RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 13: Pencuri Manis(an)


__ADS_3

“Ayah, kenapa kau kemari?” tanya Shen Yanzhia ketika melihat Pangeran Yun datang sambil membawa sebungkus obat herbal.


“Ayah dengar kau sakit. Pangeran Qin mengutus pelayannya untuk memberitahuku,” jawab Pangeran Yun. Ia kemudian duduk di pinggir ranjang Shen Yanzhia.


“Ayah seharusnya tidak datang. Istana terlalu jauh dari kediaman kita.”


Mendengar penuturan Shen Yanzhia, Pangeran Yun tersenyum. Putri nakalnya masih sama seperti yang dulu. Shen Yanzhia selalu mengkhawatirkan dia lebih dari siapapun. Meskipun dia selalu bertindak tegas kepada Shen Yanzhia, kasih sayangnya sama murninya seperti kepada putri-putrinya yang lain.


Ketika mendengar Shen Yanzhia jatuh pingsan di perjamuan, dirinya langsung bergegas menemui Shen Yanzhia. Saat itu, Ibu Suri melarang Lin Zian membawa pulang Shen Yanzhia. Ibu Suri menyuruhnya tetap tinggal di istana sampai Shen Yanzhia sadar. Inilah yang menyebabkan Pangeran Yun terburu-buru masuk istana.


“Zhi’er, kau harus berhati-hati terhadap Selir Duan.”


“Ayah juga mengetahuinya?” tanya Shen Yanzhia sedikit terkejut.


“Dia memusuhimu sejak lama. Dia pasti akan memikirkan segala cara agar kau bisa hilang dari pandangan Yang Mulia.”


“Aku dan Ayah mungkin harus berterima kasih kepada Lin Zian. Jika bukan dia yang menyarankan aku untuk berpura-pura tak sadarkan diri, aku pasti sudah berbuat kekacauan di perjamuan.”


“Pangeran Qin sepertinya sangat memperhatikanmu. Syukurlah, kalian bisa hidup akur seperti ini.”


Shen Yanzhia tidak menanggapi. Tidak lama kemudian, Ibu Suri datang bersama Lin Zian. Keduanya lalu duduk di kursi yang terletak tak jauh dari ranjang.


“Selir Duan tidak bisa diremehkan. Dia bahkan berani mengacau di acara perjamuan ulang tahunku,” ungkap Ibu Suri tiba-tiba. Shen Yanzhia mengerutkan kening. Rupanya, Ibu Suri juga sudah mengetahui bahwa kejadian hari ini adalah perbuatan Selir Duan. Shen Yanzhia bangkit dan turun dari ranjang, lalu duduk di dekat Ibu Suri. Pangeran Yun mengikutinya dan berdiri di depan Lin Zian.


“Zhi’er, syukurlah kau tidak apa-apa,” ucap Ibu Suri.


“Yang Mulia, sejak kapan Yang Mulia mengetahuinya?”


Rupanya, kebencian Selir Duan kepadanya sudah diketahui Ibu Suri sejak lama. Hanya saja, Shen Yanzhia tidak menyadarinya. Ibu Suri mengelus lembut kepala Shen Yanzhia. Lin Zian menatapnya dengan tenang. Pria itu sepertinya hendak mengatakan sesuatu, tapi terlalu malu untuk membicarakannya.

__ADS_1


Shen Yanzhia merasakan kehangatan menjalari hatinya. Baru kali ini ia merasa semua orang mengkhawatirkannya seperti ini. Sebelumnya, kalau dia sakit, hanya Tan’er-lah yang merawatnya. Ayahnya hanya sesekali datang melihatnya, itupun tidak lama.


“Yang Mulia, putriku sudah tidak apa-apa. Apa sekarang ia boleh pulang ke kediaman Pangeran Qin?” tanya Pangeran Yun hati-hati. Ibu Suri mengangguk. Pangeran Yun sangat khawatir jika Selir Duan akan membuat kekacauan lagi jika tahu Shen Yanzhia masih berada di istana.


Setelah berbincang sebentar, Pangeran Yun dan Ibu Suri keluar dari kamar. Kini, hanya tersisa Shen Yanzhia dan Lin Zian. Keduanya lalu saling bertatapan. Menyadari matanya saling beradu pandang, Shen Yanzhia menolehkan kepalanya ke samping. Dia merasa Lin Zian masih menatapnya dengan tajam.


“Berhenti menatapku,” ucap Shen Yanzhia kemudian.


Lin Zian masih menatapnya dengan tajam. Sekarang, tatapan itu berubah dingin.


“Lain kali kau harus lebih berhati-hati. Selir Duan mungkin suatu saat tidak hanya menaruh obat, tapi juga racun.” Lin Zian berkata dingin sambil tak berhenti menatap Shen Yanzhia.


Tatapan itu, mau tidak mau membuat Shen Yanzhia menjadi salah tingkah. Wajahnya terasa panas dan merah. Jika Lin Zian terus memandanginya seperti itu, seluruh wajahnya mungkin akan benar-benar berubah warna. Dia tidak terbiasa mendapatkan tatapan yang dingin nan tajam tapi penuh kekhawatiran seperti itu.


Entah sudah berapa lama Lin Zian menatapnya. Shen Yanzhia bahkan sudah menghabiskan satu poci teh untuk menghilangkan kegugupannya. Apa sebenarnya yang pria ini inginkan? Sejak perkataannya terakhir kali, Lin Zian belum mengatakan apapun lagi.


“Kalau kau tidak bicara dan tidak berhenti menatapku, aku tidak akan memberitahumu di mana tabib gila yang merawat orang yang kau cari itu,” ancam Shen Yanzhia setelah sekian lama membisu.


Mendengar ucapannya, Shen Yanzhia menjadi kesal.


“Tapi kau sudah bilang aku boleh ikut. Kau tidak mungkin mengingkari kata-katamu sendiri kan?”


“Yanhzhia, penyelidikan ini bukan main-main. Kau tidak tahu bahaya apa yang mengintaimu di sana.”


“Memangnya bahaya apa yang tidak bisa aku hadapi?”


“Lihat, sekarang saja kau tidak mampu menghadapi taktik licik Selir Duan.”


“Itu berbeda!”

__ADS_1


Lin Zian sudah tahu gadis ini tidak akan mudah dihadapi. Terlalu berbahaya jika Shen Yanzhia memaksa untuk ikut bersamanya. Meskipun ia bisa melindunginya, tapi ia juga tidak dapat menjamin tetap berada di sisinya kapan saja. Kejadian di perjamuan tadi saja sudah cukup membuatnya kerepotan. Jika saja Ibu Suri mengetahui putri kesayangannya memaksa menantang bahaya, Ibu Suri pasti akan marah padanya. Sebagai suami, tugasnya adalah melindungi istri. Tapi, bagaimana jika istrinya itu seperti Shen Yanzhia yang keras kepala?


Setelah tubuh Shen Yanzhia membaik sepenuhnya, Lin Zian lantas membawanya pulang ke Qin wangfu. Jalan ibukota sangat ramai ketika kereta mereka melintas. Shen Yanzhia yang masih kesal mengintip keluar lewat tirai yang menutupi jendela kereta. Di sampingnya, Lin Zian tengah duduk tenang sambil memejamkan mata. Tangannya terlipat di dada. Rambutnya yang panjang mengurai di bahu dan punggungnya.


Shen Yanzhia melihat seorang penjual manisan merah. Ia menginginkan manisan itu. Sejak bebeerapa waktu lalu, ia tidak diizinkan keluar hingga ia tidak bisa membeli makanan kesukaannya itu.


Diam-diam Shen Yanzhia bertanya pada pengawal yang ada di sisi kereta berapa banyak orang yang mengawalnya. Shen Yanzhia kecewa ketika ia mengetahui ada sepuluh orang yang mengawalnya. Jumlah ini terlalu banyak untuk ukuran pengawal seorang putri dan pangeran seperti dia dan Lin Zian. Dia tidak akan bisa melarikan diri. Apalagi, tidak ada Tan’er yang membantunya kali ini. Shen Yanzhia sungguh menginginkan manisan itu. Di matanya, manisan itu berkilat seperti sedang menggodanya.


“Zian, belikan aku manisan itu!” pinta Shen Yanzhia sambil menggoyang tubuh suaminya.


“Tidak mau. Kau sudah menikah, tidak cocok.”


“Memangnya orang yang sudah menikah tidak boleh makan manisan?”


Lin Zian mengedikkan bahu. Ia kembali memejamkan mata seperti sebelumnya.


“Zian! Kalau kau tidak mau membelinya, aku akan menghancurkan kereta ini!”


Mendengar ancaman Shen Yanzhia, Lin Zian mendesah malas. Lin Zian beranjak keluar dari kereta. Sebelum turun, ia menyuruh Shen Yanzhia untuk tetap tinggal dan menunggu. Beberapa saat kemudian, ia sudah kembali sambil membawa tiga tusuk manisan merah yang diinginkan Shen Yanzhia. Shen Yanzhia langsung merebut manisan itu dari tangannya.


Lin Zian kembali menutup matanya. Kali ini, ia tidak sepenuhnya tidur. Kelopak matanya sedikit terbuka, mengintip seperti apakah Shen Yanzhia memakan manisannya. Wanita itu memakan manisannya seperti orang rakus. Dia menguyah dua buah bulatan sekaligus hingga pipinya sedikit mengembung.


Melihat cara istri kecilnya mengunyah manisan, Lin Zian gemas. Ditangkupnya kedua pipi Shen Yanzhia dan mengarahkannya ke depan wajahnya. Setelah itu, Lin Zian mencium Shen Yanzhia. Ciuman itu begitu dalam. Lin Zian bahkan menggigit kecil bibir bawah Shen Yanzhia.


Shen Yanzhia tidak berkutik menerima ciuman yang tiba-tiba seperti ini. Ia terdiam sesaat. Tidak beberapa lama kemudia, Shen Yanzhia merasa ada sesuatu yang aneh, sesuatu telah hilang. Shen Yanzhia mendorong kuat dada suaminya. Ia mengusap bibirnya yang basah dengan marah.


“Lin Zian! Kau mencuri manisanku!”


Lin Zian menggerakkan lidah dan giginya seperti sedang mengunyah sesuatu.

__ADS_1


“Manis,” ucapnya tanpa merasa bersalah. Ia kemudian kembali ke posisi awalnya dan memejamkan mata. Lin Zian tidak mempedulikan keadaan Shen Yanzhia yang mulai memukulinya karena kesal dan marah. Pukulan-pukulan itu terasa seperti cubitan di tubuhnya.***


__ADS_2