
Shen Yanzhia memiliki pengalaman yang bagus perihal bunga. Sejak kecil, Ibu Suri selalu memberinya benih bunga baru setiap kali ia pulang bermain dari istana. Entah itu bunga plum, azalea, lili, mawar, ia selalu senang. Entah berapa banyak bunga yang sudah dia tanam sejak tahun-tahun kecilnya.
Tidak heran jika paviliun di kediamannya dulu tampak seperti taman bunga yang indah. Shen Yanzhia bahkan tidak ingat berapa banyak tanaman eksotis yang ia punya. Sekarang, bunga-bunga itu pasti tidak ada yang mengurus lagi.
Bunga, memang sangat berlawanan dengan kepribadiannya yang keras kepala dan sedikit liar. Keindahan seperti bunga hanya mewakili keindahan fisiknya saja. Hati Shen Yanzhia sebenarnya sangat keras. Ia tidak mudah ditaklukan.
Sejak kecil, ia pernah beberapa kali menerima penindasan dari saudara-saudaranya. Karena penindasan seperti itu sering melukai fisik dan batinnya, Shen Yanzhia tumbuh menjadi pribadi yang sering mendendam dan memberontak.
Meski memiliki kepribadian yang tidak cukup baik, Shen Yanzhia tidaklah jahat. Ia masih punya hati untuk mengucapkan maaf dan terima kasih di depan orang yang tepat, dan bersikap baik jika orang-orang di sekitarnya memperlakukannya dengan baik pula.
Hati yang keras itu terkadang melembut ketika Shen Yanzhia tidak bisa menahan diri untuk menolong seseorang yang sedang berada dalam bahaya, meski dirinya sendiri juga berada dalam bahaya. Berkali-kali ia mendapat hukuman, berkali-kali pula ia melawan. Jika saja Ibu Suri tidak ada di belakangnya, Shen Yanzhia sudah pasti menjadi anak yang terbuang.
Di hari yang masih pagi ini, tangan putih Shen Yanzhia sudah dipenuhi kotoran dari tanah yang ia olah. Selepas fajar terbit tadi, Shen Yanzhia diberitahu hukuman yang harus ia hadapi akibat perbuatannya hari kemarin. Shen Yanzhia berpikir Lin Zian akan menghukumnya dengan mengurungnya dan tidak membiarkannya keluar dari wangfu.
Namun, di luar dugaan, Lin Zian justru memberinya hukuman untuk menanam lebih banyak bunga di halaman kediaman dia dan Lin Zian, Paviliun Timur dan Paviliun Barat. Lin Zian bahkan membelikannya tujuh buah kotak bunga kecil yang siap pindah tanam.
__ADS_1
Halaman kediaman yang ia hiasi dengan bunga cukup luas. Shen Yanzhia menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengatur dan menanamnya. Sekarang, jika Lin Zian melihat hasil kerjanya, Shen Yanzhia akan langsung memintanya membebaskannya. Dia tidak berharap Lin Zian memberikan hukuman lain kepadanya. Pria itu sepertinya memiliki cukup waktu luang untuk membuat Shen Yanzhia menderita.
Kotak-kotak bunga kecil itu sekarang sudah kosong. Tan’er membantu majikannya membereskan seluruh peralatan yang telah selesai mereka gunakan. Pelayan itu lalu membawanya, menyimpannya di sebuah bangunan tempat penyimpanan barang. Ia kemudian kembali ke tempat Shen Yanzhia berada.
“Tan’er, aku ingin mandi. Tolong bantu siapkan air untukku,” pintanya pada Tan’er. Pelayan setianya itu mengangguk, kemudian pergi.
Shen Yanzhia meregangkan tubuhnya, menggerakkan ototnya dan membebaskan sendi-sendinya dari rasa pegal karena terus berjongkok sedari tadi. Ia lalu memandang jari-jari dan kuku-kukunya yang menghitam. Sebagian tanah itu masuk ke dalam kukunya hingga menimbulkan sedikit rasa sakit. Shen Yanzhia mungkin harus membersihkannya dengan menyikatnya ketika ia mandi nanti.
Di gazebo yang berada lebih jauh dari Paviliun Timur dan Barat, Lin Zian tengah berdiri memperhatikan tingkah istrinya. Matanya menatap lekat pada wanita yang tengah berdiri dengan pakaian dan tangan yang kotor itu. Wajahnya terlihat begitu lelah. Sudut bibir Lin Zian terangkat membentuk sebuah senyuman kecil yang indah.
Tapi, kehadiran Shen Yanzhia di kehidupannya sedikit membuatnya tertarik. Sejak kedatangannya ke kediaman ini, suasana hatinya menjadi sedikit berbeda. Perilaku aneh Shen Yanzhia beserta tempramennya yang buruk, mau tidak mau memaksa Lin Zian untuk lebih dekat dengan wanita itu. Lin Zian tidak berani menyimpulkan apa yang ia rasakan saat ini. Baginya ini terlalu asing dan merepotkan.
Jika ia membiarkan rasa ini berkembang begitu saja, ia khawatir suatu saat akan mengganggu kehidupannya. Lin Zian benci hidup dengan keributan. Kekacauan di medan perang sudah cukup membuatnya muak. Lin Zian hanya perlu bersikap baik pada Shen Yanzhia agar hubungan mereka berjalan dengan baik meskipun bukan dalam arti hubungan antara suami dan istri. Jika diperbolehkan, Lin Zian ingin berteman baik dengan Shen Yanzhia.
Tapi, ia tak dapat menjamin apakah ia akan dapat memegang prinsipnya itu. Lin Zian tahu dirinya bukanlah manusia yang bisa sepenuhnya menepati janji. Hati manusia tak ubahnya sebuah adonan tepung. Mudah bagi seseorang untuk mengubahnya menjadi bentuk apapun yang diinginkan.
__ADS_1
Lin Zian lalu diam-diam masuk ke Paviliun Barat. Di tempat pemandian, ia melihat bak sudah terisi dengan air hangat dan penuh dengan kelopak mawar merah. Ia lalu mengeluarkan botol porselen kecil lalu menaburkan isinya ke dalam bak air. Ia berharap, rasa lelah dan pegal Shen Yanzhia bisa sedikit berkurang setelah ini.
Lin Zian lalu memasukan botol porselen itu kembali ke dalam saku bajunya. Setelah itu, ia berjalan ke luar dari pintu belakang dengan hati-hati. Beruntung tidak ada satu pelayan pun yang melihatnya. Jika ada, urusannya akan lebih repot.
Shen Yanzhia masuk ke dalam Paviliun Barat tepat beberapa saat setelah Lin Zian pergi. Begitu tahu bahwa air mandinya sudah siap, Shen Yanzhia langsung menanggalkan pakaiannya dan menyampirkannya ke tiang gantungan. Ia merangsek masuk ke dalam bak yang sudah ditaburi kelopak mawar merah itu. Shen Yanzhia dapat menghirup aroma bubuk penghilang rasa sakit dan pegal bercampur dengan aroma kelopak mawar.
“Tan’er, kau memang pengertian,” gumamnya sambil membenamkan tubuh dalam air. Shen Yanzhia menikmati sensasi hangat dan dingin di saat yang bersamaan. Ia memejamkan mata, tertidur sebentar dan baru bangun setelah air menjadi sedikit dingin. Tan’er masuk sambil membawa pakaian ganti yang akan dikenakan Shen Yanzhia hari ini.
Melihat majikannya begitu tenang, Tan’er merasa lega. Ia tidak khawatir lagi majikannya akan marah-marah karena hukuman yang telah diberikan tuannya.
“Tan’er, dari mana kau dapatkan bubuk penghilang rasa sakit dan pegal ini?”
“Bubuk? Nona, aku tidak menaburkannya.” Tan’e kebingungan karena Shen Yanzhia bertanya seperti itu.
“Lalu siapa yang mencampurkannya?”
__ADS_1
Shen Yanzhia tampak berpikir. Shen Yanzhia tersenyum. Wajahnya berseri. Shen Yanzhia yakin kalau seseorang itu yang menaburkannya. Hati Shen Yanzhia sedikit menghangat. Tubuhnya terasa lebih ringan sekarang. Seluruh otot dan persendiannya tidak kaku lagi. Kini, ia dapat bergerak bebas kembali.***