
Sepuluh buah kotak berisi bahan-bahan obat herba tiba di kediaman Qin sore ini. Bahan-bahan obat itu datang dari istana dan dikirim kemari atas perintah Ibu Suri. Melihat bahan-bahan obat datang secara tiba-tiba, Shen Yanzhia mengurungkan niatnya untuk pergi ke istana karena kabar sakitnya Lin Zian mungkin telah sampai ke telinga Ibu Suri seperti hembusan angin. Shen Yanzhia bahkan belum sempat menulis surat untuk memberitahu keluarga istana bahwa Lin Zian sakit. Kabar ternyata memang lebih cepat menyebar.
Shen Yanzhia mengernyitkan dahi ketika ia melihat sebuah amplop cokelat di atas tumpukan bahan obat itu. Ia melihat segel istana di sisi luarnya. Setelah menyuruh pelayan mengantarkan kotak-kotak bahan obat itu ke ruang penyimpanan, Shen Yanzhia membuka suratnya. Wangi apel langsung menguar terbawa angin musim dingin begitu kertas di dalam amplop itu ia bentangkan. Kertas itu kosong. Tidak ada satu huruf pun terpampang di sana.
Shen Yanzhia terdiam sejenak memikirkan sesuatu.
Lilin penerang yang berada di samping tempat tidur Lin Zian ia ambil lalu ia letakkan di atas meja. Setelah memastikan tidak ada pelayan yang lewat atau masuk, Shen Yanzhia meletakkan kertas itu di atas api, menggesernya ke kiri dan ke kanan hingg beberapa tulisan dari tinta berwarna hitam mulai bermunculan. Tulisan itu tersusun seperti garis lurus ke bawah.
Shen Yanzhia tersenyum ketika ia berhasil membaca tulisan itu. Ibu Suri ternyata sangat perhatian. Tanpa diminta pun, orang tua mulia itu dengan gamblangnya memberitahukan kejadian di pengadilan istana dan perihal dipanggilnya Lin Zian ke istana pribadi Kaisar, yang mungkin menjadi penyebab Lin Zian menjadi seperti ini. Sudah ia duga, tikus-tikus istana itu memang bermasalah dan selalu mencoba mencari cara untuk membuat Lin Zian kembali jauh dari ibukota.
“Apa kau sangat penasaran terhadapku?”
Sebuah suara lembut menggetarkan hati Shen Yanzhia. Suara itu sangat dekat. Shen Yanzhia bahkan bergidik karena udara halus yang berhembus bersama suara itu menepuk pelan pundak dan bagian belakang telinganya. Shen Yanzhia menolehkan kepala ke asal suara itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Tidak lama kemudian, air matanya tumpah.
“Hei, kenapa kau menangis?”
Shen Yanzhia tidak menghiraukan pertanyaan Lin Zian. Tangisnya semakin dalam dan suaranya semakin serak. Melihat istri kecilnya menangis tiba-tiba, Lin Zian tersenyum kecil. Ia kemudian meraih kedua tangan Shen Yanzhia dan memeluk tubuhnya.
“Aku berencana akan benar-benar membunuhmu jika kau tidak membuka mata hari ini,” ujar Shen Yanzhia di sela-sela tangisnya.
“Sayang sekali kau tidak dapat melakukannya.”
Lin Zian mengurai pelukannya dan membiarkan Shen Yanzhia duduk kembali. Hatinya menghangat ketika ia melihat raut kekhawatiran di wajah cantik Shen Yanzhia. Lin Zian mulai menggerakkan kelopak matanya beberapa saat yang lalu. Tubuhnya terasa sedikit berat. Ketika ia bangun, ia mendapati Shen Yanzhia yang sedang duduk di depan sebuah lilin. Lin Zian melangkahkan kakinya dan melihat apa yang dibaca Shen Yanzhia dari belakang tanpa wanita itu sadari.
“Zian, kau pria menyebalkan! Aku akan menenggelamkanmu di kolam es jika kau berani tak sadarkan diri seperti itu
lagi!”
“Wangfei, apa kau tidak bisa mengatakan sesuatu yang baik ketika aku baru saja sadar dari sakitku?”
Shen Yanzhia memalingkan wajahnya ke samping. Bekas air matanya masih tersisa di pipi dan pelupuk matanya. Ia kesal dan senang di saat yang sama. Shen Yanzhia senang karena Lin Zian akhirnya sadar dan berhenti membuatnya khawatir setengah mati. Di sisi lain, ia kesal karena pria itu selalu bertingkah seperti hantu, berjalan tanpa suara dan selalu membuatnya terkejut.
“Aku menemukan penawar racun Rumput Biru. Tapi kau, orang pertama yang ingin kuberitahu malah terbaring
lemah seperti orang mati,” ujar Shen Yanzhia setelah semua ketenangan dirinya kembali seperti semula.
“Aku tahu.”
“Kau tahu tapi kau tetap tidak mau bangun?”
“Tubuhku terasa membeku seperti es, bagaimana mungkin aku dapat bangun? Bahkan, untuk membuka mata saja sangat sulit.”
“Sekarang es itu sudah mencair?”
Lin Zian mengangguk.
“Bagus. Jika tidak, aku akan memanggangmu di atas perapian.”
__ADS_1
“Wangfei, apa kau tidak bisa konsisten dengan kata-katamu?” tanya Lin Zian. Mulut wanita ini sangat suka berubah-ubah.
“Tentu tidak bisa. Tunggulah di sini, aku akan meminta Xu Chi untuk membantumu membersihkan diri dan mengganti pakaianmu.”
Tidak lama setelah itu, Xu Chi masuk sambil membawa baskom berisi air hangat. Pelayan itu segera menghampiri Lin Zian dan memeluknya hingga membuat Lin Zian sesak napas. Sungguh, ia tidak sadar berlaku tidak sopan karena kegembiraannya terlalu meluap-luap seperti sungai setelah hujan. Tadi ketika Shen Yanzhia memberitahunya bahwa Lin Zian sudah sadar, Xu Chi langsung bergegas karena ia juga sangat merindukan tuannya
itu.
“Xu Chi, bisa kau lepaskan aku?”
“Ah, maaf Tuan Muda.”
Setelah Xu Chi melepaskannya, Lin Zian kembali duduk. Tangannya memegang cangkir teh yang masih hangat. Lin Zian melemparkan tatapannya ke luar, ke pohon willow yang gundul dan dahan-dahannya digelayuti tumpukan salju. Angin musim dingin berhembus masuk. Lin Zian mengeratkan jubahnya.
“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanyanya pada pelayannya.
“Lima hari, Tuan Muda.”
“Apa yang terjadi selama aku tertidur?”
“Selama Tuan Muda sakit, wangfei yang selalu menjagamu. Dia juga mengatur seluruh kegiatan di kediaman dan sesekali pergi ke ruang obat untuk membuat ramuan penghangat tubuh untuk Tuan Muda.”
“Emm. Apa lagi?”
“Wangfei menghukum seluruh pelayan karena kami lalai dan ceroboh membiarkan Tuan Muda seorang diri dan hampir membuatmu kehilangan nyawa. Tuan, wangfei benar-benar seperti harimau betina yang mengamuk ketika marah,” ujar Xu Chi terus terang.
Xu Chi terlonjak kaget dan menutup mulutnya. Setelah menyadari tidak ada siapapun kecuali ia dan tuannya, Xu Chi mendesah lega.
“Tabib Ru Xiaolan selalu datang memeriksa setiap sekali dalam sehari. Oh ya, beberapa hari lalu Detektif Tang juga datang menjenguk Anda.”
“Apa yang dia katakan?”
“Aku tidak tahu pasti, Tuan Muda. Saat itu wangfei yang berbicara banyak dengannya di sini.”
Lin Zian mengangguk.
“Kau boleh pergi.”
“Tapi Tuan Muda, bagaimana dengan-”
“Aku bilang pergi!”
Xu Chi keluar tanpa sempat membantu Lin Zian membersihkan diri dan mengganti baju. Lin Zian masih menatap pohon willow di luar dengan matanya yang bersinar cerah.
“Bukankah sudah kubilang pergi?”
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
Lin Zian membalikkan badannya karena terkejut. Bukan, suara itu bukan milik Xu Chi.
“Siapa yang kau suruh pergi?”
***
“Wangfei…”
Gadis itu berdiri tegak di hadapan Lin Zian yang terpaku di tempatnya duduk. Matanya menatap tajam seperti elang yang mencari mangsa. Bola matanya berkilat bersih seperti bilah pedang. Rambutnya yang panjang menjuntai hingga ke pinggang. Hiasan rambut dari perak yang bertengger di kepalanya bergoyang seiring dengan gerakan kepalanya.
“Katakan, apa yang membuatmu menjadi seperti itu?” Shen Yanzhia lalu bertanya tanpa menurunkan pandangan matanya.
“Aku baru saja sembuh. Wangfei, apa kau setega ini pada suamimu?”
“Jawab atau aku tidak akan membuat penawar racun Rumput Biru lagi!”
“Aku tahu kau tidak akan tega melakukannya,” jawab Lin Zian. Shen Yanzhia mulai geram dan kesal.
“Xiao Qin yang terhormat, Xiao Jing Mei sedang bertanya padamu,” ujar Shen Yanzhia. Di akhir kalimatnya, ia memberikan tekanan penuh.
“Ah, aku ingat ada benih bunga musim dingin yang indah dan sangat langka.”
“Zian, jangan mengalihkan pembicaraan!”
Lin Zian tidak suka ditekan dan diintimidasi. Kedudukannya sebagai Pangeran Kedua yang terhormat dan jenderal muda bangsawan yang dikagumi banyak orang membuatnya sedikit berbangga hati. Wanita ini, jika dia bukan permaisurinya, Lin Zian sudah pasti memberinya hukuman cambukan atau pukulan. Ini adalah saat pertama baginya ditekan dan ditanya sedemikian rupa oleh seorang perempuan. Ditanya dan ditekan oleh musuh ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan ditanya dan ditekan oleh istri sendiri.
Lin Zian memilih untuk tidak menceritakan secara detail tentang kejadian di istana. Meskipun Ibu Suri sudah memberitahu Shen Yanzhia segalanya melalui surat, gadis itu tidak mengetahui alasan pasti yang membuatnya menjadi sakit seperti orang yang kehilangan harapan dan berada dalam keputusasaan.
Pria itu memilih membawa Shen Yanzhia ke sebuah bukit bersalju yang terletak di sebelah timur istana
kekaisaran Ling. Hujan salju turun kembali begitu kereta mereka melalui sebuah jalan yang sedikit menanjak dan dipenuhi batu-batu kerikil. Kereta itu lalu berhenti di sebuah dataran salju yang luas. Kusir kereta memberitahu Lin Zian dan Shen Yanzhia bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Shen Yanzhia mengeratkan jubah berbulunya. Udara masih terasa dingin meskipun hari sudah siang. Hujan salju turun kembali. Tangan kanan Shen Yanzhia lalu membentangkan sebuah payung untuk melindungi tubuhnya dari butiran-butiran putih halus yang turun dari langit tersebut. Ia kemudian membawa Lin Zian untuk berada di bawah payung yang sama, karena pria itu sepertinya datang tak membawa apapun selain dirinya sendiri.
Keduanya lalu berjalan di hamparan salju yang menutupi jalan. Setelah beberapa saat, keduanya sampai di depan sebuah gapura yang terbuat dari batu-batu kokoh setinggi dua tombak. Lebarnya hampir menyamai lebar gerbang istana. Batu-batu gapura itu juga tidak luput dari tumpukan salju.
“Kenapa kau membawaku kemari?” tanya Shen Yanzhia ketika keduanya sampai di depan sebuah altar persembahan yang cukup luas. Di atas altar itu terdapat sebuah pagoda berwarna cokelat yang terbuat dari tanah liat.
“Bukankah kau ingin tahu mengapa aku menjadi sakit?”
Lin Zian lalu menunjuk sebuah papan nama dari kayu berkualitas tinggi dengan dagunya. Di papan itu bertuliskan sebuah nama beserta gelar yang diukir dengan indah dan rapi. Shen Yanzhia menatap papan nama itu.
“Selir Kehormatan Rui?”
Lin Zian mengangguk. Ia kemudian menyalakan tiga buah batang dupa lalu menancapkannya di tengah-tengah pagoda. Pria itu lalu menunduk, berlutut memberi hormat di depan papan nama kayu. Asap wangi dari tiga batang dupa itu terbang ke langit terbawa angin. Meskipun sedang hujan salju, bara api dari batang dupa itu tidak padam dan semakin cepat terbakar.
“Aku akan menceritakannya kepadamu.”
__ADS_1