
Lembah Chang yang kemarin menjadi medan pertempuran kini sudah kembali damai. Bekas-bekas kerusakan dan sampah-sampah sisa peperangan mulai dibersihkan satu persatu. Tawanan yang tidak dieksekusi dipenjara dalam penjara kayu yang kokoh, menunggu perintah untuk dibawa ke istana dan diadili.
Senjata hasil rampasan dari pihak lawan disimpan di sebuah tenda besar yang dijaga dengan ketat. Sementara itu, mayat-mayat prajurit yang gugur dimakamkan di tempat tertinggi di Lembah Chang sebagai bentuk penghormatan terakhir. Keluarga-keluarganya akan mendapatkan ganti rugi dan belas kasihan dari kekaisaran.
Lin Zian, jenderal muda hebat yang beberapa waktu lalu sempat diperlakukan seperti penyusup itu kini tengah berdiri dengan gagahnya. Para prajurit yang masih sehat dan selamat dengan tegap menegakkan bahunya menghadap jenderalnya. Bai Ru, laki-laki gagah kedua itu juga berdiri di samping Lin Zian.
“Aku harap, kalian tidak akan menjadi besar kepala setelah kemenangan ini. Ingatlah bahwa jiwa dan tubuh kalian adalah negara yang harus kalian lindungi. Suatu saat nanti, jika gendering di sini berbunyi memanggil hati kalian, kalian harus kembali.”
Para prajurit menjawab dengan kompak. Kompilasi suara mereka menghasilkan gema yang membahana di alam terbuka. Semangat dan api yang menyala di dalam dada mereka semakin membara setelah mendapat kemenangan besar. Lin Zian, jenderal muda itu, entah kenapa begitu hebat dalam menyusun siasat. Hanya dengan satu langkah saja, seluruh pasukan musuh berhasil dipukul mundur tanpa perlawanan yang berarti.
Bai Ru menyodorkan secangkir teh hangat kepada pimpinannya. Wajah Sang Jenderal kotor dan berdebu. Meskipun begitu, aura ketampanannya tetap terpancar. Tampilan luarnya tidak mencerminkan bahwa dia adalah seorang perwira militer.
Dia tampak seperti pemuda biasa yang sering mondar-mandir di ibukota. Istimewanya, pria ini dikaruniai otak yang cerdas dan hati yang kuat. Ia seorang jenderal bangsawan keturunan kerajaan. Bai Ru dapat menghitung berapa lama jenderalnya sudah ada di kamp militer ini.
“Jenderal, kau yakin tidak akan membuka matamu untuk melihat gadis-gadis ibukota? Saudara-saudaramu yang lain sudah memiliki banyak selir.”
“Bai Ru, kenapa kau sangat cerewet seperti perempuan?”
__ADS_1
Bai Ru menanggapinya dengan mengedikkan bahu.
“Aku yakin sebentar lagi akan datang seseorang yang memintamu kembali ke tempat asalmu.”
Setelah melewati perjuangan yang keras dan kemenangan yang membuat hati menjadi haru biru, seorang pembawa pesan dari istana datang dengan kudanya yang sudah tampak payah. Lembah ini ternyata tidak hanya menyusahkan musuh, tapi juga menyusahkan semua orang yang hendak masuk menyampaikan sesuatu. Pembawa pesan itu lalu turun dan memberi hormat pada Lin Zian, lantas menyerahkan gulungan kain berwarna emas kepadanya.
“Bicaramu yang sembarangan itu menjadi kenyataan, Bai Ru. Aku akan membalasmu nanti. Baiklah, Bai Ru, saatnya kembali ke ibukota.”
...***...
Shen Yanzhia tidak bisa tidur pulas. Matanya terus terbuka sepanjang malam. Otaknya juga tidak bisa memikirkan apapun. Lilin penerang sudah padam, tapi kantuknya tidak kunjung datang. Ia menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, menciptakan pola kusut di seprai ranjang dan membuatnya terlepas di keempat sudutnya.
Setelah merasa aman, ia baru menghela napas lega. Shen Yanzhia lantas mengambil sebotol minuman dari lemari penyimpanan dapur. Malam sudah sangat larut. Shen Yanzhia tidak akan bisa tidur lagi. Dua hari ini sungguh terasa melelahkan baginya. Shen Yanzhia tidak pernah berhenti memikirkan langkah apa yang sebaiknya ia ambil.
Sejak titah Kaisar dibacakan, hidupnya mulai tidak berjalan damai. Shen Yanzhia tidak habis pikir kenapa Kaisar memberinya titah yang terasa sangat menyiksa itu. Ia hanya merasa bingung apakah ia harus bahagia atau bersedih. Ketika ia sedang asyik-asyiknya menikmati kebebasan, Kaisar malah memberinya anugerah berupa pernikahan yang tentunya akan membatasi semua kebebasannya.
Shen Yanzhia sebenarnya ingin menolak. Bukan hanya merasa heran, ia juga merasa tidak adil karena ia yang dipilih terlebih dahulu. Padahal, kakak ketiganya yang kemarin berhasil ia ganggu juga belum menikah. Usia Mei Ling bahkan dua tahun lebih tua dari usianya.
__ADS_1
“Kenapa Kaisar malah menyuruhku menikah? Bukankah dulu dia bilang kalau aku boleh menentukan jalan hidupku sendiri? Menikah? Ikatan macam apa itu? Kalau dari pengamatanku, menikah itu mengerikan. Setiap hari harus menemani suami dan melayaninya. Apalagi hingga punya anak. Bukankah persalinan itu sangat menyakitkan? Aku bisa hidup sendiri. Aku ingin bebas. Benar. Kenapa aku harus menikah?”
Langit yang hitam tanpa bintang itu seperti mengerti penderitaan manusa di bawahnya. Langit hitam itu tidak menampilkan bulan atau bintang. Semuanya hanya hitam. Shen Yanzhia terus berbicara dan berdebat pada dirinya sendiri.
Dirinya terbelah menjadi dua bagian. Bagian kanan menyetujui pernikahan, sedangkan bagian kirinya menolak. Alasan yang diberikan bagian kiri adalah kebebasan, dan itu cukup masuk akal bagi Shen Yanzhia.
“Nona, apa kau akan terus berada di sana? Apa tempat tinggi itu memberikanmu kenyamanan hingga kau betah berlama-lama duduk?”
Raut muka Shen Yanzhia memang sedikit terkejut begitu ada orang yang memergokinya. Tapi, setelah mengenali suara itu, raut mukanya kembali ke semula. Tan’er tidak akan membocorkan kelakuannya pada ayahnya. Pelayan yang satu itu cukup santun dan baik hati, tapi ia lebih setia. Ia tak akan tega melaporkan majikannya sendiri.
“Turunlah, Nona. Kalau kau jatuh, aku tidak mau menangkapmu. Kalau aku menangkapmu, badanku bisa remuk.”
“Kalau badanmu remuk, aku akan melemparkannya ke kolam ikan supaya mereka lebih mudah meyantapmu.”
“Turunlah, Nona. Berhenti berdialog dengan dirimu sendiri. Bukankah besok ada sesuatu penting yang harus kau lakukan?”
Shen Yanzhia segera melompat turun. Ekor pakaiannya sedikit robek tersangkut genteng tanah yang ia turuni. Tan’er benar. Shen Yanzhia setidaknya tetap harus berpikir waras hingga ia bisa memastikan semuanya sendiri, atau setidaknya sampai pernikahan dilangsungkan jika kemungkinan buruknya terjadi.
__ADS_1
Setelah menikah, ia boleh tidak waras. Ia tidak akan mempermalukan keluarga Pangeran Yun karena saat itu statusnya adalah istri orang dan menantu keluarga lain.
Benar. Shen Yanzhia harus menjaga kewarasannya dulu. Sekarang yang harus ia lakukan adalah kembali ke paviliun dan tidur bagaimanapun caranya. Jika mala mini ia tak tidur lagi, wajahnya akan kusam dengan kantung mata hitam menggelantung di kedua kelopaknya. Terlebih lagi, ia mungkin akan mengalami sakit jika tubuhnya tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.***