RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 21: Ketakutan Melebihi Hujan Salju


__ADS_3

"Nona, berapa lama lagi kau akan menyelesaikan semua ini?"


Shen Yanzhia tidak menanggapi pertanyaan Tan'er. Tangannya sibuk mengambil beberapa sendok bubuk herba dari jenis yang berbeda, lalu memasukannya ke dalam sebuah mangkuk kecil dari keramik berwarna putih.


Ini adalah mangkuk ke sepuluh yang ia isi dengan bubuk herba. Mangkuk-mangkuk lain yang sudah terisi diletakkan berjajar di meja, dan masing-masing mangkuk itu diberi tanda dan nama. Warna herba-herba itu berbeda-beda juga, karena berasal dari campuran satu herba dengan herba lainnya.


Shen Yanzhia mengerahkan segala cara untuk menemukan penawar racun Rumput Biru. Seluruh bahan obat yang ia gunakan adalah bahan obat yang ia dapatkan beberapa hari lalu dari Tabib Zhu, tabib kekaisaran yang ditugaskan khusus untuk bertugas sebagai dokter resmi kediaman Pangeran Qin. Bahan-bahan itu adalah bahan-bahan langka berkualitas tinggi dan mahal. Jika bukan karena ia yang memaksa menerobos masuk ke ruang penyimpanan obat dan mengikat Tabib Zhu di tiang penyangga, Shen Yanzhia tidak mungkin mendapatkan bahan-bahan itu.


"Tan'er, bawakan aku seekor hewan kecil untuk mencoba obatnya!"


Mendengar perintah majikannya, Tan'er bergegas keluar dari ruangan percobaan pembuatan obat. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan beberapa pelayan dan menanyakan apakah ada sebuah hewan kecil yang dapat digunakan sebagai bahan percobaan. Pelayan-pelayan kediaman Qin itu merasa bingung karena mereka tidak pernah mendengar atau menyaksikan seekor hewan dijadikan sebagai bahan percobaan. Pelayan-pelayan itu lalu menyarankan agar menanyakan hal tersebut kepada Pangeran Qin secara langsung, karena pengetahuan sang pangeran sangat jauh lebih tinggi dan lebih hebat dari mereka.


Tan'er berpikir bahwa itu bukanlah ide yang buruk. Dengan langkah ringan, ia bergegas menuju paviliun kediaman suami dari majikannya itu. Setelah sampai di depan taman bunga, ia berpapasan dengan Xu Chi. Di tangan pelayan pria itu terdapat sebuah wadah berisi air hangat dan handuk.


"Xu Chi, apakah Tuan Muda ada di dalam?"


Xu Chi menghentikan langkahnya.


"Ada perlu apa?"


"Aku perlu menanyakan sesuatu kepadanya."


Xu Chi mengernyitkan kening. Apa yang sebenarnya ingin ditanyakan pelayan putri ini kepada tuannya? Ah, benar juga. Tan'er pasti sedang menjalankan tugas dari Shen Yanzhia. Tapi, mengapa tidak wangfei yang langsung menanyakannya sendiri?


"Tidak bisa, Tuan Muda saat ini tidak ingin menemui seorang pun," cegah Xu Chi begitu Tan'er hendak melangkahkan kaki.


"Kembalilah beberapa saat lagi, atau Tuan Muda akan marah."


Tan'er termenung sejenak. Gadis itu kemudian berbalik dan berjalan kembali. Xu Chi, setelah memastikan Tan'er benar-benar pergi, melanjutkan langkahnya masuk ke dalam paviliun kediaman Lin Zian.


Shen Yanzhia, melihat pelayannya kembali tanpa apapun, merasa heran dan bingung.


"Mana hewan yang kuminta?" tanya Shen Yanzhia kemudian.

__ADS_1


"Nona tidak memberitahuku hewan kecil apa yang harus aku bawa," jawab Tan'er polos.


Shen Yanzhia menepuk keningnya sendiri. Ia merutuki dirinya yang ceroboh dan lupa tidak memberitahu Tan'er hewan apa yang ia maksud. Dengan sabar, Shen Yanzhia kemudian memberitahu Tan'er. Beberapa saat kemudian, pelayan itu sudah keluar kembali.


Shen Yanzhia melanjutkan kegiatannya meracik obat. Mangkuk-mangkuk itu berjumlah lima belas buah sekarang, berjajar hingga harus menggunakan dua buah meja. Satu mangkuk kecil terletak terpisah dari yang lain, di bawahnya terletak sebuah tulisan "Rumput Biru". Ini adalah racun yang akan ia coba tawarkan. Racun itu ia dapatkan atas izin Departemen Kehakiman melalui Tang Yin, dengan mengatasnamakan Biro Penyelidikan. Racun itu hanya berbentuk serbuk halus yang hampir serupa dengan serbuk sari, hanya saja berwarna hitam pekat. Jika masuk ke dalam tubuh, racun itu akan langsung bekerja menyerang jantung.


"Nona, apa kau benar-benar akan menggunakan tikus putih yang lucu ini untuk percobaanmu?"


"Lucu? Nilai hidupnya akan lebih berharga kalau dia bisa membantuku menemukan penawar racun itu! Berikan padaku!"


Tan'er menyerahkan seekor tikus putih kepada majikannya. Shen Yanzhia lalu mengambil sebuah sumpit kayu yang sangat kecil, kemudian memasukannya ke dalam mangkuk berisi racun Rumput Biru. Ia kemudian mengoleskan racun yang terbawa dalam sumpit kecil itu ke dalam sepotong kue, lalu membiarkan tikus putih itu memakannya.


Beberapa saat kemudian, racun itu mulai bereaksi. Tikus kecil itu menjadi lebih agresif. Shen Yanzhia lalu meminumkan air yang sudah dicampur dengan salah satu obat racikannya. Tikus putih itu mulai mengendurkan pergerakannya.


"Sial! Yang ini tidak bekerja! Tan'er, berikan lagi tikus putihnya!" seru Shen Yanzhia begitu melihat tikus percobaannya malah mati setelah diberi obat.


Setelah tikus yang lainnya datang, Shen Yanzhia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, hanya saja penawar racikan yang diberikan tikus itu berbeda-beda. Begitu dan begitu terus hingga puluhan kali. Entah dari mana Tan'er mendapatkan tikus-tikus ini, tapi Shen Yanzhia dengan jelas tidak akan menyerah.


Shen Yanzhia menghabiskan waktunya selama sehari semalam untuk menemukan penawar racun Rumput Biru. Bahan-bahan obat yang sudah habis, dia ambil kembali dari ruang obat Tabib Zhu. Nasib baiknya sedang datang karena tabib setengah tua itu sedang bertugas di istana sehingga ia bisa leluasa mengambil bahan obat tanpa sepengetahuan tabib itu.


"Nona, apakah kau tidak akan berhenti sejenak? Sejak kemarin Nona terus berada di sini tanpa mau tahu atau menemui wangye," tanya Tan'er suatu waktu.


"Pria itu sudah besar. Aku tak pergi menemuinya satu tahun pun tidak akan masalah."


Shen Yanzhia kembali melanjutkan aktivitasnya. Ini adalah tikus yang keempat puluh yang menjadi korban percobaannya.


"Sedikit lagi! Tan'er, bawakan aku tikus lagi!"


"Nona, ke mana aku harus mencarinya tengah malam begini?"


"Di manapun! Kau harus menemukannya segera!"


Tan'er hendak menolak, tapi ia urungkan karena melihat Shen Yanzhia yang begitu gigih dan bertekad menemukan penawar racun. Ia kemudian keluar dari ruangan, tangan kanannya menjinjing sebuah obor untuk menerangi jalan.

__ADS_1


Setelah berputar-putar cukup lama, Tan'er kembali ke ruang tempat majikannya dengan sebuah tikus kecil. Ini adalah tikus terakhir yang mampu ia serahkan karena malam sudah sangat larut dan seluruh kediaman sudah terlelap.


"Berhasil!"


Shen Yanzhia bersorak ketika tikus terakhir yang digunakannya berhasil selamat dan bertahan hidup. Usahanya menghabiskan begitu banyak bahan herba dan membunuh puluhan tikus putih tidak sia-sia! Shen Yanzhia seperti mendapatkan harta karun yang lebih berharga dari tiga ribu tael emas!


Istri Pangeran Qin itu memasukkan sampel racikan penawar terkahirnya ke dalam sebuah botol obat kecil berwarna hijau muda, terbuat dari tanah liat berkualitas tinggi yang disepuh dengan bahan-bahan lain. Botol itu memiliki tingkat kepadatan tinggi hingga tak mudah pecah.


Ketika semua penawar itu sudah masuk ke dalam botol, Shen Yanzhia kemudian keluar dari ruangan yang sudah sehari semalam tidak ditinggalkannya. Ia hendak menemui Lin Zian dan memberitahukan bahwa ia berhasil menemukan dan membuat penawar racun Rumput Biru, agar mereka bisa segera memberikannya pada Ru Xiaolan. Semakin cepat diberikan, mungkin akan semakin baik.


Kediaman sangat sunyi. Lampu-lampu taman sebagian padam karena salju yang turun sore tadi terlalu banyak hingga sebagian membasahi lampu-lampu itu hingga tak bisa menyala apinya. Shen Yanzhia mengeratkan jubah berbulunya. Musim dingin sudah mulai memasuki minggu kedua.


Paviliun Timur tempat Lin Zian berada tampak masih terang. Lin Zian mungkin belum tidur. Tiba-tiba muncul rasa bersalah di hati Shen Yanzhia karena sehari semalam ini ia tidak menemui suaminya, menanyakan kabarnya atau sekadar menyapanya. Pria itu juga tidak datang mencarinya.


Shen Yanzhia terpaku di tempatnya berdiri, matanya lurus menatap ke depan, pada seseorang yang terduduk lesu di meja belajar. Entah karena apa, kekhawatiran itu muncul secara tiba-tiba dari dalam hatinya. Tanpa menutup pintu terlebih dahulu, Shen Yanzhia berlari ke arah orang itu dengan wajah cemas. Kakinya hampir saja terantuk kaki meja.


"Wangfei...." ujar Lin Zian lemah.


"Apa yang terjadi padamu?"


Lin Zian tidak menjawab. Matanya terpejam rapat. Shen Yanzhia menyandarkan kepalanya ke bahunya lalu menepuk-nepuk pipi Lin Zian agar orang itu membuka mata kembali. Shen Yanzhia menjadi semakin cemas ketika ia menyentuh dahi Lin Zian. Suhu tubuhnya sangat dingin. Bibir Lin Zian mulai membiru dan wajah tampannya menjadi pucat.


"Zian, bangun! Aku sudah menemukan obat penawar racun Rumput Biru. Zian, bangun! Kau mendengarku bukan?"


Shen Yanzhia dilanda kecemasan dan kekhawatiran yang luar biasa. Ia melepaskan jubah berbulunya lalu menyelimutkannya ke tubuh Lin Zian, berharap suhu tubuhnya dapat sedikit menghangat. Salju di luar sudah turun kembali, dan suhu udara menjadi semakin dingin. Shen Yanzhia menggosok kedua telapak tangannya lalu memegang tangan Lin Zian.


Tapi, pria itu tidak mau bangun sama sekali!


Ketakutan yang luar biasa besar membuat Shen Yanzhia tidak bisa berpikir jernih. Air matanya mulai mengalir seperti anak sungai. Tengah malam begini, bagaimana mungkin tidak ada seorang pun yang menjaganya? Apakah para pelayan itu sudah bosan hidup hingga berani menelantarkan seorang pangeran?


"Seseorang, tolong! Bantu aku!"


Shen Yanzhia berteriak sangat keras. Suaranya menggelegar seperti petir di hujan salju yang dingin dan sunyi ini. Ia berteriak lagi, lagi, dan lagi berkali-kali hingga suaranya serak. Tidak ada satu orang pun yang bangun dan mendengarnya.

__ADS_1


Shen Yanzhia memutuskan untuk menolong Lin Zian seorang diri. Dengan tertatih-tatih, ia membopong tubuh Lin Zian ke tempat tidur, membaringkannya lalu menyelimutinya dengan dua lapis selimut. Wajahnya masih menampilkan kecemasan dan ketakutan yang luar biasa, sekaligus menyembunyikan tanda tanya yang besar. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Pelayan bodoh, aku akan membuat kalian membayar harga yang mahal untuk perlakuan ini!"


__ADS_2