
Perjalanan menuju kota Rouwu memakan waktu hingga berhari-hari. Bagi sebuah tempat terpencil seperti Kuil Dongshan, menjangkau Rouwu sama saja dengan menjangkau pohon kelapa.
Shen Yanzhia dan Niang Yuan berangkat menggunakan kereta sederhana milik Kuil Dongshan. Setelah semua keperluan perjalanan sudah siap, Shen Yanzhia dan Niang Yuan langsung naik ke atas kereta. Kusir kereta langsung menarik tali kendali kuda.
Wajah Shen Yanzhia tidak seceria biasanya. Beberapa hari ini, wanita itu selalu terlihat murung. Dia juga lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Sejak surat pemberitahuan itu datang, senyum di wajah Shen Yanzhia menghilang dan aura menyenangkannya padam.
Niang Yuan tahu, wanita di hadapannya sedang patah hati. Wanita manapun tentu tidak akan rela jika suami yang dicintainya menikah lagi dengan orang lain. Apalagi jika wanita yang akan dinikahi suami tercintanya memiliki status dan kedudukan yang lebih tinggi darinya. Bukan hanya diri suaminya yang direbut, tapi juga posisi permaisurinya akan diturunkan dan diganti.
Niang Yuan ikut prihatin pada nasib yang menimpa Shen Yanzhia. Memang, perihal takdir, tidak pernah ada yang tahu dan tidak ada yang bisa menebak. Berharap hidup bahagia, tapi cobaan justru datang di tengah jalan.
"Mei'er? Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Bibi."
Ucapan yang bertolak belakang dengan kenyataan itu membuat Niang Yuan menghela napas. Wanita memang selalu bersembunyi. Dia tahu Shen Yanzhia sedang berusaha tegar, meski hatinya sedang rapuh.
"Setidaknya, suamimu tidak akan mati."
Ya, perkataan Niang Yuan memang benar. Lin Zian hanya menikah lagi, bukan mau mati. Shen Yanzhia masih dapat melihatnya meskipun nanti akan terasa sangat jauh. Shen Yanzhia mungkin akan merasa lebih sakit karena dia tidak akan pernah bisa menjangkaunya lagi, padahal orang itu jelas ada di hadapannya.
Putri Duanmu adalah putri Kaisar Xiaxi. Dia datang sebagai utusan perdamaian. Jika menikah dengan Lin Zian yang statusnya hanya seorang Pangeran Kedua, dia tentu tidak akan menjadi seorang selir. Itu akan dianggap sebagai penghinaan jika terjadi. Kaisar Xiaxi pasti akan menuntut penjelasan. Lain halnya jika menikah dengan Putra Mahkota Lin Yang. Putri Duanmu bisa menjadi selir karena posisi permaisuri sudah ditempati dan sudah sangat kuat posisinya, berbeda dengan posisi permaisuri seorang pangeran.
Shen Yanzhia memejamkan matanya. Dia sungguh berharap bisa menenangkan diri dan hatinya. Semua ini terjadi terlalu cepat. Situasi berubah tanpa bisa diprediksi. Shen Yanzhia tidak tahu situasi apa yang akan ia hadapi saat ia sampai ke Rouwu nanti. Apakah dia akan kuat? Apakah dia tidak akan marah pada Putri Duanmu?
Bagaimanapun, ini juga bukan keinginan sang putri. Semua keputusan berada di tangan Putra Mahkota sebagai pengganti sementara Kaisar. Shen Yanzhia tidak bisa menyalahkan siapapun. Keadaanlah yang seharusnya disalahkan. Hukum langit lah yang pantas dipertanyakan, mengapa para Dewa berlaku tidak adil kepadanya.
Mengingat semua itu, Shen Yanzhia menjadi gelisah. Dia bingung pada sikap apa yang harus dia tunjukkan kepada orang-orang nanti. Dia bingung jika nanti ada orang yang bertanya dia habis dari mana, karena Shen Yanzhia sudah menghilang selama berminggu-minggu.
Tapi, Shen Yanzhia tidak tahu, Niang Yuan jauh lebih gelisah daripada dirinya. Untuk pertama kalinya setelah delapan belas tahun, Niang Yuan menginjakkan kaki kembali ke tanah kelahirannya, tanah yang memberinya kenangan dan kehidupan. Tragedi delapan belas tahun yang lalu masih terasa segar dalam ingatannya. Niang Yuan juga bingung ekspresi dan perasaan apa yang harus ia keluarkan saat mereka tiba suatu waktu nanti.
Seluruh keluarganya mati dan kediamannya hancur. Satu-satunya tempat tujuan yang bisa Niang Yuan datangi adalah kediaman seseorang yang pernah membantu menyelamatkan nyawanya. Tapi, dia juga tidak tahu apakah orang itu masih mengenali dan mengingat wajahnya setelah delapan belas tahun tidak bertemu.
__ADS_1
Apakah ada seseorang yang masih mengingatnya di ibukota?
Kereta tiba-tiba berhenti di sebuah jalanan sepi yang dikelilingi pohon-pohon rindang. Shen Yanzhia berkali-kali memanggil kusir dan bertanya apa yang terjadi. Tapi, tidak ada jawaban dari kusir itu. Karena penasaran, Shen Yanzhia memberanikan diri mengintip lewat tirai penutup. Dia berteriak terkejut saat tahu kusir kuda itu sudah terkapar di tanah dengan anak panah menusuk di dada dan bahunya. Darah segar menggenang di sekitar tubuh kusir itu.
"Bibi, kita diserang!"
Niang Yuan terkejut. Dia juga mengintip lewat tirai jendela. Gawat, situasi seperti ini sama persis seperti situasi yang pernah dialaminya delapan belas tahun lalu.
"Kita harus segera pergi!"
Niang Yuan mengajak Shen Yanzhia keluar dari kereta. Saat dua wanita itu turun, sekelompok orang bersenjata muncul dan mengepung mereka dari segala arah. Shen Yanzhia dan Niang Yuan terjebak.
"Habisi mereka!"
Salah seorang dari mereka berseru. Lalu, orang-orang bersenjata itu bergerak maju, mulai menyerang menyasar tubuh Shen Yanzhia dan Niang Yuan. Karena Shen Yanzhia tidak pandai bela diri, tangannya dipenuhi luka sayatan dari pedang para penjahat yang menyerangnya. Shen Yanzhia hanya bisa melawan dengan menghindari serangan tanpa membalas.
Lain halnya dengan Niang Yuan. Wanita itu dengan tangkas menangkis serangan para pembunuh dengan ranting kayu. Niang Yuan memukul, menendang, dan menampar para pembunuh dengan brutal hingga beberapa pembunuh terjatuh. Niang Yuan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil pedang. Sekarang, Niang Yuan lebih leluasa karena sudah memiliki senjata untum menyerang para pembunuh itu.
Meskipun Niang Yuan bisa berkelahi, tapi tenaganya tidak stabil karena ini pertama kalinya dia bertarung kembali setelah delapan belas tahun. Ilmu bela dirinya tidak sebagus dulu. Gerakannya juga sedikit melambat dan tidak secepat dulu. Tangannya juga beberapa kali tergores.
Shen Yanzhia menjerit saat sebuah pedang menusuk bahu kanannya. Wanita itu jatuh tersungkur di bawah pohon. Shen Yanzhia berusaha bangkit untuk melawan karena para pembunuh itu bergerak maju untuk menyerangnya kembali. Darah segar membasahi seluruh pakaian sederhananya. Shen Yanzhia sungguh tidak bisa berdiri lagi. Dia kehabisan tenaga.
"Mei'er!"
Saat para pembunuh itu hendak menghunuskan pedang ke arah Shen Yanzhia, Niang Yuan melompat dan menebas kaki, tangan, dan leher para pembunuh yang mengepung Shen Yanzhia dengan berani. Niang Yuan panik saat melihat Shen Yanzhia terkapar di tanah berlumuran darah.
"Bibi..."
Kesadaran Shen Yanzhia sedikit menurun. Wanita itu berusaha menekan pendarahan di bahunya dengan menekannya. Melihat situasi yang sangat genting dan tidak memungkinkan, Niang Yuan tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari sela pakaiannya. Isi botol itu berupa serbuk kuning kecokelatan. Tanpa menunggu lama, Niang Yuan langsung menaburkan bubuk itu ke mata para pembunuh. Seketika, para pembunuh itu berteriak kesakitan. Sudut-sudut mata mereka mulai mengeluarkan darah.
Niang Yuan terpaksa mengeluarkan serbuk itu. Serbuk itu adalah serbuk dari ekstraksi bunga lili yang sudah dicampur dengan Rumput Biru dan bubuk cabai. Serbuk itu menjadi racun yang sangat berbahaya. Siapapun yang matanya terkena serbuk itu, maka akan buta. Lebih parah lagi, mungkin mereka bisa mati jika tidak diberikan penawar.
__ADS_1
Niang Yuan tidak berencana mengobati mereka. Para pembunuh itu sudah menyerang dan melukai Shen Yanzhia. Tentu saja dia tidak akan memaafkan mereka.
"Mei'er, bertahanlah!"
Niang Yuan memapah tubuh Shen Yanzhia. Karena kereta kudanya sudah hancur, Niang Yuan tidak punya pilihan lain selain membawa Shen Yanzhia berjalan kaki, berharap ada orang yang lewat dan mau menolong mereka. Jika ada, Niang Yuan akan sangat berterima kasih.
Dalam keadaan terluka dan setengah sadar, Shen Yanzhia masih setia memegang erat gantungan giok phoenix. Giok putih itu berubah merah dilumuri darah dari tangannya. Niang Yuan tanpa sadar menitikkan air mata. Dia takut, dia takut Shen Yanzhia tidak bisa bertahan.
Dari kejauhan, Niang Yuan melihat sebuah kereta kuda sedang melaju ke arah mereka. Harapan mulai berpendar. Saat kereta itu sampai di hadapannya, Niang Yuan langsung berteriak.
"Tuan, bisakah kau membantu kami? Putriku sedang terluka!"
Si pemilik kereta terkejut saat ada suara wanita berteriak memohon padanya. Dia langsung keluar dan mendapati dua orang wanita sedang terluka. Salah seorang di antara wanita itu mengalami luka yang cukup parah. Sontak saja si pemilik kereta terkejut.
"Bibi, cepat masuk!"
Kusir kuda kereta langsung membantu Niang Yuan dan Shen Yanzhia naik. Sayang, saat Shen Yanzhia dibaringkan di dalam kereta, dia sudah tidak sadarkan diri. Si pemilik kereta yang masih muda itu berteriak panik.
"Cepat! Kita harus segera sampai di ibukota!"
Niang Yuan merasakan keanehan. Laki-laki muda di hadapannya ini begitu panik hingga membentak kusirnya sendiri. Sepertinya, ada sesuatu yang tidak beres.
"Kau mengenalnya?" tanya Niang Yuan.
Laki-laki muda itu mengangguk.
"Zhi'er adalah sahabatku."
Niang Yuan sangat terkejut. Rupanya, Tuan Muda di hadapannya ini mengenal Shen Yanzhia. Syukurlah, mereka bertemu dengan orang yang tepat. Shen Yanzhia masih bisa diselamatkan. Tidak, wanita itu memang harus selamat.
"Siapa kau?"
__ADS_1
"Aku Zhi Hao'er, putra tertua Marquis Zingyuan, Zhi Haoyan."
...***...