RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 62: Penjahat Hina


__ADS_3

Pertarungan antara pasukan pemberontak dengan pasukan istana kekaisaran terus belangsung. Di dalam aula, Lin Zian dan Lin Yang bersama-sama melawan Perdana Menteri.


Pedang Perdana Menteri mengarah pada Niang Yuan. Wanita itu terlalu sibuk menaburkan racun dan mempertahankan dirinya dari serangan. Selir Duan melihat pedang tajam itu hendak menembus punggung Niang Yuan.


Selir Duan kemudian mendorong Niang Yuan. Pedang itu menembus dadanya yang tertutup kain indah berwarna merah muda. Seluruh tubuhnya bergetar tatkala pedang itu menerobos jantungnya. Ternyata seperti inilah rasanya dibunuh oleh ayahnya sendiri!


"Selir Duan!" Niang Yuan berteriak. Dia menaburkan racun untuk melumpuhkan tubuh Perdana Menteri sementara waktu.


Lin Zian dan Lin Yang segera menghampiri Selir Duan yang sekarat. Mata yang biasanya begitu arogan perlahan meredup sinarnya. Rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuh dengan cepat. Kemudian, Selir Duan menutupkan matanya rapat-rapat.


Lin Zian, Lin Yang dan Niang Yuan menatap Perdana Menteri penuh kebencian.


Tidakkah ia merasa menyesal setelah mengkhianati dan mencelakai tuannya? Tidakkah ia merasakan kepedihan Ibu Suri yang kehilangan suami dan putra tercintanya? Tidakkah ia merasa kasihan atas kesengsaraan Putri Mahkota yang harus menjalani kehidupan sebagai orang yang sudah mati dan harus terus bersembunyi?


Tidakkah ia mendengar rintihan kesakitan Selir Rui yang sekarat karena racun yang ia berikan secara terbuka? Tidakkah ia mendengar jeritan menyakitkan Sang Ratu yang harus meregang nyawa untuk melindungi orang-orang tercintanya?


Tidakkah ia merasakan kepedihan seorang Lin Zian yang tidak pernah bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu kandung karena keegoisan dan ketamakannya? Tidakkah ia merasakan betapa besarnya beban moral yang ia pikul setelah membuat seluruh isi negeri menangis karena ditipu hingga mereka kehilangan rumah, kekayaan, keluarga, kebahagiaan, bahkan kehilangan pemimpin yang menjadi titik terakhir harapan dan tujuan hidup mereka?


Apakah ia pernah merasa bersalah atas semua penderitaan seluruh kekaisaran yang terus berkelanjutan akibat semua perbuatannya? Apakah ia selalu menari di atas mayat keluarga dan saudara-saudaranya sendiri? Apakah ia menikmati setiap sen yang dihasilkan dari memeras darah seluruh penduduk negeri?


Sungguh, orang ini terlalu serakah dan terlalu tidak tahu malu! Dia tidak hanya membunuh keluarga kerajaan, tapi juga membunuh dan menghancurkan seluruh isi negeri! Bahkan tanah dan langit pun tidak akan sudi menerima mayatnya! Bahkan raja neraka pun tidak akan sudi menerima rohnya yang sangat kotor dan hina itu!


Sekarang, orang paling hina itu bahkan masih tertawa bahagia setelah membunuh darah dagingnya sendiri!


"Perdana Menteri! Kau telah membunuh Selir Agung!"

__ADS_1


Perdana Menteri tidak peduli. Tubuhnya pulih dengan cepat. Dia mengangkat pedangnya, lalu bersiap menghunusnya kepada Lin Zian. Akibat pria ini, semua rencananya berantakan.


Perdana Menteri ingi membunuh Lin Zian dan meneruskan perannya dengan memperalat Putra Mahkota Lin Yang. Perjuangannya yang tersembunyi tidak bisa berakhir hanya karena peperangan kecil ini.


Asalkan Lin Zian dan Han Yuanniang mati, dia bisa mengendalika situasi. Perdana Menteri masih membutuhkan Lin Yang untuk menjadi bonekanya, dia tidak akan membunuhnya.


Lin Yang melihat rencana licik Perdana Menteri. Dia sudah banyak bersalah pada adiknya. Jika dia mati sekarang, tidak akan ada pengaruh besar untuknya. Lin Yang ingin melindungi adik satu-satunya bahkan jika dia harus kehilangan nyawa.


Pekikan Lin Yang mengejutkan Lin Zian dan Niang Yuan yang masih berusaha membangunkan Selir Duan. Ketika berbalik, mereka melihat sebuah pedang tajam menusuk perut Lin Yang hingga tembus ke belakang. Darah segar itu seketika mengalir deras dari tempat tusukan dan mulut.


Lin Yang sekarat. Melihat kakaknya hampi meregang nyawa, Lin Zian segera memukul kepala Perdana Menteri dengan ujung tangkai perang hingga pria itu tidak sadarkan diri. Lin Zian tidak membunuhnya, dia masih ingin melihat orang hina yang berdosa tersebut menderita menerima hukumannya.


Lin Zian menopang tubuh kakaknya. Sang pangeran menangis sembari menekan luka di perut Lin Yang. Lin Yang beberapa kali batuk darah. Dia memegang erat tangan adiknya.


"Zian... Aku banyak bersalah padamu.... " ucapnya terputus-putus.


Lin Yang tertawa kecil.


"Jika kau mati, bagaimana dengan kekaisaran ini? Lin Yang bodoh, kau benar-benar kakak yang tidak berguna!"


Lin Yang kembali tertawa mendengar kutukan adiknya terhadapnya. Rasanya, dia telah kembali ke masa kecil ketika keduanya masih berinteraksi sebagai kakak adik yang setara. Bagian hidup yang telah lama hilang itu kembali hari ini, di saat terakhirnya yang hanya tinggal beberapa detik lagi.


"Kau berbakat. Kelak, ayahanda masih memerlukan bantuanmu. Zian, maukah kau memaafkanku?"


"Aku tidak pernah membencimu! Untuk apa kau meminta maaf?"

__ADS_1


Lin Yang tidak punya waktu lagi. Dia menarik napasnya dan menggenggam erat tangan adiknya. Setelah helaan napas panjang itu, dia memejamkan matanya rapat-rapat, menyusul Selir Duan yang telah lebih dulu menutup mata.


Lin Zian berteriak histeris. Kakaknya telah meninggal. Niang Yuan ikut terisak. Lin Yang tidak bersalah. Penjahat hina itu yang bersalah. Dia telah membunuh banyak orang. Tidak seharusnya Lin Yang menjadi korban dari keganasan Perdana Menteri.


Tepat saat itu, Zhi Hao'er, Mo Ran, dan Ru Xiaolan masuk ke aula setelah bertarung mati-matian di luar istana. Mereka tertegun mendapati Putra Mahkota Lin Yang dan Selir Duan terbujur kaku bersimbah darah.


"Wangye..."


Lin Zian memeluk jasad kakaknya. Tidak peduli berapa banyak darah yang menempel. Melihat adegan memilukan itu, ketiga sahabat istrinya menitikkan air mata. Mereka terlambat satu langkah.


"Laporrrr!"


Seorang kasim berlari masuk dengan panik dari luar, memecah keheningan dan mengalihkan perhatian. Dengan tatapan kosong, Lin Zian bertanya, "Ada apa?"


Kasim tampak ragu. Masih ada jejak air mata di wajahnya yang kecil. Mo Ran yang paling berani kemudian menyuruh kasim itu berbicara. Setelah mempersiapkan diri cukup lama, akhirnya kasim itu angkat bicara.


"Pangeran, Yang Mulia Ibu Suri telah mangkat..."


Lin Zian kembali berteriak histeris. Orang yang paling disayanginya dengan tega meninggalkannya lagi. Apakah mereka memang sengaja ingin menyakitinya? Apakah mereka telah sepakat untuk mati di hari yang sama?


Niang Yuan menatap kosong pada semua orang. Dia juga terkejut. Mertuanya yang sangat baik dan hebat telah ikut pergi menyusul Selir Duan dan Lin Yang, ikut menemui mendiang Kaisar, Putra Mahkota, Ratu Shi, juga Selir Rui yang telah lebih dahulu mangkat.


Kemarin, wanita tua itu sudah membaik. Mengapa dia malah meninggal? Apakah Ibu Suri telah tahu kalau hari ini telah datang dan semua bebannya telah terangkat hingga dia bisa melepaskan hidupnya?


Niang Yuan berlari meninggalkan aula. Dia berlari secepat yang dia bisa menuju Istana Guanling untuk memastikan apakah kabar itu benar atau tidak.

__ADS_1


...***...


__ADS_2