RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 51: Akhir Perjalanan


__ADS_3

Shen Yanzhia menghembuskan napas lelahnya. Kaki indahnya lecet dan berdarah, terasa sakit namun tidak sesakit hatinya. Perjalanannya keluar dari ibukota saat malam hari tanpa pengawalan membuat tubuhnya sedikit melemah. Shen Yanzhia tidak tahu sekarang ia berada di mana. Ia hanya tahu kalau kereta yang digunakannya adalah kereta kiriman Selir Duan yang ditugaskan untuk mengantarkannya pergi. Ke manapun kereta itu membawa dirinya, maka di sanalah tujuan akhirnya.


Selama tiga hari tiga malam, kereta kuda itu membawanya melintasi berbagai tempat asing. Ia melintasi kota, desa, hutan, jembatan, dan kawasan perkebunan. Kusir yang mengendalikan laju keretanya sesekali membawanya berhenti di restoran dan penginapan. Untung saja, Shen Yanzhia tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk membiayai perjalanannya.


Kereta kuda itu membawanya ke sebuah tempat terpencil yang tidak diketahui namanya. Saat ia sampai, kusir kuda yang berada di sisinya mengatakan bahwa Shen Yanzhia harus turun di sana. Kusir itu menyampaikan pesan dari Selir Duan bahwa Shen Yanzhia harus berjalan lurus ke utara. Jika ia sampai pada sebuah perbukitan yang ditumbuhi teh dan melon, Shen Yanzhia harus berjalan ke atas bukit yang paling tinggi. Di sanalah tempat tujuan akhir dari perjalanan melelahkannya.


Sekarang, di sini, di atas bukit kecil yang dipenuhi tanaman herbal dan bunga persik, Shen Yanzhia dapat menarik napas dengan bebas. Rasa pengap selama berada di dalam kereta menguap seketika saat udara segar dan bersih dari tempat ini menyentuh hidung bangirnya. Sepanjang mata memandang, Shen Yanzhia disuguhi pemandangan menakjubkan dari alam di sekitar bukit kecil ini.


Shen Yanzhia melihat sebuah kuil kecil di ujung utara bukit. Kuil itu terlihat bersinar diterpa matahari sore. Langkah kaki kecilnya membawa Shen Yanzhia berjalan menuju kuil kecil yang sangat sederhana. Tangga-tangga kayu yang menjadi jalan utama menuju altar kuil tampak begitu tua namun masih kuat dipijak. Satu persatu, Shen Yanzhia menaiki anak tangga hingga ia sampai di teras utama kuil.


Seorang biksuni yang baru selesai sembahyang terkejut ketika langkah kaki Shen Yanzhia menggema memasuki tempat sembahyang. Biksu wanita itu membungkukkan badan melihat seorang wanita muda datang membawa barang-barangnya. Pakaian Shen Yanzhia yang mencolok membuat biksu wanita itu berpikir bahwa wanita ini bukanlah wanita biasa.


“Apa kau biksu di kuil ini?” tanya Shen Yanzhia.


“Benar. Nona sepertinya baru saja sampai,” jawab biksu wanita itu ramah.


“Ya, aku baru saja sampai.”


Biksu wanita itu mempersilahkan Shen Yanzhia ikut bersamanya ke bagian dalam kuil. Shen Yanzhia menatap takjub pada kompleks bangunan tua yang ada di bagian dalam kuil sederhana ini. Arsitekturnya mirip dengan arsitektur istana. Perancang kuil ini pasti bukan orang biasa. Shen Yanzhia kagum karena kuil ini ternyata tidak sesederhana seperti yang terlihat oleh mata.


Seorang wanita yang lebih tua dari biksu pertama yang ia temui tampak sedang duduk bersila di atas tempat duduknya. Mata biksu wanita tua itu terbuka saat muridnya datang bersama seorang wanita asing yang pakaiannya sangat indah. Dia segera bangkit dari duduknya untuk menyambut Shen Yanzhia.


“Selamat datang di kuil Dongshan,” sambut biksu wanita itu sambil membungkukkan badan.


“Ah, terima kasih.”


Biksu wanita itu duduk berhadapan dengan Shen Yanzhia. Biksu wanita yang tadi mengantarkan Shen Yanzhia sudah pergi untuk mengambil teh dan camilan.


“Boleh aku bertanya, dari mana asalmu?” tanya biksu wanita.


“Aku dari Rouwu.”


“Nona berasal dari ibukota?”


Shen Yanzhia mengangguk.


“Apa tujuanmu datang ke mari? Nona tidak terlihat seperti seseorang yang akan menjadi biarawati seperti kami.”


“Aku memang datang bukan untuk menjadi biarawati. Seseorang membawaku kemari.”


Biksu wanita yang sedikit tua itu mengangguk dan tersenyum. Beberapa hari yang lalu, dia menerima sepucuk surat anonim yang mengatakan bahwa kuilnya akan kedatangan seorang tamu. Tamu itu seorang wanita terhormat yang dengan melihat matanya saja, identitasnya dapat langsung diketahui dengan mudah. Biksu itu tidak menyangka kalau isi surat itu memang benar. Wanita di hadapannya ini bukan sembarang wanita, melainkan seseorang yang mewarisi darah suci kerajaan Ling.

__ADS_1


“Lalu, Nona ingin menjadi apa agar aku bisa mengizinkanmu tinggal di sini?”


Shen Yanzhia bingung. Dia pernah berkata akan menjadi biksuni, tapi itu hanyalah main-main. Dia mengatakannya hanya untuk mengancam Lin Zian. Shen Yanzhia tidak bersungguh-sungguh ingin melakukannya.


“Aku ingin menjadi seperti dia saja!” seru Shen Yanzhia sambil menunjuk seorang wanita di halaman bangunan ini. Wanita itu memakai pakaian seorang pelayan. Rambutnya hitam dan digulung ke atas. Usianya berada di kisaran usia Selir Duan.


“Sungguh?” Biksu wanita itu mencoba memastikan.


“Ya!”


“Nona memang cerdas. Nona bernasib sama seperti wanita itu.”


“Maksudmu?”


“Maksudku, kalian memilih menjadi seorang pelayan yang membantu mengurus kuil ini dibandingkan menjadi seorang biksuni seperti kami.”


Shen Yanzhia mengangguk mengerti. Matanya berbinar cerah.


“Siapa namamu?”


“Shen Yanzhia.”


“Bagaimana kau bisa tahu?”


“Matamu bersinar. Orang yang mengunjungi kuil ini pernah berkata bahwa gadis dari kediaman Pangeran Yun memiliki mata yang bersinar sepertimu.”


“Begitu rupanya. Bolehkah aku berkenalan dengan wanita itu?”


“Silakan.”


Shen Yanzhia berlari menghampiri wanita di halaman itu. Wanita yang sedang menyiram bunga itu menoleh saat Shen Yanzhia datang. Untuk sesaat, wanita itu tertegun. Tatapan matanya tampak kosong. Ekspresi wajahnya tampak sedikit terkejut. Wanita itu baru pertama kali menjumpai seorang wanita cantik yang matanya sangat cerah dan bersinar.


“Bibi, boleh aku tahu namamu?” tanya Shen Yanzhia.


“Nona ini siapa?”


“Aku Shen Yanzhia. Mulai hari ini, aku akan menjadi temanmu.”


“Shen Yanzhia? Nama yang indah. Aku Niang Yuan.”


“Bibi, namamu juga indah.”

__ADS_1


Dua wanita dari generasi berbeda yang baru berkenalan itu kemudian berbincang mengenai kehidupan masing-masing. Niang Yuan bercerita bahwa delapan belas tahun yang lalu, dia adalah seorang putri keturunan bangsawan di Rouwu. Dia adalah primadona diantara para pria dan akademisi, karena diantara wanita-wanita berpendidikan di Rouwu, Niang Yuan adalah yang paling unggul.


Namun, saat kekacauan akibat peperangan dan Putra Mahkota serta Kaisar meninggal, seluruh keluarganya hancur. Kebanyakan kerabatnya terbunuh secara misterius. Niang Yuan yang tidak memiliki kemampuan bela diri hanya bisa mengandalkan kakinya untuk pergi sejauh mungkin. Niang Yuan melarikan diri, melewati hutan, sungai, rawa, desa tanpa membawa harta benda. Niang Yuan sampai di tempat ini pada bulan kesembilan setelah pemakaman Putra Mahkota dan Kaisar.


Untung saja, biksu wanita yang tadi ditemui Shen Yanzhia menerimanya. Niang Yuan juga tidak ingin menjadi biksuni. Itulah alasan mengapa saat ini ia menjadi seorang pembantu pengurus kuil. Niang Yuan bertahan hidup dengan mengandalkan sumbangan para pengunjung kuil dan sesekali turun bukit untuk menjual hasil perkebunan kecil yang ia garap di sepanjang jalan menuju kuil.


“Bibi, kau tidak merindukan Rouwu?”


“Aku tidak mempunyai alasan atau siapapun untuk kurindukan di sana. Hidup di sini juga tidak buruk. Bagaimana denganmu?”


“Kisah yang kumiliki sebenarnya tidak serumit kisah Bibi. Aku mungkin jauh lebih beruntung,” jawab Shen Yanzhia.


“Benarkah?”


“Ya. Aku juga seorang putri keturunan bangsawan. Aku sudah menikah. Tapi, aku melakukan suatu kesalahan yang cukup fatal hingga tak punya muka untuk bertemu suami dan keluargaku atau menunjukkan wajah ke dunia luar. Jadi, saat malam hari, aku melarikan diri dari kediamanku dan tiba-tiba sampai di kuil terpencil ini.”


Niang Yuan tahu wanita ini sedang berbohong. Kemampuan matanya yang tajam saat menilai orang masih berfungsi sangat baik. Niang Yuan tahu kisah Shen Yanzhia tidak sesederhana itu. Wanita itu seperti sedang menahan kesedihan dan berusaha tersenyum di waktu yang bersamaan. Niang Yuan tidak bisa memaksa atau bertanya lebih jauh. Kisahnya juga menyedihkan, nasib wanita ini juga akan sama seperti dirinya.


“Bagaimana aku harus memanggilmu?”


“Panggil aku Mei’er. Nama asliku Xiao Jing Mei.”


“Xiao Jing Mei?”


Shen Yanzhia mengangguk.


“Mengapa kau mempunyai dua nama?”


“Ah, Shen Yanzhia adalah nama yang diberikan oleh seorang wanita mulia yang sangat menyayangiku. Itu nama kecilku dan nama keluargaku. Xiao Jing Mei adalah nama resmiku. Tapi, orang lebih mengenalku sebagai Shen Yanzhia.”


Niang Yuan sedikit tercekat. Wanita yang memiliki dua nama, berdasarkan pengetahuannya, bukanlah wanita bangsawan biasa. Apalagi, marga Xiao yang dipakai sebagai nama resmi adalah marga yang tidak bisa digunakan sembarang orang. Harga yang harus dibayar untuk memakai marga Xiao sebagai nama resmi adalah keluarga dan kekayaan, kecuali bagi orang-orang yang terlahir dengan status istimewa.


“Kau berasal dari keluarga kerajaan.”


Shen Yanzhia sungguh terkejut. Identitasnya begitu mudah diketahui hanya dalam waktu yang sangat singkat. Bagaimana mungkin Niang Yuan begitu mudah mengenalinya?


“Bibi, bisakah kau rahasiakan ini dari semua orang?”


Niang Yuan mengangguk. Jadi, seperti itulah kisah Shen Yanzhia. Niang Yuan yang cerdas mengetahui kalau Shen Yanzhia dikirim ke sini oleh seseorang yang dulu pernah ia kenal saat masih menjadi siswi di Akademi Kerajaan. Niang Yuan tahu orang yang mengirim Shen Yanzhia ke sini adalah orang berpangkat tinggi.


“Mulai sekarang, kau dan aku berteman,” ujar Niang Yuan sambil menautkan janji kelingking.

__ADS_1


__ADS_2