RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 43: Jatuh Cinta di Tempat yang Salah


__ADS_3

Shen Yanzhia menemani Putri Duanmu di perpustakaan pribadi Pangeran Qin. Puluhan buku bertumpuk di meja belajar dengan kondisi tertutup. Sebagian diantara buku yang bertumpuk itu adalah buku mengenai sastra dan pengobatan.


Keduanya sudah berada di tempat buku itu sejak pagi hari. Putri Duanmu sengaja memintanya untuk menemaninya karena ia tidak punya pekerjaan lain. Di dalam kediaman ini, Putri Duanmu hanya memiliki Shen Yanzhia dan pelayan pribadinya sebagai teman. Selain dua orang itu, Putri Duanmu tidak mempercayai siapapun lagi.


Shen Yanzhia mengawasi Putri Duanmu dari meja sebelah. Putri Xiaxi itu tampak sangat serius membaca sebuah buku yang membahas sastra puisi dalam sejarah kekaisaran Ling. Sesekali dahi wanita itu berkerut ketika melihat Putri Duanmu tersenyum sendiri seperti orang gila.


Ia mulai merasa bosan. Shen Yanzhia berdiri dari duduknya, merapikan pakaian lalu berjalan menyusuri rak-rak buku yang berjajar membentuk sebuah barisan. Semua buku-buku ini sudah hampir selesai ia baca saat Lin Zian sedang berada di perbatasan beberapa minggu lalu.


Atensi keduanya teralihkan ketika seseorang mengetuk pintu. Xu Chi datang memberitahu bahwa Tang Yin datang dan meminta bertemu dengan Shen Yanzhia. Detektif itu datang untuk mengambil kembali surat darah yang dipinjam Shen Yanzhia.


Di pelataran gazebo taman antara aula utama dengan Paviliun Timur dan Barat, pemuda itu sedang duduk sambil membaca catatan kasus. Pakaian hitam khas Biro Penyelidikan yang dikenakannya membuat pria itu tampak seperti arca batu hitam yang tegap.


Tang Yin mengalihkan pandangannya dari catatan kasus ketika Shen Yanzhia datang diiringi Putri Duanmu di belakangnya. Permaisuri Qin itu kemudian duduk di hadapan Tang Yin. Tangannya terulur menyerahkan surat darah milik mendiang Putra Mahkota kepada detektif muda itu.


"Wangfei, Anda yakin sudah benar-benar memahami isinya?" tanya detektif muda itu.


"Tentu. Aku tidak bodoh."


Detektif itu menyerahkan sebuah buku catatan yang diminta Shen Yanzhia secara sembunyi-sembunyi. Buku berisi catatan kelahiran seorang wanita bangsawan itu berasal dari Biro Penyelidikan. Tang Yin mendapatkannya dari arsip catatan keluarga kerajaan yang hanya bisa dibuka kunci lemarinya oleh orang-orang yang berstatus tinggi.


Tang Yin meminjam tangan Kepala Biro Penyelidikan untuk mendapatkan arsip itu dengan dalih penyelidikan yang sedang didalaminya. Detektif itu mengatakan bahwa Shen Yanzhia harus mengembalikannya dua hari setelah hari ini.


Mata tajam Tang Yin menangkap sebuah tatapan aneh yang sedari tadi terus memperhatikannya. Tatapan dari seorang gadis di belakang Shen Yanzhia itu membuat jantung Tang Yin berdegup lebih kencang dari biasanya. Sebuah perasaan aneh menjalar begitu matanya bertemu dengan mata cantik yang cerah itu.


"Detektif Tang? Kau mendengarku?"


"Ya?"


Shen Yanzhia melirik dua orang yang berada di depan dan di belakangnya dengan heran. Wanita itu menyadari Tang Yin kehilangan fokus ketika bertemu pandang dengan Putri Duanmu. Sejak mereka berpapasan di jalan kota Rouwu beberapa hari yang lalu, Shen Yanzhia melihat sebuah ketertarikan yang mengikat Putri Duanmu dan Tang Yin.


"Putri Duanmu?"


"Ya?"

__ADS_1


Tebakan Shen Yanzhia benar. Dua orang itu sedang diserang badai dalam hati mereka. Seekor burung dalam sangkar emas sedang beradu rasa dengan seekor elang di alam liar. Dua buah kisah berbeda yang sangat sulit untuk disatukan.


Perasaan Tang Yin mungkin berkembang karena pemuda itu tidak pernah tersentuh wanita, sama seperti Lin Zian. Masa hidupnya di dunia ini dihabiskan dengan menyelidiki kasus dan bepergian dari satu tempat kejadian perkara ke tempat kejadian perkara lainnya. Pemuda itu tidak mempunyai waktu untuk memikirkan wanita.


Putri Duanmu, sebagai seorang putri yang terkurung di istana selama belasan tahun tentu tidak mengerti arti dari bertemu pandang dengan seorang pria asing yang tiba-tiba datang entah dari mana. Putri Duanmu adalah seorang wanita dewasa. Hatinya juga dipenuhi berbagai warna.


"Tang Yin! Di mana sopan santumnu pada Putri Duanmu? Tundukkan kepalamu!"


Shen Yanzhia tiba-tiba membentak detektif muda itu. Dia tidak bisa membiarkan perasaan kedua orang itu tumbuh dan berkembang. Putri Duanmu adalah putri utusan perdamaian dan akan segera menikah dengan Putra Mahkota. Jika keduanya jatuh cinta, ketika tiba saatnya hari pernikahan tiba suatu saat nanti, keduanya bisa terluka.


Lebih baik mengakhirinya sekarang sebelum perasaan itu mekar.


"Putri Duanmu, kembalilah ke kamarmu sekarang!"


Rasa kecewa Putri Duanmu tersembunyi di balik wajahnya yang cantik dan anggun. Wanita pergi dengan senyuman pedih yang dipoles dengan manis di wajah ayunya. Sementara itu, Tang Yin juga menundukkan kepalanya, menyadari betapa tidak pantasnya ia memimpikan bulan yang sangat jauh dari dirinya itu.


Tang Yin pamit setelah beberapa saat. Pemuda itu juga pergi dengan kekecewaan mendalam. Hanya saja, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajah itu tetap datar dan sangar seperti biasanya.


Di sudut lain kediaman, seseorang menyaksikan perlakuan Shen Yanzhia pada dua orang itu. Orang itu menghela napas berat, lalu berjalan menghampiri Shen Yanzhia yang tengah menenangkan diri dengan membaca catatan pemberian Tang Yin.


"Wangfei..."


Shen Yanzhia memalingkan wajahnya. Wajah wanita itu memerah menahan amarah yang sudah terbendung sejak beberapa saat yang lalu.


"Aku tetap menentangnya!" ucap Shen Yanzhia dengan tegas.


"Apa yang salah dengan perasaan mereka?"


Shen Yanzhia menatap tajam Lin Zian. Mengapa saat ia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan pria itu, ia malah dihadapkan pada situasi seperti ini?


Sejak Lin Zian pulang dari istana sore hari tadi, Shen Yanzhia ditarik masuk ke dalam Paviliun Timur dengan paksa. Pria itu mencekal pergelangan tangannya dengan kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di kulitnya yang putih. Shen Yanzhia menghempaskan cekalan tangan itu dengan paksa.


Lin Zian menyayangkan perlakuan Shen Yanzhia pada Tang Yin dan Putri Duanmu. Bagi Lin Zian, perasaan jatuh cinta di mata mereka bukanlah sebuah kesalahan. Siapapun di dunia ini tidak bisa memilih dengan siapa ia akan jatuh cinta.

__ADS_1


Sebagai sesama perempuan, Shen Yanzhia seharusnya tahu perasaan yang dirasakan Putri Duanmu. Dia seharusnya mengerti dan membiarkan dua orang itu mengembangkan perasaan mereka masing-masing, bukan diberi jarak tegas seperti tadi. Meskipun Tang Yin dan Putri Duanmu tidak pernah mengatakan bahwa mereka saling jatuh cinta, tatapan kedua mata mereka saat bertemu sudah menjelaskan semuanya


"Kau ingin mengacaukan perdamaian yang sudah direncanakan sedemikian rupa? Lin Zian, apa akal sehatmu sudah hilang?"


Lin Zian tidak bisa menahan amarah. Pria itu berdiri, lalu mencengkram bahu Shen Yanzhia dengan erat hingga wanita itu sulit melepaskan diri. Kilatan amarah di mata Lin Zian membuat Shen Yanzhia sedikit ketakutan.


"Apa yang salah dengan perasaan yang tumbuh dalam hati manusia? Wangfei, ada banyak cara untuk mencapai perdamaian. Pernikahan bukanlah satu-satunya jalan!"


Apakah akal sehat Lin Zian sudah hilang? Ke mana perginya kebijaksanaan yang selalu terpancar hanya dari tatapan matanya itu? Mengapa Lin Zian seolah berubah menjadi sosok asing yang sama sekali tidak dikenalnya?


Shen Yanzhia memaklumi jika pria itu tidak datang menemuinya karena kesibukannya. Shen Yanzhia juga tidak mempermasalahkan selir-selir di kediaman yang tidak disukainya. Shen Yanzhia juga tidak berkata apapun, dia sama sekali tidak mengatakan sesuatu yang merugikan Lin Zian di kediaman ini!


"Zian, apa kau benar-benar tidak memahami maksudku?"


Shen Yanzhia harus kecewa karena pria itu sama sekali tidak mengetahui maksud dari perlakuannya pada Tang Yin dan Putri Duanmu sore hari tadi. Pria itu benar-benar bodoh. Dia sama sekali tidak memahami apapun.


"Apakah mereka bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa?"


"Kau berbicara mengenai perasaan seolah-olah kau benar-benar mengetahuinya. Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau juga mengetahui perasaanmu sendiri?"


Pertanyaan berturut-turut Shen Yanzhia membuat Lin Zian bungkam. Pria itu tidak punya kata-kata apapun untuk menjawab atau mengingkari pertanyaan istrinya.


"Apa kau pernah berpikir tentang perasaanmu? Apa kau pernah berpikir tentang perasaanku? Apa yang kau ketahui tentang semua itu, Xiao Qin?"


"Kau bahkan tidak pernah bertanya padaku, bagaimana perasaanku ketika ketiga selir itu datang ke tempat ini. Kau bahkan tidak bertanya padaku apakah aku mengizinkanmu untuk mengunjungi mereka atau tidak!"


Lin Zian masih bungkam.


"Benar, aku bersalah. Aku bersalah karena sudah menaruh harapan dan menilai tinggi dirimu."


Amarah Shen Yanzhia sudah mencapai ubun-ubun. Wanita itu melepaskan cengkraman tangan Lin Zian di bahunya dengan paksa. Sebagian pakaiannya robek karena Lin Zian tidak mau melepaskannya.


"Aku akan meminta Selir Yu menenangkanmu."

__ADS_1


Wanita itu pergi dengan amarah yang masih menggelora. Sementara itu, Lin Zian masih membatu di tempatnya berdiri. Dia tidak bisa memikirkan sesuatu untuk menjelaskan perasaannya. Pria itu lalu berlari keluar dari Paviliun Timur.


"Wangfei, tunggu!"


__ADS_2