
Kediaman Pangeran Yun menjadi begitu sunyi setelah hujan reda. Beberapa penjaga pintu gerbang sedang berbincang ringan mengusir dingin dan kantuk. Paviliun-paviliun kediaman para putri sudah padam cahaya lilinnya. Dari lima buah paviliun yang berjajar, hanya ada satu paviliun yang tampak berbeda dari yang lainnya. Halamannya sedikit lebih sempit, tapi yang membuatnya tampak berbeda adalah bunga-bunga yang berjajar rapi di sekitaran halaman tersebut. Daun-daun dan kelopak-kelopak bunganya tampak berkilauan terkena cahaya lilin yang menggantung hampir di setiap tiang penyangga. Lilin penerang di dalam paviliunnya juga menyala.
“Nona, ini sudah malam. Bagaimana kalau kau lanjutkan esok hari?”
“Tidak bisa. Aku masih harus membalaskan dendamku. Tan’er, apa kau tega membiarkan aku dipermalukan di depan umum seperti itu lagi?”
“Tapi Nona, ini sudah sangat larut. Aku takut Tuan akan melakukan inspeksi mendadak lagi,” ujar Tan’er penuh kekhawatiran.
“Tidak akan. Kujamin sekarang Ayah sedang terlelap bersama Selir Yi.”
“Shen Yanzhia!”
Tiba-tiba suara penuh tekanan itu hampir membuat Shen Yanzhia melemparkan pena berlapis peraknya. Tan’er menunduk takut.
“Tidur sekarang atau aku akan menghukummu!”
Shen Yanzhia langsung meniup lilinnya. Seketika gelap.
“Aku sudah bilang ‘kan kalau Tuan pasti datang,” cecar Tan’er sembari melangkah terbata-bata menuju pintu.
“Sudah pergi sana, aku sudah tidak butuh bantuanmu.”
Tanpa beranjak dari meja belajar, Shen Yanzhia tertidur pulas. Kertas yang baru ia isi coretan-coretan tidak jelas itu sudah kusut tertimpa wajahnya. Sebagian tintanya masih belum kering hingga menempel pada pipi putihnya. Tentu saja ia tak menyadarinya karena sangat gelap. Shen Yanzhia terlalu malas melangkah ke tempat tidur.
Tubuh Shen Yanzhia terlalu lelah. Hari ini benar-benar membuat dirinya serasa menjadi perempuan paling jelek di dunia. Bagaimana tidak, ia yang selama ini selalu menjaga kebersihan dirinya secara terang-terangan diejek bau dan tidak pernah mandi di depan semua orang. Selain itu, ia juga disiram air bekas cuci tangan.
Shen Yanzhia tidak akan pernah melupakan kejadian itu seumur hidupnya. Ia harus membalas dendam atas perlakuan ketiga saudaranya. Rasa malu dan penghinaan yang ia terima tidak akan ia biarkan begitu saja. Shen Yanzhia tidak pernah melupakan balas dendamnya. Ia bahkan membawa balas dendamnya hingga ke alam mimpi.
“Aku tidak mau tahu. Hari ini mereka harus mendapatkan balasan karena berani mempermainkanku. Kalian lihat saja!” Shen Yanzhia menggerutu terus menerus.
“Nona, apa kau bisa diam sebentar? Aku kesulitan merapikan rambutmu karena kepalamu tidak bisa diam dari tadi,” pinta Tan’er.
“Bukankah sudah kubilang jangan menyisir rambutku lagi? Aku bukan bayi, Tan’er. Aku ini perempuan dewasa.”
__ADS_1
Tan’er menghela napas. Tidak aneh jika majikannya selalu bertingkah liar dan sembarangan, tidak seperti kebanyakan perempuan bangsawan pada umumnya. Ia yang telah mengabdi selama belasan tahun, mengiringi tahap demi tahap kehidupan Shen Yanzhia tentu tahu betul segala hal yang sudah dialami majikannya. Di antara lima bersaudara, hanya Shen Yanzhia-lah yang perilakunya sangat berbeda dari saudara-saudaranya. Jika kebanyakan perempuan sangat suka menyulam, Shen Yanzhia lebih suka menggulung kertas dan melemparkannya ke dalam wadah. Shen Yanzhia tidak pernah menyukai pemerah bibir, bubuk pewangi, atau apapun itu. Ia lebih suka menumbuk bunga lalu dijadikan lulur mandi atau sabun.
Pangeran Yun sudah sering mendapatkan masalah karena perilakunya. Meskipun begitu, Shen Yanzhia adalah putri kesayangan Ibu Suri. Sebagai anggota keluarga kerajaan, ia memiliki posisi dan status lebih istimewa dari saudara-saudaranya yang lain. Sejak kecil, Ibu Suri sudah sangat menyayanginya. Ibu dari Kaisar Agung itu telah mencurahkan kasih sayang penuh pada Yanzhia.
“Tan’er, apa semua yang kuminta sudah siap?”
Tan’er mengangguk.
“Nona, apa kau yakin akan benar-benar melakukannya? Bagaimana jika Tuan marah?”
“Tentu aku akan melarikan diri.”
“Ah, benar. Kau putri kesayangan Ibu Suri, kau bisa pergi ke istana sesuka hatimu. Tapi Nona, apakah kau tidak takut?”
“Mereka yang merasa takut adalah mereka yang merasa iri dan tidak mampu mengendalikan diri. Kalaupun aku melarikan diri, aku tak akan pergi ke istana. Ayah akan tetap menemukanku. Aku tahu banyak tempat yang bisa kujadikan lahan untuk sembunyi.”
“Nona, sebenarnya sudah berapa jauh kau berkeliaran di kota ini? Apa kau pergi tanpa sepengetahuanku?”
Ramai-ramai, orang di sekitar Shen Yanzhia mulai berkerumun. Sesuatu yang sedang diperbuatnya begitu menarik perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, ia dengan santainya mendebat Mei Ling, kakak ketiganya dengan dalih menumpahkan mangkuk sup yang sedang dibawanya. Akal-akalan Shen Yanzhia terlalu sempurna untuk diketahui semua orang.
“Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?”
“Kau masih bertanya? Kasihan, sepertinya kakak ketigaku ini sudah mulai kehilangan kebajikannya. Biar kuberi tahu, kakak ketiga tersayang, kau menumpahkan sup kesukaanku dengan sengaja. Sayang sekali, aku jadi tidak bisa memakannya sekarang,” ucapnya dengan nada sedih.
“Kau gila! Berani sekali kau menuduhku. Aku tidak pernah melakukannya.”
“Ah, aku tahu. Sepertinya, bukan hanya kebajikannya yang hilang, tapi ingatannya juga sudah mulai terganggu. Kakak ketiga, apa kakak sakit?”
Shen Yanzhia membuat orang-orang yang menyaksikan perdebatan mereka berbisik-bisik. Sebagian berkata bahwa Shen Yanzhia hanya mencari gara-gara, sebagian lagi berkata bahwa Mei Ling bersalah karena sudah dengan sengaja menumpahkan sup. Shen Yanzhia tetap pada kondisi tenang dan santainya, sementara Mei Ling sudah sangat kesal dan marah.
“Yanzhia, kau keterlaluan! Akan kuadukan perilakumu kepada ayah!”
“Kakak, apa kau lupa siapa yang mencari gara-gara denganku terlebih dahulu?” Shen Yanzhia berbisik datar. Ia menoleh ke sekeliling lalu menghela napas lembut. Tangannya terlipat di dada sambil terus mengintimidasi saudaranya.
__ADS_1
“Kakak, sudahlah. Kau minumlah dulu, kita mungkin bisa membicarakan ini baik-baik dengan kakak keempat,” ujar Zhang Qin, adik bungsu keduanya. Mei Ling segera meneguk air yang disodorkan Zhang Qin. Senyum miring terukir di bibir Shen Yanzhia.
“Kakak ketiga, apa kau baru saja minum? Ya ampun, aku lupa memberitahumu kalau air yang diberikan Adik Zhang adalah air bekas cuci tanganku tadi,” ujarnya dengan nada dan ekspresi terkejut.
“J..Jangan bohong! Aku jelas-jelas mengambilnya dari kendi tadi, mana mungkin itu air kotor! Kakak keempat, kau jangan mengarang cerita!”
Shen Yanzhia menghela napas lagi. Ia kemudian memanggil Tan’er dan membisikkan sesuatu padanya. Pelayannya segera pergi dan kembali setelah beberapa saat sambil membawa kendi berisi air.
“Adik Zhang, apa kau mengambilnya dari kendi ini di kedai itu tadi?” tanyanya sembari menunjuk kedai makan tak jauh dari posisi mereka. Zhang Qin memperhatikannya dengan saksama lalu mengangguk.
“Sepertinya Adik Zhang lupa kalau aku ini orang yang sangat ceroboh. Aku tak sengaja memasukkan air bekas cuci tanganku ke dalam kendi ini.”
Zhang Qin tampak sangat terkejut. Ia tak menyangka kalau perkataan saudara keempatnya ternyata benar. Ia sudah melakukan kesalahan besar. Zhang Qin sudah membuat Mei Ling semakin marah. Orang-orang di sekitar mereka ada yang tertawa, ada juga yang menatap nanar dan kasihan.
“Ah, kakak ketiga, sebagai adik aku meminta maaf. Lain kali, suruh adik bungsu kita supaya lebih berhati-hati lagi.” Shen Yanzhia berjalan pergi. Sebelum menjauh, ia membisikkan seuatu pada telinga Mei Ling.
“Kemarin kau membuatku basah disiram air bekas cuci tangan. Hari ini, aku membalasmu dengan membuatmu meminum sendiri air bekas cuci tangan itu. Ingatlah kakak, bukankah sudah impas?”
Langkah Shen Yanzhia begitu ringan. Siapapun bisa tahu kalau hari ini ia mendapatkan kemenangan besar. Setelah ini, tidak akan ada yang berani mengganggunya lagi. Tentu saja! Perempuan muda itu adalah putri kediaman Yun yang paling tangguh dan kuat. Mencari masalah dengannya sama saja dengan mencari mati. Mata dibayar mata, rasa malu dibayar malu.
Kebahagiaan dari kemenangan yang baru saja ia dapatkan sayangnya tidak bertahan lama. Ketika ia sampai di kediaman, ayahnya segera menyuruhnya membersihkan diri dan bersiap karena titah Kaisar akan segera tiba. Shen Yanzhia tidak tahu tentang titah, dan hanya menurut. Ia juga menurut ketika pelayannya memakaikan pakaian sutra yang sangat bagus dan mahal. Ia sendiri tak tahu kapan ayahnya membelikan pakaian indah itu.
Wajah indah Shen Yanzhia yang biasanya polos sekarang dipoles dengan sedikit bedak tipis. Bibirnya juga diwarnai hingga lebih merah merona. Rambutnya yang indah dan wangi ditata sedemikian rupa. Maka begitu ayahnya memanggilnya ke aula utama, ia menjelma menjadi seorang putri yang anggun dan sangat jelita.
Aula utama yang sering digunakan sebagai balai pertemuan sekaligus ruang keluarga itu sudah terisi penuh oleh orang-orang dari kekaisaran dan keluarga Yun, dari nyonya utama hingga selir tingkat rendah, lengkap dengan putri-putri dan pelayan-pelayan mereka. Shen Yanzhia lalu dipapah dan diperintahkan untuk duduk di samping ayahnya.
“Titah Kaisar sudah diturunkan. Harap dengarkan dengan baik.”
Seluruh manusia pengisi aula lalu menunduk ke arah si pembaca titah. Tangan-tangan mereka rapat menyentuh lantai, kepala mereka menunduk dan keningnya hampir bersentuhan dengan dasar aula. Shen Yanzhia menunduk di barisan paling belakang. Barisan depan diisi oleh Pangeran Yun, permaisuri utama, tiga selir, dan saudara-saudara Shen Yanzhia.
Pembaca titah itu membentangkan selembai kain berwarna emas berisi serangkain huruf hasil tulis tangan Kaisar. Tentu di dalamnya berisi titah sekaligus perintah yang harus diterima dengan rasa suka. Titah yang harus dilaksanakan, dihormati, dan dianggap sebagai sebuah anugerah.
Semuanya tidak ada yang bersuara selama titah Kaisar dibacakan. Hanya diam dan mendengarkan.***
__ADS_1