RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 35: Menemui Titik Terang


__ADS_3

“Katakan, siapa yang menyuruhmu meminum racun?”


Shen Yanzhia bertanya penuh selidik pada seorang laki-laki yang tengah duduk di atas ranjang. Orang itu, adalah orang sekarat yang terkena racun Rumput Biru, yang telah selesai dirawat dan sekarang kondisinya berangsur-angsur membaik.


“Kau tidak ingin bicara?” Shen Yanzhia kembali bertanya. Orang itu menatap Shen Yanzhia dan Ru Xiaolan secara bergantian. Mulutnya tertutup rapat.


“Beginikah caramu membalas budi?”


Shen Yanzhia mulai merasa kesal. Ia sengaja jauh-jauh datang ke kediaman Pangeran Yun karena Ru Xiaolan memberitahunya bahwa orang itu sudah benar-benar sembuh. Shen Yanzhia ingin melakukan sesuatu yang dapat ia lakukan untuk melanjutkan penyelidikan, meskipun tanpa ada Lin Zian di sisinya. Ia adalah perempuan yang mandiri sebelum ini, ia tak akan mudah bergantung pada yang lain.


Raut wajah orang itu menampakkan ketakutan. Melihat Shen Yanzhia yang mulai kesal, Ru Xiaolan segera menepuk bahunya, memintanya untuk sedikit lebih bersabar ketika menghadapi orang semacam ini. Terlebih lagi, orang ini baru saja sembuh setelah hampir satu setengah musim terbaring. Urat-urat syarafnya mungkin masih kaku karena tak digerakkan dalam waktu yang lama.


“Jangan takut, dia orang yang telah menyelamatkanmu dari racun itu,” tutur Ru Xiaolan, berharap ketakutan di wajah orang itu dapat sedikit berkurang.


“Benarkah?”


Ru Xiaolan mengangguk. Sekarang, raut wajah orang itu perlahan membaik.


“Apa seseorang di Kementrian Kehakiman yang memaksamu?”


Orang itu menggeleng.


“Aku mantan pelayan Istana Yilan,” jawab orang itu.


“Aku tahu."


Orang itu lalu mulai menceritakan kisahnya. Ia memang seorang laki-laki yang pernah bekerja sebagai pelayan Istana Yilan dan keluar tiga tahun lalu, sesuai dengan cerita yang dituturkan Tang Yin. Orang itu juga menceritakan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi bekerja di istana karena orang-orang istana sangatlah kejam dan seringkali membuatnya tidak nyaman. Orang itu bilang, Istana Yilan kediaman mendiang Selir Rui adalah istana yang megah dan indah, yang tidak kalah dengan Istana Ruo Shui dan Istana Guanling. Istana itu adalah istana selir yang paling bagus diantara yang lain.


“Pada akhir musim gugur lalu, seseorang datang padaku dan menyuruhku mati.”


“Mengapa?”


Orang itu tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.


“Aku… Aku-”


Shen Yanzhia menahan perkataan orang itu. Ia mengeluarkan sebuah kertas yang ia selipkan dari dalam lengan bajunya. Surat darah. Surat milik mendiang Putra Mahkota terdahulu, yang sengaja ia pinjam dari Tang Yin.

__ADS_1


“Dari mana kau mendapatkan ini?”


Orang itu sangat terkejut. Bagaimana mungkin surat itu sampai jatuh ke tangannya? Seingatnya, ia sudah menyembunyikan surat itu di ruang bawah tanah rumahnya. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui perihal surat itu selain dirinya dan orang-orang itu.


“Ini adalah tulisan tangan mendiang Putra Mahkota terdahulu. Katakan, apa hubunganmu dengannya?”


Tubuh orang itu bergetar hebat. Melihat surat di tangan Shen Yanzhia, ingatannya kembali pada masa lalu yang sudah terkubur sekian lama. Ru Xiaolan segera menuangkan segelas air putih lalu meminumkannya pada orang itu, berusaha agar orang itu tidak kehilangan kesadarannya kembali karena rasa takut yang sangat besar.


“Jangan takut, katakan saja,” ujar Ru Xiaolan lembut.


Setelah sedikit lebih tenang, orang itu kembali bercerita. Ia sebenarnya bukanlah seorang pelayan, melainkan seorang prajurit penjaga yang selalu mengikuti mendiang Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu. Ia dipindahtugaskan ke perbatasan karena melanggar sebuah peraturan dan dilarang kembali. Meskipun ia seorang prajurit, tak banyak orang yang tahu dan mengenalnya. Orang itu berkata bahwa ia mendapat surat itu dari mendiang Putra Mahkota tepat di hari ketika peperangan besar terjadi. Di hari itu pula, Kaisar dan Putra Mahkota terdahulu tewas.


Orang itu berkata bahwa ia tidak boleh memberikan surat itu kepada siapapun sampai tiba waktunya seseorang datang untuk memintanya. Demi menyelamatkan diri dan menyelamatkan surat itu, ia lari dari medan perang dengan banyak luka panah dan pedang di sekujur tubuhnya. Ia lalu memberanikan diri untuk masuk kembali ke istana sebagai pelayan di Istana Yilan, yang kebetulan baru dibangun sebagai hadiah diangkatnya Selir Rui sebagai selir agung.


“Lalu mengapa kau terkena racun mematikan itu?”


“Aku tidak terlalu memperhatikan gambaran besar karena mataku buta akan keadaan. Beberapa petinggi istana mengetahui wajahku dan identitasku. Mereka memintaku menyerahkan surat itu, bahkan menggeledah rumahku. Karena tidak menemukannya, mereka memutuskan untuk mengawasiku. Aku tidak sengaja mengetahui sesuatu yang mereka rahasiakan.”


Shen Yanzhia tidak tertarik pada hal rahasia para petinggi. Ia hanya tertarik pada surat itu dan seluruh rahasia yang tersembunyi di baliknya. Mengapa mendiang Putra Mahkota menulisnya? Mengapa ia menorehkan darahnya sendiri? Mengapa ia menyuruh orang ini untuk menyembunyikannya?


“Ketika kau menerima surat ini, bagaimana keadaan mendiang Putra Mahkota?”


“Dia baik-baik saja, tapi wajahnya tampak pucat. Mendiang Kaisar saat itu juga tampak pucat.”


Aneh. Jika tubuhnya sehat, mengapa harus menggunakan darah untuk menulis? Bukankah di barak markas prajurit juga tersedia tinta? Shen Yanzhia semakin merasakan kejanggalan. Tidak mungkin mendiang Putra Mahkota melukai jarinya sendiri untuk menulis surat ini. Kecuali, keadaan mendiang Putra Mahkota hanya terlihat baik-baik saja di luar, tapi sedang terluka di dalam!


“Apa sudut mulutnya kering?” tanya Ru Xiaolan.


“Ya.”


Ru Xiaolan dan Shen Yanzhia saling bertatapan.


Racun! Mendiang Putra Mahkota mungkin saja sudah terkena racun! Putra bangsa itu pasti sempat memuntahkan darah dari mulutnya dan segera menulis surat dengan darah itu. Jika dugaan ini memang benar, maka pasti ada seseorang yang sudah merencanakan semua itu dengan matang, hingga membuat kematian Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu tampak seperti kematian biasa akibat perang!


Shen Yanzhia merasakan emosi aneh lagi. Emosi itu lagi-lagi muncul setiap kali bersinggungan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan mendiang Putra Mahkota. Sungguh, ini benar-benar aneh dan tidak dapat dikendalikan. Shen Yanzhia membalikkan tubuhnya, membelakangi orang itu dan membelakangi Ru Xiaolan.


Matanya terasa panas. Jika kematian mereka disengaja, maka bangsa ini telah ditipu selama belasan tahun! Daratan Ling ini berisi orang-orang bodoh yang tidak mengetahui penyebab pasti kematian dua pemimpin mereka sendiri! Orang-orang itu bodoh, pejabat istana itu bodoh, semua keluarga kerajaan bodoh, ia juga bodoh!

__ADS_1


Shen Yanzhia merutuki pemikirannya sendiri yang tidak mampu berpikir jernih di saat seperti ini. Ia mengambil sebuah belati yang terselip di pinggangnya dan mengarahkannya kepada orang itu. Sontak saja Ru Xiaolan dan orang itu terkejut setengah mati, tidak menduga bahwa wanita ini membawa belati dan menodongkannya secara terang-terangan.


“Nona, apa yang kau lakukan?” Ru Xiaolan bertanya dengan panik.


“Orang bodoh ini harus mati! Bagaimana mungkin ia begitu bodoh menuruti perkataan mendiang Putra Mahkota dan lari bersembunyi sebagai pelayan di Istana Yilan?”


“Nona tenanglah!”


“Jika saja orang ini segera memberikan suratnya kepada Ibu Suri, apa mungkin seluruh rakyat Ling hidup damai tanpa tahu apa-apa seperti sekarang dan membiarkan Putra Mahkota dan mendiang Kaisar mati begitu saja?”


Amarah menggelora di dalam dadanya. Bagaimana ia bisa begitu tidak peduli selama ini? Mengapa ia harus mengetahui ini setelah ia menikah dengan Lin Zian?


Shen Yanzhia menyayangi Ibu Suri seperti ibu kandungnya sendiri, ia tidak mungkin membiarkan wanita mulia itu bersedih dan kehilangan dua orang tercintanya dengan sia-sia!


“Nona, jangan terburu-buru! Kita masih haru menunggu Tuan Muda Lin Zian datang agar semuanya menjadi lebih jelas!”


Ru Xiaolan hendak merebut belati di tangan Shen Yanhzia dengan paksa. Tabib itu bahkan memblokir bagian tajam belati yang mengarah langsung ke dada orang itu hingga telapak tangannya berdarah. Orang itu bergetar ketakutan melihat amarah Shen Yanzhia.


Wajah Shen Yanzhia semakin menegang. Air mata tiba-tiba meleleh dari kedua sudut matanya. Ia masih tidak ingin menurunkan belati itu. Matanya menatap tajam orang itu seolah ia ingin membunuhnya dalam satu kali tusukan. Giginya bergemerutuk. Kilatan amarah di matanya semakin lama semakin mengerikan.


“Nona, tenanglah! Untuk apa kau bersusah payah membuat penawar jika pada akhirnya kau ingin membunuhnya?”


Shen Yanzhia masih tak bereaksi.


“Kumohon, Nona. Jika Tuan Muda Lin Zian tahu, apa yang akan ia pikirkan tentangmu? Bukankah ia akan kecewa?”


Mendengar nama Lin Zian, sorot mata menyala Shen Yanzhia perlahan meredup. Wajah tegangnya mulai mengendur. Belati di tangannya terjatuh begitu saja di atas selimut yang sudah tertetesi darah dari telapak tangan Ru Xiaolan. Wanita itu mengusap air matanya dengan kasar.


“Nona, kau harus bersabar hingga Tuan Muda pulang,” ujar Ru Xiaolan sambil mengambil belati di atas selimut.


“Ayahmu menitipkan pesan padaku agar kau tetap tenang dan mengendalikan dirimu,” lanjutnya. Shen Yanzhia membalikkan tubuhnya.


“Aku akan pulang ke kediaman Qin.”


Wanita itu kemudian berjalan pergi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2