
Setelah berganti pakaian dan merapikan diri, Shen Yanzhia bergegas keluar dari Paviliun Barat. Langkahnya ringan seringan bulu, berjalan menuju Paviliun Timur yang terletak berlawanan arah dengan Paviliun Barat. Shen Yanzhia yakin suaminya sedang ada di sana sekarang. Ia ingin tahu apa yang dilakukan Lin Zian setelah melihatnya menyelesaikan hukuman.
Apa yang dilihat Shen Yanzhia sekarang adalah sesuatu yang sangat langka!
Pria itu, dengan anggunnya tertidur di meja belajar sambil duduk. Tangan kanannya menopang dagu. Matanya terpejam. Rambut pria itu terurai indah. Shen Yanzhia melihat ketenangan yang teduh di wajah tampan itu. Pandangan Shen Yanzhia beralih pada pakaian yang dikenakan suaminya. Lin Zian mengenakan pakaian putih tipis yang membuat dada bidangnya terlihat. Sinar matahari yang kebetulan merangsek lewat celah jendela sedikit menyinarinya, membuatnya seolah-olah bercahaya. Lin Zian berubah menjadi seperti arca malaikat yang sangat indah dipandang.
Shen Yanzhia segera menyadarkan dirinya dari keterpukauan sesaat. Ia hendak mengatakan sesuatu. Tapi, melihat wajah teduh yang tertidur begitu damai itu membuat semua kata-kata yang hendak diucapkan Shen Yanzhia lenyap begitu saja. Pesona Lin Zian terlalu memikat di saat seperti ini. Ini pertama kalinya Shen Yanzhia melihat pria itu tertidur.
Ada sesuatu yang menetes di hatinya. Sesuatu itu membawa hawa dingin yang menyejukkan seluruh ruang hatinya. Apa itu? Shen Yanzhia tidak tahu. Ia hanya terpukau melihat seseorang yang beberapa waktu lalu menjadi suami sahnya secara jelas seperti ini. Ia tahu, dirinya dan Lin Zian memang tidak begitu dekat meskipun keduanya sama-sama mewarisi darah kekaisaran. Ya, siapa yang tahu, seorang jenderal bangsawan muda yang dikagumi dapat Shen Yanzhia lihat begitu dekat.
Shen Yanzhia segera menghampirinya begitu tangan kanan pria itu goyah. Dengan sigap, ia menangkap dagu Lin Zian yang hampir terantuk meja. Seolah tersedot kembali ke dunia nyatanya, Lin Zian perlahan membuka mata. Ia menoleh pada wanita yang menopang dagunya, menatapnya sesaat lalu tersenyum kecil.
Senyum itu hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh dirinya sendiri.
“Wangfei?” Lin Zian membetulkan posisi tubuhnya. Ia menggelengkan kepalanya sesaat untuk menyegarkan seluruh ingatannya.
“Kalau kau lelah, kenapa kau tidur di sini?”
“Ah itu. Aku tidak sadar kalau aku tertidur,” jawab Lin Zian jujur.
“Aku sudah menyelesaikan hukumanku. Aku ke sini untuk meminta uang padamu,” terang Shen Yanzhia tanpa rasa malu.
“Untuk apa?”
“Sisa uang jatah bulananku sudah habis. Sekarang kau suamiku. Kepada siapa lagi aku harus memintanya kalau bukan padamu?”
Lin Zian tertawa. Dalam hal seperti ini, Shen Yanzhia ternyata sangat terbuka dan berterus terang. Baru pertama kali Lin Zian menjumpai wanita sepolos dan sejujur Shen Yanzhia. Shen Yanzhia tidak malu mengatakan kalau dirinya kehabisan uang. Sosok terbuka seperti inilah yang Lin Zian senangi.
“Apa kau juga selalu terbuka seperti ini kepada ayahmu?”
“Tentu saja.”
__ADS_1
Shen Yanzhia membusungkan dada.
“Eh, bukankah ini?”
Shen Yanzhia menatap lekat sebuah sketsa wajah yang terbentang di atas meja, mencoba mengingat wajah hitam putih yang digambar dengan kuas hitam tipis, berpikir apakah ia pernah bertemu dengan wajah ini atau tidak.
Shen Yanzhia lalu mengambil sketsa itu, menyisakan rasa terkejut dan bingung pada Lin Zian. Ia kembali menatap sketsa itu, melihatnya dengan picingan mata yang tajam menukik seolah melihat mangsa. Lin Zian mengerutkan kening. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh gadis kecil itu pada sketsa wajah yang diberikan Tang Yin beberapa hari lalu.
“Wajah ini, sepertinya aku pernah melihatnya,” ucap Shen Yanzhia setelah beberapa lama. Lin Zian tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Benarkah? Di mana kau pernah bertemu dengannya?” tanya Lin Zian tak sabar.
Shen Yanzhia terdiam beberapa saat. Keningnya mengkerut hingga kedua alisnya hampir bertemu. Wajah serius seperti ini, di mata Lin Zian tampak begitu lucu. Shen Yanzhia seperti seorang detektif. Lin Zian mendapati tatapan mata menyelidik milik istrinya.
“Zian, apa kau ingat di hari pernikahan kita, kau menggendongku dengan paksa dari kerumunan di jalan?”
Lin Zian mengangguk.
Lin Zian mengangguk kembali.
“Apa kau juga melihat ada seorang pria yang terbaring di tanah seperti orang mati? Aku rasa wajah di kertas itu adalah pria yang terbaring itu.”
Shen Yanzhia tidak mungkin salah. Ia sangat yakin kalau wajah di sketsa sama persis dengan wajah pria sekarat yang ia temui di hari pernikahan. Pria itu jelas memakai pakaian pelayan, tapi postur tubuhnya sama sekali tidak sesuai. Badan pria sekarat itu kekar dan berotot seolah ia telah mengalami banyak pelatihan fisik. Telapak tangan pria sekarat itu juga kapalan, pertanda bahwa ia sering memegang dan menggunakan senjata.
“Kau yakin?”
“Kau bisa memotong uang bulananku jika aku berbohong,” ucap Shen Yanzhia dengan penuh keyakinan.
“Di mana pria itu sekarang?”
“Seharusnya ada di kediaman tabib gila itu,” ujar Shen Yanzhia ringan.
__ADS_1
“Di mana kediaman tabib itu?”
“Itu masalahnya. Dia bilang di pinggiran kota. Aku belum menemukannya karena penjahat-penjahat itu datang mengepungku.”
Lin Zian semakin mengerutkan kening. Jadi, inilah alasan mengapa Shen Yanzhia tidak kembali ketika hujan deras waktu itu. Shen Yanzhia bukan tersesat. Pembunuh-pembunuh itu menyergapnya di tengah jalan.
Seseorang ternyata sengaja mengirim pembunuh-pembunuh itu untuk menghadangnya. Sepertinya orang itu sudah tahu kalau satu-satunya bawahan mereka yang melarikan diri masih hidup di bawah pengobatan tabib gila itu. Mereka ternyata cukup berani menyerang dan menganggu keluarga Pangeran Qin secara terbuka seperti ini.
“Wangfei, apa aku bisa mempercayaimu?”
“Kau ingin mencarinya sendiri?”
Lin Zian mengangguk.
“Aku akan ikut mencarinya.”
“Tidak. Kau tidak boleh terlibat!”
“Tentu saja aku harus terlibat. Aku sudah melihat wajah itu. Bagaimana mungkin aku tidak terlibat?”
Lin Zian memijit kepalanya. Jika sudah begini, ia tidak dapat melakukan apa-apa selain membiarkan Shen Yanzhia ikut dalam pencarian. Gadis keras kepala itu akan terus memaksa jika Lin Zian tidak mengizinkannya terlibat.
Terlebih lagi, Shen Yanzhia mungkin dapat melakukan sesuatu yang nekat seperti melakukan pencarian sendiri tanpa pengawalan. Jika hal seperti itu terjadi, bahaya yang dihadapinya akan jauh lebih besar. Lebih baik membiarkan Shen Yanzhia ikut bersamanya, setidaknya wanita itu akan selalu berada dalam pengawasannya.
“Baiklah, tapi dengan satu syarat. Kau tidak boleh pergi ke manapun tanpa seizinku.”
“Baik. Aku setuju,” ucap Shen Yanzhia yakin.
Setelah itu, Lin Zian mengambil sebuah kotak di bawah mejanya. Tangannya meraih sebuah kantong kain rajut berwarna ungu tua. Ia kemudian menyerahkan kantong ungu itu kepada Shen Yanzhia. Shen Yanzhia menerimanya dengan seringaian kecil yang menggemaskan.
“Kantong itu berisi 1000 tael perak. Cukup untuk belanja satu bulan.”
__ADS_1
“Terima kasih, Pangeran Qin yang baik hati.”***