RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 63: Takdir Langit


__ADS_3

Lin Zian berlari menuju Istana Guangling dengan panik. Pria itu sudah tidak mempedulikan bagaimana penampilannya saat ini, atau bagaimana dia berlari tanpa tahu aturan di tengah istana yang megah nan mewah ini.


Satu-satunya hal yang dia pedulikan sekarang adalah memastikan kondisi Ibu Suri dengan mata kepalanya sendiri. Tidak, dia tidak percaya pada kabar kasim bahwa Ibu Suri telah meninggal beberapa saat yang lalu. Jika kematian memang datang, seharusnya itu menjadi milik Perdana Menteri dan komplotannya, bukan milik keluarga kerajaan.


Niang Yuan juga berlari mengikuti menantunya dari belakang. Hatinya hancur seperti diremas tangan besi. Betapa tidak, orang tua yang selama ini sangat baik kepadanya pergi begitu saja. Mana mungkin dia bisa menerimanya!


Halaman depan Istana Guangling dipenuhi banyak orang yang berlutut dengan kepala tertunduk. Mereka semua sempat menoleh ketika Lin Zian dan Niang Yuan datang, lalu kembali khusyuk meratapi kesedihan mereka.


Mereka adalah para selir kaisar, putri dan juga pangeran yang selama ini dididik langsung oleh Ibu Suri. Ketika pertikaian terjadi, Ibu Suri memerintahkan mereka semua untuk berkumpul di Istana Guangling demi melindungi mereka. Tidak disangka bahwa perkumpulan tersebut akan menjadi perkumpulan mengelilingi kematian sang Ibu Suri.


"Yang Mulia!"


Lin Zian terpaku di ambang pintu. Seluruh pusat dunianya tertuju pada sesosok wanita berpakaian putih yang tengah duduk menangis di samping pembaringan Ibu Suri. Di pembaringan itu, wanita mulia yang sudah tua memejamkan matanya rapat-rapat tanpa degupan jantung.


Tanpa terasa, air mata kembali mengalir. Wanita yang tengah duduk kemudian menoleh, melihat siapakah sosok pemilik suara yang memecah suasana kesedihan saat itu. Dilihatnya sosok pemuda yang sudah lama dia tinggalkan tengah berdiri menatapnya dengan linangan air mata.


"Lin Zian...." gumamnya tanpa sadar.


"Zhi'er!"

__ADS_1


Lin Zian berlari, menghambur memeluk Shen Yanzhia dengan erat. Siapapun tahu bahwa sepasang manusia itu telah berpisah begitu lama, lalu kini mereka dipertemukan kembali dalam suasana duka yang kian menyayat hati.


Shen Yanzhia menangis semakin menjadi. Bagaimana tidak, dalam setiap tidurnya dan dalam setiap waktu yang dia lalui, dia selalu merindukan pria ini tidak peduli bagaimanapun keadaannya. Ibunya memintanya menunggu di sini, namun sungguh tidak diduga bahwa pertemuannya akan seperti ini.


"Zian.... Ibu Suri... Dia telah pergi...."


Meski tidak percaya, Lin Zian tetap tidak bisa memungkiri takdir yang datang menghampiri mereka. Langit begitu kejam hingga membuat situasi menjadi separah ini. Ketika kebenaran terungkap, banyak nyawa justru menjadi korban.


"Tidak apa-apa. Semuanya sudah berakhir sekarang. Zhi'er, syukurlah kau baik-baik saja. Aku sangat merindukanmu," ucap Lin Zian.


Di samping jenazah Ibu Suri, Lin Zian dan Shen Yanzhia sama-sama bersimpuh dalam kesedihan yang sangat dalam. Niang Yuan tidak berbicara sepatah kata pun, dia hanya menatap jasad Ibu Suri dengan tatapan kosong.


Akan tetapi, siapa yang bisa menyangkal. Kematian tersebut adalah sebuah kenyataan menyakitkan yang harus diterima oleh mereka, para keluarga kerajaan yang telah berjuang mengemukakan kebenaran selama delapan belas tahun ini.


...***...


Kaisar memimpin upacara pemakaman Selir Duan, Putra Mahkota Lin Yang dan Ibu Suri dengan linangan air mata. Kaisar baru saja sembuh ketika dia mendapat kabar itu. Hatinya hancur berkeping-keping, karena dia kehilangan istri, putra dan juga ibu kandungnya dalam waktu yang bersamaan.


Harga yang harus dibayar untuk mengungkapkan kematian ayah dan kakaknya delapan belas tahun yang lalu ternyata sangat mahal. Dia harus kehilangan tiga nyawa sekaligus hanya untuk menangkap pelaku sebenarnya dari semua tragedi yang terjadi di Rouwu.

__ADS_1


Sang kaisar menunduk, menahan tangis. Bahunya bergetar. Menyaksikan pemakaman ketiga orang itu, dia kemudian mengingat kembali kematian Ratu Shi dan Selir Rui. Sungguh, ini terlalu menyakitkan.


Keluarga kerajaan telah kehilangan terlalu banyak orang.


Lin Zian dan Shen Yanzhia kembali bersatu meskipun hati mereka masih sangat terpukul. Mereka tengah menunggu keputusan kaisar selanjutnya perihal nasib kehidupan mereka dan kehidupan negeri ini.


Beberapa bulan kemudian, dekret kaisar datang menyambangi kediaman Pangeran Qin. Dekret tersebut berisi panggilan dan penghargaan kepada Shen Yanzhia dan Lin Zian yang telah berkontribusi mengungkap konspirasi Perdana Menteri.


Keduanya kemudian dipanggil ke istana. Atas keputusan kaisar, Lin Zian dinobatkan menjadi putra mahkota baru menggantikan kakaknya. Shen Yanzhia juga diangkat menjadi putri mahkota dan kelak akan meneruskan takhta istana harem.


Sementara itu, Niang Yuan dikembalikan ke istana dan statusnya telah dipulihkan. Dia bisa menjadi Ibu Suri ketika Lin Zian naik takhta kelak, karena pemilik sebenarnya dari takhta tersebut adalah darah dagingnya sendiri. Meski harus kembali menyesuaikan diri, Niang Yuan cukup bersyukur.


Perdana Menteri mendapat hukuman setimpal atas kejahatannya selama ini. Asetnya disita, keluarganya merana sepanjang masa. Dia dipenggal di depan istana tepat ketika musim dingin tiba.


Kebahagiaan Lin Zian bertambah ketika dia mengetahui kabar kehamilan Shen Yanzhia. Di sisi lain, dia juga merasa sedih karena mengetahuinya lebih lambat dari yang lain. Meskipun begitu, dia tetap bersyukur karena penderitaan yang dia alami bersama istrinya telah terbayar tuntas dan dendam telah terbalas.


Istana Guangling dikosongkan, Istana Ruo Shui dipakai Shen Yanzhia untuk mengisi memoar yang hilang bersama kakek dan ayahnya. Sekarang dia adalah putri mahkota, dia telah mengembalikan kejayaan ayah dan kakeknya yang mati tidak adil delapan belas tahun yang lalu.


...***...

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2