RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 12: Jebakan Selir Duan


__ADS_3

Istana Guanling begitu sangat indah. Cahaya matahari yang kebetulan sedang bersinar terang menyelusup ke sela-sela istana. Bunga-bunga di taman sekitar istana yang berguguran itu sudah mulai meranggas lebih parah daripada hari-hari sebelumnya.


Musim gugur sudah hendak berakhir. Suhu udara mulai mendingin. Mungkin, beberapa pekan lagi akan datang musim dingin. Dataran kekaisaran Ling akan diselimuti salju putih yang mempesona.


Lin Zian mengepakkan jubah berbulu berwarna abu-abunya dan menekuk lutut begitu Ibu Suri dan Kaisar datang. Di belakang mereka, Putra Mahkota mengikuti dengan langkah pelan.


Shen Yanzhia juga melakukan hal yang sama. Shen Yanzhia tampak cantik dengan balutan hanfu biru muda berhias manik-manik putih bagai perak. Rambutnya disanggul ke belakang, sebagian lagi menjuntai indah hingga ke punggung. Kepalanya dihiasi dengan dua jepit rambut berbentuk bunga teratai dan peony. Ujung jepit rambut tersebut memiliki buntut yang menjuntai.


Beberapa selir Kaisar, selir Putra Mahkota serta permaisurinya juga bangkit memberi hormat. Pakaian mereka jauh lebih mewah dan indah. Pelayan-pelayan pribadi mereka berdiri dengan patuh di samping majikannya masing-masing. Setelah itu, mereka dipersilakan duduk kembali.


Lin Zian menatap malas pada kumpulan selir yang duduk berjajar di depan dan di sampingnya. Perasaannya tiba-tiba berubah menjadi tak karuan. Wanita-wanita ini, tidak lebih dari siluman rubah yang licik.


Di depan Ibu Suri dan Kaisar, mereka bertingkah sangat baik seolah-olah mereka adalah orang yang berbudi luhur. Perangai dan tutur kata mereka tiba-tiba berubah menjadi lembut. Mereka bahkan memuji kecantikan satu sama lain. Lin Zian tahu, di dalam pujian-pujian itu tentu saja mengandung sebuah sindiran yang menusuk hati masing-masing. Pujian-pujian itu tidak tulus, dan diberikan sebagai tanda bahwa diri mereka masih mempunyai kata, karena di belakang Ibu Suri dan Kaisar, mereka saling bersaing.


Lin Zian tidak membenci selir. Ia hanya tidak suka pada perilaku mereka. Ia sangat tahu bagaimana kejamnya kehidupan di istana harem. Lin Zian, adalah seorang pangeran yang dibesarkan oleh selir.


Ia adalah putra kedua ratu ketika ayahnya masih menjadi seorang pangeran, tetapi ibu kandungnya itu tak lebih dari orang asing. Begitu ia lahir, ia langsung diserahkan kepada Selir Rui, selir persembahan dari Provinsi Baindu yang sudah naik ke tingkat dua. Lin Zian tidak tahu mengapa ratu memberikannya pada orang lain. Selama hidupnya, ia hanya tahu bahwa ibu yang menyayanginya adalah Selir Rui, meskipun ia tahu ia bukan anak kandungnya.


Lin Zian ingat betul bagaimana para selir Kaisar yang lain memperlakukan Selir Rui dengan sangat berbeda. Mereka bukan hanya mencibir, bahkan berani menghina dan berlaku kasar kepadanya. Selir-selir licik itu menganggap Selir Rui adalah bahaya terbesar karena ia mempunyai Lin Zian yang mereka anggap sebagai senjata.


Lin Zian sering mendapati Selir Rui menangis sendirian di tengah malam. Perlakuan mereka semakin di luar kendali setelah ratu tiba-tiba meninggal. Para selir licik itu seolah mendapatkan kesempatan karena kini tidak ada yang bisa melindungi Selir Rui lagi. Karena itulah, ia begitu terpukul ketika mendengar bahwa Selir Rui telah tiada. Sayangnya, Kaisar saat itu malah mengirimnya kembali ke kamp militer. Lin Zian sering berpikir bahwa ia adalah putra yang tidak diinginkan. Tapi, Lin Zian tidak pernah menyimpan pikiran itu dalam waktu yang lama dan berlarut-larut.


“Zian, kau baik-baik saja?” tanya Shen Yanzhia setengah berbisik. Ia tidak tahu mengapa wajah suaminya tiba-tiba berubah.


“Aku baik-baik saja,” jawab Lin Zian tak kalah pelannya.


“Kau yakin?”


Lin Zian mengangguk. Ia memaksakan senyum di wajahnya agar terlihat baik.


“Kalau suasana hatimu sedang buruk, kita bisa kembali ke kediaman. Aku akan meminta izin pada Yang Mulia.”


“Aku baik-baik saja.” Lin Zian menjawab dengan tegas.


Shen Yanzhia lalu kembali ke posisi awalnya.

__ADS_1


Perasaannya tidak enak. Instingnya mengatakan kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Shen Yanzhia tahu suaminya sedang menahan perasaan. Ia memang tidak tahu persis seperti apa kehidupan masa kecil Lin Zian karena mereka hanya bertemu ketika istana mengadakan perjamuan. Shen Yanzhia juga tidak pernah bertemu dengan Lin Zian ketika dirinya bermain ke istana sewaktu-waktu. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa khawatir.


Beberapa pelayan kemudian masuk membawa poci teh dan cangkir keramik berwarna emas yang cantik. Pelayan-pelayan itu lalu meletakkan poci teh dan cangkirnya di setiap meja yang ditempati oleh para keluarga kerajaan. Beberapa pelayan yang lainnya kemudian muncul silih berganti membawa makanan dan camilan. Setelah semua hidangan tersaji, para pelayan itu kemudian pergi.


“Aku bersulang sebagai ucapan selamat atas pernikahan Pangeran Qin dan Putri Jing Mei,” ucap Putra Mahkota sembari mengangkat cangkir teh lalu meminumnya. Orang-orang yang hadir melakukan hal yang sama. Ibu Suri dan Kaisar tersenyum.


“Terima kasih, Putra Mahkota,” ucap Lin Zian dan Shen Yanzhia bersamaan.


“Aku juga bersulang untuk pernikahan Pangeran Qin dan Putri Jing Mei.”


Selir Duan, selir tingkat satu Kaisar meniru Putra Mahkota. Sekali lagi, Lin Zian dan Shen Yanzhia berterima kasih secara bersamaan.


“Sepertinya, Zhi’er dan An’er memang berjodoh. Kalian tampak sangat cocok dan serasi,” ujar Ibu Suri tulus. Shen Yanzhia dan Lin Zian tersenyum. Keduanya lalu meneguk teh di cangkir mereka sebagai tanda hormat atas pengakuan dan ucapan selamat dari orang-orang di sini.


Setelah minum teh, para selir dan permaisuri mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan hadiah kepada Ibu Suri. Hadiah-hadiah yang mereka berikan semuanya adalah barang-barang berharga yang sangat mahal dan mewah. Shen Yanzhia diam-diam terkikik geli.


“Kenapa kau tertawa?” tanya Lin Zian pelan.


“Sepertinya, usaha mereka untuk membuat Yang Mulia terkesan sangat besar. Aku sedikit terharu.”


Shen Yanzhia tidak menjawab. Ia meneguk kembali tehnya.


Shen Yanzhia melirik ke arah Selir Duan. Selir kesayangan Kaisar itu memberikan sebuah lukisan kuno berjudul “Sungai dan Bulan” yang dilukis oleh Yuchi Tan, pelukis legendaris dari dinasti sebelumnya yang sangat hebat. Lukisan-lukisannya terkenal memiliki jiwa dan seolah benar-benar hidup. Shen Yanzhia menatap sekilas ke arah lukisan itu.


“Sungai dan Bulan” adalah representasi dari dua kisah yang berbeda yang bertemu di malam, ketika kisah tragis pengembaraan sungai bertemu kisah terang cahaya bulan. Setelah melipat kembali gulungan lukisan itu, Selir Duan menatap sekilas ke arah Shen Yanzhia dan Lin Zian. Shen Yanzhia dapat melihat kilatan licik di mata bersinar itu.


Dugaan Shen Yanzhia menjadi kenyataan. Lidah selir itu mulai berulah. Sepertinya, Selir Duan tahu kalau Shen Yanzhia tidak menyiapkan hadiah apapun untuk Ibu Suri. Selir itu ingin mempermalukannya di depan keluarga kerajaan. Wanita licik itu menyimpan dendam padanya karena Ibu Suri menyayanginya dan melindunginya, padahal ia hanyalah putri dari Pangeran Yun yang tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan besar.


“Tampaknya, Putri Jing Mei memiliki hadiah yang sangat bagus untuk ulang tahun Yang Mulia kali ini,” ucapnya sambil melirik sinis kepada Shen Yanzhia. Semua orang yang ada di sana langsung menatap Shen Yanzhia. Sepertinya mereka juga penasaran hadiah apa yang akan diberikan putri kesayangan Ibu Suri itu.


Mereka tidak tahu bahwa di belakang Shen Yanzhia ada Pangeran Qin, putra kedua Kaisar yang telah membuat bangga seluruh negeri karena kemampuannya di medan perang.


Shen Yanzhia beralih menatap Lin Zian. Dia ingin menagih perkataan pria itu. Shen Yanzhia menjadi ragu apakah pria itu benar-benar menyiapkan hadiah atau tidak. Selama tahun-tahun kedewasaannya, Lin Zian menghabiskan waktu di kamp militer yang jauh dari hingar bingar dan kultur kebudayaan ibukota. Apakah pria itu akan mengerti?


Xu Chi kemudian datang bersama satu orang pelayan wanita. Pelayan wanita yang menyertainya membawa sebuah kotak berukuran sedang. Kotak itu dihiasi ukiran kayu membentuk lengkungan panjang di bagian atas dan bagian bawahnya. Setelah memberi hormat, Xu Chi kemudian menghampiri Lin Zian dan istrinya. Pelayan wanita itu lalu menyerahkan kotak yang dibawanya kepada Lin Zian.

__ADS_1


“Yang Mulia, karena Putri Mei adalah istriku, maka hadiahku adalah hadiahnya. Hari ini, kami secara khusus membawa kain sutera lipat dari Suku Kun di Timur. Aku harap Yang Mulia berkenan menerimanya,” terang Lin Zian dengan sangat percaya diri. Semua orang yang ada di ruangan itu menatap tak percaya pada apa yang dikatakannya.


“Sutera lipat Suku Kun? Bukankah itu sangat langka?” tanya Ibu Suri.


“Benar, Yang Mulia. Di dataran ini, hanya tersisa tujuh lipat sutera. Kebetulan, saat berada di kamp militer, seorang teman dari Suku Kun memberikannya kepadaku. Tapi, kain ini terlalu berharga untuk dimiliki oleh keluarga pangeran kecil sepertiku.”


Ibu Suri dan Kaisar tersenyum bahagia. Shen Yanzhia menatap dengan bangga. Ia dapat melihat kilatan kemarahan yang disembunyikan oleh wajah cantik Selir Duan. Selir itu sudah jatuh ke dalam perangkapnya sendiri.


Kain sutera lipat Suku Kun itu lebih berharga dari lukisan “Sungai dan Bulan”. Lin Zian lalu menyerahkan kotak berisi sutera lipat Suku Kun kepada Ibu Suri.


Tatapan kesal Selir Duan yang tersembunyi berubah menjadi senyuman manis yang mengandung sesuatu yang lain. Senyuman itu lebih mengerikan daripada Pedang Bulan berlumur darah di mata Shen Yanzhia.


Selir Duan menyiapkan perangkap yang lain untuk menangkap kesalahannya. Kali ini, Shen Yanzhia tidak bisa menebaknya. Ia sungguh tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan selir licik ini. Meskipun begitu, tetap berhati-hati dan menyiapkan diri adalah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan.


Perut Shen Yanzhia tiba-tiba merasa mual. Kepalanya pusing. Shen Yanzhia lalu memegang tangan Lin Zian dengan erat. Pria itu menatapnya dengan penuh tanya. Tapi, tatapan itu berubah menjadi keterkejutan yang membuatnya khawatir. Wajah Shen Yanzhia pucat seperti tanpa darah.


“Teh itu, tehnya bermasalah.”


Suara Shen Yanzhia melemah. Sebisa mungkin ia berusaha menyembunyikan kesakitannya. Lin Zian menghirup sebentar teh yang diminum istrinya. Dahinya mengkerut dan alisnya hampir menjadi satu.


“Apa toleransimu terhadap arak sangat rendah?” tanyanya pelan.


“Aku tidak pernah menyukai alkohol.”


Lin Zian merasa teh yang diminum Shen Yanzhia sudah dicampur dengan bubuk gula awan yang dapat menyebabkan seseorang mabuk seperti minum arak. Toleransi tubuh istrinya yang rendah terhadap segala jenis alkohol akan menyebabkan masalah jika terus dibiarkan. Lin Zian khawatir Shen Yanzhia akan berbuat sesuatu di luar kendalinya. Jika itu terjadi, perjamuan ini akan kacau dan hidup istrinya akan dalam bahaya.


“Kita harus segera pergi dari sini. Kau berpura-puralah agar aku bisa membawamu pergi,” ucap Lin Zian. Suaranya sangat kecil hingga pelayan yang ada di belakangnya pun tidak dapat mendengarnya.


Shen Yanzhia menurut. Ia kemudian berpura-pura tak sadarkan diri hingga membuat seisi istana Guanlin terkejut, termasuk Ibu Suri dan Kaisar. Lin Zian yang berada di sampingnya menopang badannya dengan sebelah tangan agar Shen Yanzhia tidak jatuh ke lantai. Ia kemudian mengangkat tubuh Shen Yanzhia.


“Yang Mulia, aku minta maaf karena tidak dapat menghadiri jamuan ulang tahun Yang Mulia hingga akhir. Sepertinya Putri Jing Mei kelelahan, cucumu yang tidak berharga ini mohon izin,” pinta Lin Zian sembari menundukkan kepala. Ibu Suri yang tampak sangat khawatir mengangguk.


“Bawalah, biarkan Zhi’er beristirahat.”


Sebelum meninggalkan istana Guanlin, Lin Zian menatap sekilas ke arah Selir Duan. Selir itu tersenyum dan kesal di saat yang bersamaan. Diam-diam kebencian menyusup di hati Lin Zian setelah melihat senyuman itu. Sepertinya, Selir Duan sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Meskipun Shen Yanzhia tidak sampai mengacau, Selir Duan cukup puas karena putri pangeran rendahan itu akan segera pergi dari hadapannya.***

__ADS_1


__ADS_2