RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 22: Sampai Kapan Kau Akan Tertidur?


__ADS_3

Xu Chi menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dirinya tidak berani menatap wanita muda yang berstatus sebagai istri Pangeran Qin bahkan dengan lirikan kecil. Mata wanita muda itu terlalu menyala terang hingga terasa panas seperti membakar tubuhnya. Xu Chi menyadari bahwa ia bersalah, tidak sengaja mencari masalah dan malah membuat majikan perempuannya marah hingga hampir menghancurkan seluruh isi kediaman.


Pagi-pagi buta ketika hujan salju baru saja berhenti, Shen Yanzhia mendatangi seluruh kamar pelayan dengan seember air. Gadis itu lalu menyiramkan satu gayung air kepada setiap pelayan yang tengah tertidur lelap. Mereka, yang dipaksa keluar dari mimpi indah musim dingin oleh segayung air terkejut dan marah.


Jika saja mereka tak segera menyadari siapa yang sudah menyiramnya, hidup mereka mungkin akan berakhir tragis di tangan Shen Yanzhia. Istri Pangeran Qin itu terlalu menakutkan melebihi harimau jika sudah marah.


Shen Yanzhia menggiring seluruh pelayan kediaman Qin ke taman depan yang dipenuhi salju, menyuruh mereka berlutut di tengah tumpukan es yang membuat tulang dan daging menjadi beku. Tidak ada satu orang pun yang terlewat, kecuali Tan’er. Xu Chi, si pelayan pribadi sang pangeran juga terbawa imbas.


“Kalian tahu apa kesalahan kalian?”


Shen Yanzhia menatap tajam seluruh pelayan yang tengah berlutut dengan pasrah. Amarah yang bergejolak di hatinya masih belum padam meskipun cuaca sedang dingin seperti ini. Di tangan kirinya terdapat sebuah tongkat kayu yang biasa digunakan sebagai pemukul pakaian yang dicuci. Meskipun kecil, tapi jika tongkat kayu itu sudah mengenai kulit, sakitnya tidak jauh berbeda dengan hukuman cambukan.


“Xu Chi, ada yang ingin kau katakan?”


Shen Yanzhia beralih menatap pelayan pribadi Lin Zian. Xu Chi menunduk semakin dalam. Dirinya tidak mampu melihat aura menakutkan yang terpancar dari dalam diri Shen Yanzhia. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat seseorang marah hingga terlihat seperti ingin membunuh seluruh manusia di kediaman. Ia tidak tahu apakah ia harus menjawab atau diam saja.


Jika ia menjawab, ia takut Shen Yanzhia marah dan memukulnya. Jika tidak dijawab, kemungkinan kemarahannya akan semakin parah. Wanita muda ini, tidaklah mudah untuk dipahami dan ditebak isi hatinya.


“Jawab aku! Apa sekarang kau juga berani mengabaikan permaisuri setelah kau mengabaikan pangeran?”


Tubuh Xu Chi bergetar hebat. Suhu udara yang dingin serta tatapan tajam dan kemarahan Shen Yanzhia membuat seluruh kekuatan tubuhnya mati. Dengan suara bergetar, ia menjawab:


“Ampuni aku, wangfei. Aku bersalah, silakan hukum aku sesukamu.”

__ADS_1


Xu Chi mengernyitkan dahi ketika ia memberanikan diri menatap Shen Yanzhia. Wanita itu tertawa. Tawanya terdengar sangat mengerikan, seperti suara auman harimau yang mengerang.


Apa yang salah? Apa majikan perempuannya ini tidak puas dengan jawaban yang ia berikan? Lalu mengapa? Bukankah wanita ini hanya memerlukan sebuah jawaban yang dapat membuat dirinya terlihat benar dalam segala hal?


“Pangeran Qin adalah putra Kaisar. Kalian berani mengabaikannya hingga seperti itu. Apakah kalian sudah bosan hidup? Terutama kau, Xu Chi. Kau sudah mengikutinya bertahun-tahun, berani sekali kau meninggalkannya seorang diri di malam dingin seperti itu? Jika kalian berpikir satu kesalahan akan dimaafkan, maka akan ada kesalahan yang lain. Pikirkanlah cara untuk menghukum diri kalian sendiri. Aku dengan senang hati membuat kalian terjebak di dunia mimpi selamanya jika kalian berani mengulang kesalahan yang sama!”


Para pelayan yang kakinya sudah mati rasa karena berlutut terlalu lama dan beku, berjalan perlahan kembali ke tempat istirahat mereka yang basah disiram air. Sebagian pelayan itu ada yang menangis karena merasa bersalah. Tengah malam tadi, mereka memang sempat mendengar sebuah teriakan minta tolong. Tapi karena cuaca sangat dingin dan sunyi, mereka memilih untuk kembali terlelap dan mengabaikan teriakan itu, menganggapnya sebagai sebuah lolongan anjing yang kedinginan dan kelaparan.


Mereka tidak menyangka bahwa perilaku ceroboh mereka telah membuat seseorang yang mereka junjung tinggi hampir kehilangan nyawa dan membangunkan kemarahan seseorang yang lainnya.


Kesadaran hati para pelayan itu kemudian mengantarkan diri mereka ke dalam cambukan dan pukulan dari petugas kekaisaran atas kecerobohan mereka dalam merawat dan melayani Pangeran Kedua. Mereka dengan sukarela membiarkan tubuhnya sendiri menerima hukuman karena rasa bersalah dan rasa hormat yang tiada terkira. Meskipun dihukum, para pelayan itu tetap senantiasa setia dan mencintai pangerannya. Ya, memang seharusnya seperti itu.


...***...


Sejak kepulangannya dari istana, Shen Yanzhia tidak melihat pria itu tersenyum. Wajah Lin Zian seperti pualam yang padam cahayanya. Wajah yang biasanya usil itu menjadi datar dan dingin seperti balok es. Shen Yanzhia tidak berani mengganggunya karena ia khawatir pria itu mungkin saja marah dan emosi. Entah kenapa, aura menakutkan itu muncul begitu saja dari dalam diri Lin Zian.


Pria itu seolah menjadi seseorang yang tidak tersentuh sama sekali. Lin Zian bahkan melarang para pelayan untuk masuk dan melayani kebutuhannya. Hanya Xu Chi yang diperbolehkan berada di dekatnya selama beberapa hari ini.


Lin Zian masih tak sadarkan diri. Tiga lapis selimut sudah ditutupkan ke tubuhnya, tapi pria itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Shen Yanzhia menatapnya begitu lama. Rasa takut itu mulai menjalari tubuhnya kembali. Ini sudah hampir tengah hari, tapi suhu tubuh suaminya masihlah tetap dingin seperti malam tadi.


Usai menghukum dan memberi pelajaran pada para pelayan tadi, Shen Yanzhia menyuruh Xu Chi untuk menggantikan pakaian Lin Zian yang cukup tipis. Pria itu mungkin akan benar-benar membeku jika pakaiannya tidak diganti. Shen Yanzhia belum memaafkan pelayan itu, ia hanya memerlukan bantuannya karena ia tidak mampu menggantikan pakaian Lin Zian sendirian. Hal itu masih terasa tabu baginya meskipun Lin Zian adalah suami sahnya.


“Tan’er, bawakan aku sebuah kertas dan kuas!”

__ADS_1


Shen Yanzhia memanggil pelayan pribadinya yang sedang menunggunya di luar Paviliun Timur. Mendengar perintahnya, Tan’er segera membawakan kertas dan kuas yang diminta lengkap dengan tintanya. Ia mendapati majikan perempuannya sedang duduk di pinggir ranjang Lin Zian dengan raut wajah cemas. Sejak semalam, majikannya itu tidak tidur dan selalu menunggui Lin Zian, dan masih sempat membuang tenaganya untuk menghukum para pelayan.


“Berikan ini kepada Ru Xiaolan,” perintah Shen Yanzhia ketika ia selesai menulis.


“Ke mana aku harus pergi, Nona?”


“Kediaman Yun.”


“Nona, apa kau tidak akan beristirahat dulu? Hampir dua hari kau tidak beristirahat, aku khawatir Nona jatuh sakit.”


Shen Yanzhia tidak menanggapi perkataan Tan’er. Ia kembali memandangi tubuh dingin Lin Zian. Hatinya terasa sakit. Apakah sesuatu telah terjadi padanya ketika pria ini berada di istana beberapa hari lalu? Mungkinkah para pejabat mengusiknya? Ataukah Kaisar mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya?


Shen Yanzhia sungguh tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Ia hanya tidak menyangka bahwa seorang jenderal bangsawan seperti Lin Zian dapat jatuh seperti ini. Tampaknya, sesuatu yang menimpanya memang benar-benar serius dan meninggalkan bekas.


Ia harus bertanya pada orang-orang istana! Hanya dengan cara inilah, ia dapat mengetahui penyebab Lin Zian menjadi pendiam dan sakit seperti ini. Jika memang para pejabat telah menyinggungnya, maka ia tidak akan segan memberikan pelajaran pada mereka.


Berani sekali pejabat yang digaji oleh istana mengusik seorang pangeran kekaisaran? Begitu besarkah nyali mereka hingga membuat seorang putri kesayangan Ibu Suri marah? Bagaimanapun, Lin Zian dan Shen Yanzhia adalah pasangan yang dianugerahkan langit yang diikat pernikahan oleh Kaisar. Menyinggung Lin Zian sama saja menyinggung Shen Yanzhia. Apakah mereka juga sudah bosan hidup seperti para pelayan yang ia hukum tadi pagi?


Satu hal yang paling penting untuk saat ini adalah menyembuhkan Lin Zian dan mebuatnya bangun. Hanya setelah ia bangun, Shen Yanzhia dapat menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan perlahan agar ia tahu tindakan apa yang seharusnya ia lakukan.


“Zian, sampai kapan kau akan tidur? Bangun, Pangeran Kedua! Sadarlah, Xiao Qin!”


Shen Yanzhia memarahi suaminya berkali-kali. Ia mungkin akan menggila jika saja ia tidak ingat pada penawar racun yang sudah ia buat. Shen Yanzhia harus tetap waras dan berpikir jernih agar ketika Lin Zian sudah sadar, ia bisa memberitahu kabar bahagia tanpa melakukan kesalahan.

__ADS_1


“Zian, kau tahu? Aku akan memarahimu karena kau mulai membuatku khawatir setengah hidup!”


Shen Yanzhia berkata dengan geram. Kata-kata itu, meskipun sangat kasar, terasa seperti rintihan kecil karena nada suaranya bergetar. Ia benar-benar takut.


__ADS_2