RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 40: Laporan


__ADS_3

Ketika matahari pagi menyapa kota Rouwu, dan ketika para penduduk kota sedang bersiap memulai hari, Lin Zian sudah bersiap pergi dengan pakaian istana. Jubah putih beraksen sulaman emas di pinggir-pinggirnya yang indah menjuntai, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Rambutnya disanggul persis seperti kebanyakan pemuda pada umumya. Hanya saja, hiasan di sanggulnya lebih mewah karena terbuat dari perak.


Shen Yanzhia membantunya memakaikan ikat pinggang. Wanita itu juga menyelipkan gantungan giok hiasan berwarna hijau muda di celah ikat pinggang suaminya. Shen Yanzhia menatap Lin Zian dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan bahwa penampilan sempurna Lin Zian tanpa kurang apapun.


“Baiklah, kau sudah bisa pergi,” ujar Shen Yanzhia.


Wanita itu berbalik hendak meninggalkan Lin Zian. Pria itu tiba-tiba menarik Shen Yanzhia hingga tubuh wanita itu merapat ke tubuhnya. Sesaat, kedua mata mereka bertemu tatap.


“Lepaskan aku!”


“Kenapa? Bukankah tadi malam kau memelukku dengan erat?”


Pria itu terkekeh. Sangat menyenangkan menggoda Shen Yanzhia karena wajah wanita itu selalu memerah dan langsung marah. Bagi Lin Zian, wajah marah Shen Yanzhia sangat lucu dan imut ketika marah.


Lin Zian menempuh perjalanan yang sangat melelahkan untuk sampai tepat waktu. Rute tercepat yang membutuhkan waktu satu minggu ia pangkas menjadi empat hari dengan berkuda seorang diri. Siang ia tidak berhenti, ketika malam ia hanya beristirahat sebentar. Ini lebih menyiksa dibandingkan berada di medan perang.


Jika tadi malam ia datang telambat sebentar saja, Shen Yanzhia mungkin sudah menjadi tubuh tanpa nyawa. Lin Zian melihat dengan jelas ketika tubuh istrinya itu terlempar jatuh dari menara kota. Ia langsung melompat dari kudanya dan menangkap tubuh kecil itu setelah menggunakan ilmu meringankan tubuh.


“Itu karena kau menyelamatkanku!”


Melihat Shen Yanzhia memberontak, Lin Zian semakin merasa gemas.


“Kau tidak ingin menyapa para selirmu?”


“Selir?”


Shen Yanzhia mengangguk.


“Mereka datang beberapa hari lalu.”


“Mengapa ada selir di kediamanku?”


“Kau tidak ingin bertanya pada istri ayahmu?”


Lin Zian mengerutkan kening. Ia kesal karena Selir Duan sepertinya sengaja mengusik kedamaian di kediamannya. Selir? Bagaimana mungkin ia mendapatkan selir ketika dirinya sedang tidak berada di kediaman? Apalagi, bukan hanya satu orang, tapi tiga!


Menghadapi Shen Yanzhia seorang saja sudah cukup membuatnya repot. Sekarang, ditambah tiga orang lagi. Kebanyakan pangeran memang bergembira ketika mendapat selir tanpa harus memilih sendiri.


Mereka biasanya melontarkan semacam pertanyaan seperti, apakah ia cantik? Apakah ia berbakat? Apakah ia berasal dari keluarga terhormat? Tapi bagi Lin Zian, kedatangan selir adalah sebuah bencana. Pria itu akan kesulitan menghadapi hari-hari di masa depan.


“Kita bicarakan nanti.”

__ADS_1


Lin Zian lalu pergi. Kereta kudanya melaju cepat membelah jalanan ibukota.


Setelah beberapa lama, pria itu sampai di depan gerbang istana. Seorang penjaga datang menghampirinya dan membantunya turun dari kereta. Lin Zian kemudian berjalan menyusuri pelataran megah yang sudah berdiri selama ratusan tahun itu dengan langkah tegap. Satu persatu anak tangga ia naiki hingga ia sampai pada pintu masuk aula pengadilan yang terbuka. Di dalam sana, ia dapat melihat puluhan menteri berbaris menunggu rapat dimulai.


Atensi para menteri itu teralihkan ketika seorang kasim memberitahu bahwa Pangeran Kedua memasuki aula. Mereka terkejut karena tidak menyangka sang Pangeran Kedua kembali secepat ini tanpa pemberitahuan apapun. Ketika Lin Zian berjalan melewati barisan para menteri, mata mereka sontak mengikuti setiap langkah kakinya hingga ia benar-benar sampai di tempatnya, di altar pangeran yang terletak persis di depan barisan para menteri yang menghadap langsung pada singgasana Kaisar.


Tidak lama setelah itu, kasim lainnya berteriak memberitahukan bahwa Putra Mahkota memasuki aula. Ketika Lin Yang sampai di aula, Lin Zian dan semua orang yang berada di sana menunduk memberi hormat dan mengucapkan doa panjang umur padanya. Setelah itu, semua orang di dalam aula pengadilan dipersilahkan untuk mengangkat kepala mereka seperti semula.


Lin Yang melirik Lin Zian yang sedang berdiri beberapa jarak di hadapannya. Pria itu tersenyum. Lin Zian balas tersenyum sambil menunduk memberi hormat ketika kakaknya itu meliriknya. Ini adalah kali pertama ia bertemu kembali dengan Lin Yang setelah beberapa bulan.


Sang Putra Mahkota itu tidak ingin membuang banyak waktu. Rapat pengadilan segera dimulai. Beberapa orang menteri maju melaporkan sesuatu secara bergantian. Mereka juga tak jarang berdebat atas permintaan saran dan kritikan dari laporan yang mereka sampaikan. Ketika tiba giliran Lin Zian, Perdana Menteri mendahuluinya.


“Yang Mulia, Pangeran Kedua kembali setelah berperang tanpa pemberitahuan apapun. Tidakkah ia pantas dihukum karena telah menimbulkan kekhawatiran untuk kerajaan kita?”


Lin Zian berdecih. Lidah pria tua itu sungguh pandai sekali bersilat, sama seperti putrinya, Selir Duan. Dulu, Perdana Menteri begitu bersikukuh mendorong Lin Zian di hadapan Lin Yang untuk pergi ke perbatasan. Sekarang, setelah ia kembali, pria tua itu masih saja berusaha membuatnya tersudut. Untung saja ia tidak punya hubungan apapun dengan orang tua itu. Kunjungannya ke kediaman beberapa bulan yang lalu juga tidak pernah Lin Zian anggap. Jika tidak, Lin Zian benar-benar masuk ke dalam lubang buaya.


“Apa Tuan Perdana Menteri tidak menginginkan berita membahagiakan yang kubawa?” Lin Zian dengan berani menyanggah Perdana Menteri.


“Adikku datang membawa sesuatu yang sangat penting. Didi, berita apa yang kau bawa?”


Lin Zian mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.


Semua orang di dalam aula tersebut terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa ada hal seperti itu. Lin Zian benar-benar membawa berita membahagiakan. Seluruh menteri berdiskusi satu sama lain, beradu pendapat perihal persetujuan perdamaian dengan kerajaan Xiaxi yang sudah menjadi musuh bebuyutan selama puluhan tahun.


“Beberapa minggu lagi, putri dari Xiaxi akan datang sebagai utusan perdamaian. Aku akan memberitahu Fuwang. Persiapkan semuanya dengan baik!” perintah Lin Yang pada semua orang.


“Kakak, tetaplah waspada. Kita tidak tahu rencana apa yang sedang dipersiapkan Kaisar Xiaxi melalui putri utusannya itu,” peringat Lin Zian. Di manapun dan dalam kondisi apapun, semuanya harus tetap waspada.


Lin Yang mengangguk. Setelah adiknya selesai dan setelah semua laporan sudah disampaikan, rapat pengadilan dibubarkan. Lin Yang lalu mengajak Lin Zian pergi menjenguk Kaisar. Lin Zian hendak menolak, tapi kakaknya itu menarik tangannya dan menyeret Lin Zian ke istana pribadi Kaisar.


...***...


Shen Yanzhia mengunci pintu kamar Paviliun Timur. Wanita itu sekarang berdiri congkak menatap Lin Zian yang sedang duduk sambil menulis sesuatu. Tangan Shen Yanzhia terlipat di dada. Melihat Lin Zian yang tetap tenang ketika dirinya berulah, Shen Yanzhia menjadi curiga. Ia memicingkan mata, tapi tak berpengaruh apapun pada pria itu.


“Katakan, apa yang terjadi di pengadilan? Kau memberikan mereka wajah?”


Lin Zian menggelengkan kepala lembut. Pria itu memainkan jemarinya di atas bentangan kertas. Jari-jarinya yang lembut menorehkan tinta dengan perlahan, menggoreskan kaligrafi indah yang tersusun menjadi sebuah untaian puisi musim semi.


“Kau tak ingin memberitahuku?”


Lin Zian menggeleng kembali. Shen Yanzhia menatap pria itu dengan kesal. Ia benar-benar merasa dipermainkan.

__ADS_1


“Baik. Kalau begitu, aku tidak akan memberitahumu sesuatu yang kudapat selama kau pergi,” ancam Shen Yanzhia sembari hendak berbalik pergi. Ekor mata Lin Zian menangkap pergerakan Shen Yanzhia. Ia langsung melompat dan menahan pergelangan tangan istrinya lalu membawanya ke pelukannya.


“Kenapa kau menjadi lebih pemarah setelah aku pergi?”


Shen Yanzhia mengerucutkan bibirnya. Ia tidak menolak pelukan itu, tapi juga tak membalasnya. Shen Yanzhia menikmati setiap detik yang ia lalui dalam dekapan Lin Zian tanpa perlawanan. Setelah beberapa lama, Lin Zian melepaskan pelukannya dan membiarkan Shen Yanzhia membentuk jarak.


“Aku menanyai orang itu.”


“Apa jawabannya?”


“Dia mantan prajurit. Surat darah itu diberikan langsung padanya oleh mendiang Putra Mahkota.”


“Dia memberitahu siapa yang meracuninya?”


Shen Yanzhia menggeleng. Saat itu, ia terlalu terburu-buru hinggal langsung menjuruskan topik pembicaraan ke surat darah sebelum orang itu menjawab siapa yang menyuruhnya meminum racun. Ia juga terlalu emosi. Lin Zian memaklumi perubahan emosi pada diri Shen Yanzhia. Pria itu mengusap kepala Shen Yanzhia dengan lembut.


Shen Yanzhia lalu menceritakan semua yang ia tahu apa yang terjadi pada hari itu. Sesekali ia memelankan suaranya. Ia juga menceritakan ketika dirinya tidak bisa menahan emosi dan hampir mencelakai orang itu. Setelah selesai bercerita, Shen Yanzhia melanjutkannya dengan menceritakan pertemuannya dengan Mo Ran dan Zhi Hao’er tempo hari lalu.


“Kita menemui titik terang,” ujar Lin Zian.


“Tapi, aku tidak bisa menyelesaikannya,” keluh Shen Yanzhia.


“Tidak apa-apa. Kita pecahkan semua misteri ini bersama-sama.”


Shen Yanzhia menarik ujung baju Lin Zian seolah sedang memohon sesuatu.


“Kenapa?”


“Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan pergi lagi,” ucap Shen Yanzhia pelan.


“Aku akan berusaha.”


Suara ketukan pintu mengalihkan atensi keduanya. Di luar, tiga orang wanita sedang menunggu dengan tenang. Xu Chi berteriak memberitahukan bahwa tiga orang wanita itu ingin bertemu dengan Lin Zian karena mereka belum sempat mengunjunginya tadi pagi ketika Lin Zian bersiap masuk istana. Shen Yanzhia saling bertatapan dengan Lin Zian.


“Ketiga selirmu datang. Mereka tidak boleh tahu aku di sini.”


Shen Yanzhia melompat keluar dari jendela belakang tanpa menunggu persetujuan dari Lin Zian. Tubuh wanita itu jatuh tepat di atas bunga-bunga indah yang sedang bermekaran hasil keterampilan tangannya. Melihat bunga-bunga itu rusak dan patah, Shen Yanzhia menyesal. Bunga-bunga indah hasil tanamnya berantakan.


Lin Zian menatapnya dari dalam ruangan. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku ceroboh permaisurinya. Wanita ini tidak pernah bisa berhati-hati!


...***...

__ADS_1


__ADS_2