
Pada malam perayaan puncak musim semi, jalanan kota Rouwu menjadi sangat terang benderang. Di sepanjang jalan dan kawasan pertokoan, orang-orang berlalu lalang dan bergembira ria. Orang-orang itu sebagian pergi bersama pasangan masing-masing, sebagian lagi pergi bersama teman, sahabat, atau malah ada yang pergi dengan pelayan pribadi mereka.
Shen Yanzhia tidak bisa menahan keinginannya untuk pergi ke festival puncak musim semi. Tepat setelah ia selesai berbincang dengan Ibu Suri, ia langsung memerintahkan kusir kereta kudanya untuk segera pergi dengan kecepatan tinggi. Kereta kuda yang melaju kencang membelah keramaian di sore hari itu tak ayal memancing keributan karena beberapa orang merasa terganggu. Tentu saja, tidak ada yang peduli tentang keributan itu. Shen Yanzhia tidak memiliki cukup waktu untuk pulang dan mengganti pakaiannya. Wanita itu langsung pergi tanpa mempedulikan tampilan busananya sendiri.
Tepat ketika dirinya sampai di Paviliun Lingxiang, Mo Ran menyambutnya dengan gelengan kepala. Balutan busana khas istana yang dipakai Shen Yanzhia membuatnya begitu mencolok hingga beberapa orang yang melihatnya menatapnya.
Mo Ran kemudian membawanya ke ruang pribadinya di lantai dua dan meminjamkan satu set pakaiannya kepada Shen Yanzhia. Pernak-pernik perhiasan yang menghiasi rambut Shen Yanzhia dilepas hingga hanya menyisakan dua buah tusuk rambut perak bermotif bunga peony. Dalam sekejap, pemaisuri Qin itu berubah menjadi gadis bangsawan biasa.
Shen Yanzhia membaur bersama para penduduk kota. Seperti wanita pada umumnya, gadis itu menyukai pertunjukan seru, makanan, dan lampion. Sedari tadi, Shen Yanzhia selalu bergerak dari satu kedai ke kedai lainnya, mencicipi makanan lalu membelinya ketika ia benar-benar menyukainya.
Tan’er tampak kesulitan membawa barang-barang yang dibeli Shen Yanzhia. Tangan kanan dan kirinya penuh menggenggam berbagai macam kantung berisi makanan dan barang-barang yang lainnya. Pelayan itu tidak ingin mengeluh sekarang, ia tahu bahwa saat ini ia harus terus berusaha menjaga suasana hati majikannya agar tetap stabil sampai malam ini lewat tanpa ada masalah. Gadis pelayan itu membelalakkan matanya ketika ia melihat Shen Yanzhia memborong lima belas lampion dari seorang pedagang.
“Untuk apa Nona membeli sebanyak ini?” tanya gadis pelayan itu pada majikannya.
“Tentu saja untuk bersenang-senang,” jawab Shen Yanzhia tanpa beban.
Wanita itu lalu berjalan mendahului pelayannya. Sebagian lampion yang diborongnya dibebankan kepada Tan’er. Gadis pelayan itu sekarang seperti sebuah pohon berjalan yang dikerubungi barang-barang.
“Nona, apa ini tidak berlebihan?”
“Aku ini kaya. Suamiku seorang pangeran, ayahku juga seorang pangeran. Aku tidak akan bangkrut hanya dengan membeli barang-barang ini.”
Shen Yanzhia berjalan ke tepi sungai kecil. Ia menyelinap diantara kerumunan orang yang berdiri di tepi sungai. Wanita itu lalu berjongkok dan meletakkan lampion berbentuk bunga teratai di atas aliran sungai. Tiga lentera lainnya ia lepaskan setelah itu. Lentera-lentera serupa yang lainnya juga ikut hanyut dalam aliran yang tenang itu. Sungai kecil itu seketika berubah menjadi sungai lentera yang indah dan memukau.
Puas dengan pemandangan di depannya, gadis Pangeran Yun itu beranjak pergi menjauhi sungai kecil. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Zhi Hao’er yang kebetulan sedang berjalan-jalan bersama tunangannya, Luan Yui.
Setelah berbincang sebentar, Shen Yanzhia memutuskan untuk ikut bersama Zhi Hao’er dan Luan Yui. Shen Yanzhia tertarik pada tujuan kedua orang itu yang hendak menyaksikan pesta kembang api dari atas menara kota yang berada tak jauh dari Paviliun Lingxiang. Di festival seperti ini, menara kota memang selalu dibuka untuk masyarakat umum.
Di tempat yang tinggi ini, Shen Yanzhia dapat menyaksikan gemerlapnya kota Rouwu dari atas. Pemandangannya benar-benar indah. Pemandangan seluas cakrawala itu membuat siapapun yang menyaksikannya terpesona. Di sini, orang bisa melihat megahnya istana kekaisaran dan tingginya gunung Wanjun dari kejauhan.
“Apa tanggal pernikahan kalian sudah ditentukan?” tanya Shen Yanzhia pada dua orang yang sedang kasmaran di sampingnya.
__ADS_1
“Karena tugas dinasku sudah selesai, pernikahannya mungkin akan dilaksanakan di bulan terakhir musim semi tahun ini,” jawab Zhi Hao’er. Shen Yanzhia mengangguk mengerti.
“Semakin cepat, semakin baik.”
Tepat setelah Shen Yanzhia melontarkan kata terakhir dalam kalimatnya, terjadi sebuah keributan kecil dari arah belakang. Dua orang laki-laki sedang beradu mulut dengan seorang perempuan cantik. Dari kejauhan, Shen Yanzhia sudah dapat menebak bahwa dua laki-laki ini sedang mabuk. Seorang wanita cantik yang sedang beradu mulut bersama mereka pastilah seorang pedagang toko yang meminta bayaran pada dua laki-laki tersebut.
Ada kilatan amarah dari mata dua orang laki-laki mabuk itu. Wanita cantik itu semakin tersudut. Dua laki-laki itu mengutuk dan mengumpat sambil berjalan mendekat ke arah wanita cantik itu. Tanpa sadar, wanita itu berjalan mundur karena takut. Tepat ketika punggung wanita cantik itu menyentuh dinding pembatas menara kota, kakinya menginjak ujung gaunnya sendiri hingga membuat wanita itu terjengkang ke belakang.
Orang-orang di sekitar mereka berteriak panik. Shen Yanzhia lalu refleks mengulurkan tangannya untuk meraih tangan wanita cantik yang hampir terjatuh itu. Ujung pangkal lengannya terasa perih karena bergesekan dengan permukaan dinding pembatas menara kota yang kasar. Shen Yanzhia berusaha menarik tubuh wanita yang sedang tergantung itu sekuat tenaga.
Beberapa orang lalu datang membantunya. Tubuh wanita cantik itu sudah berhasil diselamatkan. Shen Yanzhia menghembuskan napas lega karena momen menegangkan itu berakhir baik.
Akan tetapi, tepat ketika wanita cantik itu berjalan ke depan, ia tak sengaja menginjak ujung belakang gaunnya sendiri hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuh wanita cantik yang limbung itu menubruk tubuh Shen Yanzhia yang berada tepat di ujung dinding pembatas menara kota. Tanpa persiapan apapun, tubuh kecil Shen Yanzhia seketika terlempar melewati dinding pembatas menara kota. Wanita cantik dan orang-orang yang berada di sana berteriak panik kembali.
“Nona!” Tan’er berteriak paling keras. Semua barang yang dibawanya terjatuh.
Gadis pelayan itu berlari ke arah dinding pembatas, namun ditahan oleh Zhi Hao’er.
Apakah ini adalah akhir dari segalanya?
Alam bawah sadarnya bergejolak. Kakinya terasa menginjak sesuatu yang keras. Bukankah ia sudah mati karena terjatuh dari atas menara kota? Tapi, perasaan familiar apa ini? Mengapa dirinya merasa seolah-olah berada di atas sebuah batu? Apa kesalahannya terlalu banyak hingga hakim akhirat menempatkannya di sebuah padang berbatu?
Shen Yanzhia mencoba membuka matanya kembali. Ketika mata kejora itu terbuka, manik cokelat kecil miliknya menangkap sesuatu yang sangat tidak disangka-sangka. Shen Yanzhia benar-benar terkejut!
“Apa aku terlambat?”
Mata Shen Yanzhia menatap manik cokelat seseorang di hadapannya. Seluruh wajah orang itu tersapu bersih pandangan matanya.
“Kau baik-baik saja?”
Kesadaran Shen Yanzhia kembali ke tempatnya semula. Tanpa mengatakan apapun, Shen Yanzhia langsung memeluk sosok yang sedang menahan pinggangnya dengan erat. Debaran jantungnya yang kencang membuat dadanya terasa sesak. Tanpa sadar, wanita itu mengeluarkan air matanya. Sosok yang dipeluknya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Shen Yanzhia, membalas pelukan itu dan berusaha memberikan sebuah ketenangan.
__ADS_1
“Aku hampir mati,” lirih Shen Yanzhia di tengah tangisannya.
“Tidak, kau masih hidup.”
“Kenapa kau lama sekali?”
“Maaf.”
Shen Yanzhia melepaskan pelukannya. Tangan orang itu menghapus jejak air mata di pipi Shen Yanzhia. Wajah lugu itu masih tetap cantik meski riasan sederhananya pudar tersapu air mata.
“Wangye! Anda sudah kembali!”
Zhi Hao’er datang bersama Tan’er beberapa saat kemudian. Napas kedua orang itu tesengal-sengal setelah berlari kencang dari menara kota ke tempat ini. Saat Shen Yanzhia terjatuh, mereka menyaksikan sekelebat bayangan muncul entah dari mana dan membawa tubuh Shen Yanzhia melayang terbang, menjauh dari menara kota. Begitu tahu arah yang dituju oleh bayangan itu, keduanya langsung bergegas turun dan menyusul. Lin Zian menyambut kedatangan dua orang itu dengan senyuman.
“Aku akan dikutuk jika tidak kembali,” ujar Lin Zian dengan usil.
“Syukurlah, Tuan Muda sudah kembali,” Tan’er lega.
Pesta kembang api meledak di langit kota Rouwu. Ratusan lampion terbang mengiringi gemerlapnya malam di ibukota pada malam puncak perayaan festival musim semi ini. Musim semi juga mekar di hati Shen Yanzhia. Pria itu bukan hanya menepati janjinya, tapi juga menyelamatkannya dari kematian yang sangat tidak etis.
“Hao’er, di mana Luan Yui?” tanya Shen Yanzhia.
Zhi Hao’er terpaku.
Benar, di mana tunangannya itu?
“Astaga! Aku melupakannya!”
Dari kejauhan, Shen Yanzhia mendengar suara teriakan seorang wanita. Ia menoleh ke asal suara dan mendapati Luan Yui tengah berlari menuju tempatnya berdiri. Astaga, Zhi Hao’er tertular bodoh!
...***...
__ADS_1