RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 56: Berusaha Bertahan


__ADS_3

"Marquis Zingyuan?"


Laki-laki itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Zhi Hao'er, mengangguk mengiyakan. Dia cukup terkejut dan panik saat mendapati Shen Yanzhia terluka parah dan dibopong seorang wanita asing.


"Kalau aku boleh bertanya, siapa bibi ini? Mengapa Zhi'er bisa bersamamu dan terluka?"


Niang Yuan menimbang jawaban yang akan ia berikan pada Zhi Hao'er. Tadi, dia sudah mengatakan bahwa Shen Yanzhia adalah putrinya. Tidak menutup kemungkinan kalau putra Marquis Zingyuan di hadapannya ini akan bertanya lebih jauh padanya, menuntut penjelasan atas pernyataannya.


"Ah, aku Niang Yuan. Aku adalah bibi barunya."


"Begitu rupanya. Tapi, mengapa dia bisa terluka?"


"Kami mengalami penyerangan saat akan kembali ke ibukota."


Niang Yuan terus menerus menekan luka di bahu kanan Shen Yanzhia agar tidak terus mengeluarkan darah. Laju kereta kuda semakin cepat. Niang Yuan mulai ketakutan. Dia takut Shen Yanzhia tidak bisa bertahan sampai tiba di ibukota.


Hatinya mengutuk keras keparat-keparat yang menyerangnya. Niang Yuan juga mengutuk keras seseorang yang menyuruh para pembunuh itu. Orang itu pasti berstatus tinggi. Niang Yuan yakin, orang itu adalah orang yang sama yang mencelakai keluarganya delapan belas tahun yang lalu.


Niang Yuan masih memiliki dendam pada orang itu. Dia masih punya banyak kesakitan di hatinya yang membuatnya terus menerus merasa menderita dan berdosa karena sudah terlibat dalam urusan keluarga kerajaan. Sekarang, orang yang berasal dari latar belakang keluarga kerajaan di depannya, juga mengalami bahaya yang hampir serupa dengan yang ia alami.


Saat hari mulai beranjak sore, kereta kuda yang ditumpangi Niang Yuan dan Shen Yanzhia sampai di depan gerbang ibukota. Di benteng itu, Niang Yuan dapat melihat suasana Kota Rouwu yang cukup ramai. Sudah delapan belas tahun lamanya dia tidak melihat keramaian seperti ini.


Setelah melalui pemeriksaan dari para penjaga, kereta kuda itu langsung melaju kembali. Bahkan, kecepatannya kian bertambah karena medan perjalanannya lebih datar dan lebih rata dibandingkan saat di hutan beberapa waktu lalu. Kereta itu melaju membelah keramaian.


Tidak lama setelah itu, kereta berhenti di depan Pavilun Lingxiang. Beberapa penjaga di depan gedung itu bergegas menyambut kedatangan si pemilik kereta. Niang Yuan segera turun sambil memapah tubuh Shen Yanzhia yang berlumuran darah. Saat mereka sampai di depan pintu Pavilun Lingxiang, Mo Ran berteriak panik. Wanita itu menyuruh semua orang menyingkir untuk memberi jalan padan Niang Yuan dan Zhi Hao'er.


Mereka membawa Shen Yanzhia ke kamar atas. Mata wanita itu masih terpejam rapat. Darah di bahu kanannya mulai merembes lagi, membasahi bajunya yang sudah kotor dan kumal.


"Cepat panggilkan tabib Ru Xiaolan!" teriak Mo Ran. Wanita pemilik Paviliun Lingxiang itu menangis melihat kondisi Shen Yanzhia yang kritis.


"Yanzhia bertahanlah!" ucap Mo Ran di sela-sela tangisannya.


Niang Yuan menatap wanita itu dengan heran. Dia bingung karena seseorang menangisi Shen Yanzhia sampai begitu dalamnya. Niang Yuan bertanya-tanya, siapakah wanita yang sedang menangis itu. Sepertinya dia juga mengenal Shen Yanzhia.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, Ru Xiaolan datang karena kebetulan dia sedang berada di dekat Pavilun Lingxiang. Melihat seseorang yang dikenalnya terbaring bersimbah darah, tabib itu ikut panik. Dia segera mengeluarkan alat-alat medisnya.


Untuk memudahkan pengobatan, Ru Xiaolan meminta Zhi Hao'er dan Mo Ran keluar. Tanpa bertanya terlebih dahulu, Ru Xiaolan langsung meminta Niang Yuan untuk membuka pakaian Shen Yanzhia. Niang Yuan langsung membukanya.


Begitu pakaiannya tersingkap, tampaklah luka bekas tusukan pedang yang sangat lebar dan dalam. Luka itu juga memanjang. Pantas saja Shen Yanzhia sampai tak sadarkan diri. Wanita ini kehilangan begitu banyak darah dan tenaga.


Ru Xiaolan perlahan-lahan mulai mengobati lukanya. Setelah dibersihkan, tabib wanita itu langsung menjahit lukanya. Shen Yanzhia tampak meringis beberapa kali dalam ketidaksadarannya. Niang Yuan membantunya menahan sakit, dia memegang erat tangan Shen Yanzhia.


Selesai menjahit luka, Ru Xiaolan menaburkan bubuk pereda sakit di atas lukanya, lalu membungkusnya dengan kain kasa. Dia juga mengobati beberapa luka lain di tubuh Shen Yanzhia. Setelah tiga batang dupa, luka-luka di tubuh Shen Yanzhia sudah selesai diobati. Wanita itu sudah tertolong nyawanya.


Niang Yuan membersihkan tubuh Shen Yanzhia dengan lap basah. Setelah itu, dia memakaikan pakaian baru untuk Shen Yanzhia yang sudah disiapkan Mo Ran sebelumnya. Sekarang, meskipun masih tidak sadarkan diri, penampilan wanita itu jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Terima kasih karena kau sudah mengobati luka-lukanya," ucap Niang Yuan tulus.


"Nona adalah sahabatku. Aku juga seorang tabib. Jadi, memang sudah sepantasnya."


Syukurlah, banyak orang baik yang mengenal Shen Yanzhia. Nyawanya bisa tertolong dan terselamatkan. Ru Xiaolan lalu mengobati luka-luka Niang Yuan. Untung saja, luka-lukanya tidak separah luka Shen Yanzhia.


Tidak lama kemudian, Mo Ran dan Zhi Hao'er dipersilakan masuk. Ru Xiaolan lantas menjelaskan kondisi terkini putri kesayangan Ibu Suri itu. Dia juga menerangkan kalau Shen Yanzhia sudah melewati masa kritis. Mereka hanya tinggal menunggu Shen Yanzhia sadar.


Niang Yuan tercekat.


"Ibu Suri jatuh sakit?" tanya Niang Yuan memastikan. Ru Xiaolan dan yang lainnya mengangguk.


"Nona tidak datang berminggu-minggu ke kediaman Pangeran Yun. Yang Mulia langsung jatuh sakit. Kaisar juga belum sembuh tapi Putra Mahkota sudah mulai bertindak," jawab Ru Xiaolan. Niang Yuan semakin tercekat.


"Kau dari kediaman Pangeran Yun?"


"Benar. Nona yang menempatkanku di sana."


Sungguh, suatu kebetulan yang terlalu banyak menurut Niang Yuan.


"Tabib Ru, bisakah kau merahasiakan ini dari Pangeran Yun?" pinta Niang Yuan. Ru Xiaolan mengangguk meskipun agak heran.

__ADS_1


"Bibi, Pangeran Yun, bagaimanapun adalah ayah dari Zhi'er. Apa dia tidak boleh mengetahui kondisi putrinya yang hilang?" sergah Zhi Hao'er.


"Benar. Setidaknya, ada salah satu anggota keluarganya yang tahu kondisinya," sambung Mo Ran.


Niang Yuan menimbang-nimbang. Perkataan teman-teman Shen Yanzhia memang masuk akal. Seseorang harus mengetahui kondisi anak ini. Apalagi, Pangeran Yun adalah keluarganya, keluarga yang sejak kecil merawat dan membimbingnya.


"Baik. Tapi, kumohon hanya Pangeran Yun saja."


Mereka mengangguk. Meskipun Niang Yuan adalah orang asing, tapi mereka yakin kalau dia mempunyai hubungan yang baik dengan Shen Yanzhia. Mereka yakin Niang Yuan bukan orang jahat.


Mo Ran, Zhi Hao'er, dan Ru Xiaolan meninggalkan kamar. Mereka membiarkan Niang Yuan menemani Shen Yanzhia seorang diri. Ketiga orang itu turun ke lantai bawah, lalu masuk ke sebuah ruangan besar di sudut paling pojok Paviliun Lingxiang. Mereka hendak mendiskusikan sesuatu yang penting mengenai kejadian hari ini.


Dalam ruangan itu, Zhi Hao'er menceritakan rangkaian kejadian saat ia menemukan seorang wanita sedang memapah Shen Yanzhia hingga ia sampai di Paviliun Lingxiang. Dari penuturan Niang Yuan, Zhi Hao'er yakin kalau wanita itu bukan wanita biasa. Dia pasti memiliki sesuatu yang istimewa yang membuatnya dekat dengan Shen Yanzhia.


Mo Ran, wanita yang sudah melihat banyak wajah selama hidupnya, memiliki mata dengan penglihatan yang sangat tajam. Saat dia melihat Niang Yuan dan Shen Yanzhia, hatinya berdesir. Wajah Niang Yuan sekilas sangat mirip dengan Shen Yanzhia. Tapi, dia juga tidak bisa langsung menyimpulkan tanpa bukti dan penyelidikan yang kuat.


Apalagi, selama ini semua orang tahu bahwa Shen Yanzhia adalah putri Pangeran Yun. Jika Niang Yuan memiliki wajah yang mirip dengan Shen Yanzhia, maka hanya ada dua kemungkinan: Niang Yuan adalah saudara kandung ibu Shen Yanzhia atau Niang Yuan adalah ibu kandung Shen Yanzhia.


Ru Xiaolan yang tadi mengobati Shen Yanzhia justru malah terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Kening tabib wanita itu berkerut hingga dua alisnya hampir menyatu.


"Ada apa, Xiaolan?" tanya Zhi Hao'er.


"Ada yang aneh dengan tubuh Nona."


"Apa?" tanya Mo Ran.


"Aku belum tahu. Aku akan memeriksanya setelah sadar."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Zhi Hao'er pada dua orang wanita di depannya.


"Kita turuti saja permintaan Bibi Niang Yuan."


Akhirnya, mereka sepakat untuk menyetujui permintaan Niang Yuan. Setelah itu, Mo Ran kembali ke atas, menemani Niang Yuan dan Shen Yanzhia. Zhi Hao'er dan Ru Xiaolan pergi ke kediaman Pangeran Yun untuk memberitahukan kondisi Shen Yanzhia kepada ayahnya. Zhi Hao'er yang akan menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Paviliun Lingxiang, di malam hari, menjadi semakin ramai. Para pengunjung itu tidak tahu bahwa di kamar atas tempat mereka bersenang-senang terdapat dua orang wanita yang sedang terluka.


...***...


__ADS_2