RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 9: Mulai Merasa Khawatir


__ADS_3

Hujan deras turun sepanjang sore. Langit kota ini menghitam seperti malam. Wajah ibukota yang sebelumnya dihiasi awan yang berarak kini berubah menjadi basah ditaburi percikan air. Pohon-pohon yang daunnya mulai berguguran kini juga basah.


Lin Zian meletakkan kuasnya dan menatap ke luar jendela. Jendela kayu itu basah di ujungnya. Angin kencang meniupkan percikan air hujan ke dalam hingga bagian yang terkena percikan itu menjadi basah. Lin Zian lalu menutup jendela. Dia menghela napas sejenak sebelum kembali ke melanjutkan aktivitasnya.


Lin Zian menyesap teh yang disajikan Xu Chi. Pelayan setianya itu sekarang sedang sibuk menggiling tinta. Kertas berisi tulisan-tulisan kecil dan rapi berserakan memenuhi meja. Sebagian kertas itu juga ada yang tergulung dan teronggok di lantai. Aroma hujan menyesap masuk melalui celah-celah lubang udara.


Satu pekan lagi adalah perjamuan untuk ulang tahun Ibu Suri. Lin Zian, sebagai seorang pangeran dan cucu yang berbakti tentu harus datang untuk mengucapkan selamat. Jika ia tidak datang, seluruh ibukota pasti akan membicarakannya. Apalagi sekarang istrinya adalah Putri Jing Mei, putri kesayangan Ibu Suri.


Lin Zian harus belajar menahan rasa enggan karena kini ia telah kembali dan tinggal di ibukota. Panggilan-panggilan dari istana sudah pasti akan sering dia terima karena Kaisar memberinya tanggung jawab sebagai pengawas Biro Penyelidikan. Wewenang politik yang diberikan kepadanya belum ia terima karena sungguh, Lin Zian sama sekali tidak tertarik dengan pengadilan istana. Tugas pengawas itu pun diterimanya dengan sangat terpaksa.


“Apa wangfei belum kembali?”


“Belum, Tuan Muda.”


“Hujan belum berhenti. Di mana dia sebenarnya sekarang?”


Lin Zian bergumam sendiri. Setelah membuat halaman paviliunnya menjadi seperti taman bunga istana, istrinya itu pergi tanpa memberitahunya. Pelayan-pelayan di kediaman belum ada yang melihatnya lagi. Mereka hanya mengatakan bahwa Shen Yanzhia pergi bersama Tan’er beberapa saat setelah mereka berdua menanamkan seluruh bunga.


Lin Zian tersenyum melihat tingkah aneh istrinya. Ia tahu Shen Yanzhia saat itu kesal padanya. Tapi, cara pelampiasan kekesalannya itu sungguh berbeda dari yang lain. Alih-alih menjauh atau mengerjai, wanita itu malah menghias halamannya dengan bunga.


“Tuan Muda, salah satu pelayan yang baru kembali dari desa mengatakan kalau dia melihat wangfei di jalan ke pinggiran ibukota hari ini. Dia membawa banyak barang bersama Tan’er.” Xu Chi memberitahu apa yang ia dengar kepada tuannya.


“Pinggiran ibukota?”


Xu Chi mengangguk.


“Xu Chi, siapkan kuda. Aku akan mencarinya sekarang.”


“Tapi Tuan Muda, hujan sedang sangat deras.”


“Siapkan kuda!”


Tak lama kemudian, Lin Zian keluar dari kediaman dengan kudanya. Kuda itu ia pacu untuk berlari sangat kencang, membelah hujan, membelah jalanan ibukota yang basah. Kuda itu semakin kencang larinya. Setelah sampai di ujung jalan ibukota, Lin Zian berhenti sejenak. Ia mengelap air hujan yang mengucur di antara kedua alisnya. Ujung jalan ini mengarah langsung ke kawasan hutan. Lin Zian kembali memacu kudanya, menyusuri jalan berbatu di bawah guyuran air hujan.


Lin Zian melihat dua orang wanita sedang saling membelakangi. Mereka dikelilingi sekumpulan orang berbaju hitam yang bersenjata. Kedua pakaian wanita itu sudah basah dan kotor. Tidak jauh dari sana, ia melihat sekumpulan bungkusan yang tergeletak sembarangan. Kedua wanita itu tampak sangat ketakutan.


“Kurang ajar!”


Lin Zian mencabut pedang bulan dari sarungnya. Pedang itu semakin berkilau terkena hujan. Ia lalu melompat dari kudanya, meloncat dan mendarat di tengah-tengah mereka. Dua wanita itu terkejut sekaligus senang.


Beberapa orang berpakaian hitam itu lalu menyerangnya dari segala arah. Pedang bulan itu mulai menari di tangan Lin Zian, terulur ke segala arah. Ia menepis dan menyerang dengan cepat seperti angin. Beberapa orang itu mulai tumbang satu persatu. Pedang bulan itu mengenai wajah, bahu, punggung, dada, tangan dan kaki mereka.


Air yang menggenang sudah berubah warna menjadi merah. Orang-orang berpakaian hitam itu terbaring di atas tanah. Napas mereka tersengal-sengal menahan sakit. Beberapa orang berseragam kemudian datang mengepung mereka. Lin Zian menarik wanita berpakaian sutra ke atas kuda.


“Urus mereka semua!”


Lin Zian memacu kudanya meninggalkan hutan. Wajah wanita di pangkuannya basah. Tangan wanita itu terulur memeluk pinggang Lin Zian. Kudanya semakin cepat berlari, membelah hutan, membelah ibukota. Hujan belum berhenti. Langit masih menghitam seperti malam.


...***...


Shen Yanzhia terbangun setelah malam. Hawa dingin dari luar jendela yang belum ditutup menyelinap masuk ke dalam pori-pori kulitnya yang terbuka karena selimut yang menutupinya tersingkap. Suara hujan masih terdengar, mengalun seperti melodi yang dimainkan di malam hari. Begitu indah dan menenangkan, sekaligus menyesakkan di waktu yang sama.

__ADS_1


Shen Yanzhia menatap mangkuk sup jahe yang terletak di meja di pinggir ranjang. Sup itu masih mengepul. Shen Yanzhia menatap lilin-lilin yang menyala di seluruh ruangan ini. Api kecil dari sumbu-sumbu lilin itu sesekali berkedip tertiup angin.


“Tan’er, tolong tutup jendelanya!”


Seseorang kemudian masuk menutup jendela.


“Nona, kau sudah bangun?”


Tan’er mengambil mangkuk sup jahe itu lalu menyodorkannya pada majikannya.


“Bagaimana kita bisa kembali ke sini?”


Tan’er lalu menjelaskan kejadian yang telah menimpa dia dan majikannya di sore hari tadi. Setelah putus asa karena tak kunjung menemukan rumah dari tabib wanita gila itu, Shen Yanzhia tiba-tiba disergap sekelompok orang yang tidak dikenal.


Meskipun ia seorang wanita bertempramen buruk, dia tidak bisa bela diri. Shen Yanzhia tidak membawa senjata apapun untuk melindungi dirinya. Hujan yang turun membuat kepalanya sedikit pusing.


Shen Yanzhia lalu teringat kepada Lin Zian. Pria itu melompat dari kudanya ke tengah kerumunan dengan pedang. Orang-orang yang menyergapnya kemudian tumbang satu persatu.


Shen Yanzhia melihat dengan jelas ketika tangan pria itu menyerang dan menepis pedang dengan cekatan. Pedang bulan itu menjadi merah dilumuri darah. Shen Yanzhia lega karena Lin Zian tidak langsung membunuh mereka di depan matanya.


“Kau sudah merasa baik?”


Lin Zian masuk melalui pintu depan. Jubah berbulunya tersampir di pundak. Ekor jubah itu menjuntai menyapu lantai kayu.


“Zian,” ucap Shen Yanzhia lembut. Tan’er langsung keluar begitu tahu tuannya yang datang.


“Minumlah supnya.”


Mengapa ia sangat marah? Apakah Lin Zian marah padanya karena ia mengubah taman kediamannya menjadi penuh bunga? Apakah Lin Zian kesal karena ia keluar wangfu secara diam-diam tanpa seizinnya? Apakah Lin Zian khawatir ia membuat kekacauan di luar dan merusak nama baiknya?


Shen Yanzhia tiba-tiba menangis. Air matanya meluncur seperti anak sungai berair bening di kedua pipinya. Rasa takut dan khawatir mulai menjalari seluruh hatinya. Apakah Lin Zian akan menghukumnya setelah ini?


“Wangfei, kenapa kau menangis?” Lin Zian menatap lekat wajah istrinya.


“Zian, maafkan aku,” ucap Shen Yanzhia lirih di sela-sela tangisannya.


“Apa kau sudah tahu dan menyadari apa kesalahanmu?”


Shen Yanzhia mengangguk. Tangisannya semakin menjadi. Udara terasa semakin dingin dan mencekam. Shen Yanzhia merasa seluruh tebakannya benar.


“Apa kau akan menghukumku?”


“Apa aku terlihat seperti akan menghukummu?”


Shen Yanzhia mendesah lega. Sekarang ia bisa lebih tenang karena Lin Zian sepertinya tak berniat menghukumnya. Pria itu terlihat seperti memiliki kekhawatiran yang besar terhadapnya. Matanya yang jernih menyiratkan sesuatu yang tidak bisa Shen Yanzhia ketahui. Ia masih merasa tak berdaya. Ketakutan sisa kejadian sore tadi belum benar-benar hilang.


“Beristirahatlah. Aku akan menemuimu besok pagi.”


Shen Yanzhia memegang pergelangan tangan Lin Zian, mencoba menahan agar pria itu tidak pergi.


“Apa yang terjadi pada orang-orang itu?”

__ADS_1


“Kau tidak perlu memikirkan mereka.”


“Kau membunuhnya?”


“Tidak.”


“Lalu di mana mereka sekarang?”


“Penjara.”


Shen Yanzhia mendesah lega. Orang-orang kurang ajar itu harus menerima hukuman mereka. Meskipun ia tidak ingin melihat Lin Zian menghukum mereka secara langsung, Shen Yanzhia tetap ingin mereka menerima akibat dari perbuatan mereka. Keberanian mereka menyerang putri kesayangan Ibu Suri menunjukkan bahwa mereka bukanlah pembunuh biasa.


“Di mana barang-barang yang kubeli?”


“Mereka sudah rusak. Aku sudah membuangnya tadi,” jawab Lin Zian ringan.


“Kau! Kenapa kau tidak bertanya padaku dulu? Mungkin masih ada yang bisa dipakai dan bagus. Jangan langsung membuangnya begitu saja!”


“Bagaimana aku bisa bertanya kalau kau terus tidur seperti tadi?”


“Kau! Lin Zian kau sangat menyebalkan!”


“Aku? Menyebalkan? Lalu katakan siapa yang menghias halaman kediamanku dengan bunga-bunga? Yanzhia, kau lebih menyebalkan dariku!”


Sudahlah. Tidak ada gunanya mendebat Lin Zian. Shen Yanzhia masih harus menyimpan energinya untuk hari esok. Masih ada sesuatu yang harus ia selesaikan. Selain itu, ia juga harus menyimpan energinya agar dia bisa keluar dari kediaman lagi untuk membeli barang-barang baru. Ia mungkin akan menghabiskan seluruh uang pemberian ayahnya bulan ini.


“Perihal barangmu yang rusak, aku tahu itu untuk hadiah ulang tahun Ibu Suri. Jangan khawatir, kita sudah menikah. Hadiahku adalah hadiahmu.”


“Benarkah?”


Lin Zian mengangguk. Senyum kecil terbersit di wajahnya yang tampan.


“Lain kali, kau tidak boleh keluar dari wangfu diam-diam lagi. Oh ya, aku juga tidak mengatakan kalau aku tidak akan menghukummu.”


“Tapi tadi kau bilang…”


“Aku hanya bertanya.”


“Lin Zian! Aku bahkan belum membalas perbuatanmu yang mencuri ciuman pertamaku!”


“Apa kau pikir itu hanya ciuman pertama milikmu saja?”


Shen Yanzhia tergugu. Apa maksudnya? Apa itu benar-benar ciuman pertama Lin Zian juga? Dia memberikannya begitu saja? Shen Yanzhia ingin mempercayainya. Tapi, sisi dirinya yang lain tidak ingin mempercayainya. Jika itu memang benar, mengapa dia memberikannya pada Shen Yanzhia yang sama-sama baru mengalaminya?


Suasana mendadak menjadi canggung. Baik Shen Yanzhia maupun Lin Zian, keduanya sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing. Suara hujan mulai terdengar kembali. Lilin-lilin yang menyala goyah apinya oleh angin. Udara menjadi semakin dingin setelah malam menjadi semakin larut.


“Aku akan memberitahu hukumanmu besok.”


Shen Yanzhia menatap kepergian Lin Zian dengan kesal. Sejenak kemudian, kekesalannya berubah menjadi sebuah kebahagiaan kecil. Ia tiba-tiba tersenyum sendiri ketika ia ingat betapa lucunya wajah penuh kekhawatiran Lin Zian ketika ia menggendongnya di atas kuda sore tadi.


Sungguh, Shen Yanzhia benar-benar melihat pemandangan yang sangat bagus. Wajah pria itu sangat dekat dengannya. Shen Yanzhia dapat melihat dengan jelas dagu yang runcing, bibir pucat yang lembut, hidung yang bangir, dan kelopak mata yang indah di bawah guyuran hujan.

__ADS_1


Shen Yanzhia baru menyadari: Suaminya ini benar-benar sangat tampan!***


__ADS_2