
Malam musim dingin menyelimuti ibukota kekaisaran Ling dengan angin dan tumpahan salju dari langit. Tabuhan gong yang dipukul berulang kali oleh para penjaga keamanan keliling membuat seluruh penduduk kota berlari masuk ke dalam rumah, menghindari dingin--menghindari penangkapan karena berkeliaran di malam hari.
Sunyi. Sekarang seluruh kota Rouwu seperti mati suri.
Shen Yanzhia membetulkan pakaiannya yang sedikit berantakan. Tan'er, si pelayan pribadi yang setia itu datang mengantarkan makan malam dalam kotak kayu begitu ia terbangun dari tidurnya. Kotak kayu itu dibukanya satu persatu hingga seluruh masakan dari dapur wangfu berjajar memenuhi meja. Aroma sup ikan dan nasi hangat menguar ke semua penjuru kamar.
"Duduklah."
Tan'er menggeleng dengan tegas. Perut pelayan itu sudah kenyang terlebih dahulu sebelum ia mengantarkan makanan ini kemari. Jika ia makan lagi, ia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini. Shen Yanzhia menatap kesal ke arah pelayan pribadinya. Tidak biasanya Tan'er makan lebih dulu sebelum dirinya.
Sumpit kayu di pinggir piring itu lalu bergerak. Shen Yanzhia mengambil mangkuk nasi, meletakannya di depan dadanya. Tangannya bergerak menumpahkan kuah sup ikan dan irisan sayuran ke dalam mangkuk nasi. Suapan demi suapan ia nikmati seorang diri di kamar yang sunyi ini.
Pada suapannya yang terakhir, Shen Yanzhia mengingat sesuatu.
Ah, di mana suaminya?
Benar. Sudah larut begini, pria itu belum tampak batang hidungnya. Bahkan bayangannya saja tidak ada. Terakhir kali ia melihatnya ketika ia menangis tanpa sebab di bahu pria itu, sore hari tadi. Ia tak lagi mendengar dan melihat apapun karena matanya terlalu perih dan hatinya terlalu sakit hingga membuatnya tertidur tanpa sadar.
"Nona, kau akan kembali ke Paviliun Barat?"
Shen Yanzhia tidak menjawab pertanyaan pelayannya. Ia kembali menyuapkan nasi ke mulutnya hingga mangkuk itu benar-benar kosong. Melihat makanannya sudah habis, Tan'er segera membereskan piring dan memasukannya kembali ke dalam kotak kayu.
"Kau tahu maksud dari 'menyulam sepasang sepatu kecil'?"
Mau tidak mau, pertanyaan yang mengusik pikirannya sejak beberapa waktu lalu itu akhirnya terlontar juga. Tan'er tidak langsung menjawab pertanyaan majikannya. Matanya mengerling ke atas seolah berusaha mengingat sesuatu. Beberapa saat kemudian, pelayan itu membelalakkan matanya sebesar biji chery dengan mulut menganga, lalu refleks ia tutup sendiri dengan kedua tangannya.
"Dari mana Nona mendapatkan perkataan itu?"
"Ibu Suri."
__ADS_1
Tan'er mengerti. Orang tua itu sepertinya sedang ingin mendengar kabar bahagia dari istana kediaman Pangeran Qin ini. Tapi, melihat perkembangan hubungan majikannya dengan Lin Zian, hal seperti itu tampaknya akan membuat Ibu Suri kecewa. Entah di waktu kapan kabar bahagia itu bisa didengarnya.
"Kau tahu atau tidak?" tanya Shen Yanzhia sedikit kesal. Wanita itu menenggak habis dua gelas teh.
"Ambilkan aku anggur!"
"Nona, kau tidak bisa minum!"
Shen Yanzhia menenggak kembali segelas teh. Sekarang, perutnya mulai kembung. Ia kesal karena Tan'er tidak segera memberitahunya maksud dari perkataan itu. Sungguh, ia sangat ingin tahu artinya!
"Katakan!"
Melihat Shen Yanzhia hendak marah, Tan'er segera berkata,
"Sepasang sepatu kecil identik dengan bayi."
"Oh."
Sementara itu, Shen Yanzhia menelungkupkan wajahnya ke meja. Rambutnya terurai menutupi kepalanya. Tubuhnya menjadi berat dan lemas. Ia bahkan tak mampu menggerakkan kakinya sendiri.
Bayi? Di mana dia bisa mendapatkan seorang bayi untuk Ibu Suri? Apakah di pasar gelap ada pedagang yang menjual seorang bayi yang lucu untuk memuaskan Ibu Suri? Atau di mana lagi dia bisa menemukannya?
"Kenapa kau tidur di sini?" tanya seseorang. Shen Yanzhia menengadahkan kepalanya. Wajah orang itu tampak gelap karena tubuhnya membelakangi cahaya lilin penerang.
"Aku tidak bisa bergerak."
"Berapa banyak gelas teh yang kau habiskan?"
Shen Yanzhia memberikan jawaban lewat jari-jarinya. Empat. Empat gelas teh ia minum secara berturut-turut sementara perutnya baru saja terisi makanan. Shen Yanzhia mulai cegukan. Udara dingin kembali masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Lin Zian memapah Shen Yanzhia dan mendudukannya di tepi ranjang. Wanita itu langsung membaringkan tubuhnya sendiri dan menarik selimut hingga ke dadanya. Lin Zian duduk di tepian ranjang, menatap penuh heran pada permaisurinya yang aneh itu. Hanya empat gelas teh, sudah membuatnya seperti orang lumpuh? Shen Yanzhia memang benar-benar aneh!
"Zian, kau menginginkan bayi?"
Kening pria itu mengkerut. Tapi sorot matanya, Shen Yanzhia dapat mengenalinya. Ia tahu sorot mata itu sedang berusaha menahan keterkejutan yang tidak disangka-sangka. Pria itu sama sekali tidak menduga bahwa permaisurinya dapat mempertanyakan hal yang terasa sangat tabu baginya.
"Kenapa kau bertanya?"
"Ibu Suri menginginkan bayi. Dia bilang, 'menyulam sepasang sepatu kecil' padaku."
"Aku... Aku tidak ingin terburu-buru," ujar Lin Zian gugup.
"Menurutmu, di mana kita bisa mendapatkan seorang bayi? Apa pasar gelap menjualnya?"
Lin Zian menjadi lebih terkejut. Sebenarnya apa isi kepala Shen Yanzhia ini? Apakah wanita ini benar-benar tidak mengerti apapun? Wanita ini berpikir bahwa seorang bayi adalah objek perdagangan yang dapat dibeli dan dijual dengan bebas. Shen Yanzhia benar-benar lupa ataukah tidak tahu bahwa dirinya memiliki potensi untuk memiliki bayi dari dalam tubuhnya sendiri? Mengapa harus repot-repot melanggar hukum untuk membeli?
Lin Zian ingin berteriak kesal dan tertawa di saat yang bersamaan. Istri konyolnya ini memiliki tubuh bagus dan paras yang cantik. Hanya saja, isi kepalanya tidak dapat diketahui dan tindakannya tidak dapat ditebak. Gelagat dan perilakunya juga sering aneh-aneh. Kenapa ia harus mempunyai istri seperti ini?
Lin Zian lalu teringat akan tingkah laku Shen Yanzhia yang sering membuatnya kesal setengah mati. Wanita ini sangat pandai menjahili dan mempermainkan orang. Tapi, jalan pikirannya masih polos dan belum dewasa. Banyak hal-hal di luar pengetahuannya yang belum ia ketahui.
Bahkan untuk hubungan sepasang suami istri, Shen Yanzhia sepertinya hanya memandangnya sebagai sebuah hubungan formalitas. Wanita ini sepertinya berpikir asalkan ia hidup akur dan rukun dengan Lin Zian, maka pernikahan dapat dikatakan harmonis. Ia sama sekali tidak berpikir bahwa ada sebuah hubungan yang tidak dapat ia hindari seorang diri. Sepertinya, definisi 'teman hidup' dalam kamus Shen Yanzhia memiliki arti yang berbeda dengan kamus hidup orang lain.
"Istirahatlah. Aku akan keluar sebentar," ucap Lin Zian setenang mungkin. Shen Yanzhia mengangguk dengan wajah kusut. Perutnya yang penuh terisi makanan dan empat gelas air teh membuatnya mengantuk.
Lin Zian berjalan meninggalkan Shen Yanzhia. Wajahnya memerah. Kekesalan dan rasa ingin tertawa di hatinya masih belum dapat ia bebaskan. Jika bertahan sedikit lebih lama lagi di sini, Lin Zian khawatir tidak dapat mengontrol emosinya dan malah membuat Shen Yanzhia merasa tersinggung.
Sebelum ia benar-benar keluar dari Paviliun Timur, ia mendengar sebuah teriakan menggelikan,
"Zian, beritahu aku jika kau menginginkan bayi! Kita akan mencarinya di pasar gelap!"
__ADS_1
...***...