
Langit kota Rouwu, di penghujung musim dingin, tampak seperti sebuah selendang biru yang terbentang panjang. Awan-awan yang berarak tak lagi menurunkan hujan salju yang memutihkan seluruh isi kota raja. Sebaliknya, salju-salju yang sebelumnya bertumpuk perlahan mencair dan mulai menghilang sedikit demi sedikit. Beban petugas kebersihan yang selalu menyapu salju-salju yang menghalangi jalanan menjadi lebih ringan dibanding sebelumnya.
Di pagi hari ketika matahari baru saja hendak pergi, kediaman Ibu Suri—Istana Guanling sudah disibukkan dengan berbagai jamuan. Pangeran Agung Yan atau Xiao Yan yang akrab dipanggil Lin Yang, sang Putra Mahkota yang diangkat oleh Kaisar datang berkunjung bersama putra kecilnya, Pangeran Mu. Putra pertama sang Kaisar itu baru saja kembali dari Rongyue, sebuah kota kecil di perbatasan barat daratan Ling. Tugasnya sebagai wakil Kaisar di kota kecil itu baru saja selesai. Ia pergi di penghujung musim gugur dan kembali di penghujung musim dingin.
Ibu Suri meneguk teh longjing yang baru diseduh beberapa saat yang lalu. Di atas kursi kebesarannya, ia memandang tenang pada cucu dan cicitnya yang tengah bersimpuh memberi hormat.
“Bangunlah, lantainya dingin.”
Lin Yang lalu bangun bersama putra kecilnya. Keduanya lalu duduk di sebuah kursi di sebelah kanan Ibu Suri. Bocah berusia lima tahun di pangkuan Lin Yang lalu berceloteh tentang hadiah yang dibawa oleh ayahnya dari Rongyue dengan cedal dan terbata-bata. Sesekali bocah itu bergumam tidak jelas lalu mengatakan sesuatu yang membuat Ibu Suri gemas. Meskipun terbata-bata, bocah ini sudah pandai berbicara seperti orang dewasa.
Pangeran Mu kecil itu bernama asli Xiao Mu Rongzi. Ia tak lagi memakai marga Lin seperti ayah dan pamannya, karena marga itu hanya khusus diberikan oleh Ibu Suri sebagai nama kecil.
“Benwang bersyukur dapat kembali dan menikmati akhir musim dingin di sini,” ucap Lin Yang sambil menatap Ibu Suri.
“Seperti apa musim dingin di Rongyue?”
Ibu Suri menunjukkan minat yang besar pada kisah perjalanan cucunya. Semasa hidupnya, ia tak pernah mengalihkan mata dari buku, pelayan, pejabat, dan pakaian. Ibu Suri sama sekali tak pernah mengetahui pemandangan di luar kota, selain tembok dan dinding istana yang memisahkannya dari dunia luar semenjak ia menginjakkan kaki di pelataran megah ini. Usia mudanya juga dihabiskan untuk belajar di akademi dan sangat jarang keluar dari kediaman Han, bahkan untuk sekadar menikmati festival puncak musim semi dan musim gugur yang hanya berlangsung satu kali dalam setahun.
“Musim dingin di Rongyue datang lebih lambat dari Rouwu. Sungai-sungainya jauh lebih besar dari sungai-sungai di sini,” jawab Lin Yang.
“Apakah adikku sering datang kemari?”
“Dia datang beberapa kali.”
Lin Yang mengangguk. Sejak kepulangannya ke ibukota pada musim gugur lalu, ia hanya berjumpa dengan adiknya sebanyak tiga kali. Satu kali ketika penyerahan kembali lencana militer, kedua saat pernikahan, dan yang ketiga pada saat jamuan ulang tahun Ibu Suri. Keduanya tidak punya banyak waktu untuk mengobrol secara pribadi layaknya dua bersaudara yang akrab dan saling mendukung. Perbedaan status dan kedudukan antara dirinya dengan Lin Zian membuat hubungan mereka dibatasi sebuah dinding pemisah yang tebal dan tinggi.
“An’er jatuh sakit beberapa minggu yang lalu. Telinga para menteri menjadi tajam, beberapa diantaranya bermulut busuk,” ujar Ibu Suri sambil menyesap aroma teh longjing yang masih panas.
“Seseorang pasti menjadi waspada sejak kepulangannya ke ibukota. Meskipun lencana militernya sudah diambil alih kerajaan, mereka tetap tidak puas,” lanjutnya.
Lin Yang menatap Ibu Suri dari samping. Ekspresi yang ditunjukkan Ibu Suri mencubit hati kecilnya. Wajah itu menyiratkan sesuatu yang membuatnya seolah-olah menjadi orang yang bersalah. Mungkinkah Ibu Suri kecewa dan menyalahkan dirinya? Siapapun tidak akan menutup mata dan telinganya dari kecurigaan dan prasangka ketika dua orang kakak beradik yang berstatus sebagai calon penerus kerajaan dan perwira militer berada di satu lingkungan yang sama.
Lin Yang sangat menyayangkan ekspresi Ibu Suri. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, ia sama sekali tak khawatir dan tak menaruh kecurigaan apapun kepada Lin Zian. Ia justru merasa tidak adil jika adiknya itu terus terpojok dan terasingkan dari pantauan istana. Bagaimanapun, Lin Zian tetaplah adik kandungnya, adik yang berada dalam satu rahim yang sama.
“Aku akan berkunjung ke kediamannya. Yang Mulia, apa ada pesan yang ingin kau titipkan?” Lin Yang mencoba mencairkan suasana. Ibu Suri menoleh ke arahnya, lalu menatap dalam kepadanya.
__ADS_1
“Yang’er, berhati-hatilah. Terkadang, perkataan tak berdasar bisa mengubah hatimu.”
Lin Yang mengangguk mengerti. Setelah memberi hormat, ia membawa Pangeran Mu keluar dari Istana Guanling. Seorang kasim yang selalu mendampinginya berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Kasim itu memberi hormat sebentar, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Lin Yang. Raut wajah terkejut tergambar jelas ketika kasim itu selesai berbisik. Ia kemudian memangku putranya, lalu berjalan cepat meninggalkan Istana Guanling tanpa menoleh ke belakang lagi.
...***...
Istana kediaman Pangeran Qin dikerubungi banyak orang. Di gerbang depan, seorang kasim penyampai pesan berlutut bersama dua orang kasim lainnya dengan pasrah. Sudah hampir tengah hari ketiganya dibiarkan bersimpuh sambil menanti kedatangan Lin Zian dan menjadi tontonan orang. Baju mereka sudah penuh dengan peluh disambar matahari akhir musim dingin yang sedang bersiap menyambut awal musim semi.
“Kasim Wang, pergilah. Tuan Muda kami tidak akan menemuimu,” usir penjaga gerbang.
“Tidak. Aku harus bertemu dengan wangye, baru aku akan pergi,” jawab Kasim Wang dengan tegas.
“Dasar kasim keras kepala!” Penjaga gerbang itu mengumpat kasar.
Beberapa jam yang lalu, Kasim Wang dan dua rekannya datang untuk menyampaikan pesan bahwa Kaisar jatuh sakit dan meminta agar Pangeran Qin sang Pangeran Kedua segera datang ke istana. Namun, sebelum ketiganya menginjakkan kaki di kediaman Qin, mereka sudah dicegat Xu Chi. Pelayan itu berkata bahwa Lin Zian tidak mau menemui utusan apapun dari istana, terlebih lagi jika itu utusan pembawa pesan dari istana Kaisar.
Ketika ketiganya memaksa masuk, Lin Zian muncul dan langsung menyeret mereka keluar hingga gerbang depan. Setelah itu, Lin Zian berbalik pergi tanpa mengatakan sepatah katapun dan menutup telinganya dari teriakan Kasim Wang yang memohon padanya.
“Apa mereka masih berlutut?” tanya Lin Zian kepada Xu Chi. Sambil menggosok batang tinta, pelayan itu mengangguk.
“Tuan Muda, apa tidak sebaiknya Anda pergi? Mungkin Kaisar memang benar-benar sakit,” ujar Xu Chi ragu-ragu.
“Dia memiliki cukup banyak putra dan pelayan serta tabib yang menemani dan mengobatinya,” ucap Lin Zian dengan tenang.
Tangannya sibuk menggoreskan kuas ke atas sebuah kertas. Kedatangan Kasim Wang dan dua rekannya membuat harinya terasa seperti buah busuk. Lin Zian sungguh berharap tidak mempunyai hubungan apapun lagi dengan istana Kaisar. Hubungan ayah-anak baginya adalah formalitas semata.
Sekarang, hubungan yang jelas-jelas bisa menyenangkan orang hanyalah hubungan seorang Kaisar dengan pangeran, atasan dan bawahan. Meskipun dikatakan berulang kali bahwa ia tak membenci ayahnya, tapi rasa sakit hati dari sesuatu yang telah lampau tidak bisa membuatnya memiliki pandangan yang baik kepada sang ayah.
Jika saja Shen Yanzhia mengetahui perbuatannya kepada ketiga kasim itu, Lin Zian tidak akan aman. Wanita itu pasti akan memarahinya habis-habisan dan mengacaukan seisi kediaman lagi. Keberuntungan sedang berpihak padanya karena permaisurinya itu sedang pergi ke kediaman Pangeran Yun untuk mengantarkan obat penawar racun kepada Ru Xiaolan.
Oleh karena itu, Lin Zian harus memastikan ketiga kasim itu pergi sebelum Shen Yanzhia pulang dan menyuruh seluruh pelayan di kediaman untuk menutup mulutnya atas apa yang terjadi hari ini. Jika tidak, Shen Yanzhia pasti akan memaksa dan menyeretnya masuk ke istana Kaisar.
“Wangshu!”
Lin Zian terperangah mendengar suara anak kecil. Tunggu, anak kecil?
__ADS_1
“Mu’er?”
Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun berlari ke arahnya. Bocah itu langsung memeluk Lin Zian dengan erat seperti memeluk sebuah boneka beruang besar. Tidak lama setelah itu, seorang perempuan setengah baya masuk menyusul bocah itu.
“Maaf mengganggu waktu Anda, wangye.”
Pelayan itu adalah Mi Shaoshi. Ia datang bersama Pangeran Mu karena bocah itu terus merengek ingin berjumpa dengan pamannya. Karena Putra Mahkota sedang sibuk mewakili Kaisar yang sakit di pengadilan, Ibu Suri lalu memintanya menemani Pangeran Mu untuk datang berkunjung. Mi Shaoshi sempat terkejut ketika melihat Kasim Wang dan dua rekannya sedang berlutut di depan gerbang istana kediaman. Ia kemudian menyuruh ketiga kasim itu untuk kembali ke istana dan mengatakan bahwa urusannya akan diselesaikan oleh dirinya.
“Wangye, saya datang menyampaikan pesan-”
Sebelum pelayan itu menyelesaikan kalimatnya, Lin Zian memotongnya terlebih dulu.
“Aku tahu. Mu’er, kau sangat rindu padaku ya?” Lin Zian mencubit gemas pipi keponakannya di pangkuannya.
“Wangshu, apa kita sedang mengadakan pesta kebersihan?” tanya Pangeran Mu dengan sedikit terbata-bata.
Lin Zian mengerutkan kening. Pesta? Pesta apa?
“Aku lihat bibi membawa sapu saat berjalan kemari,” jawab Pangeran Mu.
Lin Zian dan Xu Chi saling pandang. Bibi? Sapu? Raut wajah Lin Zian berubah tegang. Bencana! Shen Yanzhia sudah pulang! Wanita itu pasti datang beriringan dengan Mi Shaoshi dan Pangeran Mu. Jika Pangeran Mu mengatakan bahwa bibinya sedang membawa sapu dan bergegas berjalan kemari, artinya wanita itu sempat melihat kasim-kasim yang berlutut di luar kediaman.
“Mu’er, bisakah kau bermain sebentar dengan Mi Shaoshi, paman harus pergi ke suatu tempat sekarang,” ujar Lin Zian sambil mengangkat Pangeran Mu dari pangkuannya.
“Wangshu takut pada bibi?”
Bocah ini, meskipun kecil tapi bermulut tajam. Lin Zian tidak mau membuang banyak waktu untuk berdebat dengan keponakannya ini. Ia segera bangkit, memangku Pangeran Mu lalu menyerahkannya kepada Mi Shaoshi. Mi Shaoshi berusaha menahan tawanya. Wajahnya bahkan sampai memerah.
“Lin Zian berandal! Siapa yang mengajarkanmu untuk berlaku kasar kepada orang-orang suruhan istana?”
Shen Yanzhia berdiri tegap di pintu masuk ruang belajar Lin Zian. Wanita itu seperti malaikat maut yang membawa tongkat tajam. Matanya menyala, menusuk tajam kepada siapapun yang memandangnya. Mi Shaoshi dan Xu Chi diam-diam mundur, memberi jalan pada Shen Yanzhia untuk sampai pada Lin Zian. Wanita itu siap menerjang kapan saja.
Lin Zian menghela napas. Akankah hidupnya berakhir hari ini?
...***...
__ADS_1
Catatan: Wangshu, sebutan untuk paman kerajaan. Wangye, sebutan untuk memanggil pangeran.