RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 57: Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

Niang Yuan menemani Shen Yanzhia sepanjang malam. Wanita itu merasa sangat terpukul karena perempuan yang menjadikannya seseorang yang berharga terbaring tak berdaya dalam keadaan koma. Setiap helaan napas yang keluar dari hidung Shen Yanzhia terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya.


Esok harinya, saat Mo Ran belum membuka Pavilun Lingxiang, Niang Yuan sudah bersiaga. Wanita itu membersihkan dirinya pagi-pagi sekali, lalu membantu membersihkan tubuh Shen Yanzhia yang masih lemah. Dia juga secara pribadi mengganti perban yang membungkus luka putri Pangeran Yun tersebut.


Pintu kamar diketuk dari luar. Niang Yuan buru-buru mengganti pakaian Shen Yanzhia. Sehingga, tidak lama setelah itu, wanita yang sedang terbaring lemah sudah tampak lebih segar dari hari kemarin. Niang Yuan lantas mempersilahkan orang dari luar untuk masuk.


"Zhi'er, apa yang terjadi padamu?"


Suara itu membuat Niang Yuan membatu. Dia membalikkan tubuhnya. Wajahnya seketika berubah, terkejut sekaligus senang tanpa ada bandingannya. Tampaknya, orang yang barusan bertanya sudah membuat Niang Yuan mengingat sesuatu yang sudah lama dilupakannya dalam delapan belas tahun terakhir.


"Pa... Paman Keempat?"


Orang yang baru datang tersebut adalah Pangeran Yun. Setelah Zhi Hao'er dan Ru Xiaolan menjelaskan sesuatu padanya kemarin malam, Pangeran Yun tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun. Dia terus teringat pada putrinya yang terluka setelah kembali ke ibukota. Pangeran Yun tahu kalau Selir Duan mengirim Shen Yanzhia ke luar Rouwu secara diam-diam dan melarang Lin Zian memberitahunya.


Maka, saat matahari hendak terbit, dia terburu-buru datang ke Pavilun Lingxiang untuk melihat kondisi putrinya. Pangeran Yun sangat terkejut saat melihat seorang wanita berada di sisi putrinya. Wanita itu, adalah wanita yang selama delapan belas tahun ini hidup dalam persembunyian dan identitasnya dimusnahkan.


"Yuanniang? Ini benar-benar kau?"


"Paman Keempat!"


Niang Yuan menghamburkan dirinya ke pelukan Pangeran Yun. Sudah delapan belas tahun berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Pangeran Yun. Rasanya seperti sebuah mimpi. Niang Yuan sama sekali tidak menyangka kalau dia akan bertemu kembali dengan Pangeran Yun, orang yang sudah membantunya melarikan diri dari Rouwu saat terjadi kisruh delapan belas tahun yang lalu.


Niang Yuan, sejatinya adalah Han Yuanniang yang dinyatakan meninggal delapan belas tahun lalu. Istri mendiang Putra Mahkota Xiao Yanzhi itu sebenarnya melarikan diri dari ibukota saat tahu suami dan ayah mertuanya tewas dalam peperangan. Niang Yuan melarikan diri karena dia tahu, jika dia tetap berada di ibukota, seseorang akan berusaha melenyapkannya.


Saat malam itu, dia keluar istana diam-diam atas saran Ibu Suri. Niang Yuan yang saat itu sedang hamil pergi menggunakan sebuah kereta kuda rahasia. Ibu Suri juga memberinya sebuah surat perintah rahasia, yang menyatakan bahwa jika dia bertemu dengan Pangeran Yun, maka Pangeran Yun harus menolongnya bagaimanapun caranya.


Kebetulan, saat di jalanan tengah hutan, dia bertemu dengan rombongan Pangeran Yun yang baru kembali dari perbatasan. Niang Yuan yang saat itu sedang mengandung tiba-tiba merasakan sakit di perutnya. Para pelayan yang datang bersama Pangeran Yun langsung membantunya. Dalam keadaan gelap dan terdesak, dia melahirkan bayinya di tengah hutan tanpa penjagaan.


Saat bayi itu lahir, Niang Yuan langsung menyerahkannya pada Pangeran Yun sambil menunjukkan surat perintah dari Ibu Suri. Dia tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa kembali ke ibukota ini. Niang Yuan lantas meminta Pangeran Yun untuk merawat dan menyembunyikan identitas bayi yang baru dilahirkannya, agar mereka yang hatinya jahat tidak bisa mengincarnya. Niang Yuan juga meminta Pangeran Yun untuk memalsukan kematiannya. Untuk menunjukkan bukti, dia meminta salah seorang pelayan bertukar pakaian dengannya. Pelayan itu lalu bunuh diri untuk menyembunyikan kebenaran sekaligus membantu Han Yuanniang.


Sebagai tanda kasihnya jika suatu saat Niang Yuan ingin menemukannya, dia memberikan gantungan giok phoenix pemberian Putra Mahkota Xiao Yanzhi pada Pangeran Yun. Sejak saat itulah, lahir seorang Shen Yanzhia, seorang putri kerajaan yang sangat disayangi Ibu Suri, karena wanita mulia itu mengetahui bahwa bayi yang dibawa Pangeran Yun adalah cucu kandungnya, putri dari Xiao Yanzhi dan Han Yuanniang. Pangeran Yun sengaja memberikan identitas keluarga Shen agar orang-orang tidak curiga.


"Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu!" Pangeran Yun melepaskan pelukannya.


"Paman, kau sudah sangat tua. Apa putriku menyulitkanmu?"


"Tidak. Dia gadis yang baik dan pintar."

__ADS_1


Niang Yuan menitikkan air mata. Sejak Shen Yanzhia datang ke Kuil Dongshan, Niang Yuan sudah mulai merasakan suatu keterikatan yang tidak diketahui. Dia baru yakin setelah Shen Yanzhia menceritakan kisahnya, dan juga memperlihatkan gantungan giok phoenix yang sangat dikenal Niang Yuan. Wanita itu sengaja menyembunyikannya demi kebaikan Shen Yanzhia.


Hingga hari itu, Shen Yanzhia memintanya ikut kembali ke ibukota. Hatinya bimbang, namun melihat wajah anak itu, Niang Yuan tidak bisa menolak. Dia tidak bisa berpisah darinya lagi. Niang Yuan tidak bisa lagi menahan kerinduan yang selama delapan belas tahun terpendam.


"Bagaimana kau bertemu dengannya?" tanya Pangeran Yun.


"Selir Duan mengirimnya padaku. Paman, aku sungguh tidak tahu apa yang diinginkan wanita itu."


"Jika dia tidak menginginkanmu, dia tidak akan membiarkan Zhi'er bertemu dengan ibu kandungnya. Selir Duan adalah putri tertua Perdana Menteri. Untuk apa dia membantu musuhnya?"


"Itulah yang belum kuketahui jawabannya."


Mo Ran yang berdiri di depan pintu refleks menjatuhkan baskom air yang dibawanya. Suara benda jatuh itu mengalihkan perhatian Niang Yuan dan Pangeran Yun. Keduanya menoleh dan mendapati Mo Ran sedang terpaku dengan tatapan tidak percaya.


"Ja... Jadi, Shen Yanzhia bukan putri kandung Pangeran Yun?"


Tidak lama setelah Mo Ran mengatakan hal itu, Ru Xiaolan dan Zhi Hao'er muncul bersamaan. Mereka juga memasang raut wajah tidak percaya. Dua orang itu mungkin sudah mendengar perbincangan Niang Yuan dan Pangeran Yun.


Pangeran Yun lantas menjelaskan semua detail kejadian delapan belas tahun yang lalu pada ketiga orang itu. Dia juga menjelaskan alasan Ibu Suri memerintahkan Niang Yuan keluar istana adalah karena dia ingin menyelamatkan Niang Yuan dan bayinya. Penglihatan tajam Ibu Suri memberitahunya bahwa seseorang akan datang untuk melenyapkan Han Yuanniang beserta anak yang dikandungnya.


"Ayahmu juga mengetahui hal ini. Dia yang membantuku menyembunyikan Yuanniang."


"Ayahku?"


Pangeran Yun mengangguk.


"Tapi, kenapa mereka ingin melenyapkan Putri Mahkota?"


"Karena aku mengetahui rahasia mereka. Aku dan Xiao Yanzhi yang mengumpulkan bukti-bukti kejahatan mereka," jawab Niang Yuan.


"Lalu di mana bukti-bukti itu sekarang?"


"Aku yakin Zhi'er dan Pangeran Qin sudah menemukannya," tambah Niang Yuan.


Ingatan Niang Yuan kembali pada delapan belas tahun yang lalu. Malam itu, saat Xiao Yanzhi dan Kaisar berangkat ke medan perang, Niang Yuan menyerahkan kunci ruang bawah tanah Istana Ruo Shui kepada Ibu Suri. Sejak awal, dia sudah merasa bahwa keberangkatan suami dan mertuanya ke medan perang kali ini tidak akan berjalan lancar. Jika sesuatu yang buruk terjadi, maka Niang Yuan akan ikut mati bersama dua orang itu. Biarlah bukti-bukti kejahatan para menteri yang sudah ia kumpulkan bersama Xiao Yanzhi tersimpan sampai suatu saat akan ada orang yang mengungkapnya.


Tidak disangka, firasat buruk Niang Yuan menjadi kenyataan. Satu minggu setelah keberangkatan Putra Mahkota dan Kaisar, dia mendapat kabar bahwa keduanya telah tewas. Saat itu juga ia langsung menemui Ibu Suri dan meminta pendapatnya. Itulah malam terakhir ia berada di istana sebelum dinyatakan hilang dan meninggal.

__ADS_1


"Bibi Niang, apa kau pernah mendengar nama Situ Ting Yue?" tanya Mo Ran.


"Situ Ting Yue?"


Mo Ran mengangguk.


"Itu adalah nama putra angkat Perdana Menteri."


Sungguh tidak dapat dipercaya! Mo Ran, Zhi Hao'er, Ru Xiaolan, dan Pangeran Yun saling berpandangan, tidak percaya pada fakta yang baru saja mereka dapatkan dari mulut Niang Yuan.


"Dia, dialah yang membunuh mendiang Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu!" seru Mo Ran.


"Apa? Dia yang membunuh Xiao Yanzhi dan Kaisar?"


Amarah Niang Yuan membludak. Dia tidak percaya kalau Perdana Menteri akan bertindak sejauh itu. Dia bahkan menyuruh putra angkatnya untuk membunuh Kaisar dan Putra Mahkota! Benar-benar kejahatan yang tidak bisa dimaafkan!


"Jadi, apa kita dapat menyimpulkan bahwa Perdana Menteri adalah dalang di balik semuanya?" tanya Mo Ran.


"Haruskah kita memberitahu Pangeran Kedua?" tanya Zhi Hao'er.


"Tidak. Pangeran Qin sedang kesusahan menghadapi Putra Mahkota Lin yang berada di bawah pengaruh Perdana Menteri."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Tunggu Zhi'er sadar, baru kita putuskan langkah selanjutnya."


Ru Xiaolan tiba-tiba berseru,


"Tunggu! Ada sesuatu yang harus kuberitahukan pada kalian!"


"Ada apa, Tabib Ru?"


"Nona... Nona sedang hamil!"


Entah ini berita bahagia, atau berita bencana, Niang Yuan dan Pangeran Yun bersedih untuk Shen Yanzhia.


...***...

__ADS_1


__ADS_2