
Satu persatu pelayan Istana Tianli yang berpapasan dengan Shen Yanzhia dan Lin Zian menatap mereka dengan aneh. Bisik-bisik tak mengenakkan pun mulai terdengar dari mulut para pelayan yang tidak tahu sopan santun.
"Bukankah itu Pangeran Qin dan Putri Jing Mei? Mengapa mereka datang kemari?"
"Wah, sungguh matahari sudah terbit dari barat!"
"Mereka mungkin sedang merendahkan diri untuk meminta bantuan Nyonya Agung."
"Benarkah? Kudengar mereka bertengkar hebat karena Putri Duanmu beberapa hari yang lalu."
"Hati-hati dengan bicaramu. Jika sampai terdengar, lidahmu akan langsung terpotong!"
Kedatangan Shen Yanzhia dan Lin Zian ke dalam Istana Tianli tentu saja mengundang banyak perhatian. Bagaimana tidak, pemilik istana ini adalah Selir Duan, Selir Agung yang sudah lama bermusuhan dengan Shen Yanzhia dan Lin Zian. Perselisihan tersembunyi antara Selir Duan dengan keluarga Qin memang sudah menjadi rahasia umum. Siapapun sudah tahu bahwa tiga orang keluarga kerajaan itu memiliki hubungan yang tidak baik dan rumit.
"Jangan dengarkan mereka," ucap Lin Zian sambil menutup kedua telinga Shen Yanzhia dengan telapak tangannya. Pria itu tidak ingin Shen Yanzhia mengalami suasana hati yang buruk atas perkataan-perkataan kurang ajar dari para pelayan yang tidak bermoral.
"Aku tidak apa-apa. Situasi semacam ini sudah sering aku alami."
Sampai di depan pintu utama Istana Tianli, Shen Yanzhia dan Lin Zian disambut para pelayan Seli Duan.
"Kupikir kalian tidak akan datang," cibir Selir Duan. Wanita itu asyik memperhatikan kuku-kuku indahnya yang baru dicat.
"Ah, silakan duduk, tamu terhormat."
Shen Yanzhia sungguh ingin merobek mulut kotor Selir Duan. Pantas saja para pelayan di sini begitu kurang ajar. Perilaku seorang bawahan mencerminkan perilaku atasannya. Jadi, Shen Yanzhia tidak dapat bersabar lagi.
"Tahan, wangfei." Lin Zian menahan pergelangan tangan Shen Yanzhia.
"Pangeran Kedua, apakah menurutmu penampilanku bagus?"
Lin Zian tahu Selir Duan sedang menyindirnya. Emosinya sedikit tersulut, hanya saja masih dapat ia tahan dan masih dapat ia kendalikan.
"Kuberitahu kau, mengirimkan burung pipit yang berisik hanya akan membuat pemburu langsung melesatkan panah ke lehernya."
Selir Yu pasti melakukan kesalahan hingga Selir Duan mengetahui rencana Lin Zian. Jika tidak, rubah betina itu tidak akan repot-repot mengotori istananya yang mewah dengan jejak kaki Lin Zian dan Shen Yanzhia yang sangat tidak ia sukai.
"Selir Duan, katakan tujuanmu memanggil kami kemari!"
__ADS_1
Shen Yanzhia sungguh tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Melihat wajah Selir Duan membuat ia marah dan teringat kembali pada perlakuan buruk selir itu padanya di masa lalu.
Ya, hubungan buruk Shen Yanzhia dan Selir Duan memang bukan sekadar kabar burung belaka. Perselisihannya dengan selir Kaisar itu sudah berlangsung sejak bertahun-tahun lamanya. Shen Yanzhia adalah putri kesayangan Ibu Suri, jadi Selir Duan tidak bisa leluasa mengganggunya. Selir itu hanya dapat mengganggunya dengan cara halus yang dianggap biasa oleh semua orang.
Shen Yanzhia tidak pernah mengira kalau wanita yang menduduki posisi tertinggi setelah ratu di kerajaan ini akan begitu perhitungan dengan gadis kecil sepertinya. Tapi, Shen Yanzhia tidak suka ditindas. Jika seseorang menindasnya, ia harus membalasnya, tidak peduli apakah orang itu adalah pejabat tinggi, keluarga, atau bahkan Kaisar sekalipun. Bagi Shen Yanzhia, mereka sama sekali tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam kehidupannya.
"Aku tahu kalian sedang mencari bukti. Jika kalian mau, aku bisa membantu memberikan sesuatu yang kalian cari."
"Apa kau sedang bernegosisasi dengan kami?" tanya Shen Yanzhia sambil menatap tajam Selir Duan.
"Bukan bernegosiasi, tapi membuat kesepakatan. Jika kau bersedia pergi jauh dari ibukota, aku akan memberikan bukti yang kalian cari."
Hah, selir ini memang sengaja mencari masalah.
"Kau mengusir kami?"
"Bukan mengusir, tapi konsekuensi."
"Selir Duan, apa yang sedang kau rencanakan?"
"Aku? Aku sedang berencana untuk mengambil mahkota saudaramu."
Selir Duan bersorak dalam hatinya ketika melihat Lin Zian dan Shen Yanzhia tersulut emosi. Sebentar lagi, tujuan dari semua rencananya selama ini akan tercapai.
"Kau tidak ingin tahu racun apa yang melemahkan mendiang Putra Mahkota dan mendiang Kaisar hingga membuat mereka mati di medan perang delapan belas tahun yang lalu?"
"Katakan!"
"Kau harus menyetujui kesepakatannya dulu, baru aku bisa memberitahu kalian."
Shen Yanzhia sungguh ingin membungkam mulut berbisa Selir Duan dengan racun dari Ru Xiaolan. Wanita licik ini sedang berusaha membuatnya pergi. Tapi, Shen Yanzhia kemudian tersadar bahwa kepentingan mengenai kebenaran kematian mendiang Putra Mahkota lebih penting dari apapun.
Haruskah ia mengalah? Jika ia pergi, ia bisa mendapatkan petunjuk dan kebenaran mengenai insiden itu dan penyelidikan dapat terus dilanjutkan. Biarlah Lin Zian dan Tang Yin yang melanjutkannya hingga tuntas. Lagipula, tujuannya untuk mengetahui identitas aslinya juga sudah menemui titik terang. Shen Yanzhia dapat berpuas diri dengan pencapaiannya hingga ke titik tersebut.
Ia harus berkorban untuk mendapatkan sesuatu yang besar. Shen Yanzhia memiliki pemikiran panjang. Jika satu kebenaran terungkap, kebenaran yang lainnya juga akan ikut terungkap. Saat semua kebenaran mulai dari racun yang menyebabkan mendiang Putra Mahkota dan mendiang Kaisar melemah hingga mati di medan perang, rahasia ruang bawah tanah Istana Ruo Shui, rahasia korupsi para menteri, rahasia korupsi Perdana Menteri, hingga kasus hilangnya dana militer terbaru terungkap, beban berat yang ditanggung Ibu Suri atas kesedihannya selama delapan belas tahun ini akan menghilang. Negara ini juga akan menyapu bersih tikus-tikus penggigit lumbung padi dan pencuri perampas kesejahteraan rakyat. Sampai pada titik itu, nilai hidup Shen Yanzhia akan sempurna.
Selain itu, mahkota Lin Yang dan keselamatan Lin Zian juga akan terjamin. Selir Duan hanya menginginkan dirinya hilang dari pandangan keluarga kerajaan dan rakyat Dinasti Ling. Dengan begitu, kebencian selir agung itu akan menghilang dan dahaganya terpuaskan.
__ADS_1
"Baik. Aku menyetujuinya!"
"Zhi'er! Apa maksudmu?"
Shen Yanzhia menatap lembut mata Lin Zian yang menyala seperti api. Pancaran sinar mata Shen Yanzhia memberitahu Lin Zian bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi, Lin Zian tetap tidak bisa menerimanya. Kesepakatan yang ditawarkan Selir Duan sangat merugikan dirinta. Dia tidak bisa membiarkan wanita yang dicintainya pergi.
"Ternyata kau tidak berpikiran sempit, Putri Jing Mei. Kalau begitu, aku akan bermurah hati memberitahu kalian."
"Selir Duan, jangan bertele-tele! Cepat katakan!" bentak Shen Yanzhia.
"Apa kalian tahu siapa yang meracuni mendiang Putra Mahkota?"
Selir Duan menjeda perkataannya.
"Ayahmu, Pangeran Qin!"
"Apa? Tidak mungkin!"
"Ya, memang tidak mungkin jika dipikir kembali. Tapi, Kaisar kalian itu sangat naif dan bodoh saat masih muda dulu. Dia tidak menyadari bahwa ia mencelakai saudaranya sendiri."
Tidak ada raut sedih atau penyesalan di wajah Selir Duan. Wanita itu masih asyik memperhatikan kuku-kuku indahnya. Amarah Shen Yanzhia sudah sampai di ubun-ubun kepala. Darahnya mendidih. Wanita itu melompat hendak meraih tangan Selir Duan, tapi tersandung bajunya sendiri hingga ia terjatuh.
"Putri Mei, mengapa sangat terburu-buru?"
"Katakan apa lagi yang kau ketahui?"
"Aku hanya setuju mengatakan sesuatu sampai di sini. Maaf, aku tidak bisa memberitahu apapun lagi."
Lin Zian segera membantu Shen Yanzhia bangkit. Di saat seperti ini, dia harus tetap tenang. Lin Zian tidak bisa gegabah karena istana ini bukanlah miliknya. Jika ia membuat kekacauan di sini, maka Ibu Suri dan Kaisar juga tidak akan bisa menolongnya.
"Aku sudah lelah. Pelayan! Antar Putri Jing Mei dan Pangeran Kedua keluar!"
Dua orang pelayan di sisi Selir Duan memaksa Shen Yanzhia dan Lin Zian keluar dari ruangan dalam Istana Tianli.
"Lepaskan aku!"
Shen Yanzhia menepis tangan pelayan yang menyeretnya.
__ADS_1
"Ah, Putri Jing Mei tersayang, jangan lupakan kesepakatannya. Aku akan mengirim orang untuk melihat apakah kau sudah pergi atau belum tiga hari lagi!"
...***...