RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 8: Menikmati Kebebasan Sesaat


__ADS_3

Shen Yanzhia mulai mengotori tangannya dengan tanah. Jarinya yang halus bergesekan dengan warna hitam dari tanah yang ia campur dengan air. Peluhnya menetes di keningnya yang mulus. Rambutnya yang tergerai sesekali bergerak ditiup angin.


“Nona, apa yang akan kau lakukan untuk membalas Tang Yin?” Tan’er yang ikut membantu majikannya bersuara.


“Jangan membahasnya sekarang. Aku sedang kesal!”


“Tapi, dia menghinamu. Ini kedua kalinya dia berlaku semena-mena.”


“Tan’er, jangan menghasutku. Aku bilang aku sedang kesal sekarang.”


Tan’er menutup mulutnya. Sejak Lin Zian menggebrak meja dan menyuruh Shen Yanzhia pergi, keadaan Shen Yanzhia belum membaik. Emosinya masih buruk. Sekarang, lihatlah apa yang dia lakukan untuk melampiaskan amarahnya!


Dia membeli dua kotak bunga beraneka warna dan menanamnya di sekitar paviliun milik Lin Zian! Bunga-bunga itu ia beli dengan menggunakan uang Lin Zian yang ia dapat dari Xu Chi.


Pelayan itu bahkan hampir tenggelam karena Shen Yanzhia mengancamnya dan memaksanya. Shen Yanzhia juga berkata bahwa Xu Chi tidak boleh memberitahukan apa yang dia perbuat kepada Lin Zian.


“Kau kesal tapi malah menanam begitu banyak bunga. Nona, kau benar-benar aneh!”


“Sejak kapan aku bisa bersikap normal jika sedang marah? Cepatlah! Selesaikan segera sebelum serigala jelek itu kembali. Aku tidak akan mengajakmu keluar kalau pekerjaanmu tidak segera kau selesaikan.”


Shen Yanzhia masih harus bersikap normal.Dia penghuni baru kediaman ini. Menjaga sedikit sikap adalah salah satu cara untuk meninggalkan kesan baik terhadap dirinya, meskipun caranya terbilang aneh bagi manusia normal lainnya.


Jika ia melakukan sesuatu yang tidak terlalu masuk akal, seluruh pelayan di kediaman Pangeran Qin ini sudah pasti akan membicarakannya. Meskipun ia mempunyai kuasa, Shen Yanzhia tidak mau menyalahgunakannya untuk hal-hal yang sepele. Dia akan menyalahgunakannya untuk sesuatu yang besar dan dirasa sangat penting baginya. Tentu saja, mana mungkin seorang Shen Yanzhia berhenti berbuat kekacauan?


Bunga-bunga berwarna-warni itu sudah selesai dia tanam. Shen Yanzhia tersenyum melihat hasil kerjanya. Sekarang, paviliun Lin Zian sudah seindah taman bunga istana. Sekarang saatnya pergi. Sebelum serigala jelek itu datang dan memarahinya, Shen Yanzhia harus segera melarikan diri keluar.


Meskipun baru satu hari dia menikah, dunianya serasa dirampas selama seribu tahun. Perempuan penyuka kebebasan itu ingin pergi terbang keluar dengan bebas lagi.

__ADS_1


“Tan’er, ayo pergi. Ada sesuatu yang harus aku cari di luar.”


“Nona, apa kau berencana kabur lagi?”


“Bukan kabur. Aku memerlukan sesuatu.”


“Tidak ada kata bukan dalam kamusmu, Nona.”


“Kau mau ikut atau kau lebih memilih dihukum sendirian oleh serigala jelek itu?”


Tan’er berhenti berbicara. Shen Yanzhia membawanya ke dinding yang memagari seluruh kediaman. Tinggi dinding itu hampir setinggi pohon persik yang tumbuh menjulang di samping lahan yang baru ditanami bunga oleh Shen Yanzhia. Ujung-ujung pagar dinding itu dibuat mengerucut hingga ketika dipegang, akan terasa licin dan tidak seimbang.


“Nona, kenapa kita tidak lewat gerbang depan saja?”


“Memangnya bisa?”


“Tentu saja! Kau nyonya di sini. Ini bukan kediaman Yang Mulia Pangeran Yun. Kau tidak perlu memanjat dinding lagi jika ingin pergi.”


Shen Yanzhia berjalan terburu-buru. Penjaga yang menjaga gerbang utama menunduk memberi hormat ketika melihat dia lewat diikuti pelayan pribadinya. Mereka tidak menaruh kecurigaan apapun hingga Shen Yanzhia dapat keluar dari kediaman dengan lancar.


Jalanan sekitar ibukota, seperti biasa, selalu ramai dipenuhi orang-orang. Kedai-kedai minuman, rumah makan, penginapan, bahkan rumah bordil tetap disesaki orang di siang hari begini.


Shen Yanzhia berjalan santai sambil bersiul. Langkahnya teratur berirama. Kebebasan yang kemarin terampas setengah karena prosesi upacara pernikahannya serasa kembali kepadanya. Meskipun sekarang ia bebas, ia harus tetap berhati-hati karena ia pergi dari wangfu diam-diam dan tanpa seizin Lin Zian.


Kalau salah satu bawahannya atau pengurus rumah tangganya yang sok tahu melihatnya dan melaporkannya pada Lin Zian, Shen Yanzhia mungkin akan menerima hukuman. Di sini, dinding saja memiliki mata dan telinga. Tan’er mengikutinya sambil membawa barang yang dibeli majikannya.


"Nona, kenapa kau membeli begitu banyak barang? Persediaan uang kita sudah menipis," tanya Tan'er.

__ADS_1


"Kenapa kau khawatir tentang uang? Kita tidak akan jatuh miskin."


"Apa Nona akan merampok Tuan Muda?"


"Tentu saja tidak. Untuk apa merampok?"


Tan'er menyerah. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan bicara lagi.


Beberapa wanita sedang tampil menari di panggung yang terletak di sebuah bangunan yang ramai dikunjungi orang. Wanita-wanita itu tidak hanya memakai pakaian yang indah, tapi mereka juga memiliki tubuh yang gemulai dan mulus.


Gerakan tangan dan kaki mereka membentuk sebuah bayangan burung phoenix yang indah. Tubuh mereka sangat lentur. Gerakan tarian itu terlihat sangat alami dan bernyawa.


Paviliun Lingxiang, itulah nama tempat para wanita penari itu. Paviliun itu terletak di pinggir jalan, berhadapan langsung dengan toko kain sutra yang sering memasok kain ke kediaman Yun. Shen Yanzhia sudah hapal betul dengan paviliun ini.


Paviliun Lingxiang adalah penginapan yang menyajikan layanan secara baik dan adil hingga siapapun dapat masuk. Pemilik Paviliun Lingxiang adalah Mo Ran, seorang perempuan muda berbakat yang paling terkenal di ibukota.


Dari apa yang Shen Yanzhia dengar, banyak bangsawan dan anak pejabat yang melamarnya untuk dijadikan istri dan selir. Tapi, tidak satupun diterima. Mo Ran adalah perempuan yang sangan pemilih. Shen Yanzhia memiliki hubungan baik dengan pemilik paviliun itu. Mo Ran sesekali sering terlihat berdiri di dekat jendela lantai dua paviliun.


“Nona, apa lagi yang akan kau beli?” Tan'er melanggar janjinya sendiri untuk tidak bertanya lagi.


“Barang belajaanku sudah cukup. Tan’er, aku ingin mencari tabib wanita gila yang kemarin kulihat. Aku penasaran, sepertinya dia bukan tabib biasa.”


“Tapi Nona, kalau Tuan Muda tahu kau tidak ada di wangfu, dia mungkin akan marah.”


“Dia tidak akan marah kalau kau tidak membuka mulut. Ayo, kita cari dia!”


"Nona tidak akan masuk ke paviliun Lingxiang dulu? Siapa tahu Nona Mo mengetahui sesuatu."

__ADS_1


"Tidak. Tabib wanita gila itu tidak akan tertarik pada tempat seperti itu."


Istri Pangeran Qin itu lalu berjalan menyusuri kota kembali. Sesekali ia menyapa dan tersenyum pada orang-orang yang kebetulan mengenalnya. Dia juga membeli beberapa barang, padahal beberapa saat lalu ia sendiri mengatakan bahwa barang beliannya sudah cukup. Tan’er dibebani berbagai jenis bungkusan di tangan kanan dan kirinya. Perempuan memang tidak bisa memegang teguh prinsip belanjanya. Lidahnya berkata cukup, hati dan pikirannya berkata lain.***


__ADS_2