
Musim semi di perbatasan utara, tidak jauh berbeda dengan musim dingin atau musim panas. Semua musim di tempat terpencil ini tampak sama, tidak berpengaruh apapun pada suasana yang sedang terjadi. Gelap, dingin, sunyi, menakutkan, dan aroma darah dari sisa pertempuran selalu menempel pada setiap orang yang dengan sukarela tinggal di sini selama bertahun-tahun lamanya tanpa pulang.
Perbatasan ini adalah tempat Lin Zian tumbuh. Setelah melakukan perjalanan selama satu minggu penuh, ia sampai di Lembah Chang ketika musim semi hendak mencapai puncak.
"Jenderal, apa yang harus kita lakukan?" tanya Bai Ru.
Lin Zian menatap kembali miniatur Lembah Chang yang beberapa bulan lalu tak ia lihat karena kembali ke ibukota.
"Kali ini, persiapan mereka cukup matang. Kita tidak bisa bertindak gegabah."
Beberapa jenderal muda bawahan Lin Zian bergantian memberi saran. Bibit-bibit penyerangan dari prajurit Xiaxi yang masih tersisa ternyata menimbulkan dampak yang cukup parah bagi kota perbatasan sekitar. Mereka tidak hanya membunuh, tapi juga menyerang, menyiksa, menculik, dan berlaku kejam pada penduduk sekitar. Situasi ini jauh lebih parah dibanding sebelumnya. Tak disangka, negara kecil yang suka berebut kekuasaan itu ternyata cukup kuat dan gigih.
Lin Zian memegang erat Pedang Bulan miliknya. Pedang ini sudah pernah menyentuh leher Putra Mahkota Xiaxi dan melukai nadinya. Kali ini, mungkin Pedang Bulan ini akan mengarah langsung pada Kaisar Xiaxi dan mematahkan lehernya, bukan melukainya lagi.
"Racuni persediaan makan mereka."
Lin Zian melemparkan sebuah kotak hitam berisi serbuk bunga putih, sebuah serbuk racun yang dapat mengakibatkan seluruh tubuh lemas dan tidak bertenaga. Racun ini termasuk racun yang cukup mematikan karena tidak ada penawarnya. Lin Zian mendapatkan racun ini dari Shen Yanzhia di pagi hari sebelum ia pergi. Wanita itu bilang, suatu saat Lin Zian akan membutuhkannya.
"Dari mana Jenderal mendapatkan ini?" tanya Bai Ru sambil menangkap kotak hitam itu.
"Itu tidak penting. Pergi saja, aku tidak ingin melihat kalian lagi!"
Semua orang kemudian keluar karena pimpinan mereka tampaknya mulai merasa risih dan kesal. Tabiat Lin Zian memang tidak pernah berubah sedari dulu. Pria itu selalu mengusir semua orang pergi setelah ia menyampaikan perintah tanpa bantahan.
Di tenda militer miliknya yang besar ini, Lin Zian merasakan sepi. Hatinya terasa kosong tak berisi. Padahal, dahulu ia sangat menyukai tempat ini. Tenda ini tiba-tiba seperti dua kali lipat luasnya. Senjata-senjata militer yang berjajar di sisi kanan dan kiti tenda seolah ikut menertawai kesepian yang dirasakan Lin Zian.
__ADS_1
Sedang apa wanita itu sekarang?
Jika sedang berada di kediaman Qin saat malam seperti ini, Lin Zian pasti sedang menyaksikan istrinya mempermainkan para pelayan dengan menyuruh mereka merebus air lalu dikirimkan ke Paviliun Timur, padahal tidak ada orang yang hendak mandi. Atau mungkin dirinya sedang menjadi sasaran kemarahan Shen Yanzhia karena ia terus menerus membuat istrinya kesal.
Apakah sekarang wanita itu sedang mempermainkan para pelayan juga? Atau ia sedang berdiam diri di ruang percobaan obat dan menghabiskan seluruh kotak herba pemberian Ibu Suri beberapa waktu lalu? Ataukah ia sedang bercanda ria dengan Pangeran Yun dan Ru Xiaolan? Mungkinkah wanita itu sedang bersiap menghancurkan Kediaman Qin karena dirinya tak kunjung kembali untuk menepati janjinya? Ataukah wanita itu sedang marah dan menghias seluruh taman kediaman dengan bunga seperti biasanya?
Lin Zian bergelut dengan pemikirannya sendiri. Ia tidak tahu sejak kapan wanita itu mulai mengganggu otaknya. Bersama dengan wanita itu sepanjang hari membuat sesuatu di dalam hatinya yang padam menjadi terang kembali. Sesuatu itu seperti air, namun terkadang menjadi seperti api yang besar dan berkobar.
Ia teringat kembali dengan ciumannya pada wanita itu pada malam sebelum ia pergi. Saat itu, ia merasa berada di sebuah situasi asing yang membuatnya ingin mengatakan sesuatu yang selama ini terus menerus menekan batinnya. Sesuatu di dalam dirinya itu terus memberontak seperti meminta kebebasan. Ia ingin mengatakan sesuatu sejujurnya dan memastikan perasaannya. Tapi, berada di hadapan wanita yang sedang kesal dan khawatir karena kepergiannya membuat Lin Zian menjadi tidak berdaya dan kehilangan kata-katanya.
Awalnya ia hanya ingin membungkam mulut Shen Yanzhia agar wanita itu tidak terus berbicara dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Akan tetapi, sesuatu sedang berada di luar dugaannya. Lin Zian tidak bisa mengendalikan perasaannya ketika wanita itu memejamkan mata dan memberinya sedikit kesempatan. Perlahan ia merasakan sebuah balasan hangat yang pelan dan ragu-ragu. Jika ia tak salah mengingat, dirinya hampir menangis karena alasan yang tidak bisa ia jelaskan.
Itu adalah yang keempat kalinya!
Meskipun begitu, yang terakhir ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Niatan awalnya memang untuk bermain-main dan menjahili Shen Yanzhia, tapi Lin Zian justru merasa bahwa ciumannya saat itu berasal dari air yang mengalir dari lubuk hatinya yang terdalam.
Lin Zian menyentuh bibir bawahnya. Sensasi malam itu masih terasa meskipun sudah lewat berminggu-minggu yang lalu. Bayangan Shen Yanzhia seolah muncul di depannya, menuntut pria itu untuk bangun dari lamunannya sendiri.
Ia harus segera menyelesaikan ini dan pulang!
...***...
"Berada di bawah langit yang sama, tapi tidak dapat saling menyapa. Apakah bulan di sana sama seperti di sini?"
"Nona, apa yang kau gumamkan?"
__ADS_1
Tan'er menatap majikannya yang tengah duduk dekat jendela yang mengarah langsung ke taman depan Paviliun Timur dan Paviliun Barat. Angin musim semi berhembus membawa sekelebat wewangian dari serbuk-serbuk bunga yang mulai bermekaran. Pelayan itu lalu menuangkan teh, kemudian menyodorkannya pada Shen Yanzhia.
"Berapa lama waktu menuju puncak musim semi?"
"Dua minggu lagi. Nona, kau teringat pada Tuan Muda?"
"Aku hanya mengingat janjinya."
Wanita itu menghembuskan napas lelahnya. Malam terasa lebih panjang dari biasanya. Bulan di atas Pavilun Timur bersinar indah seolah sedang memayunginya. Cahayanya tidak terlalu terang dan tidak terlalu redup.
Shen Yanzhia paling tidak menyukai hal-hal yang lambat. Gadis Pangeran Yun itu tidak suka menunggu. Baginya, menunggu adalah hal yang sangat membosankan dan seseorang yang membuatnya menunggu biasanya tidak memiliki akhir yang baik.
Lain halnya dengan saat ini. Pria yang datang atas perintah kerajaan untuk menikahinya itu membuat Shen Yanzhia mengubah prinsip yang dibangun dirinya sendiri. Demi seorang Lin Zian, Shen Yanzhia harus menahan kesabaran dan kemarahan, berharap pria itu pulang menepati janjinya. Jika tidak, Shen Yanzhia akan benar-benar menjadi gila!
Festival puncak musim semi hanya tinggal menghitung hari. Tapi, tidak ada kabar dari istana maupun dari utusan mengenai keadaan perbagasan utara, bahkan sepucuk surat pun tidak diterima Shen Yanzhia. Ia dan Ibu Suri sama-sama menunggu kabar baik dari tempat yang jauh itu.
"Aku sudah berhasil. Sekarang orang setengah hidup dan setengah mati itu sudah benar-benar sembuh. Kau harus pulang untuk menanyainya sebelum aku merubah pikiranku dan meracuninya kembali dengan racun yang sama!"
Shen Yanzhia berbicara pada dirinya sendiri. Matanya masih mengarah pada bangunan Paviliun Timur yang cahayanya lilinnya redup.
Ah, apakah pria itu baik-baik saja?
Shen Yanzhia tiba-tiba penasaran dengan perbatasan utara. Seperti apa tempat itu? Apakah sama ramainya dengan ibukota? Ataukah sepi seperti rumah di tengah hutan? Apakah di sana juga ada wanita?
Shen Yanzhia memutuskan untuk menatap bulan sepanjang malam. Ia berharap sesuatu yang ganjil yang mengusik hatinya bisa segera hilang hingga ia bisa tidur dengan nyenyak. Ya, ia sangat berharap mendapatkan kembali kedamaian dengan kembalinya Lin Zian kemari tanpa luka atau lecet sedikitpun.
__ADS_1
...***...