RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 59: Pertanyaan


__ADS_3

Kediaman Pangeran Qin sudah menjadi sibuk sejak beberapa hari terakhir. Kain merah yang panjang menghiasi setiap sudut bangunan tanpa terkecuali. Para pelayan dan penjaga sibuk mempersiapkan pernikahan tuan mereka sebaik mungkin. Pasokan makanan, arak, juga beberapa keperluan lain diatur dengan baik oleh pengurus rumah. Satu hari lagi, kediaman ini akan mempunyai nyonya baru.


Betapapun sibuknya persiapan dan seberapa mewah pun pernikahan ini, tidak ada raut bahagia yang terpancar pada wajah sepasang pengantin yang akan mengikat janji esok hari. Lin Zian mati-matian menahan diri untuk tidak melarikan diri, karena dia tahu jika dia melarikan diri, dia akan dicap sebagai pengkhianat yang telah mengorbankan masa depan kedamaian kerajaan.


Kakaknya yang telah teracuni pikirannya tampaknya benar-benar menjadikannya sebagai sandera. Hidup Lin Zian tidak lebih dari sebuah boneka kekuasaan. Padahal, tidak ada salahnya jika Lin Yang menikah lagi dengan Putri Duanmu, bukan malah mengorbankan kebahagiaan dan keluarga adiknya sendiri. Sejak dulu, benar-benar tidak ada definisi kebahagiaan yang hakiki di kalangan keluarga kerajaan. Mereka semua terikat dalam peraturan yang merampas kebebasan mereka dalam banyak hal.


Seandainya saja Shen Yanzhia ada di sini, Lin Zian mungkin bisa merebahkan tubuhnya di pangkuan wanita itu, menangis dan mengeluh tanpa rasa takut. Istri tercintanya telah pergi selama berbulan-bulan, bahkan kabar angin pun tidak dia dengar. Shen Yanzhia seperti hilang ditelan bumi. Padahal, wanita itu jelas-jelas berada di ibukota. Pengaturan Pangeran Yun dan Niang Yuan benar-benar hebat. Mereka telah berhasil menyamarkan keberadaan Shen Yanzhia dengan baik.


Selama dua hari terakhir, Lin Zian mengurung dirinya sendiri di Paviliun Barat, tempat yang menjadi kamar Shen Yanzhia saat wanita itu ada di sini. Lin Zian menyesapi setiap aroma khas Shen Yanzhia yang tertinggal di sana, membuatnya kembali memikirkan gadis itu berkali-kali. Lin Zian menatap sayu benda-benda yang ditinggalkan istrinya, berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi di siang hari. Dia sungguh berharap bahwa dia tidak pernah pulang ke ibukota, menikah, kemudian merasa tersakiti seperti ini.


Lin Zian benar-benar frustasi.


Harus ke manakah dia mencari Shen Yanzhia? Apakah wanita itu tidak mendengar jeritan hatinya yang meronta-ronta menolak pernikahan ini? Hari esok, jika dia datang, semuanya mungkin sudah terlambat. Pada hari esok, kamar ini akan diisi oleh wanita lain yang memiliki derita yang sama dengan dirinya. Jika sama-sama menderita, mengapa mereka harus memaksakan diri?


Lin Zian dan Putri Duanmu tahu betul kalau keduanya tidak bisa menentang takdir. Langit telah menciptakan mereka dan menjadikan mereka sebagai bagian dari keluarga kerajaan yang selamanya terikat dengan kekuasaan. Perihal perasaan dan pertanyaan apakah bahagia atau tidak, itu tidak lagi penting. Selama bisa memuaskan hati rakyat dan mengamankan negara, orang yang terlahir di keluarga kerajaan diharuskan merelakan diri mereka, bahkan ketika diminta nyawa sekalipun.


Desas-desus beredar di kalangan rakyat bawah, bahwa Mo Ran menyembunyikan seorang buronan di Paviliun Lingxiang hingga paviliun tersebut ditutup untuk sementara waktu. Jika saja Lin Zian sedikit lebh peka dan tidak larut dalam kesedihannya, dia mungkin bisa menemukan kebenaran dari keberadaan Shen Yanzhia. Pria yang biasanya begitu berhati-hati justru malah terpuruk di saat seperti ini.


Tan'er yang menolak pembebasan atas dirinya mengetuk pintu. Pelayan itu membawa sebuah surat misterius yang tadi dia temukan di depan gerbang kediaman. Aromanya khas seperti apel. Dia tertegun melihat suami majikan kesayangannya duduk merenung dengan tatapan kosong. Sang Pangeran Kedua yang biasanya begitu berwibawa, hari ini tampak sangat mengkhawatirkan.


Kertas surat itu diletakkan di atas lilin yang menyala. Beberapa tulisan muncul secara ajaib. Air muka Lin Zian berubah seketika saat dia membaca isi surat rahasia tersebut. Secercah harapan tiba-tiba berpendar dari matanya, lalu turun ke hatinya, membangkitkan kembali jiwa yang sempat tertidur lama sekali.

__ADS_1


"Zhi'er baik-baik saja. Kau jalani saja pernikahannya dengan baik. Itu sudah cukup untuk menyelamatkan semua orang. Pangeran Qin, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun."


Lin Zian sangat ingin mengetahui dari mana surat ini berasal. Jika dia berhasil menemukannya, dia mungkin juga bisa menemukan Shen Yanzhia. Di satu sisi, dia senang karena ada orang yang telah memberinya kabar baik mengenai kondisi istrinya. Namun di sisi lain, rasa rindu semakin membuncah diselingi rasa sakit ketika membayangkan bahwa wanita yang akan berjalan bersamanya di masa depan bukan lagi Shen Yanzhia, melainkan Putri Duanmu.


Surat tersebut kemudian dibakar hingga menjadi abu. Lin Zian bangkit, lalu segera keluar dari Paviliun Barat. Dia mengabaikan para pelayan yang menyapanya. Ada sesuatu yang harus dia lakukan untuk hari esok. Bagaimanapun, pernikahan tetap akan terjadi. Lin Zian tidak ingin melakukan sesuatu yang kelak akan dia sesali, karena dia menyadari terlalu banyak hal perihal Shen Yanzhia yang dia lewatkan.


Lin Zian terus berjalan tanpa henti. Dia telah melalui banyak persimpangan, namun sesuatu yang dia cari tidak juga ditemukan. Dia ingin melacak jejak pengirim surat karena dia yakin kalau orang itu belum pergi jauh. Jika tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan atas pertanyaannya, setidaknya biarkan dia tahu apakah Shen Yanzhia benar-benar baik saja seperti yang dikatakan dalam surat atau itu semua hanyalah sebuah sandiwara untuk menguatkan hatinya.


Seseorang kemudian menepuk bahunya. Saat dia menoleh, seorang wanita yang usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan ibu selirnya berdiri, menatapnya dengan tenang. Wajahnya begitu ayu meskipun sudah ada tanda usia di pipi. Pakaiannya biasa, namun entah mengapa memancarkan aura yang sangat berbeda saat Lin Zian menatapnya lebih dalam.


"Xiao Qin," panggil wanita itu.


"Kau..Siapa?"


"Niang Yuan."


Niang Yuan menatap Lin Zian dengan saksama. Ini adalah saat pertama kalinya dia melihat menantu sekaligus keponakannya setelah delapan belas tahun berlalu. Wajah Lin Zian terlalu mirip dengan Kaisar saat ini, yang pada waktu delapan belas tahun yang lalu menjadi adik iparnya sendiri. Melihat wajahnya, Niang Yuan langsung teringat pada Xiao Yanzhi, Putra Mahkota yang telah meninggal, paman dari pria yang berdiri di hadapannya.


"Kau mengenalku?"


"Tidak. Tapi Xiao Jing Mei yang memberitahuku semua cerita tentangmu."

__ADS_1


Mata Lin Zian berkilat. Orang ini mengenal Shen Yanzhia!


"Di mana Zhi'er? Biarkan aku bertemu dengannya!"


"Xiao Qin, dengarlah. Belajarlah untuk melepaskan. Kau adalah Pangeran Kedua negara ini. Kau tidak boleh mempertaruhkan masa depan bangsa ini hanya karena keegoisanmu."


"Atas dasar apa? Bukankah hidupku bukan milikku sendiri?"


Menyadari emosi menantunya memuncak, Niang Yuan menghela napas. Dia mengerti kalau Lin Zian pasti sakit hati. Akan tetapi, rasa sakit hatinya bukanlah apa-apa di mata Niang Yuan jika dibandingkan dengan rasa sakit yang dialami Shen Yanzhia. Putrinya sudah sengsara sejak lahir, dia harus kehilang ayah dan kakeknya, bahkan hampir kehilangan nyawanya sebelum dia bisa melihat dunia dengan kedua matanya sendiri. Rasa sakit yang dialami Lin Zian tidak sebanding dengan rasa sakit yang diderita olehnya dan oleh Ibu Suri selama delapan belas tahun. Rasa sakitnya tidak sebanding dengan air mata rakyat yang jatuh saat kehilangan Kaisar dan Putra Mahkota mereka.


Tidak seharusnya Lin Zian bertingkah seperti seorang tuan muda yang kehilangan kekasihnya. Di dalam tubuhnya mengalir darah keluarga kerajaan, maka beban yang dia piku juga berat. Lin Zian seharusnya mengerti, bahwa dia dan Shen Yanzhia memiliki takdir yang berbeda. Shen Yanzhia sudah merelakan dirinya sendiri, berkorban dengan pergi. Sekarang, giliran Lin Zian yang harus merelakan semuanya.


"Karena itulah yang dia inginkan!"


"Biarkan aku bertemu dengannya! Beritahu aku di mana Zhi'er!"


"Xiao Qin, kau ingin membawa semua orang untuk mati bersamamu?"


Lin Zian menunduk. Niang Yuan benar. Dia tidak boleh egois. Dia terlalu terbawa suasana. Dia terlalu merindukan Shen Yanzhia. Niang Yuan menatapnya kembali. Asalkan Lin Zian menjalani pernikahannya dengan baik, maka hidup Shen Yanzhia tidak akan berada dalam bahaya lagi. Setelah semua kekacauan berlalu, dia ingin membawa putrinya kembali ke Kuil Dongshan, karena luka hati bisa saja sembuh seiring waktu.


"Jika takdir kalian terhubung, Langit akan mempersatukan kalian kembali," ujar Niang Yuan, sebelum dia menghilang di antara kerumunan orang.

__ADS_1


__ADS_2