RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 29: Ikatan Misterius


__ADS_3

Perpustakaan pribadi Pangeran Qin menjadi hangat karena perapian. Ruangan itu menyala terang seperti aula istana hingga tidak ada kegelapan yang tersisa di celah manapun. Meja bundar dari kayu pohon willow yang biasa digunakan untuk membaca dan menulis dikelilingi empat orang manusia berjubah hijau, biru, putih, dan abu-abu. Di tengah meja itu terdapat sepoci teh panas dan gelas-gelas cantik, lengkap dengan kue kacang hijau yang dicampur dengan madu asli.


“Xiaolan, bagaimana keadaan orang itu?” tanya Lin Zian kepada gadis berjubah abu-abu di depannya.


“Sudah membaik berkat penawar yang diberikan Nona Shen,” jawab Ru Xiaolan singkat.


“Baguslah.”


“Kalian memanggilku hanya untuk menanyakan ini?” tanya Ru Xiaolan sambil meneguk secangkir teh.


“Tidak, Tabib Ru. Kami ingin mengajakmu bekerja sama,” jawab Tang Yin.


Detektif muda itu menatap Ru Xiaolan dengan tajam seolah sedang menatap musuh.


“Aku tidak ingin terlibat.”


Ru Xiaolan menolak. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam penyelidikan berbahaya ini. Tugasnya hanya menjaga dan mengobati orang itu hingga sembuh dan sehat kembali, bukan terseret masuk dalam pusaran penyelidikan seperti ini. Ia akan sangat berterima kasih jika Lin Zian dan Shen Yanzhia melepaskannya setelah orang yang mereka butuhkan sadar dari ambang kematiannya.


Ru Xiaolan melihat raut tak terima dari Tang Yin dan Lin Zian. Kedua pria di hadapannya ini tidak mungkin melepasnya dengan mudah. Ia lalu menatap Shen Yanzhia, berharap gadis yang sudah ia anggap sebagai saudara perempuannya beberapa bulan yang lalu itu dapat membantunya. Tapi, gadis di sampingnya itu malah menatap kosong ke arah depan, ke tumpukan salju yang berkumpul di atas batu-batu hiasan.


Shen Yanzhia sedang berada dalam lamunan. Hatinya masih merasakan sakit yang entah datang dari mana. Kemudian, ia teringat kembali pada pertanyaan Ibu Suri ketika dirinya berada di dalam Istana Ruo Shui beberapa hari yang lalu.


Saat itu, Lin Zian sudah pergi lebih dahulu ke tempat pelatihan, meminta bantuan prajurit rahasianya untuk membantunya memindahkan peti-peti emas dan perak yang akan digunakan untuk mengevakuasi penduduk di sekitar sungai yang membeku.


“Zhi’er, bagaimana hubunganmu dengan Lin Zian?” tanya Ibu Suri kala itu.


Shen Yanzhia, yang memang tidak memikirkan apa-apa menjawabnya dengan santai tanpa beban bahwa hubungannya dengan Lin Zian cukup baik. Pria itu cocok dijadikan teman bercerita untuknya. Ia juga bercerita kalau ia cukup sering bertengkar karena pria itu selalu bersikap menyebalkan. Sungguh sebuah jawaban yang benar-benar jujur dari seorang gadis polos sepertinya.


Ibu Suri menghela napas lelah. Gadis ini ternyata tidak mengetahui maksud dari pertanyaannya. Sudah hampir enam bulan menikah, dan sudah dua musim berlalu, belum ada kabar baik yang sampai kepadanya dari dua orang itu. Shen Yanzhia sepertinya sungguh menganggap hubungan pernikahan ini sebagai formalitas dan main-main saja. Gadis itu sama sekali tidak tahu arti dari sebuah pernikahan, apalagi pernikahan seorang pangeran dan seorang putri.


“Kalian pernah tidur bersama?” tanya Ibu Suri lagi.


“Mengapa Yang Mulia menanyakan itu?”

__ADS_1


“Aku hanya ingin tahu.”


“Kami mempunyai kediaman masing-masing. Tidak ada alasan yang mengharuskan kami berada di kamar dan ranjang yang sama.”


“Kau benar-benar tidak mengerti?”


Shen Yanzhia menggelengkan kepala. Mengapa Ibu Suri terus mempertanyakan hal yang konyol seperti itu? Sungguh, ia sama sekali tak mengerti maksud dari semua pertanyaan Ibu Suri. Wanita tua itu bertanya keadaan hubungannya dengan Lin Zian, maka Shen Yanzhia menjawabnya dengan jujur sesuai dengan kenyataan yang ada. Tapi, jawabannya sepertinya sangat tidak memuaskan Ibu Suri.


“Sepertinya, aku tidak akan dapat menyulam sepasang sepatu kecil dalam waktu dekat,” ujar Ibu Suri setelah beberapa saat. Ia memijat keningnya sendiri. Kemudian, ia memanggil pelayannya, Mi Shaoshi, untuk membawanya kembali ke Istana Guanling.


“Wangfei, bagaimana denganmu?”


Suara Lin Zian membuyarkan lamunannya. Ia menoleh pada suaminya dengan tatapan tanya. Sungguh, ia sama sekali tak bisa mendengar percakapan dan sesuatu yang sedang mereka diskusikan di ruangan ini karena pikirannya sedang melayang jauh.


“Apa?”


“Apa yang kau ingat ketika kau berada di dalam Istana Ruo Shui?”


Ia belum sempat melihat lebih dekat karena matanya tiba-tiba mengeluarkan air mata ketika tatapannya kembali kepada lukisan mendiang Putra Mahkota. Shen Yanzhia baru dapat melihat dengan jelas ketika ia mencuri-curi waktu saat Ibu Suri sedang tertidur di Istana Ruo Shui.


“Detektif Tang, kau membawa surat darah itu?”


Tang Yin lalu mengeluarkan kertas berisi tulisan merah yang beberapa kali dilihat Shen Yanzhia. Detektif itu lalu meletakannya di atas meja dan membentangkannya hingga seluruh tulisan itu terpampang dengan jelas. Shen Yanzhia mengarahkan pandangannya pada tulisan di surat itu, mencoba mengingat lalu menyamakannya dengan tulisan yang ia lihat di Istana Ruo Shui. Bentuk, corak, guratan, bahkan ketebalannya hampir sama persis seperti tulisan di Istana Ruo Shui. Tanpa dipastikan sekali lagi pun, ia sudah tahu bahwa pemilik tulisan puisi di Istana Ruo Shui dengan pemilik surat darah ini adalah orang yang sama.


“Tulisan ini sama persis dengan tulisan puisi yang kulihat di Istana Ruo Shui.”


“Kau tahu siapa pemiliknya?” tanya Tang Yin tidak sabar.


Shen Yanzhia menghela napas sejenak.


“Mendiang Putra Mahkota terdahulu.”


Tang Yin dan Lin Zian sontak terkejut. Jika perkataan Shen Yanzhia benar, maka Lin Zian dapat memastikan ada yang tidak beres dengan kematian Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu. Keduanya tidak mungkin gugur begitu saja di medan perang karena Kaisar terdahulu dan mendiang Putra Mahkota adalah kesatria yang unggul dan sangat disegani.

__ADS_1


Apalagi, perang itu dipimpin langsung oleh Kaisar dan Putra Mahkotanya. Puluhan ribu prajurit yang sedang bersama keduanya pasti akan lebih mengutamakan keselamatan raja dan calon penerus raja mereka dibanding diri mereka sendiri. Setelah bertahun-tahun berlalu pun, kematian keduanya masih dianggap kematian biasa. Tidak ada satu orang pun di negeri ini yang berani berbicara atau mengungkitnya.


Dulu, Lin Zian selalu berpikir bahwa kematian mengerikan itu begitu menyakitkan bagi seluruh penduduk daratan Ling hingga mereka semua bungkam dan tidak ingin membahasnya.


Memangnya siapa yang suka mengungkit kemalangan dan kepedihan dari sebuah kematian? Tidak ada satu manusia pun yang sanggup menahan sakit ketika ia mengulang kembali ingatan menyakitkan perihal seseorang yang sangat disayangi, dihormati dan disegani, bahkan seseorang itu telah membuat yang lain rela mati dengan ketulusan hati.


Lin Zian belum bisa menarik kesimpulan hanya dengan mengandalkan bukti berupa surat darah dan untaian puisi di Istana Ruo Shui. Ia memerlukan petunjuk lebih lanjut jika ingin mendapatkan kepastian yang lebih meyakinkan, sehingga dirinya dapat menyimpulkan apakah kematian dua orang penting itu disengaja atau memang karena kecelakaan saja. Orang sekarat yang sudah berangsur-angsur sembuh yang dirawat Ru Xiaolan mungkin bisa menjadi petunjuk berikutnya.


Shen Yanzhia kembali tidak bisa fokus pada pembicaraan yang sedang berlangsung di hadapannya. Pikirannya melayang jauh ke suatu tempat yang tidak pernah dikenalinya. Tempat itu sangat jauh, tetapi memiliki taman dan istana dengan keindahan yang tidak ada bandingannya.


Shen Yanzhia melihat seseorang yang sangat bersahaja dan tampak mulia melambaikan tangan padanya dari tempat itu, seolah-olah memanggilnya untuk datang dan ikut masuk untuk menikmati keindahan yang ada di hadapan matanya. Orang itu memegang sebuah kipas putih bermotif bunga persik dan bunga prem yang dihiasi kaligrafi indah di pinggirnya. Ujung kipas itu memiliki sebuah rumbai hitam yang panjang.


Hati Shen Yanzhia gerimis begitu ia melihat orang yang melambaikan tangannya tersenyum penuh kasih kepadanya. Ia seolah-olah melihat seorang malaikat tanpa sayap yang siap membawanya terbang ke mana saja, menyusuri seluruh alam semesta dan mengarungi seluruh daratan kekaisaran Ling yang luas dan indah ini. Orang itu seperti menariknya pada suatu simpul kusut yang harus ia putuskan sendiri. Air mata Shen Yanzhia mengalir begitu saja seperti saat ia berada di Istana Ruo Shui. Orang itu perlahan menghilang di balik kabut putih yang menghalangi pandangan matanya.


“Wangfei, Anda menangis?” Suara Tang Yin membuyarkan kembali lamunannya.


“Di mana orang yang memegang kipas itu? Zian, di mana orang itu?”


Melihat permaisurinya menangis dan mengatakan pertanyaan aneh seperti itu, Lin Zian menjadi sangat khawatir. Ia mengambil tangan kanan Shen Yanzhia yang bergetar lalu menggenggamnya erat, mencoba memberikan ketenangan melalui sentuhan yang lembut dan hangat. Sebelah tangannya terulur untuk meraih bahu Shen Yanzhia, menarik kepalanya untuk bersandar di bahunya. Shen Yanzhia semakin terisak. Getaran tubuhnya bahkan dapat dirasakan dengan jelas oleh Lin Zian.


“Kau ingin istirahat?” tanya Lin Zian kemudian. Shen Yanzhia masih menangis.


“Kalian tunggulah di sini. Aku akan mengantar wangfei ke kamarnya.”


Lin Zian menggendong tubuh Shen Yanzhia dengan perlahan. Gadis itu tertidur setelah beberapa saat. Wajahnya basah oleh air mata. Lin Zian tahu bahwa permaisurinya itu menangis karena membayangkan seseorang yang belum pernah dilihatnya di dunia nyata. Orang itu adalah mendiang Putra Mahkota. Lin Zian sangat tahu Shen Yanzhia yang selalu menjadi lebih emosional setiap kali bersinggungan dengan nama Putra Mahkota atau lukisan atau segala sesuatu yang terkait dengan orang yang sudah tiada itu.


Entah ikatan misterius apa yang telah mengikatkan simpul kusut di hati Shen Yanzhia dengan sosok mendiang Putra Mahkota. Putri Pangeran Yun itu bahkan baru lahir ke dunia setelah satu tahun kematian Putra Mahkota, sehingga tidak mungkin keduanya terlibat kontak secara langsung.


Lin Zian membaringkan tubuh tertidur Shen Yanzhia di Paviliun Timur. Ia sengaja tak membawanya ke Paviliun Barat karena hujan salju masih turun dan tubuh Shen Yanzhia mungkin saja akan menggigil kedinginan jika terlalu lama berada di luar.


Setelah menyelimuti tubuh Shen Yanzhia, Lin Zian menatap lekat wajah gadis itu. Tangannya bergerak merapikan rambut yang menutupi sebagian wajah pualamnya. Wajah damai itu begitu mempesona. Setelah puas memandangi wajah permaisurinya, Lin Zian bergegas kembali ke perpustakaan pribadinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2