
Keributan kecil yang terjadi pada pagi hari di kediaman Qin masih belum berhenti. Keributan itu tak ayal mengundang perhatian para pelayan yang sedang bekerja. Kebanyakan dari mereka menajamkan telinga agar bisa mendengar suara yang begitu mengganggu di pagi hari seperti ini.
Di sini, di dalam Paviliun Timur, beberapa orang sedang berkumpul.
Shen Yanzhia berkacak pinggang sambil memandangi tiga orang wanita cantik yang sedang menunduk anggun penuh hormat kepadanya. Di dalam ruangan itu juga hadir Xu Chi, si pelayan pribadi Lin Zian. Pelayan itu tampak sedang berusaha menenangkan Shen Yanzhia yang sedang diselimuti kemarahan dan kekesalan. Di sisi lain, Tan’er juga sedang melakukan hal yang sama. Pelayan itu berusaha memberikan Shen Yanzhia segelas teh agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.
Ketiga wanita cantik itu datang di pagi hari ketika Shen Yanzhia baru saja selesai membersihkan diri. Mereka datang dengan kereta kuda yang mewah dan indah. Kedatangan ketiga wanita itu mengundang perhatian banyak orang di depan gerbang dan pelayan kediaman. Begitu Shen Yanzhia tahu ada tamu yang datang pagi-pagi sekali, ia langsung bergegas menemuinya. Shen Yanzhia tiba-tiba kesal karena ketiga wanita itu datang bersama sebuah perintah.
Mereka adalah wanita-wanita yang dikirimkan oleh Selir Duan sebagai selir. Ketiga wanita ini sudah mendapat persetujuan Kaisar dan Putra Mahkota sehingga mereka langsung dikirim ke kediaman Qin. Begitu tahu bahwa ketiga wanita ini adalah selir Lin Zian yang dikirimkan istana, Shen Yanzhia menjadi marah. Ia sama sekali tak menerima pemberitahuan bahwa akan ada selir di kediaman ini sebelumnya. Saat ia di istana pun, tidak pernah ada yang mengungkit atau membicarakan perihal pemilihan selir untuk Sang Pangeran Kedua.
“Lin Zian saja belum kembali, tapi wanita licik itu sudah mengirimkan tiga orang wanita untuk menyambutnya!”
Meskipun mendengar umpatan kasar Shen Yanzhia, ketiga wanita itu tetap dalam posisinya masing-masing. Shen Yanzhia melipatkan kedua tangannya di dada. Ditatapnya ketiga wajah anggun ketiga wanita itu satu persatu. Mereka sangat cantik dan menawan. Jika diperhatikan, mereka lebih cocok menjadi selir Kaisar daripada selir suaminya sendiri.
Rubah betina itu sangat pintar!
Selir Duan begitu hebat dalam memilih. Matanya begitu tajam dan jeli untuk mengetahui mana saja wanita cantik yang menawan dan pantas untuk dijadikan selir. Shen Yanzhia menduga bahwa Selir Duan memang sengaja mengatur semua ini untuk kembali mengusik kehidupan pribadinya. Shen Yanzhia sangat yakin, Selir Duan mendapat banyak keuntungan dari permainan seperti ini!
“Kau, siapa namamu?” tanya Shen Yanzhia sambil menunjuk wanita berbaju hijau.
“Salam, wangfei. Aku Liu Shi, putri Menteri Administrasi, Liu Zhan,” jawab wanita berbaju hijau dengan hormat.
“Kau?” Shen Yanzhia menunjuk wanita berbaju biru.
“Terima hormatku, wangfei. Aku Wang Yu, putri Menteri Pertahanan, Wang Liu.”
“Dan kau?” Shen Yanzhia menunjuk wanita terakhir yang mengenakan pakaian berwarna ungu muda.
“Aku Zhao Lian, putri Menteri Keuangan, Zhao Jinwu.”
Shen Yanzhia semakin marah. Ketiga wanita ini adalah wanita terhormat dari keluarga pejabat. Ayah mereka adalah para menteri yang setia dan berbakti. Mau tidak mau, Shen Yanzhia harus menerima mereka sebagai selir baru Lin Zian. Shen Yanzhia tidak bisa mengabaikan mereka, apalagi membiarkan mereka terlunta-lunta di kediaman Qin ini. Shen Yanzhia tidak bisa mengusir mereka pergi karena ketiga wanita itu datang bersama sebuah perintah.
Kepala Shen Yanzhia berdenyut. Ia merasa hidup damainya akan berakhir sekarang. Ketiga selir baru ini akan terus bersamanya di masa depan. Shen Yanzhia tak dapat membayangkan bagaimanakah kehidupannya kelak ketika ketiga selir ini bertemu dan mendapatkan perhatian Lin Zian. Pria itu, meskipun sering bersikap dingin, hatinya masihlah hati manusia. Shen Yanzhia tiba-tiba merasa menjadi seorang nyonya besar di kediaman-kediaman keluarga ternama seperti yang diceritakan orang-orang.
“Baiklah, karena kalian sudah masuk ke kediaman ini, kalian sudah bisa menjalankan tugas sebagai selir. Aku akan berterus terang, aku tidak akan memanggil kalian dengan nama keluarga kalian.”
__ADS_1
“Wangfei, Anda… Anda baik-baik saja?” tanya Xu Chi ragu-ragu. Ia dapat merasakan bahwa Shen Yanzhia sudah benar-benar marah sekarang, hanya saja wanita itu mencoba menahannya.
“Xu Chi, antarkan Selir Shi, Selir Yu dan Selir Lian ke paviliun belakang. Atur tempat tinggal untuk mereka di kediaman ini!”
Setelah ketiga selir itu pergi, Shen Yanzhia menjatuhkan dirinya di atas meja belajar Lin Zian. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Shen Yanzhia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kedatangan ketiga selir baru itu sudah mengusik hatinya. Dia tidak punya pilihan lain selain menerima mereka. Lagi pula, sangat wajar bagi seorang pangeran memiliki banyak selir selain permaisuri sahnya sendiri.
Kapan pria menyebalkan itu akan kembali?
Festival puncak musim gugur akan berlangsung satu hari lagi. Pria itu bahkan tidak mengirimkan sepucuk surat untuk memberi kabar apapun. Shen Yanzhia ingin sekali memukul wajah Lin Zian dengan pot bunga. Ia juga ingin melihat bagaimanakah reaksi Lin Zian begitu pria itu tahu bahwa penghuni kediaman ini sudah bertambah tiga orang. Terlebih lagi, ketiga orang itu berstatus sebagai selirnya.
“Katakan, bagaimana caranya agar ketiga wanita itu bisa segera keluar dari sini?”
“Aku rasa itu tidak mungkin. Nona, tidak peduli apapun, mereka adalah selir yang diberikan titah oleh Kaisar dan Putra Mahkota.”
Kepala Shen Yanzhia semakin berdenyut. Pikirannya berkelana dihiasai berbagai macam dugaan dan khayalan yang menjengkelkan. Bagaimana mungkin ia bisa menerima wanita lain sebagai istri suaminya? Hati kecilnya tetap tidak terima atas kedatangan ketiga wanita itu. Shen Yanzhia hanya berusaha berpikir logis dan masuk akal agar dirinya tak bertindak egois.
Setelah berdiam cukup lama di dalam Paviliun Timur, Shen Yanzhia memutuskan untuk pergi ke Paviliun Lingxiang. Ia ingin menanyakan apakah Mo Ran mengetahui sesutau ataukah wanita itu mempunyai informasi baru terkait kasus yang sedang mereka selidiki bersama-sama. Kebetulan, Zhi Hao’er juga sudah kembali dari perjalanan dinasnya. Shen Yanzhia bisa langsung menanyai keduanya.
Suara bising iringan musik dan berbagai pembicaraan yang bercampur menyambut kedatangan permaisuri Qin begitu wanita itu sampai di depan Pavilun Lingxiang. Di musim semi, Paviliun Lingxiang menjadi lebih ramai dari biasanya. Tempat itu kerap kali dijadikan sebagai tempat persinggahan bagi para manusia yang sedang melakukan perjalanan dari dan ke kota Rouwu. Keuntungannya betambah dua kali lipat dibandingkan musim dingin dan musim gugur.
“Kudengar kediamanmu kedatangan tiga penghuni baru.”
“Ini benar-benar menjengkelkan! Kau tahu? Ketiga wanita itu sangatlah cantik!”
Mendengar teman dekatnya mengeluh, Mo Ran tertawa. Informasi mengenai selir baru Lin Zian sampai di telinganya dengan cepat. Ia yakin Shen Yanzhia sangat marah dan kesal. Temperamen Shen Yanzhia yang tidak cukup baik pasti akan membuat ketiga selir baru itu kesulitan. Mo Ran tidak dapat menebak rencana apa yang sedang dirancang Shen Yanzhia untuk mengacaukan ketiga selir itu dan membuatnya keluar dari kediaman Qin dengan sukarela.
“Wangye pasti akan sangat senang begitu tahu ada tiga wanita cantik yang akan menemaninya tidur sepanjang malam,” goda Mo Ran. Shen Yanzhia menatapnya dengan tajam.
“Pria menyebalkan itu belum kembali, dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk menyingkirkan mereka. Berhenti bicara omong kosong dan bantu aku menemukan petunjuk lain!”
Di dalam ruangan khusus yang sering mereka gunakan untuk bertemu dan berdiskusi, Shen Yanzhia mendapati seorang pria yang dikenalnya tengah duduk menikmati secangkir teh hangat. Pria itu menoleh begitu mendengar dua suara wanita yang juga sangat ia kenal.
“Akhirnya kau pulang!”
Shen Yanzhia memeluk Zhi Hao’er dengan erat. Satu musim berlalu dan mereka baru saja bertemu kembali. Sahabat kecil Shen Yanzhia itu balas memeluknya dengan erat. Mo Ran menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan dua orang sahabatnya berperilaku seperti anak kecil. Shen Yanzhia mengurai pelukannya. Ia lalu duduk di depan Zhi Hao’er. Mo Ran juga ikut duduk diantara keduanya. Sekarang, suasana tiba-tiba berubah menjadi serius.
__ADS_1
“Hao’er, bagaimana dengan kuil bunganya?” Shen Yanzhia langsung bertanya pada inti permasalahan.
“Aku bertemu dengan seorang biksu di kuil Dongshui dan menanyakannya. Biksu itu bilang tidak ada kuil dengan nama seperti itu atau semacamnya. Hanya saja, biksu itu bilang kuil Dongshui pernah didatangi mendiang Putra Mahkota.”
“Benarkah?”
Zhi Hao’er mengangguk.
“Biksu itu bilang, mendiang Putra Mahkota pernah menyebutkan sebuah tempat yang dipenuhi bunga-bunga yang mirip seperti sebuah kuil. Mungkin dari sanalah lahir sebuah nama kuil bunga.”
“Maksudmu, kuil bunga hanyalah istilah dan tidak nyata?” tanya Shen Yanzhia.
“Aku tidak bisa menarik kesimpulan.”
Shen Yanzhia menghela napas. Kuil bunga ini seperti sebuah misteri yang tidak dapat dipecahkan. Ada begitu banyak tempat di istana yang dipenuhi dengan bunga-bunga, dan semua tempat itu adalah kediaman para putri, selir, pangeran, permaisuri, dan keluarga kerajaan lainnya.
Shen Yanzhia tidak dapat mengetahui istana mana yang bunganya paling banyak dan paling indah. Biksu itu juga mengatakan bahwa bangunan istana itu mirip seperti sebuah kuil. Selama hidupnya, Shen Yanzhia juga tidak dapat melihat bangunan istana mana yang mirip dengan sebuah kuil. Semua bangunan istana tampak sama dan serupa.
Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami!
“Beberapa waktu lalu, ada seorang pelanggan dari Kementrian Pertahanan datang kemari. Aku mendengar bahwa suplai makanan dan uang untuk para prajurit di perbatasan beberapa waktu lalu mengalami masalah. Mungkin, ini ada kaitannya dengan kasus dana militer yang hilang itu,” terang Mo Ran setelah Shen Yanzhia dan Zhi Hao’er berhenti berbicara.
“Aku mungkin harus bertanya pada orang itu. Aku yakin mantan pelayan istana itu mengetahui sesuatu.”
“Tapi Nona, terakhir kali kau bertanya padanya, emosimu menjadi tidak baik. Kau yakin ingin menemuinya lagi?” tanya Tan’er.
Shen Yanzhia kembali menghela napas. Ia merutuki kebodohannya sendiri yang tak mampu mengendalikan diri saat marah seperti itu. Sekarang orang itu mungkin ketakutan jika melihat wajahnya. Tapi jika ia tak bertanya padanya, petunjuknya akan tetap terhenti. Shen Yanzhia sangat yakin bahwa surat darah itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa orang itu harus mati dengan meminum racun Rumput Biru.
“Aku akan mengendalikan diri.”
Shen Yanzhia menenggak secangkir teh hangat. Ia sangat berharap Lin Zian segera pulang dan membantunya menghadapi orang itu. Pria itu pasti bisa membuat Shen Yanzhia tetap tenang dan tidak terpancing emosi seperti beberapa hari lalu.
“Aku sangat berharap pria menyebalkan itu segera kembali.”
...***...
__ADS_1