
Langit ibukota kekaisaran Ling dipenuhi awan putih. Dari awan-awan itu, turun butiran-butiran putih halus secara bersamaan hingga menyelimuti seluruh daratan dan merubahnya menjadi hamparan salju putih yang indah. Butiran es itu tersangkut di ranting-ranting pohon willow dan wisteria, cemara, rerumput, sebagian lagi menutupi jalan dan bangunan serta kedai-kedai kecil di pinggir ibukota.
Salju di kota Rouwu turun menyapa pagi para penduduk kota. Musim dingin di ibukota ini selalu datang lebih awal dibandingkan dengan kota-kota dan provinsi-provinsi lain. Sungai-sungai kecil di pinggiran hutan Rouwu sudah berubah menjadi balok es yang keras dan tebal. Batu-batu besar di sepanjang sungai tertutup salju, hingga bentuknya menyerupai boneka yang tidak terlalu indah untuk dipandang.
Ketika perapian menyala menghangatkan seluruh ruangan, Lin Zian diam menatap lekat setumpuk buku di yang terletak di depan wajahnya. Buku-buku itu memiliki warna dan ketebalan yang berbeda-beda. Di pagi buta seperti ini, gadis kecil yang menyandang status sebagai permaisurinya itu sudah berulah dan membuatnya sakit kepala. Lin Zian bahkan tidak bisa memakan sarapan paginya karena gadis itu langsung menyeretnya ke ruang baca.
Satu minggu lalu, Shen Yanzhia datang ke istana dan meminta Ibu Suri menemaninya pergi ke perpustakaan istana. Di sana, ia menghabiskan waktu selama satu hari penuh untuk mencari buku yang ia inginkan. Saat itu hanya ada ia dan Ibu Suri serta dua orang pelayan istana yang membantunya.
Shen Yanzhia berkata bahwa ia memerlukan beberapa buku untuk menyelidiki sesuatu tanpa memberitahu Ibu Suri penyelidikan apa yang dilakukan olehnya. Shen Yanzhia kemudian menulis beberapa judul buku dan menyuruh pelayan untuk mengantarkan buku-buku tersebut ke istana kediaman Pangeran Qin.
Sekarang, buku-buku itu tertumpuk di depan Lin Zian secara berantakan.
“Biarkan aku menyantap sarapanku dulu,” pinta Lin Zian. Jubah berbulu abu-abu yang dikenakannya menjuntai ke bawah menutupi bangku kecil tempatnya duduk.
“Tidak! Bantulah aku menemukan bahan yang bagus untuk meracik obat dari buku-buku ini, atau kita akan kehilangan orang sekarat itu.”
Lin Zian mendesah pelan. Tangannya meraih buku di tumpukan paling atas, membukanya dan membacanya dengan teliti. Sesekali ia berhenti untuk menuliskan sesuatu yang sekiranya dapat membantu. Ia juga menuliskan bahan yang mungkin dapat berfungsi sebagai anti racun.
“Aku akan membawakan sarapanmu.”
Shen Yanzhia segera meninggalkan ruangan. Di halaman depan ruang baca, ia memanggil Xu Chi dan menyuruh pelayan itu membawakan sarapan tuannya sekaligus sarapan untuk dirinya sendiri. Xu Chi bertanya beberapa hal, lalu pergi setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaanya. Beberapa saat kemudian, Xu Chi kembali sambil membawa dua mangkuk sup hangat yang bisa mengurangi hawa dingin di pagi seperti ini.
“Xu Chi, tolong bawakan lagi arang. Perapian di ruang baca sudah mulai padam.”
“Baik, wangfei. Aku akan segera kembali.”
“Tunggu!”
Xu Chi menghentikan langkahnya.
“Mulai sekarang, jangan memanggilku dengan sebutan itu.”
Xu Chi hendak menolak, ia keberatan karena sebutan itu memang seharusnya ia pakai. Tapi, isyarat tangan Shen Yanzhia mencegahnya untuk mengajukan keberatan, hingga ia hanya meninggalkan raut wajah bingung dan heran di waktu bersamaan.
“Lantas bagaimana aku harus memanggil Anda?”
“Nona, atau terserah kau saja.”
"Maaf, pelayan ini tidak bisa. Wangfei adalah permaisuri dari Pangeran Qin, Tuan Mudaku. Dia pasti tidak mengizinkanku memanggil Anda dengan sembarangan."
"Ah ya sudahlah, kau boleh pergi."
Shen Yanzhia membawa dua mangkuk sup itu kembali ke dalam ruang baca. Ia kemudian duduk di sebelah Lin Zian yang sedang sibuk membuka dan membaca buku. Tiga buah buku disimpan terpisah di samping meja, sepertinya ketiga buku itu telah selesai dibaca.
Jika diperhatikan lagi, Lin Zian memang seseorang yang penurut. Walaupun terkadang keras kepala, tapi jika sudah menyangkut sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya, ia akan menjadi serius. Kalau saja Shen Yanzhia tidak mengatakan bahwa buku-buku itu dipakai untuk menemukan bahan penawar racun, Lin Zian mungkin tidak akan sukarela mau melakukan semua ini. Terlebih lagi, beberapa hari lalu datang sebuah surat untuk mengundang Lin Zian secara resmi ke istana.
“Kau akan pergi?” tanya Shen Yanzhia.
Lin Zian mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku.
“Kalau begitu, berhati-hatilah jika kau bertemu dengan Selir Duan. Aku yakin sekarang dia akan melibatkanmu untuk menyingkirkanku.”
“Wangfei, apa kau khawatir padaku?”
__ADS_1
“Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku hanya memperingatkanmu.”
“Benarkah?”
Tak ingin Lin Zian berbicara lagi, Shen Yanzhia secara refleks menyuapkan sesendok sup beserta sendoknya ke mulut Lin Zian hingga Lin Zian hampir tersedak karena terkejut. Sup panas itu membakar mulut dan tenggorokannya. Aroma jahe yang kuat dari sup itu menguar memenuhi seluruh rongga mulutnya.
“Wangfei, kau ingin membunuhku?”
“Hanya sebuah sup hangat saja tidak akan membuat seorang pangeran dan jenderal besar sepertimu mati.”
Sup hangat? Apa lidah Shen Yanzhia bermasalah? Sup ini jelas-jelas sangat panas. Asapnya saja masih mengepul.
Seseorang kemudian mengetuk pintu. Setelah dipersilahkan, muncullah seorang laki-laki berjubah bulu berwarna hitam dari balik pintu. Laki-laki itu membawa sebuah kotak kayu berukuran sedang. Setelah memberi hormat, laki-laki itu duduk di satu meja yang sama dengan Shen Yanzhia dan Lin Zian.
“Apa yang membuat Detektif Tang Yin berkunjung kemari sepagi ini?” cibir Shen Yanzhia yang merasa tidak senang karena kedatangan Tang Yin kali ini sungguh menganggu suasana.
“Maaf, aku kemari karena ingin melaporkan sesuatu,” jawab Tang Yin tanpa ekspresi.
Pria itu kemudian membuka kotak kayu yang dibawanya. Di dalamnya terdapat sebuah gulungan kertas usang berisi tulisan berwarna merah darah. Shen Yanzhia sedikit takut jika tulisan di kertas itu benar-benar menggunakan darah.
“Ini adalah surat yang aku dapat setelah mengunjungi rumah orang sekarat itu. Rumah itu sudah terbakar ketika aku sampai.”
“Lalu di mana kau menemukan kotak ini?” tanya Lin Zian serius.
“Aku menemukan sebuah ruang bawah tanah di antara puing-puing rumah itu. Kotak kayu ini terletak di sudut ruangan ruang bawah tanah itu.”
Tang Yin memberikan surat itu kepada Lin Zian. Matanya sangat penuh dengan kewaspadaan. Surat itu mungkin bisa menjadi petunjuk baru untuk mengungkap siapakah pelaku sebenarnya dari kasus dana militer yang hilang, atau mungkin saja bisa mengungkap hal lain yang selama ini tersembunyi.
“Wangfei, apa kau mengenali tulisan ini?”
“Apa yang kau takutkan, wangfei?” tanya Lin Zian.
Shen Yanzhia tidak menjawab dan hanya
menggelengkan kepala sambil terus menutup kedua matanya.
“Wangfei sepertinya takut dengan darah, wangye,” ujar Tang Yin kemudian. Lin Zian meraih sebelah tangan Shen Yanzhia.
Tapi, reaksi tubuh Shen Yanzhia sangat tidak terduga. Shen Yanzhia malah semakin menguatkan tangannya untuk menutup mata. Lin Zian dengan lembut meraihnya dan menggenggamnya. Tangan itu bergetar.
“Jangan takut. Buka matamu dan lihatlah baik-baik!”
Shen Yanzhia memberanikan diri membuka mata. Genggaman tangan Lin Zian sangat hangat hingga menjalar ke seluruh tubuhnya. Ada sebuah sensasi yang baru yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Entah mengapa, genggaman tangan itu membuat Shen Yanzhia merasakan kenyamanan hingga membuat ketakutannya berkurang sedikit demi sedikit.
“Aku… Aku sepertinya pernah melihat bentuk tulisan ini di istana,” ujar Shen Yanzhia pelan.
“Istana?” tanya Lin Zian dan Tang Yin secara bersamaan.
“Di bagian mana?”
“Aku tidak tahu pasti karena sudah sangat lama. Kau mungkin bisa menanyakannya kepada Ibu Suri ketika kau sudah sampai di istana nanti.”
Ibu Suri tidak boleh mengetahui hal ini. Jika ia tahu, mungkin Shen Yanzhia tidak dapat lagi berpartisipasi dalam penyelidikan ini. Jika Shen Yanzhia tidak ikut, dia tidak akan menemukan petunjuk mengenai giok itu dan tidak mencapai keinginannya. Jika Shen Yanzhia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, wanita itu pasti akan marah dan kecewa.
__ADS_1
Dia mungkin akan bertindak lebih gila dari sebelumnya. Jika hal ini sampai terjadi, semua penyelidikan akan sia-sia dan nyawa semua orang berada dalam bahaya. Lebij baik, Lin Zian mencari tahu sendiri tanpa melibatkan Ibu Suri.
“Wangye, apa yang kau lakukan pada tabib wanita itu?”
“Hei, dia temanku. Panggil Lanlan dengan sebuatan Tabib Ru!” sergah Shen Yanzhia.
“Baiklah-baik, aku akan memanggilnya dengan sebutan Tabib Ru.”
“Aku mengirimkan orang untuk mengawasi dan melindungi Ru Xiaolan. Beberapa hari yang lalu dia memberitahu bahwa rumah Xiaolan diterpa angin kencang musim dingin. Jika mereka terus bertahan di sana, mungkin orang itu tidak akan hidup lagi.”
Tang Yin mengangguk mengerti.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Tang Yin lagi.
“Aku rasa kita harus segera memindahkan mereka. Di mana tempat yang paling aman menurut kalian?” tanya Shen Yanzhia.
“Tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya. Wangfei, apa kau mempunyai saran?”
“Tempat yang paling tidak mengundang perhatian adalah kediaman ayahku. Mungkin, kita dapat memindahkannya ke sana.”
“Apa tidak masalah?” tanya Tang Yin.
“Aku akan menjelaskannya pada ayah. Aku yakin dia pasti akan mengerti.”
“Bagaimana dengan saudara-saudaramu? Mereka pasti tidak akan mengerti,” tanya Lin Zian. Ia khawatir jika saudara-saudara Shen Yanzhia akan menimbulkan masalah karena yang ia tahu, saudara-saudara Shen Yanzhia sering mengganggunya. Jika orang asing tiba-tiba masuk dan tinggal, bukankah akan mengundang kepenasaran dan keributan?
Seolah mengerti dengan kekhawatiran Lin Zian, Shen Yanzhia lalu menjelaskan bahwa saudara-saudaranya, Shen Mei Ling dan Shen Zhang Qi sedang berada di luar kota. Pangeran Yun mengirimkan mereka ke Akademi Wei yang terletak di provinsi paling selatan untuk belajar. Mereka tidak akan kembali dalam beberapa bulan. Sedangkan untuk kakak-kakaknya, Shen Jin dan Shen Yin Quan, keduanya tidak akan menaruh curiga apapun.
Kakak pertamanya, Shen Jin, sudah menikah dengan Pangeran Adipati Wu dan tinggal di Baindu sejak dua tahun lalu. Dia tidak akan kembali kecuali saat pertengahan musim semi untuk merayakan festival bersama seluruh keluarga Yun.
Sedangkan kakak keduanya, Shen Yin Quan, adalah seorang pendekar wanita yang suka mengembara. Dia tidak pernah pulang ke kediaman Pangeran Yun sejak satu tahun terakhir. Dari surat yang Shen Yanzhia terima, kakak keduanya itu sedang berada di wilayah Yulin, wilayah paling luar kekaisaran Ling yang berbatasan langsung dengan wilayah kerajaan Xialin.
Jikapun pulang, perjalanan dari Yulin ke Rouwu memerlukan waktu setidaknya enam bulan dengan kuda. Dalam rentang waktu selama itu, mungkin Shen Yanzhia sudah dapat mencarikan tempat yang paling aman untuk Ru Xiaolan.
Satu hal yang menjadi kekhawatiran Shen Yanzhia adalah para selir Pangeran Yun. Ayahnya itu memiliki tiga orang selir berlatar belakang keluarga terpandang. Salah satu diantaranya adalah Lan Rushuang, selir termuda yang dikirim oleh keluarga Lan, keluarga Menteri Kehakiman.
Jika sampai selir itu mengetahui bahwa orang sekarat adalah orang asing yang terkena racun Rumput Biru, bukan tidak mungkin ia akan menanyakan dan melaporkannya kepada keluarganya, karena racun itu hanya boleh digunakan di Kementrian Kehakiman.
“Kau khawatir tentang Selir Lan?” tanya Lin Zian seolah mengerti kekhawatiran istrinya. Shen Yanzhia mengangguk ragu.
“Kau tenang saja. Dengan kepribadiannya yang lugu, Selir Lan tidak mungkin menaruh curiga apapun. Dia hanya seorang selir kecil yang tidak tahu apa-apa.”
Lin Zian berusaha menenangkan Shen Yanzhia. Selir Lan hanyalah seorang perempuan manja yang hanya tahu uang dan kesenangan, tidak pernah tertarik dengan kekuasaan atau politik. Selir itu lebih suka berbelanja dan mempercantik dirinya sendiri agar Pangeran Yun merasa bahagia dan tidak mengeluarkannya dari kediaman. Lin Zian bisa tahu karena sebelum ia dan Shen Yanzhia menikah, dia terlebih dahulu menyelidiki keluarga Pangeran Yun.
Tidak ada yang mencurigakan dari keluarga itu. Ya, meskipun itu adalah tindakan yang tidak pantas karena Pangeran Yun masihlah seorang pangeran dan keluarga kerajaan. Jika Shen Yanzhia tahu ia menyelidikinya lebih dulu, wanita itu benar-benar akan marah dan membencinya.
Xu Chi datang dari balik pintu ketika Shen Yanzhia sudah menghilangkan seluruh kekhawatirannya. Pelayan setia Lin Zian itu memasukkan beberapa potong arang ke perapian hingga bara api itu kembali menjadi merah dan ruang baca menghangat seketika. Sebelum pergi, Xu Chi menampakkan sedikit keraguan, seperti sedang dilanda kebingungan.
“Ada apa, Xu Chi?” tanya Lin Zian.
“Itu…”
“Itu apa?”
__ADS_1
“Perdana Menteri datang berkunjung dan sekarang sedang menunggu Tuan Muda di aula utama,” jawab Xu Chi ragu-ragu. Ketiga orang di depannya terlihat sangat terkejut. Mengapa orang tua itu datang ke sini di awal musim dingin ini?***