
Ada banyak hal yang membuat Shen Yanzhia tidak suka dengan keputusannya sendiri. Perkataan Selir Duan bagaikan sebilah pedang yang memiliki dua sisi. Sisi pertama tentu membenarkan semua spekulasi dan menambah arti dari kerja kerasnya bersama Lin Zian selama hampir tiga musim lamanya. Sisi kedua membuat Shen Yanzhia harus merasakan sakit dan keberatan lebih dari apapun, karena ia harus melepaskan semua yang ia miliki dan pergi sejauh mungkin.
Sumber rasa sakit terbesarnya adalah Lin Zian dan Ibu Suri. Dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya terpaksa harus ia tinggalkan. Shen Yanzhia tidak bisa mengingkari kata-katanya sendiri. Jika ia tidak pergi, Selir Duan pasti tidak akan diam. Wanita itu pasti akan kembali membahayakan Lin Zian dan mahkota kakak iparnya.
Shen Yanzhia berkali-kali menjelaskan dengan air mata dan meminta Lin Zian untuk merelakan dirinya pergi. Sesuatu seperti ini tidak bisa disesali lagi. Seseorang harus berkorban untuk orang lain. Jika satu dapat mempertahankan yang lain, maka jalan itu akan terbuka.
Hari ini adalah hari terakhirnya berada di kediaman Qin. Sejak pagi, Shen Yanzhia sudah sibuk membereskan seluruh pakaian dan barang-barang yang ia perlukan. Lin Zian yang tidak rela dirinya pergi memilih untuk mengurung diri di Paviliun Timur.
"Nona, apa kau akan pergi lama? Mengapa barang bawaanmu sangat banyak sekali?" tanya Tan'er sambil membantu Shen Yanzhia.
Shen Yanzhia sengaja tidak memberitahu pelayannya ke mana dan seberapa lama ia akan pergi. Shen Yanzhia hanya mengatakan bahwa ia ingin mengunjungi seluruh kuil di daratan Ling seorang diri. Dia tidak ingin melibatkan siapapun lagi. Shen Yanzhia tidak ingin orang-orang terdekatnya berada dalam bahaya jika mengetahui dirinya pergi usai membuat kesepakatan dengan Selir Duan.
"Tan'er, kau gadis yang baik. Kalau sudah sampai waktumu untuk menikah, menikah saja."
"Nona, apa yang kau katakan?"
"Tan'er, tolong berikan surat ini kepada Lin Zian. Aku yakin dia tidak ingin menemuiku."
"Baik. Nona, aku mau ikut denganmu!"
"Tidak, Tan'er. Tetaplah di sini. Aku ingin kau tetap mengawasi kediaman ini selama aku pergi."
Usai membereskan semua keperluannya, Shen Yanzhia menikmati sisa harinya dengan berjalan-jalan di sekitar taman istana kediaman Qin. Kelak, dia pasti akan merindukan tempat ini.
Shen Yanzhia pasti akan merindukan harumnya bunga-bunga yang mekar indah di taman ini. Shen Yanzhia pasti akan merindukan betapa menyenangkannya menangkapi ikan-ikan koi di kolam tertatai. Shen Yanzhia pasti akan merindukan ketenangan saat ia menghabiskan waktu di perpustakaan dan gazebo kediaman Qin.
Shen Yanzhia akan rindu pada Tan'er. Shen Yanzhia akan merindukan Pangeran Yun, Mo Ran, Zhi Hao'er, dan Ru Xiaolan. Shen Yanzhia pasti akan merindukan Putri Duanmu yang sudah seperti saudara perempuannya sendiri. Terlebih lagi, Shen Yanzhia akan merindukan Lin Zian.
__ADS_1
Puas memandangi sekelilingnya, Shen Yanzhia memutuskan kembali ke Paviliun Barat. Di tempat terakhirnya ini, Shen Yanzhia ingin menikmati waktu seorang diri hingga seluruh kegundahannya dapat berkurang. Tanpa mau bertemu siapapun, tanpa mau diganggu apapun.
Sementara itu, Lin Zian yang tidak menerima keputusan sepihak Shen Yanzhia tetap mengurung dirinya di Paviliun Timur hingga malam datang. Semua makanan dan minuman yang diantarkan Xu Chi sama sekali tidak disentuhnya.
Lin Zian tidak rela jika ia harus kehilangan Shen Yanzhia. Perlu waktu bertahun-tahun agar ia memiliki seseorang yang ia cintai. Jika ia tidak bisa menggenggamnya dengan erat, ia bisa menajadi gila kembali. Lin Zian tidak ingin melepaskan wanita itu sampai kapanpun.
Jika bisa menawar, akan lebih baik jika ia saja yang pergi. Dengan kepergiannya, mahkota Lin Yang akan tetap aman dan Shen Yanzhia dapat terus tinggal di Rouwu. Lin Zian lebih memilih hidup mengasingkan diri daripada harus melepaskan Shen Yanzhia pergi.
Tapi, yang diinginkan Selir Duan adalah kepergian Shen Yanzhia, bukan kepergian dirinya. Kesepakatan yang sangat merugikan itu tidak bisa diubah lagi sekarang. Istrinya yang keras kepala itu tidak bisa menentang ataupun melawan. Dia hanya bisa pasrah dan menerima semua konsekuensinya.
Lin Zian menyentuh sepucuk surat yang dikirimkan Tan'er sore tadi. Surat itu berbau wangi. Dengan ragu, Lin Zian mulai membaca huruf demi huruf yang tertulis rapi di dalam kertasnya.
"Maaf. Aku tidak bisa melakukan apapun. Zian, meskipun aku pergi, kau tidak boleh kembali ke medan perang apapun alasannya. Tolong, jangan beritahu Ibu Suri dan keluargaku serta siapapun mengenai kepergianku. Jangan beritahu Putri Duanmu dan teman-temanku. Jika takdir kita terhubung, akan ada waktu ketika kita berjumpa kembali."
Baris-baris kalimat dalam surat itu mencabik-cabik hati Lin Zian. Mengapa wanita bisa seegois itu? Bukankah perasaan mereka baru saja mekar? Bukankah malam pernikahan baru saja berlalu beberapa hari lalu? Bukankah bekas bibir wanita itu di bibirnya masih terasa hangat? Lalu mengapa wanita itu harus pergi?
Pria itu berlari keluar dari Paviliun Timur menuju Paviliun Barat. Jantungnya berdegup kencang ketika tidak mendapati sosok yang ia cintai berada di sana. Seluruh pakaiannya sudah tidak ada. Perhiasan dan uang yang biasa disimpan di laci meja belajar juga tidak ada. Lin Zian semakin panik.
"Wangye?"
Tan'er muncul dari balik pintu masuk.
"Di mana wangfei?"
"Wangfei sudah pergi sejak tadi. Wangye, sebenarnya ada apa ini?"
Lin Zian tidak menjawab pertanyaan Tan'er. Dia langsung berlari ke arah pintu gerbang. Sayang, kereta pengantar Shen Yanzhia sudah tidak ada.
__ADS_1
Di belakang Lin Zian, Tan'er sudah berdiri sambil memegang sebuah kertas.
"Sejak kapan dia pergi?"
"Saat matahari baru terbenam."
"Mengapa kau tidak memberitahuku?"
"Nubi sudah berteriak berkali-kali, tapi wangye tidak mau keluar."
Lin Zian berteriak frustasi.
"Wangye, ini kertas apa? Nona memberikannya padaku sebelum pergi. Tapi, aku tidak bisa membacanya," tanya Tan'er sambil memperlihatkan kertas di tangannya. Lin Zian merebut kertas itu.
"Akta pembebasan dirimu. Kau orang merdeka sekarang."
"Mengapa Nona melakukan ini? Apakah dia sudah tidak menginginkanku lagi?"
Air mata Tan'er tidak bisa terbendung. Gadis pelayan itu menangis sekencang-kencangnya, meratapi nasibnya yang dimerdekakan oleh Shen Yanzhia yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Tan'er tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupannya dan kehidupan Shen Yanzhia kelak. Majikannya itu pasti akan kesulitan dan hidup dalam kesepian.
Beberapa pelayan membawa Tan'er kembali masuk ke dalam kediaman atas perinah Lin Zian. Sementara itu, dirinya sendiri malah asyik termenung menatap bulan di depan pintu gerbang. Hatinya yang hancur semakin hancur.
"Kau menyelamatkan semua orang. Tapi, aku malah tidak bisa melindungimu. Zhi'er, apa aku pantas menjadi suamimu?"
Bulan malam itu menemani Lin Zian yang larut dalam kepedihan. Cahayanya suram seolah tahu bahwa makhluk yang ada di bawahnya sedang bersedih.
...***...
__ADS_1