RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 61: Menggali Masa Lalu


__ADS_3

"Xiao Jing Mei adalah putriku."


Petir seperti menyambar-nyambar hati semua orang, kecuali Lin Zian. Dia tidak terkejut karena dia sudah tahu. Shen Yanzhia pernah memberitahunya kalau dia bukan putri kandung Pangeran Yun. Hanya saja, Lin Zian tidak menyangka kalau ibu kandungnya adalah wanita yang kemarin dia temui di pinggir jalan dan bersikeras memintanya melepaskan wanita itu.


Perdana Menteri memicingkan mata. Ini di luar kendalinya. Selama belasan tahun ini, dia selalu bertindak hati-hati dan tersembunyi. Semua perbuatannya selalu rapi dan tidak meninggalkan jejak. Jika ada yang tertinggal dia akan langsung menyingkirkannya. Mengapa wanita ini malah masih hidup dan mengatakan bahwa Shen Yanzhia adalah putri kandungnya?


"Delapan belas tahun yang lalu, ketika berita kematian Ayahanda Kaisar dan Putra Mahkota Xiao Yanzhi sampai ke istana, kau menyuruh orang untuk membunuhku. Ibu Suri mengirimku keluar istana pada malam hari untuk menyelamatkanku. Ya, aku memang hampir mati malam itu. Paman Keempat yang baru pulang dari perjalanan bertemu denganku dan menyelamatkanku. Perdana Menteri, bukankah kau menganggap aku sudah mati dan hanya menemukan sisa pakaianku yang berlumur darah?"


Perdana Menteri tertegun. Malam itu, bawahannya memang hanya menemukan sisa pakaian Han Yuanniang dan tidak menemukan jasadnya. Dia menggantinya dengan mayat perempuan lain yang wajahnya sudah dirusak hingga memalsukan kematiannya. Namun, semua itu ternyata hanyalah sebuah jebakan yang sengaja dibuat oleh Yuan Niang untuk meloloskan diri.


"Mereka yang menjadi bawahanku tahu bahwa saat itu aku sedang hamil. Berkat Pangeran Yun, putriku bisa selamat dan hidup dengan baik. Apakah kalian tidak pernah berpikir mengapa Ibu Suri begitu menyayanginya dibandingkan dengan cucu-cucunya yang lain?"


Niang Yuan membeberkan kejadian delapan belas tahun lalu kepada semua orang. Di dalam aula, dia menceritakan semua yang terjadi pada malam itu. Termasuk perihal pelarian dirinya, surat rahasia Ibu Suri untuk Pangeran Yun, kemudian beberapa sebab mengapa dia diburu setelah Xiao Yanzhi dan ayah kaisarnya meninggal di medan perang.


Pada saat ini, rahasia kematian sang kaisar beserta putra mahkotanya juga diungkapkan secara gamblang. Niang Yuan menunjukkan surat darah yang didapat dari hasil penyelidikan Tang Yin, Lin Zian dan Shen Yanzhia selama beberapa bulan lalu yang isinya berhasil diterjemahkan sebagai petunjuk penyebab kematian sebenarnya dari kaisar dan putra mahkotanya. Selain itu, Niang Yuan juga membeberkan pengakuan Selir Agung kaisar sekarang terkait melemahnya kondisi mendiang putra mahkota saat itu.


Semua kejadian itu dijelaskan secara runtut tanpa ada satu detail pun yang terlewat. Selama delapan belas tahun ini, Niang Yuan hidup dalam pengasingan dan tidak ingin kembali ke ibukota. Namun, dia malah bertemu dengan putrinya sendiri dan menyaksikan betapa menderitanya dia selama ini. Bahkan setelah mendengar kabar tidak mengenakkan, Niang Yuan masih ingin membalas dendam pada orang yang telah mengacaukan hidup seluruh keluarganya.


Malam kemarin, Niang Yuan diam-diam menemui Selir Duan dan meminta penjelasan terkait apa yang dikatakan Shen Yanzhia ketika berada di Kuil Dongshan dan menanyakan mengapa Selir Duan melakukan itu semua. Berkat Selir Duan yang mau bekerja sama, Niang Yuan mempunyai keberanian untuk mengungkapkan kebenaran yang selama ini tersimpan rapat-rapat. Niang Yuan juga tidak tahan mendengar putrinya setiap malam menggumamkan nama Lin Zian tanpa henti.


"Delapan belas tahun lalu, Pangeran Yun membawa putriku kembali ke kekaisaran dan mengakuinya sebagai putrinya atas perintah rahasia Ibu Suri. Ini adalah surat darah dari mendiang suamiku. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa datang ke Istana Ruo Shui untuk memastikannya," ujar Niang Yuan.


"Perdana Menteri... Kau, kau membunuh kaisar, putra mahkota, aku, dan juga putriku. Sekarang kau juga mau membunuh Lin Zian dengan memaksanya menikah dengan orang lain?" tanya Niang Yuan dengan suara tercekat.


"Aku tidak melakukannya! Yuanniang, kau berdusta!"

__ADS_1


Perdana Menteri melawan. Dia adalah penjahat kelas kakap yang paling hebat dan paling tersembunyi. Usaha kerasnya di pengadilan kekaisaran tidak bisa runtuh hanya karena penuturan Han Yuanniang yang menurutnya konyol. Niang Yuan mencibir. Perdana Menteri hina ini benar-benar bemuka tebal.


"Kau mengkorupsi dana militer, lalu melakukan tindak kejahatan lain secara diam-diam. Bukankah ini alasanmu membunuh mendiang Kaisar dan Putra Mahkota?" Niang Yuan kembali bertanya.


Semua orang menahan napas. Kebenaran yang mereka kenal selama delapan belas tahun tidak seperti ini. Tidak ingin percaya, namun bukti di tangan Niang Yuan begitu jelas.


"Tidak! Han Yuanniang, apa kau tahu hukuman karena memfitnah pejabat istana?"


Lin Zian yang sedari tadi menonton menjadi muak. Kemarahannya selama ini membuncah seketika kala ia mengetahui cerita lengkap dari kebenaran yang selama ini dia selidiki bersama Shen Yanzhia dan Tang Yin. Gara-gara Perdana Menteri, kakaknya menjadi orang yang begitu asing.


"Perdana Menteri! Apa kau masih mau mengelak?" bentak Lin Zian. Semua orang di dalam aula terkejut. Ini pertama kalinya mereka melihat Pangeran Kedua marah dan membentak orang di hadapan semuanya.


"Tidak! Putra Mahkota, Han Yuanniang dan Pangeran Kedua ingin melawanmu! Mereka memfitnahku agar kau kehilangan dukungan!"


Lin Yang memejamkan matanya. Entah mana yang benar atau salah, yang jelas dia merasa sudah dipermainkan. Drama di hadapannya adalah tontonan yang tidak selayaknya dipublikasikan di hadapan banyak orang. Orang tahu hari ini adalah hari pernikahan antara dua kerajaan, bukan hari penggalian kisah masa lalu yang tragis yang membuat semua orang kebingungan.


"Diam kau, Han Yuanniang! Kau berbohong! Kau hanya ingin membalas dendam karena kekaisaran tidak menemukanmu lebih cepat, bukan?" Perdana Menterti masih mengelak.


Dari arah pintu depan, Selir Duan tiba-tiba masuk. Selir Agung tersebut sudah muak dengan perilaku ayahnya yang semakin hari semakin di luar batas. Tidak apa-apa jika pria tua itu mengorbankan putrinya sendiri, membunuh kaisar dan putra mahkotanya, tetapi tidak dengan menuduh Niang Yuan dan menghancurkan kehidupan orang lain lagi.


"Ayah! Sampai kapan kau mau terus menerus berbuat jahat?" tanya Selir Duan.


"Apa maksudmu?" Perdana Menteri balik bertanya.


"Kejahatanmu di masa lalu terlalu banyak! Alasanmu membunuh Selir Rui juga karena dia mengetahui kalau kau yang telah meracuni mendiang Kaisar dan Putra Mahkota, bukan?"

__ADS_1


Emosi Lin Zian kembali memuncak. Sang pangeran begitu marah karena ternyata orang yang telah membunuh ibu asuhnya adalah Perdana Menteri. Dia ingin menyerang pria tua itu, memukulinya dan menendangnya, namun Tang Tin menahannya agar tidak bersikap gegabah. Lin Zian diminta bersabar sampai semua ceritanya selesai sampai akhir agar dia bisa memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan.


"Ayah, kau juga membunuh mendiang Ratu karena dia terlebih dahulu mengetahui kebenaran. Lalu kau membunuh Selir Rui. Aku tebak, kau menunda membunuhku karena aku adalah putrimu, bukan? Ayah, berapa banyak orang lagi yang ingin kau lenyapkan untuk menutupi kejahatanmu?"


Selir Duan berkata begitu lantang. Dia sudah tidak tahan akan perilaku ayahnya ini. Dulu, dia dan Niang Yuan sama-sama masuk istana akibat pemilihan istri pangeran. Selir Duan kalah dari Niang Yuan dan menikah dengan kaisar saat ini. Selir Rui dan mendiang Ratu Shi adalah saudaranya. Walau Selir Duan tidak memiliki hati yang baik dan lurus, namun dia tetap bisa membedakan antara budi dan dendam.


Lin Yang memerah wajahnya. Selama ini dia sudah dipermainkan dan diperalat oleh Perdana Menteri. Lin Yang terlalu takut akan kekuatan Lin Zian yang kian membesar. Lin Yang terlalu takut karena Ibu Suri lebih menyayangi adiknya daripada dirinya. Padahal seharusnya dia tidak begitu karena sejak kecil, Lin Zian telah banyak menderita. Jika dibandingkan, kesulitan yang dihadapi adiknya jauh lebih besar daripada ketakutannya.


Lin Yang menatap Perdana Menteri dengan kecewa. Orang yang dia percayai ternyata seorang penjahat hina yang bahkan kesalahannya tidak bisa ditebus selama tujuh generasi. Dosa membunuh kaisar, putra mahkota, ratu, selir kehormatan, juga keluarga kerajaan lain tidak bisa diampuni dengan cara apapun.


"Sialan kau Han Yuanniang! Kau juga! Sebagai putriku, kau seharusnya membela ayahmu!" bentak Perdana Menteri. Pria tua itu tiba-tiba tertawa dengan keras hingga suaranya membahana ke seluruh penjuru aula.


"Sayang sekali sudah terlambat! Putera Mahkota, jika kau tidak menangkap Pangeran Kedua dan Han Yuanniang sekarang, aku tidak bisa menjamin kau akan tetap duduk di sana dengan nyaman!"


Lin Yang dan semua orang terperangah.


"Apa yang mau kau lakukan?"


Perdana Menteri kemudian berteriak. Dari depan istana, ribuan prajurit menyerang gerbang dan berusaha menerobos masuk. Pasukan penjaga istana yang tidak siap seketika kewalahan. Suara pertempuran terdengar sampai ke aula. Para pejabat yang hadir menyingkir, berusaha menyelamatkan nyawa mereka sendiri. Lin Yang berdiri dengan marah.


"Perdana Menteri! Kau memberontak!" teriak Lin Yang penuh emosi. Perdana Menteri tetap tertawa merasa dirinya telah menang.


"Pangeran Kedua!" seru Lin Yang.


Lin Zian sigap.

__ADS_1


"Tangkap pengkhianat ini!"


Setelah mendengar perintah, Lin Zian mengambil pedang penjaga lalu melompat menebas semua prajurit kurang ajar yang berani masuk ke dalam aula. Perdana Menteri juga mencabut pedangnya, lalu saling menyerang dengan Lin Zian. Niang Yuan menarik Selir Duan ke belakang tubuhnya, lalu membantunya melindunginya dengan menaburkan racun kepada para pemberontak. Sementara itu, Lin Yang berusaha mengatur napasnya, lalu turun sendiri membantu adiknya.


__ADS_2