RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 5: Bertemu Tabib Gila di Hari Pernikahan


__ADS_3

Dua hari kemudian, sebuah pernikahan megah nan indah berlangsung di istana. Pangeran Qin, atau Xiao Qin sedang duduk menanti mempelai wanitanya, Putri Mei, atau Xiao Jing Mei alias Shen Yanzhia datang. Pangeran Agung Yan juga sudah datang bersama permaisuri dan kedua selirnya.


Kaisar Agung itu memang berputra dua. Putra pertamanya adalah Lin Yang atau yang dikenal sebagai Pangeran Xiao Yan, berpangkat sebagai putra mahkota. Kaisar membuat putra pertamanya menjadi pribadi yang cerdas, jujur, dan berani. Sedang untuk putra keduanya yang bernama Lin Zian atau Pangeran Xiao Qin, Kaisar membuatnya menjadi seorang perwira militer yang kuat, gigih, dan tangguh.


Sejak usianya lima belas tahun, Lin Zian sudah dikirim ke kamp militer untuk menerima pelatihan. Kini, Lin Zian yang telah menjadi jenderal besar itu akan segera memiliki nyonya di kediamannya.


Bagi Lin Zian, istana adalah tempat yang sepi. Ia masih ingat betul bagaimana ibunya mati tepat ketika ia dikirim ke kamp militer untuk yang kedua kalinya.


Kaisar bahkan tidak memberinya ruang untuk berkabung, menangisi kematian ibunya yang tragis dan memakamkannya. Lin Zian tetap tidak diperbolehkan pulang meski ia memohon berkali-kali. Lin Zian juga tidak diizinkan memiliki dendam dan sakit hati, hingga ia tumbuh sebagai pangeran yang tidak pernah menangis, setia, dan tampan meskipun terkadang sedikit egois.


Dia tidak mempercayai siapapun di istana termasuk Kaisar, ayahnya sendiri. Terlalu bodoh baginya jika ia percaya pada pria yang tidak membiarkan putra keduanya sendiri melihat jasad ibu kandungnya. Lin Zian hanya bisa percaya pada dirinya sendiri.


Dia bisa bersikap dingin kepada orang-orang yang memandang rendah dirinya dan menghina ibunya. Dia juga bisa bersikap hangat kepada orang-orang yang memberinya kehangatan.


Jika bukan karena keinginan Ibu Suri, Lin Zian lebih memilih menikah di kediaman pribadinya. Setidaknya, ia masih bisa merasa tenang karena tidak akan ada banyak pasang mata yang memperhatikannya. Bagi Lin Zian, dipandangi oleh ribuan musuh lebih baik dibandingkan dipandang seratus pejabat istana.


Hari sudah beranjak siang, tetapi mempelai pengantin belum juga datang. Seorang penjaga kemudian berbisik pada seorang kasim, kasim itu lalu membisikan kembali bisikan penjaga kepada Kaisar. Raut wajah Kaisar agak terkejut, kemudian ia melambaikan tangan pada Lin Zian, menyuruhnya mendekat. Kaisar lalu berbisik,


“Ada sesuatu yang terjadi pada perjalanan pengantinmu.”


“Di mana Putri Jing Mei sekarang?”


“Pergilah, cari dia. Jangan membuat kami menunggu lebih lama lagi.”


“Baik, Ayah.”


Sebelum pergi, Lin Zian menoleh ke sekeliling. Ia dapat merasakan bahwa para pejabat istana yang hadir di sini sudah mulai mempertanyakan mengapa upacaranya belum dimulai lewat ekspresi wajah dan tingkah laku mereka.


Tiba-tiba Lin Zian menjadi kesal. Bagaimana mungkin wanita itu berani menghancurkan hari pernikahannya sendiri? Lin Zian lantas memohon pada Kaisar untuk memberinya sedikit waktu. Lin Zian berjanji akan membereskan sesuatu tersebut dan kembali ketika tengah hari, setidaknya untuk memberikan kepastian kepada seluruh orang-orang istana yang hadir di sini.

__ADS_1


Lin Zian lalu bergegas pergi.


Bai Ru mengekorinya. Setelah berputar-putar di jalanan sekitar istana, Lin Zian melihat sebuah tandu pengantin tergeletak di tengah jalan. Para pembawa dan isi tandunya semuanya tidak ada. Lin Zian lalu melihat kerumunan orang tak jauh dari tandu.


“Lihat, ada orang mati!” kata seorang pedagang.


“Belum lama ini seseorang juga mati di sini,” kata pedagang lainnya.


Lin Zian memutuskan untuk melihat kerumunan tersebut, berharap bahwa pengantinnya juga ada di sana. Benar, Lin Zian mendapati Shen Yanzhia tengah berjongkok memperhatikan mayat laki-laki serta seorang perempuan di depannya. Gaun merahnya sebagian terinjak orang.


“Hei, wanita, apa mayat ini sudah benar-benar mati?” tanya Shen Yanzhia pada perempuan di depannya.


“Dia tidak mati, tapi juga tidak hidup. Ini aneh.”


“Apa maksudmu dia tidak mati tapi tidak hidup? Yang benar yang mana?”


“Ah, karena status kematian dan kehidupannya tidak jelas, bagaimana kalau aku membedahnya dan mengambil hatinya, lalu memeriksanya, setelah itu memasangkannya kembali?” tanya wanita itu kepada dirinya sendiri.


“Begini saja. Kalau kau mau tahu, datanglah ke rumahku di pinggiran pasar ini. Aku akan berbaik hati membiarkanmu melihatku membedah perut manusia ini. Bagaimana?”


“Membedah perut? Apa kau gila?”


“Aku tidak gila. Lagi pula, aku punya segala obat yang bisa digunakan saat pembedahan itu terjadi,” kata wanita itu lagi.


Shen Yanzhia hendak membalas kembali kata-katanya, tetapi sebuah tangan menariknya secara asal.


“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa kau gila? Semua orang menunggumu, sedangkan kau asyik bermain di sini?”


Shen Yanzhia sangat terkejut. Wajahnya mulai memerah karena gugup.

__ADS_1


“Lin Zian!”


“Masih ingin bermain dan menghancurkan pernikahan, atau segera kembali dan memulai upacaranya?”


“Aku tidak bermain!”


“Lantas apa?”


“Aku hanya melihatnya!”


“Melihat sampai kau melupakan waktumu?”


“Tidak!”


“Lantas apa?”


“Lin Zian! Kau menyebalkan!”


Lin Zian lantas menggendong Shen Yanzhia di pundaknya. Semua orang yang menyaksikan itu hanya saling berpendapat dengan pandangan mereka. Wanita yang tadi sudah pergi sambil membawa mayat yang menjadi pusat perhatian tadi.


“Putri Mei, kau berisik!”


“Apa katamu? Cepat turunkan aku!” Shen Yanzhia meronta dengan memukul punggung Lin Zian. Gaun pengantinnya yang panjang tergulung di lengan kiri Lin Zian. Bai Ru tetap mengekorinya di belakang, hanya saja jaraknya lebih jauh dari sebelumnya.


“Aku berbaik hati membawamu agar kita lebih cepat sampai ke istana. Jika tidak, kau akan mempermalukan wajah Kaisar karena dianggap melarikan diri dari pernikahan dan tidak patuh pada titahnya.”


Kata-kata itu, meskipun benar, terdengar sangat mengesalkan jika diresapi. Shen Yanzhia tidak berniat kabur sama sekali. Ia hanya merasa perlu melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


Hanya saja, kebiasaan hidup bebasnya mungkin membuatnya lupa bahwa ia memiliki agenda yang sangat penting. Mengingat itu, Shen Yanzhia berhenti meronta dan membiarkan Lin Zian menggendongnya sampai istana.

__ADS_1


Ketika mereka sampai di pelataran istana, Lin Zian segera menurunkannya. Sebelah tangannya lalu menarik Shen Yanzhia tanpa berkata apa-apa. Mereka lantas berjalan beriringan membelah kerumunan pejabat serta keluarga kerajaan yang sudah menunggu. Tan’er berlari terburu-buru lalu memakaikan kain penutup kepala dan wajah pada Shen Yanzhia.


“Bersikap patuhlah. Jika tidak, kau tidak akan bisa keluar dari istana ini secepatnya. Jangan membuat kekacauan lagi!” bisik Lin Zian tepat di telinga Shen Yanzhia. Bisikan itu mau tidak mau membuatnya bergidik karena udara dari mulut Lin Zian menembus ke kulitnya meskipun kepalanya tertutup kerudung merah.***


__ADS_2