RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 58. Pertemuan Kembali


__ADS_3

Kabar kehamilan Shen Yanzhia dirahasiakan oleh Pangeran Yun. Ketika Ru Xiaolan memberitahukan keadaannya pada orang-orang di Paviliun Lingxiang, dia sudah tahu bahwa kabar tersebut tidak boleh bocor. Keberadaan Shen Yanzhia di Paviliun Lingxiang juga masih harus dirahasiakan agar orang-orang Selir Duan tidak mengincarnya lagi. Pangeran Yun berencana memberitahukan kabar Shen Yanzhia pada Ibu Suri yang saat ini masih terbaring sakit.


Niang Yuan tak pernah melepaskan pandangan dari putrinya sedetikpun. Rasa rindu selama delapan belas tahun belum terbayar lunas. Namun, gadis yang menjadi buah hatinya masih belum tersadar juga. Hatinya sakit, sesakit delapan belas tahun lalu ketika dia harus kehilangan segalanya demi menyelamatkan harta berharganya.


Mo Ran dan Zhi Hao’er masih berdiskusi di ruangan sebelah. Keduanya tengah membahas kabar pernikahan Pangeran Kedua, Lin Zian dengan Putri Duanmu yang akan tiba dua hari lagi. Mereka tahu kalau kedua belah pihak sama-sama tidak ingin menikah. Namun, keduanya juga sama-sama tidak punya daya. Perjanjian perdamaian antara kedua negara lebih penting daripada perasaan pribadi.


Perlahan tapi pasti, keadaan pasti akan berbalik. Mereka hanya perlu memikirkan cara untuk menghentikan pernikahan tersebut sekaligus membongkar segala kejahatan Perdana Menteri dan sekutu-sekutunya. Tanpa diberitahu oleh Lin Zian sekalipun, Mo Ran dan Zhi Hao’er sudah tahu kalau Perdana Menteri adalah dalang di balik semua musibah dan buktinya sengaja disembunyikan di istana. Cepat atau lambat, orang tua yang jahat itu harus digulingkan.


Namun, keadaannya sekarang sungguh tidak menguntungkan. Pernikahan damai akan berlangsung dua hari lagi saat Ibu Suri dan Kaisar masih terbaring di tempat tidur. Putra Mahkota Lin Yang benar-benar sudah teracuni pikirannya hingga berani membuat keputusan sesuka hati tanpa menunggu sesepuhnya sembuh terlebih dahulu. Racun hati yang ditaruh Perdana Menteri benar-benar telah membutakan pewaris negeri ini.


Pintu ruangan kemudian diketuk dari luar. Niang Yuan berdiri dengan wajah panik. Dia segera meminta Mo Ran dan Zhi Hao’er memanggil Ru Xiaolan. Niang Yuan bilang, Shen Yanzhia tiba-tiba tersadar namun kembali tak sadarkan diri. Wanita itu sempat memuntahkan darah dari mulutnya sebelum jatuh pingsan.


Kebetulan, Ru Xiaolan juga baru kembali setelah merebus obat. Tabib wanita itu memeriksa denyut nadi Shen Yanzhia, kemudian menempelkan jarum akupuntur ke tangan dan kepalanya. Wajahnya tenang tanpa rasa khawatir. Sesuatu yang bagus mungkin datang hingga tabib itu begitu bersemangat.


“Bagaimana keadaan putriku?” tanya Niang Yuan saat jarum-jarum akupuntur lepas dari kulit putrinya.


“Bibi, Nona baik-baik saja. Dia memuntahkan racun. Malam ini mungkin sudah bisa bangun.”


Niang Yuan menghela napas lega. Dia pikir putri kandungnya berada dalam bahaya lagi. Diam-diam dia tersenyum sendiri. Bayi kecil yang masih berada di dalam kandungan Shen Yanzhia pasti tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi para ibunya. Bayi kecil yang belum berwujud itu pasti menginginkan hidup ibunya aman agar dia bisa lahir dengan selamat dan mengembalikan semua kebahagiaan yang hilang beberapa waktu ini.


“Andai saja ayah bayi itu tahu, keadaan putriku mungkin lebih baik,” keluh Niang Yuan. Bagaimanapun, Lin Zian adalah ayah dari bayi yang dikandung Shen Yanzhia.


Seharusnya pria itu ada di sisi putrinya sepanjang waktu. Namun, dia juga tahu kalau situasi di Kekaisaran Ling sendiri sedang kalut. Konflik internal yang tidak terlihat begitu menyiksa. Dia sendiri juga pernah merasakan berada di situasi yang sama.

__ADS_1


Kondisi dilemma yang dialami oleh orang-orang terdekat Shen Yanzhia membuat Niang Yuan ingin mengetahui situasi istana yang sebenarnya. Dia meminta Zhi Hao’er mengirimkan pesan pada Pangeran Yun dan menyampaikan keinginannya masuk istana. Niang Yuan tidak peduli seberapa besar bahaya yang sedang dia hadapi ketika dia masuk ke istana yang dia tinggalkan delapan belas tahun yang lalu. Asalkan dia bisa masuk dan mengetahui situasi, maka bahaya itu tidak ada artinya lagi.


Malam harinya, Pangeran Yun datang lagi ke Pavilun Lingxiang dalam penyamaran. Permintaan Niang Yuan disetujui dengan syarat bahwa wanita itu harus pergi bersama Ru Xiaolan sebagai tabib yang akan mengobati Ibu Suri. Hanya cara inilah yang bisa mereka tempuh sebagai langkah paling aman. Kewaspadaan para pejabat sedang menurun pada Ibu Suri, mereka pasti tidak akan terlalu memperhatikan orang-orang yang datang mengunjungi wanita tua itu di malam hari.


Kereta kuda Pangeran Yun tiba di gerbang utama. Tiga orang turun dari dalam, kemudian langsung menuju Istana Guanling. Niang Yuan sempat berhenti sejenak. Di benaknya sama sekali tidak terlintas pikiran bahwa dia akan menginjakkan kakinya di istana kerajaan yang membuatnya kehilangan segalanya. Selama delapan belas tahun ini, dia sengaja melupakan semua kenangan yang tercipta di istana ini dan menolak mendengar kabar apapun. Kini, dia justru harus membuka kembali luka lama yang sudah lama menganga. Istana ini adalah tempat terindah sekaligus tempat mengerikan di dunia. Selama hidupnya, Niang Yuan berjuang mati-matian menghindari istana ini, namun terpaksa kembali karena situasi yang menempatkan putri berharganya dalam keadaan hidup dan mati.


Niang Yuan juga berhenti sejenak di depan gerbang Istana Ruo Shui. Delapan belas tahun lalu, istana tersebut adalah istana miliknya, tempatnya memadu kasih dengan Xiao Yanzhi. Istana itu pula yang menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan Putra Mahkota Xiao Yanzi dan Kaisar dalam mengumpulkan bukti kejahatan para pejabat. Bangunannya tetap megah seperti dulu. Meskipun begitu, Niang Yuan merasa kalau Istana Ruo Shui yang sekarang tidak lebih dari sebuah bangunan tua tak berpenghuni.


Dari kejauhan, Mi Shaosi, pelayan Ibu Suri sudah menunggu kedatangan mereka di gerbang masuk. Niang Yuan dan Ru Xiaolan beserta Pangeran Yun bergegas karena hari sudah semakin malam. Wajah Mi Shaosi yang dulu sering menjahili Xiao Yanzhi ternyata masih sama di mata Niang Yuan.


“Bibi, kau tetap sama seperti dulu.”


Mi Shaosi terpaku, Suara yang didengarnya adalah suara seorang wanita mulia yang menghilang delapan belas tahun yang lalu. Pelayan tua itu hendak menangis, namun Pangeran Yun segera memberitahu kalau waktu yang mereka miliki tidak banyak. Mi Shaosi kemudian membawa Niang Yuan dan Ru Xiaolan ke dalam kamar Ibu Suri. Pangeran Yun menunggu di aula depan sambil meminum teh dan berbincang perihal situasi istana bersama Mi Shaosi.


Mata Niang Yuan tak kuasa menahan air mata. Di ranjang mewah tersebut, terbaring seorang wanita tua yang dulu selalu mengajarinya banyak hal. Tidak disangka, garis usia sudah begitu jelas tergambar di wajahnya yang putih bersinar. Meskipun kerutan muncul di mana-mana dan kulitnya mengendur, Niang Yuan tidak mungkin salah mengenali. Dia adalah wanita yang telah membantunya melarikan diri.


Ibu Suri yang kebetulan sedang terjaga seketika menolehkan kepalanya. Reaksinya tidak jauh berbeda dengan Niang Yuan. Apakah wanita ini benar-benar dia? Apakah wanita berkerudung ini adalah menantunya yang delapan belas tahun lalu dia selamatkan diam-diam? Beribu pertanyaan bergelayut dalam kepala Ibu Suri.


“Yu..Yuanniang!”


Niang Yuan dan Ibu Suri berpelukan. Sudah delapan belas tahun, akhirnya mereka dipertemukan kembali. Sungguh perasaan yang mengharu biru. Pasangan mertua-menantu tersebut saling melepas rindu. Niang Yuan benar-benar tidak menyangka dirinya akan berjumpa kembali dengan mertua sekaligus sepupu terjauhnya. Takdir mengatur agar dia bisa kembali di saat wanita yang menyayanginya berada di usia renta.


“Yang Mulia, kau baik-baik saja?”

__ADS_1


“Uhuk… Yuanniang, ini sungguh kau!”


Niang Yuan dan Ibu Suri melepaskan pelukan mereka. Air mata masih menggantung di sudut mata. Sayang, waktu yang dia punya tidak banyak. Dia datang untuk melihat situasi dan memikirkan cara untuk membantu putrinya kembali. Andai saja, andai saja keadaan bisa sedamai dulu, Niang Yuan tidak akan membiarkan Ibu Suri jatuh sakit seperti ini.


“Bagaimana caramu kembali?”


“Yang Mulia, aku sudah bertemu dengan putriku.”


“Kau sudah bertemu Zhi’er?”


Niang Yuan mengangguk.


“Selir Duan mengirimnya padaku. Yang Mulia, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa putriku bisa pergi ke tempatku? Juga, mengapa suaminya harus menikah lagi?”


Dengan sedikit terbata-bata dan volume suara yang lemah, Ibu Suri mulai menceritakan segala sesuatunya satu persatu. Dia juga menceritakan kalau Selir Duan menukar hidup Shen Yanzhia dengan sejumlah informasi tentang rahasia melemahnya Putra Mahkota Xiao Yanzhi dan Kaisar hingga mereka tewas pada perang delapan belas tahun yang lalu. Selain itu, Ibu Suri juga memberitahu penyebab Putra Mahkota Lin Yang membuat keputusan sepihak yang merugikan adik kandungnya.


Amarah Niang Yuan kembali membuncah. Dia sangat ingin membunuh Perdana Menteri dengan tangannya sendiri. Rubah tua yang menyembunyikan dirinya dalam balutan busana menteri terhormat tersebut sudah melampaui batas. Bukan hanya suami dan mertuanya, Perdana Menteri bahkan mengacaukan hidup putri dan menantunya, bahkan hendak menjadikan pewaris takhta sebagai bonekanya.


Di sisi lain, Ibu Suri merasa lega karena cucu dan menantunya baik-baik saja. Perpisahan selama delapan belas tahun sekarang sudah terbayar. Rasa bersalah dan kesedihannya perlahan berkurang. Dia senang karena akhirnya Shen Yanzhia dapat berjumpa dengan ibu kandungnya sendiri. Gadis pintar itu seharusnya bahagia jika dia ikut bersama Niang Yuan ke sini. Sudah lama sekali dia tidak melihat senyum ceria cucu kesayangannya.


Pangeran Yun kemudian menginterupsi, memberitahu kalau jam kunjungan malam sudah habis. Mereka harus kembali ke Paviliun Lingxian secepat mungkin jika tidak ingin tertangkap penjaga istana. Walau tidak rela, Niang Yuan harus kembali. Dia harus meninggalkan Ibu Suri dan kembali ke persembunyian, menunggu waktu yang tepat untuk memunculkan diri.


Selepas Niang Yuan dan Pangeran Yun pergi, Ibu Suri kembali merebahkan diri. Hatinya bahagia. Setidaknya, di ujung usia senjanya, dia masih bisa bertemu dengan menantunya yang hilang dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Perihal apa yang akan terjadi di hari depan, dia akan menyerahkannya pada takdir.

__ADS_1


...***...


__ADS_2