RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 47: Mencari Kebenaran (1)


__ADS_3

Istana Ruo Shui begitu gemilang di akhir musim semi. Bunga-bunga plum dan azalea tetap mekar seperti baru kemarin. Warna-warna pelangi menghiasi taman istana tua itu.


Di dalam ruangan Istana Ruo Shui, Lin Zian dan Shen Yanzhia tanpa sengaja masuk ke dalam sebuah ruangan bawah tanah yang gelap dan lembab. Saat keduanya berkeliling tadi, Shen Yanzhia tidak sengaja memutar sebuah pagoda perak di sisi lukisan mendiang Putra Mahkota. Pagoda yang berputar itu membuat lantai yang dipijak Shen Yanzhia dan Lin Zian bergeser. Kedua orang itu terjatuh sambil berguling di atas tangga.


Shen Yanzhia meniup bambu api hingga pandangannya menjadi sedikit lebih terang. Wanita itu menghampiri sebuah lentera gantung, melihat apakah benda itu masih bisa dinyalakan atau tidak. Sumbu lentera itu tampak basah. Shen Yanzhia menyulut apinya, dan seketika lentera-lentera lain di ruangan tersebut menyala.


Debu-debu dari bagian langit-langit ruangan itu tampak bertebaran jatuh ke bawah. Sisi kiri dan kanannya dipenuhi dengan artefak kuno khas dinasti sebelumnya. Selain itu, terdapat pula berbagai lukisan alam dan patung kaisar-kaisar dari berbagai dinasti.


Lin Zian dan Shen Yanzhia berjalan menyusuri setiap jalan di ruangan bawah tanah tersebut dengan langkah waspada. Ruangan bawah tanah ini sudah tampak sangat tua. Jejak pijakan kaki keduanya bahkan berbekas di lantai batu ruangan rahasia tersebut.


"Apa ini yang dikatakan mendiang Putra Mahkota?" tanya Shen Yanzhia.


"Mungkin."


Keduanya sampai di depan sebuah altar kuno. Di atas altar itu terdapat sebuah patung Buddha yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba. Di depan altar, terdapat sebuah meja tempat persembahan.


"Apa yang sebenarnya disembunyikan mendiang Putra Mahkota di sini?" tanya Shen Yanzhia kembali.


"Itulah yang harus kita cari."


Shen Yanzhia dan Lin Zian berpencar. Sepasang suami istri itu membongkar satu persatu seluruh barang yang ada di dalam ruangan itu. Sesekali Shen Yanzhia bersin karena debu yang begitu tebal terbang masuk ke dalam hidungnya.


Shen Yanzhia hampir putus asa ketika ia tidak menemukan apapun, sampai ia tak sengaja menginjak lantai yang amblas ke dalam. Wanita itu terpekik kaget ketika suara pintu terbuka di depannya masuk ke dalam telinganya. Tiba-tiba, sebuah panah melesat dari balik pintu itu.


Lin Zian menarik tubuh Shen Yanzhia hingga anak panah itu tertancap di dinding altar.


"Hati-hati!"


Di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan lain yang lebih kecil dan lebih lusuh. Ruangan rahasia yang lain itu dipenuhi dengan rak-rak buku. Tanpa ragu, Shen Yanzhia berjalan masuk, diikuti Lin Zian.


"Wah, ruangan ini adalah ruangan pribadi mendiang Putra Mahkota. Buku-buku ini berisi catatan penting daratan Ling dan para pejabat tinggi," ujar Shen Yanzhia setelah berkeliling melihat-lihat tulisan yang ada di setiap rak buku.


"Sepertinya ini arsip-arsip rahasia yang sengaja disembunyikan mendiang pamanku."


"Zian, menurutmu, apakah ada sebuah dokumen yang sangat-sangat rahasia di sini?"


"Aku tidak bisa memastikannya."


Perhatian Shen Yanzhia tertuju pada sebuah peti yang terletak di bagian paling atas rak buku di sebelah kanan ruangan. Peti itu terkunci rapat. Dengan ilmu meringankan tubuh milik Lin Zian, peti itu langsung ada di hadapan Shen Yanzhia.


"Pinjamkan aku tusuk rambutmu!"

__ADS_1


Shen Yanzhia menarik tusuk rambut di atas kepala Lin Zian. Rambut panjang pria itu langsung tergerai seperti rambut seorang perempuan. Shen Yanzhia menggunakan tusuk rambut itu untuk membuka kunci peti. Satu persatu, tiga buah kunci besi dari peti itu terbuka.


"Ini... Zian, lihat!"


"Ini bukti kasus korupsi para pejabat istana!"


Lembaran-lembaran kertas usang itu berisi catatan korupsi yang dilakukan oleh para menteri dan pejabat tinggi. Nama-nama mereka terpampang dengan jelas, termasuk rincian tanggal, jumlah, dan jenis dana yang dikorupsi. Sebagian dari menteri-menteri dalam catatan itu ada yang masih menjabat hingga kini.


Shen Yanzhia berdecak. Ternyata, kebusukan para menteri istana sudah diketahui oleh mendiang Putra Mahkota sejak lebih dari delapan belas tahun. Jika saja orang itu tidak meninggal, semua nama-nama penjahat kelas kakap ini pasti sudah ditangkap dan dieksekusi.


Buku besar terakhir di dalam peti itu adalah buku besar yang membuat Lin Zian dan Shen Yanzhia berdecak tak percaya. Di dalam buku itu, terdapat nama Perdana Menteri, yang jumlah korupsinya paling banyak dan paling merugikan. Dalam catatan itu, terhitung lebih dari dua juta tael emas masuk ke dalam peti harta Perdana Menteri. Sumber-sumber uang itu berasal dari dana bantuan bencana, dana pembangunan fasilitas umum rakyat, dana militer, dan dana pembuatan senjata.


Sayang sekali, orang nomor dua di daratan Ling itu ternyata bertangan kotor juga. Bahkan, korupsinya paling parah. Sungguh, Shen Yanzhia tidak ingin percaya karena selama ini, prestasi dan kesetiaan Perdana Menteri begitu menyilaukan mata. Tidak disangka, orang tua itu ternyata hanya seorang yang tamak.


"Apa kita perlu melaporkan ini kepada Putra Mahkota?" tanya Shen Yanzhia.


"Tidak, jangan dulu. Kita tidak tahu musuh seperti apa yang sedang kita hadapi saat ini."


"Zian, kau tidak mempercayai kakakmu?"


Lin Zian terdiam sesaat.


"Para pejabat istana sangat manipulatif. Aku tidak tahu apa yang mereka gunakan untuk mempengaruhi kakakku dan mengotori jalan pikirannya."


"Kakakku adalah orang yang berpikiran jernih. Tapi, semenjak Kaisar sakit dan ia memegang tampuk pemerintahan sementara, aku tidak bisa mengenalinya lagi. Aku merasa seolah dia menjadi orang asing."


"Kau yakin?"


Lin Zian mengangguk.


"Sebenarnya, penundaan pernikahan dengan Putri Duanmu bukan sepenuhnya usulan para menteri. Putra Mahkota sendirilah yang mengusulkan itu kepada mereka secara diam-diam."


"Mengapa?"


"Aku tidak tahu. Beberapa hari ini, sangat sulit untuk menjumpainya. Kudengar Mu'er dan para pelayan, Perdana Menteri sering datang mengunjunginya."


Cerita Lin Zian membuat Shen Yanzhia memikirkan banyak spekulasi. Mungkinkah Perdana Menteri meracuni pikiran Lin Yang dan menghasutnya? Ataukah Perdana Menteri sengaja mencari perhatian agar ia mendapat kepercayaan Putra Mahkota? Atau, apakah Perdana Menteri hendak menabur benih perselisihan agar Putra Mahkota mencurigai Lin Zian dengan dalih perebutan kekuasaan?


Entahlah, spekulasi-spekulasi itu membuat kepala Shen Yanzhia berdenyut.


"Jika dipikirkan, selama ini Perdana Menteri memang sepertinya sengaja menyulitkanmu. Kau sendiri yang bilang bahwa ia terus menerus berusaha membuatmu pergi."

__ADS_1


"Memang seperti itu."


"Zian, musim lalu dia juga pernah datang mengunjungimu, bukan? Apa yang dia katakan?"


Lin Zian berusaha mengingat.


"Ah, dia berkata bahwa aku harus berwaspada. Orang tua jelek itu bilang tidak ada musuh abadi, dan tidak ada sekutu sejati dalam politik istana."


"Kurasa dia sedang memperingatkanmu."


Lin Zian mengangguk membenarkan perkataan istrinya.


"Apakah mungkin orang itu mengetahui bahwa mendiang Putra Mahkota memiliki bukti untuk menjatuhkannya?"


"Bukan hanya mendiang Putra Mahkota, tapi juga mendiang Kaisar."


"Maksudmu, mendiang Kaisar juga tahu tentang ini?"


Lin Zian mengangguk.


"Mungkin, mendiang Putra Mahkota tahu hidupnya tidak akan lama karena Perdana Menteri pasti akan segera bertindak. Jadi, dia memilih bungkam dan membuat bukti ini tetap aman hingga seseorang yang tepat menemukannya kembali."


Emosi Shen Yanzhia langsung berubah. Kemarahan dan kesedihan menjadi terlihat jelas di matanya yang bening. Jika perkataan Lin Zian benar, maka Perdana Menteri adalah pembunuh yang sesungguhnya.


"Tapi, Selir Duan adalah putri Perdana Menteri. Mungkinkah ia juga terlibat?" tanya Shen Yanzhia ragu.


"Rubah betina yang licik itu pasti akan melakukan segalanya untuk menyelamatkan keluarganya."


"Kita tidak bisa menarik kesimpulan sebelum kita berhasil masuk ke Istana Tianli."


Lin Zian menepuk jidatnya. Dia hampir lupa tujuan utama kedatnangannya ke istana kerajaan hari ini. Selir Duan meminta mereka untuk datang, dan mereka malah asyik menghabiskan waktu di ruang rahasia bawah tanah ini.


"Kita harus segera pergi," peringat Lin Zian.


Shen Yanzhia mengunci kembali peti dokumen itu, lalu meletakkannya di tempat semula. Ruangan dokumen rahasia itu kembali menyatu dengan dinding. Shen Yanzhia mematikan seluruh lentera penerangan di dalam ruangan, lalu bergegas keluar lewat tangga tempat ia berguling bersama Lin Zian.


Shen Yanzhia memutar kembali pagoda perak yang menunjukkan jalan menuju ruang bawah tanah. Lantai Istana Ruo Shui bergeser, kembali ke posisi semula.


Setelah semuanya dirasa aman, Shen Yanzhia dan Lin Zian keluar dari Istana Ruo Shui. Kunci istana itu Shen Yanzhia masukkan ke dalam sebuah kantong pewangi, lalu ia selipkan ke pinggangnya hingga tidak terlihat.


Dua orang itu meninggalkan halaman Istana Ruo Shui dengan langkah terburu-buru.

__ADS_1


...***...


__ADS_2