
Jika diperhatikan, Kuil Dongshan tempat Shen Yanzhia tinggal sekarang ternyata memiliki keistimewaan dari kuil-kuil lain. Bukan hanya dari bentuk dan arsitekturnya, tapi juga halaman dan ruangan dalam setiap wisma di kuil ini. Bangunan ini persis seperti istana Kekaisaran Ling. Halaman dan taman bunga di kuil ini juga mirip dengan taman istana.
Shen Yanzhia menghabiskan waktunya dengan merawat bunga dan taman kuil bersama Niang Yuan. Dua orang wanita berbeda generasi itu sangat kompak dan serasi, seperti sepasang ibu dan anak. Niang Yuan mulai menyayangi Shen Yanzhia seperti anaknya sendiri. Keduanya kerap bercengkrama dan bercanda. Mereka juga sering berbagi kisah kehidupan bersama.
"Bibi, kau berasal dari keluarga bangsawan. Apa keluargamu benar-benar tidak ada yang tersisa?"
"Ah, aku bahkan sudah lupa wajah mereka. Mei'er, delapan belas tahun sudah berlalu. Daya ingatku semakin menurun karena aku sudah mulai menua," ungkap Niang Yuan. Dua wanita itu kemudian tertawa.
"Ingatanku juga buruk dalam mengenali orang. Bibi, kalau aku boleh tahu, apakah saat bibi masih di Rouwu, kau memiliki orang yang kau sukai?"
Niang Yuan berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Shen Yanzhia.
"Ada."
"Benarkah? Pria seperti apa yang bibi sukai?"
"Dia sangat tampan, arif, bijaksana, dan berwibawa. Jika tersenyum, semua wanita yang melihatnya langsung jatuh pingsan. Jika dia bersedih, Rouwu menjadi suram. Dia adalah pria idaman semua orang."
"Benarkah? Bibi, apa kau tidak cemburu?"
"Berbicara soal perasaan, aku tidak berani untuk mengatakannya. Rasa cemburu itu memang ada, tapi kita juga harus berpikir dewasa. Tidak ada gunanya menyimpan cemburu tanpa akhir. Lagi pula, aku tidak mempunyai hak untuk cemburu."
Shen Yanzhia menunjukkan minat dan ketertarikan yang besar pada kisah percintaan Niang Yuan. Wanita itu membetulkan posisi duduknya, mencari posisi ternyaman untuk mendengarkan seluruh cerita Niang Yuan.
"Apa lagi yang membuat bibi jatuh cinta padanya?"
"Dia membuatku bisa merelakan segalanya. Saat seseorang bersalah padanya, dia tidak marah. Dia justru merangkulnya. Dia juga sangat patuh pada orang tuanya."
"Bibi, sepertinya orang yang kau bicarakan bukan manusia."
Niang Yuan dan Shen Yanzhia kembali tertawa. Bagi Niang Yuan, ini pertama kalinya ia bisa tertawa lepas setelah delapan belas tahun. Selama ini, senyumannya terkurung dalam wajah cantik yang ia poles dengan ekspresi datar. Tidak ada yang pernah membuatnya tertawa seperti ini. Tragedi peperangan saat itu sungguh membuatnya sakit hati. Dia kehilangan seluruh keluarganya dan orang yang dia cintai.
Delapan belas tahun ini, Niang Yuan menghabiskan seluruh waktu dan hidupnya di dalam kuil ini. Dia hidup seperti orang mati di tempat terpencil. Niang Yuan seorang wanita bangsawan cerdas, tapi hidupnya hancur akibat tragedi itu. Dia meninggalkan semua kemewahan dan kemegahan agar tetap bertahan hidup meski terasing.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu?"
"Aku, aku sangat malu menceritakan kisahku."
"Aku saja tidak malu. Mei'er, kau tidak akan membuat bibi barumu ini penasaran kan?"
Shen Yanzhia ragu. Wajahnya mulai memerah.
"Pria yang kucintai adalah suamiku. Kami dinikahkan atas dekret Kaisar. Pada awalnya, aku menolak pernikahan itu karena aku tidak mau terkekang. Tapi, dekret Kaisar tidak bisa ditolak. Bibi, kau juga tahu bahwa seorang putri tidak bisa menentang keputusan Kaisar."
"Lalu apa yang membuatmu mencintai suamimu?"
"Aku juga tidak tahu. Setiap kali bertengkar, kami akan terus beradu mulut sampai salah seorang diantara kami kalah. Saat aku dalam kesulitan, dia membantuku. Saat aku dalam bahaya, dia menyelamatkanku. Aku merasa sesak saat dia tidak ada dalam jangkauan pandanganku."
"Wah, kisahmu romantis sekali."
"Bibi, kisahmu juga romantis! Asal bibi tahu, aku menghias seluruh taman kediamannya dengan bunga karena marah padanya."
Mata Niang Yuan tiba-tiba menatap lekat gantungan giok phoenix putih yang tergantung di baju sederhana Shen Yanzhia. Giok itu sangat indah dan tampak istimewa. Niang Yuan merasa ia sangat mengenal giok itu.
"Dari mana kau dapat gantungan giok phoenix itu?"
"Ini? Aku mengambilnya dari ayahku. Sepertinya, ini adalah barang peninggalan ibu kandungku. Jadi, aku membawanya ke manapun aku pergi."
Dahi Shen Yanzhia berkerut saat Niang Yuan tiba-tiba mencabut gantungan giok itu dari bajunya. Shen Yanzhia hendak berkata, tapi ekspresi serius Niang Yuan membuatnya mengurungkan niatnya.
Niang Yuan menggenggam erat giok phoenix itu seolah itu adalah harta yang paling berharga. Giok istimewa ini hanya ada dua dan hanya dimiliki oleh Ibu Suri kerajaan dan menantunya. Niang Yuan ingin berteriak tapi tidak ada kekuatan yang membantunya.
"Kau dari kediaman Pangeran Yun?"
Shen Yanzhia mengangguk.
Ekspresi Niang Yuan sungguh tidak bisa ditebak. Wajah lusuh itu tampak seperti berseri, namun murung di saat yang bersamaan. Dadanya terasa sesak. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Bibi, kau mengenal pemilik giok ini?"
Niang Yuan mengangguk, sesaat kemudian menggelengkan kepala. Tapi, jawaban pertama adalah yang paling benar menurut Shen Yanzhia. Niang Yuan sudah pasti mengenal pemilik gantungan giok itu, hanya saja dia berusaha menutupinya.
Seorang biksu perempuan datang menghampiri Shen Yanzhia dan Nian Yuan. Suasana tiba-tiba berubah haluan. Semua rasa yang bercampur dalam dada Niang Yuan menguap. Biksu perempuan itu telah menyelamatkan dirinya dari situasi yang meledakkan emosi.
Biksu perempuan itu menunduk memberi hormat. Di tangannya ada sebuah surat beramplop cokelat tua. Biksu perempuan menyodorkan surat di tangannya ke hadapan Shen Yanzhia dan Niang Yuan.
"Ada surat datang dari ibukota untukmu, Nona Shen."
"Untukku?"
Biksu perempuan itu mengangguk.
"Terima kasih."
Biksu perempuan itu pamit undur diri. Dengan gerakan cepat, Shen Yanzhia membuka segel surat dan merobek ujung amplop. Wangi khas tinta kerajaan menguar saat kertas surat keluar dari dalam amplop.
Niang Yuan memperhatikan setiap pergerakan Shen Yanzhia. Tatapannya juga tak lepas dari amplop pembungkus surat itu. Amplop itu terbuat dari kertas khusus yang hanya mampu dibeli keluarga ternama. Motif dalam amplop itu juga menunjukkan identitas si pengirim, ditambah segel yang terdapat di ujungnya. Dalam sekali lihat, Niang Yuan sudah tahu asal pengirim surat.
Ekspresi Shen Yanzhia yang semula berseri berubah muram, menyisakan tanda tanya besar di benak Niang Yuan.
"Mei'er, ada apa?"
Shen Yanzhia menjatuhkan suratnya di atas meja.
"Suamiku akan menikah lagi."
Niang Yuan, karena penasaran, akhirnya mengambil surat itu dan membacanya. Pantas saja wanita di hadapannya menjadi murung. Kabar yang dibawa surat ini sungguh kabar yang menjengkelkan.
"Bibi, apa kau mau kembali ke Rouwu bersamaku?"
Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Shen Yanzhia yang jernir. Binar mata yang semula bercahaya meredup kehilangan sinarnya dalam waktu yang singkat. Takdir. Sungguh, Niang Yuan dan Shen Yanzhia sedang dipermainkan takdir.
__ADS_1