
“Wangye, aku sudah menyelidiki perihal kuil bunga. Jika benar seperti yang dikatakan oleh wangfei, maka hanya ada tiga bangunan yang mirip,” terang Tang Yin sambil membentangkan sebuah lukisan.
“Pada tahun kematian itu, hanya Istana Guanling, Istana Ruo Shui, dan Istana Tianli yang bentuknya seperti kuil. Bunga-bunga di ketiga istana itu juga sedang bermekaran pada tahun itu, sangat kontras dengan kejadian memilukan yang menimpa kerajaan. Hanya saja, ketiga istana itu sudah banyak mengalami perbaikan hingga bentuk bangunannya berubah.”
Istana Guanling dan Istana Ruo Shui masih dapat dicapai. Tapi, perihal Istana Tianli, rasanya akan sulit. Istana Tianli adalah istana kediaman Selir Duan. Lin Zian tidak memiliki alasan yang kuat untuk datang ke istana itu. Terlebih lagi, Selir Duan sangat membenci Shen Yanzhia hingga kemungkinan untuk memasuki Istana Tianli semakin kecil.
“Kita harus mengungkap isi surat darah itu,” ujar Lin Zian.
“Hanya wangfei yang bisa melakukannya.”
“Mengapa kau sangat yakin?”
Tang Yin menggulungkan kembali lukisan besar berisi gambar-gambar istana.
“Wangfei memiliki ikatan khusus dengan mendiang Putra Mahkota. Aku yakin, hanya dia yang dapat memecahkan teka-teki dalam surat darah itu.”
“Ikatan khusus?”
“Apa wangye tidak menyadarinya? Wangfei menjadi lebih emosional setiap kali bersinggungan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan mendiang Putra Mahkota.”
Ikatan apa yang dimiliki Shen Yanzhia dengan mendiang Putra Mahkota? Lin Zian menerawang jauh, menerbangkan pikirannya untuk mencari jawaban dari pertanyaannya. Alasan Shen Yanzhia terlibat dalam penyelidikan ini adalah karena gantungan giok itu. Ya, mungkin gantungan giok itulah yang membuat Shen Yanzhia terikat dengan mendiang Putra Mahkota. Gantungan giok itu bukan sekadar gantungan giok biasa. Ada misteri lain di balik gantungan giok itu.
Lin Zian pernah menanyakan pada ahli giok paling tua dan paling terkenal di Ling mengenai giok yang dibawa Shen Yanzhia. Saat itu, ia sengaja mengambilnya ketika Shen Yanzhia sedang pergi ke kediaman Pangeran Yun untuk membicarakan sesuatu. Ahli giok itu berkata bahwa giok yang dibawa Lin Zian hanya berjumlah dua buah di dunia ini, dan hanya keluarga kerajaan yang memilikinya. Ahli giok tua itu menunduk memberi hormat karena ia tahu pria yang berada di hadapannya adalah keluarga kerajaan yang agung, Pangeran Qin sang Pangeran Kedua.
Shen Yanzhia pernah mengatakan bahwa giok phoenix seperti ini adalah milik Ibu Suri dan istri mendiang Putra Mahkota. Tidak mungkin jika giok berharga seperti ini diberikan begitu saja kepada Pangeran Yun, meskipun hubungan Pangeran Yun denga mendiang Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu sangat dekat. Giok phoenix ini adalah tanda cinta dari seorang suami kepada istrinya, dari seorang Kaisar kepada permaisurinya, dan dari seorang raja kepada ratunya.
Tugas Lin Zian bertambah satu buah. Sekarang, pria itu juga harus mencari dan menemukan jati diri sebenarnya dari Shen Yanzhia. Ia haru tahu mengapa Pangeran Yun memiliki giok phoenix ini, dan mengapa Shen Yanzhia bersedia terlibat dalam bahaya untuk mengetahui kebenaran dari giok phoenix ini.
“Utusan Xiaxi akan datang dalam beberapa minggu. Penyelidikannya mungkin harus ditunda sebentar,” ucap Lin Zian. Tang Yin mengangguk.
Begitu banyak beban yang ditanggung Lin Zian. Selain terlibat dalam urusan istana dan penyelidikan, sekarang ia juga memiliki tiga selir yang harus ia urus. Lin Zian tiba-tiba teringat pada permaisurinya. Shen Yanzhia sudah pergi sejak pagi ke Paviliun Lingxiang untuk mencari informasi dan menghibur diri.
“Wangye, Anda baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja.”
Kedua pria itu lalu bersulang. Cukup banyak tenaga yang harus dikeluarkan untuk sampai pada titik ini. Dua musim sudah berlalu, tapi misteri hilangnya dana militer masih belum juga terungkap. Lin Zian perlu berusaha lebih keras lagi.
"Tuan Muda, Selir Lian memintamu untuk bertemu."
Xu Chi memberitahu bahwa salah satu selir Lin Zian ingin bertemu. Dengan berat hati, Lin Zian terpaksa mengabulkan permintaan itu. Sudah hampir dua minggu ia memiliki selir, tapi tidak satu pun ia dekati. Selir-selir itu seperti sebuah pajangan.
"Wangye, Anda sudah datang," sambut Selir Lian ketika Lin Zian masuk ke dalam kamarnya.
"Jika tidak ada yang ingin dibicarakan, aku akan pergi."
"Tunggu!"
Selir Lian menahan pergelangan tangan Lin Zian. Setelah sadar, selir itu langsung melepaskannya dan meminta maaf.
"Aku tahu kau tidak menyukaiku. Wangye, ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu."
__ADS_1
Wanita ini sepertinya berbeda, pikir Lin Zian.
"Ayahku memiliki catatan kekayaan para menteri istana. Aku lihat, aset dan kekayaan Tuan Perdana Menteri meningkat banyak dalam dua tahun ini."
Perdana Menteri? Ah, orang tua itu sedang ingin bermain-main rupanya. Lin Zian memang sudah curiga dari awal. Perdana Menteri terus berusaha membuatnya pergi dari Rouwu. Apakah mungkin karena ia tahu bahwa Lin Zian sedang menyelidiki kasus dana militer?
"Mengapa kau memberitahuku?"
Selir Lian tersenyum. Wanita itu mengeluarkan sebuah buku catatan keuangan dari laci lemarinya.
"Ini salinan catatan keuangan yang ada di Kementrian Keuangan."
"Tolong selidiki ini sampai tuntas, wangye."
Lin Zian tidak tahu mengapa Zhao Lian membahayakan dirinya sendiri. Sebagai seorang selir, ia seharusnya berjuang keras untuk mendapat perhatian dan kasih sayang Lin Zian jika ingin bertahan. Di luar dugaan, wanita itu justru malah membantunya.
"Aku ingin meminta satu hal darimu."
"Katakan."
"Wangye, jika kau sudah menyelesaikan ini, bisakah kau melepaskanku?"
"Kau tidak ingin menjadi seorang selir?"
Selir Lian menggeleng.
"Baiklah."
Lin Zian menyelipkan salinan buku catatan keuangan berisi kekayaan para menteri ke dalam bajunya. Pria itu kemudian pergi meninggalkan kediaman Selir Lian.
Selir Zhan sedang menyulam sebuah kain ketika Lin Zian sampai di kediamannya. Wanita itu langsung meletakkan sulamannya dan menunduk memberi hormat.
"Ada apa?"
"Duduklah, wangye."
Lin Zian duduk di hadapan Selir Zhan. Selir Zhan lalu menyodorkan sebuah buku catatan kepada Lin Zian. Dahi Lin Zian berkerut. Mengapa Selir Zhan juga memberinya sebuah buku? Apa ini termasuk petunjuk yang diberikan kepadanya?
"Ini adalah catatan para prajurit istana. Selidikilah apakah ada yang tidak beres dengan para prajurit istana."
Lin Zian sudah dapat menebak.
"Apa yang kau inginkan?"
"Kirimkan aku ke perbatasan. Aku tidak pernah bermimpi menjadi seorang selir."
"Kau ingin menjadi seorang tentara?"
Selir Zhan mengangguk. Putri Menteri Administrasi itu memang memiliki seni bela diri yang tinggi. Hanya saja, ayahnya tidak mengizinkannya menjadi seperti pria. Karena itulah ia dikirim ke kediaman ini sebagai seorang selir.
"Baiklah."
__ADS_1
Lin Zian kemudian memasukkan buku catatan itu ke dalam bajunya. Sekarang, ada dua buku tebal yang terselip di dalam balik bajunya yang indah itu. Pria itu lalu keluar dari kediaman Selir Zhan setelah hari mulai gelap.
Baru saja ia hendak menginjakkan kakinya ke Paviliun Timur, seorang pelayan dari kediaman Selir Yu datang menghampirinya. Pelayan itu juga memberitahu bahwa majikannya ingin bertemu dengan Lin Zian.
"Katakan bahwa besok aku akan mengunjunginya."
Pelayan itu kemudian berbalik dan pergi untuk menyampaikan pesan Lin Zian. Ketika bulan sudah bersinar, pelayan dari kediaman Selir Yu datang lagi mengetuk pintu Paviliun Timur. Lin Zian dengan geram membuka pintu dan menanyakan ada perlu apa lagi. Pelayan itu berkata bahwa Selir Yu tidak bisa menunggu sampai esok hari.
"Mengapa selir-selir itu terus mengangguku?"
Dengan langkah malas, Lin Zian terpaksa pergi.
Sementara itu, Shen Yanzhia yang baru saja kembali dari Paviliun Lingxiang langsung membersihkan dirinya dengan air hangat yang ditaburi kelopak bunga. Tubuhnya sangat lelah.
Untung saja informasi dari Mo Ran membuatnya puas. Pemilik Paviliun Lingxiang itu memberitahunya bahwa ia mengetahui bahwa orang berinisial S yang disebutkan orang gila yang mungkin berkaitan dengan Putra Mahkota terdahulu bernama lengkap Situ Ting Yue. Hanya saja, Mo Ran tidak mengetahui siapakah orang bernama Situ Ting Yue itu.
Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian kembali, Shen Yanzhia duduk di tempat belajarnya. Tan'er datang sambil membawa kotak makan malamnya. Setelah merapikannya, gadis pelayan itu lalu pergi.
Shen Yanzhia membentangkan surat darah dari mendiang Putra Mahkota. Teka-teki dalam surat darah ini adalah sebuah puisi. Wanita itu berpikir keras, berusaha menebak apa sebenarnya isi dari surat ini.
Kuil Bunga mekar di musim semi. Aku bermain kecapi dalam alunan mimpi, berharap bertemu dengan waktu yang membuatku mengubah dunia. Di barat daya sudut dunia ini, aku menuliskan musim semi dengan kepedihan hati. Siapa yang akan tahu isi hatiku?
Kata-kata dalam surat darah ini sangat indah. Sangat berlainan dengan tulisan darah yang membuatnya tampak mengerikan. Musim semi, kuil bunga, barat daya, apa maksud dari kata-kata ini?
"Aku tahu!"
Shen Yanzhia berteriak dengan keras. Wanita itu berlari keluar dari Paviliun Barat menuju Paviliun Timur. Lututnya berdarah karena ia terjatuh beberapa kali. Tan'er berteriak panik di belakangnya. Gadis pelayan itu berkali-kali memperingatkan Shen Yanzhia untuk berhati-hati.
"Zian!"
Shen Yanzhia mendapati ruang Paviliun Timur kosong. Bahkan, jejak kaki Lin Zian pun tidak ada. Pria itu sepertinya sudah pergi sejak lama. Tak lama kemudian, Xu Chi datang.
"Di mana Lin Zian?"
Xu Chi tampak ragu untuk menjawab.
"Katakan!"
"Tuan Muda pergi ke kediaman Selir Yu."
Sesuatu mencubit hati Shen Yanzhia. Sedang apa pria itu di kediaman selir?
"Selarut ini?"
Xu Chi mengangguk. Shen Yanzhia lalu berjalan keluar dari Paviliun Timur. Wajahnya menjadi muram dan menggelap. Semua kata yang ingin ia ucapkan menguap tiba-tiba ditelan udara malam yang berhembus. Bunga-bunga di sekitar Paviliun Timur dan Paviliun Barat menari mengiringi langkah Shen Yanzhia.
"Wangfei, Anda tidak ingin menunggu? Tuan Muda mungkin akan kembali sebentar lagi."
"Tidak perlu. Aku tidak ingin menganggu mereka."
Melihat punggung Shen Yanzhia hilang di balik pintu Paviliun Barat, Xu Chi merasa bersalah. Permaisuri Pangeran Qin itu pasti datang hendak menyampaikan sesuatu yang penting. Sayang sekali, keadaan sedang tidak berpihak padanya.
__ADS_1
"Aku harap wangfei tidak akan salah paham pada Tuan Muda," ujar pelayan itu sambil menutup pintu Paviliun Timur.
...***...