RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 14: Giok dan Kemarahan


__ADS_3

Tan’er berjalan terburu-buru ketika ia melihat sebuah kereta kuda sampai di depan gerbang wangfu. Beberapa pelayan yang melihatnya menatapnya dengan heran karena sedari tadi, pelayan pribadi wangfei mereka itu terus berdiri di pintu masuk. Tan’er begitu senang dan hampir melompat ketika ia melihat majikannya turun dari kereta bersama Lin Zian.


“Tuan Muda, apakah nonaku baik-baik saja?” tanyanya secara langsung.


“Kau lihat sendiri, apa dia tampak seperti orang yang sakit?” Lin Zian bertanya balik. Tan’er memandangi Shen Yanzhia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tuannya benar. Nonanya itu sangat sehat. Tan’er bahkan melihat warna merah sisa manisan di sudut bibir Shen Yanzhia.


Sepertinya, kejadian di perjamuan tidak berdampak buruk pada tubuh majikannya.


Lin Zian berjalan mendahului istrinya. Ia berbelok menuju gazebo di taman yang menghadap langsung ke paviliun Timur. Di sana, Tang Yin sudah menunggunya sejak lama. Detektif itu sedang duduk sambil memutar-mutar cangkir teh. Xu Chi memberitahunya kalau Lin Zian sudah kembali. Tang Yin kemudian berdiri dan memberi hormat begitu Lin Zian sampai di tempatnya menunggu.


Shen Yanzhia datang lebih lambat di belakangnya. Wajahnya sangat masam. Tan’er yang setia berada di sampingnya mengunci rapat bibirnya, tidak ingin banyak bertanya apa yang sebenarnya terjadi hingga nonanya marah seperti itu.


Sejak turun dari kereta, nonanya tidak berbicara sepatah katapun dengan dirinya maupun dengan tuannya. Tan’er menduga pasti telah terjadi sesuatu diantara keduanya. Dalam hati, Tan’er bertanya kapankah kedua tuannya ini bisa hidup berbaikan dan akur seperti suami istri pada umumnya.


Gazebo yang cukup besar dan indah itu kini dipenuhi orang. Meja kecil yang berada di tengahnya tampak seperti pusat perhatian karena di atasnya, terletak sebuah sketsa wajah orang sekarat itu dan sebuah peta. Tang Yin memulai pembicaraan dengan memberitahukan hasil penyelidikannya beberapa hari ini.


Ia berkata bahwa orang di sketsa itu pernah bekerja sebagai pelayan istana Yilan, istana kediaman mendiang Selir Rui—ibu asuh Lin Zian. Pelayan itu bekerja selama lebih dari sepuluh tahun dan keluar dari istana tiga tahun yang lalu. Sekarang, istana itu ditempati oleh Selir He, seorang selir tingkat tiga yang masuk istana harem satu tahun lalu.


Dari catatan kasus kematian Selir Rui, Tang Yin mendapatkan informasi kalau orang itu pernah bertemu dengan Selir Duan beberapa hari setelah kematian Selir Rui. Tidak dijelaskan alasan mengapa pelayan itu menemui Selir Duan.


Tang Yin juga menerangkan bahwa pria di sketsa itu sebelumnya adalah orang kepercayaan Selir Rui. Lin Zian seharusnya mengenalnya karena ia tinggal di sisi Selir Rui sejak bayi. Ketika ditanya, Lin Zian menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu sama sekali karena ia tidak pernah mempunyai hubungan yang baik dengan para pelayan.


“Wangye, kemarin kau bilang kau menemukan petunjuk lain dari pria ini, bolehkah kau memberitahuku petunjuk apa yang kau temukan?” tanya Tang Yin.

__ADS_1


“Bukan aku, tapi wangfei. Kau bisa bertanya padanya,” jawab Lin Zian. Di akhir kalimatnya, tersirat sedikit keraguan karena ia tahu hubungan Shen Yanzhia dan Tang Yin tidak berjalan baik seperti terakhir kali. Ia tidak memiliki keyakinan apakah Shen Yanzhia akan menjawabnya dengan jujur jika detektif itu bertanya padanya.


Tang Yin beralih menatap Shen Yanzhia.


“Karena wangye tidak mengizinkanku ikut bersamanya, maka aku tidak punya apapun untuk dikatakan,” jawab Shen Yanzhia tegas. Matanya tertuju pada taman bunga yang ia buat beberapa hari lalu. Ia tidak ingin menatap mata orang-orang menyebalkan itu. Hari ini, Shen Yanzhia sudah cukup menelan kekesalan yang besar.


Mereka terkejut mendengar ucapan Shen Yanzhia yang begitu tegas dan dingin. Perempuan ceria pembuat onar itu sekarang terasa seperti seekor phoenix yang tidak bisa disentuh. Lin Zian bertanya dalam hatinya, apakah hari ini ia sudah bertindak keterlaluan?


“Wangfei, jika aku tahu kau akan semarah ini, aku tidak akan membiarkanmu mengetahuinya sejak awal.”


“Siapa yang bicara padamu?”


“Aku melakukannya demi kebaikanmu."


“Apa bedanya? Kalaupun aku tidak mati di tangan pembunuh yang mencari pria sekarat itu, aku pasti mati di tangan Selir Duan.” Shen Yanzhia berkata tanpa jeda. Sejenak kemudian ia baru menyadari apa yang dikatakannya barusan.


Shen Yanzhia mengabaikan pertanyaan Tang Yin. Dengan isyarat tangan, ia kemudian pergi bersama pelayannya. Wajahnya masih masam dan dingin seperti tadi.


Bukan hanya marah karena tidak diizinkan ikut dalam pencarian, Shen Yanzhia juga marah karena Lin Zian menciumnya untuk yang ketiga kali tanpa izin dan mencuri manisannya. Shen Yanzhia merasa dipermainkan. Lin Zian boleh tidak menyukainya, tapi ia seharusnya mengerti bahwa Shen Yanzhia masihlah seorang gadis keras kepala yang memiliki rasa penasaran tinggi.


Hingga malam hari tiba, kemarahan Shen Yanzhia belum hilang. Tan’er berulang kali mengetuk pintu kamarnya sambil membawa makanan dan air, tapi berujung penolakan. Makanan yang ia tinggalkan di depan pintu pun sama sekali tidak tersentuh, menandakan bahwa Shen Yanzhia tidak keluar kamar dan masih mengurung diri.


Lilin-lilin penerang sudah menyala. Cahayanya masih kerlap-kerlip tersentuh angin dari celah-celah dinding. Shen Yanzhia duduk dengan tatapan kosong. Pakaiannya masih sama dengan yang ia gunakan tadi pagi.

__ADS_1


Kemudian, dia beranjak menuju sebuah peti kayu kecil berukir naga yang indah dan rumit. Shen Yanzhia membuka kotak itu, lalu mengambil sebuah gantungan batu giok berukir burung phoenix berwarna putih tulang. Shen Yanzhia menatap lekat giok itu.


Sesuatu telah mencubit hatinya. Rasa penasaran mulai menjalar kembali begitu ia ingat ketika ia menemukan giok ini tergeletak di dalam kotak kayu yang sama saat ia diam-diam menyusup ke ruang belajar ayahnya, Pangeran Yun, beberapa tahun lalu. Shen Yanzhia terpikat karena ukiran dan warna giok ini begitu indah.


Awalnya ia mengira ini hanyalah giok biasa. Ia kemudian menyadari bahwa giok ini istimewa, setelah ia melihat dengan lebih teliti bentuk ukiran phoenixnya. Phoenix ini, bentuknya sama persis dengan giok milik Ibu Suri yang pernah ia lihat di sebuah perjamuan. Ketika ia bertanya pada Ibu Suri, ia baru tahu kalau giok berukir phoenix itu adalah giok pemberian Kaisar dan Putra Mahkota terdahulu, yang tewas beriringan di medan perang. Kematian mereka masih meninggalkan tanda tanya besar hingga kini. Giok itu hanya ada dua buah, dan tidak sembarang orang bisa memilikinya. Hanya Ibu Suri dan istri Putra Mahkota yang berhak memilikinya.


Shen Yanzhia bertanya dalam hati, apa hubungan Pangeran Yun dan istri Putra Mahkota terdahulu? Shen Yanzhia merasa hubungan keduanya bukan hanya sekadar kakak-adik ipar. Mungkinkah hubungan itu juga jauh lebih dalam bersama Putra Mahkota? Meskipun Pangeran Yun hanyalah pangeran kecil dan putra selir, ia cukup disayang oleh Kaisar dan Putra Mahkota terdahulu. Ibu Suri berkata bahwa ketiganya sering berburu bersama. Tidak heran, Ibu Suri begitu baik kepada ayahnya.


“Ayah, sebenarnya seberapa jauh kau akan menyembunyikannya?” tanyanya pada diri sendiri. Shen Yanzhia tidak menyadari bahwa seseorang tengah duduk memperhatikannya.


“Wangfei, apa kau masih marah?”


Mendengar suara laki-laki di belakangnya, Shen Yanzhia sontak menyembunyikan giok itu di belakang tubuhnya. Ia terkejut karena Lin Zian tiba-tiba sudah berada di kamarnya tanpa ia sadari. Pria ini, pasti berjalan seperti hantu. Shen Yanzhia tidak menjawab. Ia masih berdiri di depan kotak giok itu.


“Baiklah, aku minta maaf karena telah menciummu tanpa izin.”


Lin Zian berkata tanpa penyesalan. Shen Yanzhia tidak melihat ketulusan di matanya. Pria usil ini tidak akan mudah meminta maaf jika bukan karena terpaksa. Melihat usaha pria ini, Shen Yanzhia mulai memakluminya. Setidaknya, mendengar permintaan maaf yang tidak tulus lebih baik daripada tidak sama sekali.


“Sebagai ganti rugi untukmu, kau boleh ikut bersamaku.”


Raut wajah Shen Yanzhia berubah begitu mendengarnya. Akhirnya, ia dapat pergi mencari orang itu. Shen Yanzhia tidak semata-mata ingin membantu Lin Zian, tetapi ia ingin membantu dirinya sendiri. Ia yakin, orang itu pasti memiliki hubungan yang terkait dengan kematian Selir Rui.


Mungkin saja, jika ia bisa memecahkan misteri kematian Selir Rui, ia juga mendapatkan petunjuk mengenai kematian Kaisar dan Putra Mahkota terdahulu. Ia juga berharap dapat menemukan kebenaran mengenai hilangnya istri Putra Mahkota terdahulu, karena Shen Yanzhia mendengar bahwa Selir Rui dulu sangat dekat dengannya.

__ADS_1


“Meskipun permintaan maafmu tidak tulus, aku akan menerimanya,” ujar Shen Yanzhia sambil berjalan menuju ranjang.


Ia lalu membaringkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut, tanpa mempedulikan Lin Zian yang masih duduk memandanginya. Shen Yanzhia membalikkan tubuhnya ke arah tembok hingga tatapan Lin Zian hanya mengenai punggungnya. Setelah beberapa saat, Shen Yanzhia mendengar suara langkah kaki keluar dari kamarnya.***


__ADS_2