RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 60: Menuju Akhir


__ADS_3

Penghujung musim semi menjadi sebuah bencana bagi keluarga Xiao sebagai keluarga kerajaan. Betapa tidak, Ibu Suri yang selama ini dihormati sebagai tetua agung dikabarkan sakit parah dan sekarat di istananya. Kaisar juga tak kunjung menampakkan diri dan telah absen selama berbulan-bulan dari pengadilan. Di dalam pengadilan kekaisaran hanya tinggal Putra Mahkota Lin Yang dan para menteri yang seringkali bersinggungan satu sama lain.


Musim semi tahun ini juga menjadi bencana untuk Lin Zian. Di tahun ini, dia dipaksa menikah dengan perempuan lain setelah mengasingkan istrinya sendiri. Selain itu, kabarnya juga tidak pernah terdengar. Orang-orang misterius bermunculan di sana-sini, membuatnya kebingungan. Putri Duanmu, Detektif Tang, Shen Yanzhia, Pangeran Yun, Ibu Suri, Kaisar, Putra Mahkota, semua orang ini membuatnya stress setengah mati. Kalau tahu begini, dia akan memilih tetap tinggal di perbatasan dan tidak pernah kembali ke ibukota.


Di kamarnya, dia sudah didandani. Jubah pengantinnya yang panjang sudah terpasang dengan sempurna. Pagi ini, dia harus berangkat ke istana untuk melangsungkan pernikahan agung dengan Putri Duanmu. Sama sekali tidak ada kebahagiaan karena bukan ini yang dia inginkan. Lin Zian hanya ingin istrinya kembali kepadanya. Jika tidak bisa pun, setidakya dia bisa mendapatkan kabar tentangnya walau hanya sedikit.


Petugas pernikahan utusan istana sudah memanggilnya berkali-kali. Dengan langkah gontai, Sang Pangeran Kedua keluar dari kediaman dengan wajah murung. Orang-orang yang melihatnya bersimpati. Pada saat yang sama, mempelai wanita - Putri Duanmu juga keluar dari aula samping memakai baju pernikahannya. Kedua orang yang sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri sama sekali tak bahagia.


Rombongan pengantin diarak menuju istana. Di dalam aula, orang-orang penting dari dua kekaisaran sudah tiba, siap menyaksikan perhelatan agung yang hanya terjadi sekali sumur hidup. Kedua kekaisaran akan berdamai setelah ini, tidak akan ada perang yang menyengsarakan rakyat lagi.


Benar, hidup keluarga kerajaan bukan milik mereka sendiri. Sejak lahir, takdirnya sudah ditentukan oleh aturan istana. Tidak boleh egois, harus lebih mementingkan stabilitas kekaisaran. Antara Lin Zian dan Putri Duanmu sama-sama mengalami dilema yang panjang tak berkesudahan. Sayang, ada orang yang justru sengaja memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.


Lin Zian menatap benci pada Perdana Menteri ketika dia dan Putri Duanmu berjalan di tengah aula menuju altar depan singgasana. Kalau bukan karena hasutan pria itu, kakaknya tidak mungkin egois dan mengorbankan adiknya satu-satunya, bahkan membiarkan orang lain membuang saudara sepupunya sendiri ke tempat yang tidak diketahui. Senyum kemenangan di wajah pria itu membuat jiwa pembunuh Lin Zian meronta-ronta. Seandainya dia bukan perdana menteri, dia ingin sekali mengoyak tubuhnya dan menjadikannya makanan binatang.


Di sisi lain, Putri Duanmu meredup sinar matanya ketika beradu tatap dengan Tang Yin. Bagi seorang wanita yang baru jatuh cinta pada pandangan pertama, ini terlalu menyakitkan. Meskipun dia tidak bisa egois, namun tidak bisakah dia memilih kehidupan yang dia inginkan?


"Apakah kebahagiaan benar-benar bukan milik kita sendiri?" tanya Lin Zian pelan pada Putri Duanmu.


"Aku juga tidak tahu. Aku merasa jika aku mati sekarang, itu akan sangat baik," ucap Putri Duanmu tak kalah pelan.


Sepasang putri dan pangeran dari dua kekaisaran itu melangkah ragu ketika petugas upacara pernikahan kekaisaran menyuruh mereka memulai upacara. Keduanya menahan perasaan yang begitu menyakitkan. Tiba-tiba, seseorang berteriak sangat keras dari luar aula upacara dengan tidak tahu malu.


"Berhenti!"

__ADS_1


Sontak, semua orang langsung terkejut. Mereka semua melihat seorang wanita berjubah biru muda berjalan cepat sembari membawa seseorang yang pakaiannya cukup asing di mata semua orang. Lin Zian seketika membelalak ketika tahu wajah wanita itu. Itu dia! Dialah wanita yang kemarin menemuinya di tengah perjalanan dan memintanya melupakan Shen Yanzhia dan menerima semua takdirnya! Mengapa dia bisa ada di sini?


"Lancang! Siapa yang begitu berani mengacaukan pernikahan kerajaan?" teriak Perdana Menteri.


Niang Yuan melirik sekilas ke arah Perdana Menteri. Hatinya berdenyut, amarahnya memuncak ketika melihat wajah itu setelah belasan tahun berlalu. Niang Yuan ingin sekali melompat dan mengoyak tubuh Perdana Menteri, membalaskan dendamnya dan membalaskan dendam Xiao Yanzhi dan mertuanya yang mati di medan perang akibat perbuatannya. Dia ingin sekali membunuh pria tua itu dengan tangannya sendiri.


"Perdana Menteri, apa kau sudah melupakanku?" tanya Niang Yuan penuh intimidasi.


Sekilas, Perdana Menteri tampak terkejut. Dia tampak mengingat-ngingat pemilik wajah wanita yang ada di hadapannya.


"Yuan...Yuanniang?"


Semua orang lebih terkejut lagi. Mereka seakan dibuat tidak percaya pada perkataan Perdana Menteri. Lin Zian terpaku. Yuanniang? Wanita ini adalah Han Yuanniang?


Niang Yuan tersenyum sekilas. Dia tidak mau menjelaskan lebih jauh. Ada hal penting selain mengacaukan pernikahan ini. Niang Yuan melirik pemuda di sampingnya. Pemuda itu lalu mendongak. Barulah wajahnya kelihatan. Putri Duanmu mengenali wajah pemuda itu. Pakaiannya adalah pakaian seragam pengadilan Kekaisaran Xiaxi yang sering dipakai para pejabat penting kerajaan.


Pemuda itu menunduk memberi hormat sesuai gaya Kekaisaran Xiaxi. Di hadapan Putra Mahkota Lin Yang, pemuda itu melaporkan sesuatu yang sangat penting yang membuat semua orang tercengang bukan kepalang. Betapa tidak, kabar itu begitu menggemparkan hingga siapapun tidak mampu mengedipkan mata dan berpaling sedetik saja.


"Tuan Puteri, Yang Mulia Kaisar meninggal. Aku mohon kembalilah ke Xiaxi sekarang bersamaku," ucap pemuda itu.


Kaki Putri Duanmu seketika lemas. Dia terhunyung, untung saja Lin Zian menahannya hingga dia tidak jatuh. Tatapan matanya menjadi kosong.


"Ayahanda...Ayahanda meninggal?"

__ADS_1


Pemuda utusan menunduk.


"Yang Mulia sakit selama beberapa hari dan meninggal malam tadi. Dia berkata ingin menemuimu untuk terakhir kalinya. Tuan Puteri, mohon kembalilah bersamaku," pinta utusan itu.


Putri Duanmu langsung turun dari altar. Kerudung pernikahannya terbang dan dia melepaskan jubahnya di hadapan banyak orang. Sang putri berbalik, lalu menunduk kepada Putra Mahkota dan Lin Zian. Dengan suara bergetar, dia memohon izin untuk kembali ke Xiaxi sekarang juga. Ayahnya meninggal dan dia tidak berada di istana, sungguh membuatnya menyesal setengah mati. Putri Duanmu berkata bahwa Xiaxi akan mengirimkan utusan lain dan meminta maaf secara resmi setelah acara berkabung selesai dan kaisar baru naik takhta.


Putra Mahkota dan Perdana Menteri tidak berkata apa-apa. Pernikahannya belum selesai, namun sang putri sudah pergi meninggalkan istana kekaisaran dan kembali ke negaranya. Sementara itu, Niang Yuan tidak ikut pergi. Dia masih punya urusan lain yang harus diselesaikan hari ini. Semua orang yang masih dalam kebingungan berbalik menatap Niang Yuan dengan tidak percaya.


"Xiao Qin," panggil Niang Yuan.


"Benar, aku adalah bibimu. Istri dari Putera Mahkota Xiao Yanzhi."


"Bukankah kau sudah meninggal?" tanya Perdana Menteri. Dia tidak percaya kalau wanita ini adalah Han Yuanniang.


"Kenapa? Apa Perdana Menteri tidak senang aku masih hidup?"


Tidak ada yang bisa berkata-kata. Jika benar wanita ini adalah Han Yuanniang, istri putra mahkota terdahulu, lalu siapa mayat yang belasan tahun lalu dimakamkan di makam kekaisaran? Lebih menakutkannya lagi, apa yang sebenarnya terjadi pada belasan tahun lalu ketika kaisar dan putra mahkota sebelumnya mati di medan perang dan istana kekaisaran goyah selama lebih dari satu tahun?


"Aku datang untuk mengambil kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik putriku. Aku ingin mengambil kembali menantuku!"


Pernyataan Niang Yuan kembali membuat semua orang tercengang. Siapa yang dimaksud oleh wanita ini?


"Yuanniang, apa maksudmu?"

__ADS_1


__ADS_2