulia Ibu Suri? Aku melihatmu beberapa kali saat berkeliaran di pasar. Kalau Pangeran Qin, aku hanya pernah melihatnya sekali saat kembali ke ibukota. Mohon terima salam hormatku, Putri Mei dan Pangeran Qin.”


Ru Xiaolan membungkukkan tubuh. Nada bicaranya yang santai membuat Lin Zian dan Shen Yanzhia merasa nyaman. Wanita itu, walaupun seorang tabib yang sikap dan kata-katanya tidak lembut, ternyata masih memiliki rasa hormat kepada keluarga kerajaan.


“Jangan bersikap sopan. Aku datang kemari sebagai temanmu. Kau bisa memanggilku Shen Yanzhia atau Zhia.


“Apa-apaan ini? Wangfei, kau tidak membiarkanku memanggil namamu seperti itu!” protes Lin Zian.


“Kapan aku melarangmu memanggilku dengan sebutan seperti itu? Aku tidak pernah mengatakannya. Kau selalu memanggilku dengan sebutan Yanzhia atau wangfei.”


Mereka berdua hampir ribut.


“Kenapa?” tanya Shen Yanzhia.


“Aku tetap harus menghormati kalian.”


“Ah tidak perlu, kami hanya ingin berteman tanpa formalitas dan gelar bangsawan.”


“Benar. Kau juga bisa memanggilku Lin Zian atau Zian.”


“Maaf sekali lagi, aku tidak bisa.”


“Begini saja. Kau bisa memanggil Lin Zian dengan sebutan Tuan Muda. Kau bisa memanggilku Nona. Bagaimana?” usul Shen Yanzhia.


“Begitu sepertinya lebih baik. Bukan begitu, Nona Ru?” tanya Lin Zian.


“Aku Xiaolan. Panggil aku Xiaolan saja, Tuan Muda.”


Setelah perdebatan tentang nama panggilan itu berakhir, Ru Xiaolan lalu mulai menjelaskan keadaan tubuh pria sekarat tadi. Pria itu terkena racun Rumput Biru, racun yang mematikan yang menyerang jantung dan paru-paru secara langsung. Racun jenis ini banyak digunakan untuk menghukum terpidana mati yang melakukan pelanggaran dan terjerat kasus yang berat, dan hanya orang-orang di Biro Kehakiman yang diberikan hak untuk menggunakannya. Itu pun di bawah pengawasan langsung Kaisar. Orang yang meminum racun ini akan mati dalam satu jam.


Ru Xiaolan juga menjelaskan bahwa ada jenis racun lain di dalam tubuh pria sekarat itu, yang membantunya menghambat peredaran dan penyerangan racun Rumput Biru sehingga pria itu hanya sekarat dan belum mati. Jika Ru Xiaolan tidak memeriksanya, orang itu mungkin akan mati dalam dua hari setelah racun itu masuk ke tubuhnya. Rumput Biru tidak mempunyai penawar, karena tujuan pembuatannya adalah untuk menghukum mati.

__ADS_1


“Apa kau tidak bisa menganalisa penawarnya?” tanya Lin Zian kemudian.


“Aku tidak yakin. Selama ini aku hanya memasukkan tonik herbal untuk memastikan organ dalam tubuhnya berfungsi dengan baik. Racun itu mungkin bisa segera menjalar tanpa kita tahu.”


“Berapa lama dia bisa bertahan dengan tonik herbal itu?”


“Sekitar dua minggu.”


Dua minggu? Shen Yanzhia memikirkan cara untuk menyingkirkan racun Rumput Biru di tubuh pria sekarat itu. Hatinya ragu, apakah pria itu benar-benar akan hidup kembali? Jika Ru Xiaolan tidak bisa menemukan penawarnya, pria itu bisa benar-benar mati. Jika pria itu mati, Lin Zian akan kembali kehilangan petunjuk kasus dana militer.


Berada dalam kebingungan yang sama, Lin Zian juga mulai berputus asa. Dirinya tidak yakin apakah orang ini akan benar-benar hidup atau tidak. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk mengungkap kejadian sebenarnya dari hilangnya sebagian besar dana militer yang diberikan pengadilan. Jika orang itu sadar, Lin Zian dapat bertanya padanya dan mendapatkan apa yang dia inginkan, terlepas dari cara apapun. Lin Zian dapat bertanya baik-baik. Tapi jika orang itu telah sadar dan tidak mau bicara, Lin Zian tidak akan bisa berbelas kasih.


“Aku tidak yakin dia bisa benar-benar hidup kembali. Tapi, aku juga tidak peduli. Aku akan membedah perutnya jika pria itu benar-benar mati. Nona, apa kau juga mau melihatnya?”


Ru Xiaolan sepertinya memang benar-benar seorang tabib gila. Dia bahkan lebih gila daripada Shen Yanzhia.


“Tugasku hanya menolong orang sakit. Kalau orang itu mati, aku tidak peduli. Daripada dibiarkan mati begitu saja, lebih baik aku menggunakan tubuhnya untuk percobaan obat baruku.”


“Berapa banyak orang mati yang kau bedah?”


“Baru dua jasad. Itupun jasad bandit gunung yang bau dan kotor.”


“Kau apakan tubuh mereka?” tanya Lin Zian.


“Aku membedahnya untuk melihat seberapa dalam luka atau racun yang menyebabkan mereka mati. Aku menjahitnya kembali setelah mencoba meneteskan beberapa obat baruku. Tenang saja, aku tidak mengambil apapun dari tubuh mayat itu.”


“Kau mengautopsi mayat-mayat itu? Kau tidak takut?” tanya Shen Yanzhia.


Ru Xiaolan mengangguk dan menggeleng.


“Kakak angkatku adalah seorang prajurit. Dia sering pulang dalam keadaan terluka. Aku selalu mengobatinya dengan melihat dan menjahit lukanya. Jadi, aku sudah terbiasa dengan darah orang mati yang tidak jauh berbeda dengan darah orang hidup.”


Ru Xiaolan memang benar tabib wanita teraneh di seluruh kota kekaisaran ini. Apakah dia seorang tabib dewa? Hanya tabib dewa yang biasanya berani melakukan pengobatan dan pengujian seliar itu. Kebanyakan tabib di ibukota hanya mengandalkan buku besar yang sudah diwariskan turun temurun untuk meracik obat, dan menuruti perintah gurunya yang metodenya sama dengan generasi-generasi sebelumnya.


Tapi Ru Xialoan, dia seorang wanita tapi sudah sangat berani dan tampil berbeda. Jika Shen Yanzhia dapat mengenalnya lebih baik, mungkin ia akan dapat membantunya suatu saat nanti..


“Lanlan, kau berusahalah mempertahankan agar pria itu tetap hidup. Aku akan mencoba membantumu membuat penawarnya,” ujar Shen Yanzhia dengan yakin. Ru Xiaolan mengangguk.


“Kau bisa membuat obat?” tanya Lin Zian.


“Aku bisa mencobanya.


Shen Yanzhia akan melakukan percobaan apapun yang bisa membuat pria sekarat itu hidup kembali. Racun Rumput Biru itu tidak mungkin tidak memiliki penawar, karena setiap racun diciptakan lengkap dengan penawarnya. Meskipun Shen Yanzhia tidak percaya diri, dia harus melakukan apapun yang dia bisa untuk menyelamatkannya.


Sebelum turun gunung, Shen Yanzhia meminta beberapa herba yang mungkin akan ia butuhkan suatu saat nanti. Ia menatap sebentar ke seluruh halaman rumah, lalu membisikkan sesuatu pada Lin Zian. Pria itu sepertinya mengerti karena ia kemudian menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Ru Xiaolan menatap pasangan itu dengan heran dari pintu pagar. Baru kali ini ia menemukan sepasang suami istri yang aneh.


***


__ADS_2