
Sepi.
Istilah itulah yang tepat untuk menggambarkan kediaman Qin saat ini. Sepeninggal Shen Yanzhia, kediaman Qin seperti sebuah bangunan terbengkalai di tengah keramaian. Pelayan dan pengurus beraktivitas, tapi semuanya seperti sebuah bayangan yang tidak dapat ditembus. Tidak ada yang tahu ke mana Shen Yanzhia pergi.
Hari-hari Lin Zian menjadi suram. Pria itu tidak lagi menampilkan senyuman kepada siapapun yang kebetulan berpapasan dengannya. Bahkan, ia hanya akan keluar dari Paviliun Timur ketika ada urusan yang benar-benar penting.
Di dalam kamarnya, Lin Zian tak henti-hentinya memandang lukisan istrinya yang ia lukis secara diam-diam. Kehilangan Shen Yanzhia adalah kebodohannya sendiri, karena dia tidak mampu bertukar posisi dengan wanita itu. Lin Zian juga tak henti-hentinya menyuruh para bawahannya untuk mencari tempat pengasingan Shen Yanzhia.
Dia tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan Ibu Suri dan Pangeran Yun. Lin Zian tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada dua orang itu. Jika kelak mereka bertanya ke mana Shen Yanzhia pergi, Lin Zian sungguh tidak bisa menjawabnya, karena dirinya sendiri pun tidak tahu ke mana wanita itu pergi.
Selir Duan benar-benar keterlaluan. Berani sekali rubah betina itu menyingkirkan Shen Yanzhia dari pandangannya dan dari pandangan Ibu Suri. Seandainya Kaisar masih sehat dan Lin Yang mudah ditemui, mereka pasti tidak akan terima dengan perbuatan Selir Duan.
"Tuan Muda, Detektif Tang datang untuk bertemu denganmu," teriak Xu Chi dari balik pintu. Lin Zian segera menata kembali hati dan pikirannya. Dia tidak boleh terlihat kacau di depan Tang Yin.
Di gazebo tempat biasa keduanya berkumpul, Lin Zian memberitahukan bahwa ia menemukan bukti korupsi para menteri dan Perdana Menteri. Dia juga memberitahu Tang Yin bahwa kematian Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu bukanlah murni kematian karena perang, melainkan karena racun yang membuat tubuh keduanya lemah hingga tidak bisa bertahan di pertempuran. Pria yang baru kehilangan istrinya itu juga mengatakan bahwa orang yang meracuni mereka tanpa sadar adalah Kaisar saat ini.
Tang Yin tentu sangat terkejut dengan penuturan Lin Zian. Tidak disangka, kebenaran terungkap lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
"Wangye, aku sudah menyelidiki orang yang kau perintahkan untuk kuselidiki. Kekayaan Perdana Menteri memang meningkat pesat selama dua tahun ini. Tapi, dari mana ia mendapatkan uang-uang itu, aku belum dapat memastikannya. Ternyata, orang ini memang sudah berkorupsi selama belasan tahun. Aku juga menemukan bukti kalau dana militer yang hilang sebagian masuk ke dalam peti harta Perdana Menteri."
"Selidiki lagi. Jangan sampai melewatkan satu petunjuk pun."
"Wangye, perihal racun yang tanpa sadar diberikan Kaisar kepada mendiang Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu, aku rasa seseorang pasti ada di belakangnya. Orang ini meminjam tangan ayahmu untuk menyingkirkan Putra Mahkota dan Kaisar."
"Aku ingat, wangfei pernah mengatakan bahwa orang yang membunuh paman dan kakekku bernama Situ Ting Yue. Aku tidak tahu apakah ini semua saling berkaitan atau tidak."
Lin Zian menghela napas. Penyelidikan ini semakin rumit. Semakin banyak petunjuk, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan. Semakin banyak pula nama-nama orang yang terlibat terungkap identitasnya.
Maka, semakin besar pula bahaya yang mengintai.
Langkah yang harus diambil Lin Zian saat ini adalah mengetahui siapa Situ Ting Yue dan siapakah orang yang menggunakan tangan Kaisar untuk meracuni mendiang Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu. Jika dua orang ini berhasil diketahui atau ditemukan, maka jalan kebenaran akan menjadi semakin terang.
"Wangye, kita setuju untuk menunda penyelidikan sampai pernikahan perdamaian dilakukan. Mengapa wangye mengubah rencananya?"
"Aku khawatir kita tidak punya banyak waktu lagi."
__ADS_1
Tang Yin tahu Lin Zian sedang merahasiakan sesuatu darinya. Dia tahu bahwa Lin Zian sedang berusaha keras menutupi kesedihan yang entah disebabkan karena apa di depannya. Tuannya ini berlagak kuat, padahal hatinya juga rapuh.
"Di mana wangfei?"
Lin Zian terpaku sesaat.
"Dia... Dia sedang pergi ke luar kota."
"Tanpa membawa pelayan dan tanpa pengawalan?"
"Jika kau sudah selesai, aku akan kembali ke Paviliun Timur."
Tebakan Tang Yin benar. Lin Zian tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu memang menyembunyikan sesuatu. Tapi, Tang Yin juga tidak bisa memaksa Lin Zian untuk memberitahunya. Suasana hati pria itu sedang kurang baik. Jika dipaksa, Tang Yin khawatir akan berpengaruh buruk pada penyelidikan yang hampir selesai.
Pria itu pamit undur diri. Sebelum mencapai gerbang, dia melihat ke sekeliling. Ia sungguh berharap bisa melihat wanita yang berhasil membuat hatinya tergerak namun tak mungki dicapai. Sayang, dia harus kecewa karena wanita itu tidak ada.
Selepas kepergian Tang Yin, Lin Zian benar-benar kembali ke Paviliun Barat. Dia menenggelamkan dirinya ke dalam buku-buku yang sering dibaca Shen Yanzhia semasa wanita itu masih ada di sini.
Lin Zian merindukan Shen Yanzhia. Dia merindukan senyum manisnya. Dia merindukan wajah merah padam Shen Yanzhia ketika marah. Dia merindukan kehangatan Shen Yanzhia yang membuatnya merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Lin Zian benar-benar merindukan gadis itu.
...***...
Hatinya hancur ketika melihat wanita yang menjadi panutannya terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur mewahnya. Wajah berseri yang biasa ia lihat saat datang kemari sekarang begitu putih seperti tanpa darah. Tidak ada senyum penuh kewibawaan di bibir wanita tua itu.
"Bagaimana keadaannya?"
"Wangye, saya sudah memberinya obat. Yang Mulia hanya perlu beristirahat beberapa hari," jawab Mi Shaoshi sambil membereskan mangkuk obat dan kain lap. Pelayan itu kemudian keluar meninggalkan Ibu Suri dan Lin Zian.
Kekuatan hatinya diuji kembali. Dua keadaan menyedihkan yang terjadi berturut-turut ini membuat Lin Zian hampir menggila. Dua wanita yang sangat disayanginya itu membuat seluruh hidupnya seperti terombang-ambing di lautan lepas. Lin Zian seperti seorang manusia di tengah padang pasir yang tersesat.
"An'er," Ibu Suri memanggilnya lirih.
"Yang Mulia, aku di sini," ujar Lin Zian sambil memegang tangan Ibu Suri yang dingin.
"Apa Zhi'er sudah kembali?"
__ADS_1
"Maksud Yang Mulia?"
"Selir Duan, Selir Duan pasti mempersulit kalian."
Lin Zian menunduk dalam. Sekeras apapun ia berusaha menyembunyikan kepergian Shen Yanzhia, Ibu Suri pasti akan tetap mengetahuinya. Bahkan di istana ini, dinding dan lantai menjadi lebih tajam pendengaran dan penglihatannya. Lin Zian merasa tidak sanggup mengatakan apapun. Dia sungguh tidak tahu cara menghadapi Ibu Suri.
"Aku tahu kau mengkhawatirkanku. An'er, tenanglah. Aku hanya lelah."
Ibu Suri mengusap air mata yang turun di pipi Lin Zian. Hatinya juga sakit saat ia tahu Selir Duan mengirim Shen Yanzhia pergi tanpa sepengetahuannya. Dia juga sedih saat mendengar kabar bahwa Lin Zian selalu mengurung dirinya di kediamannya seusai Shen Yanzhia pergi.
Tapi, di luar semua itu, Ibu Suri tidak mengetahui alasan Selir Duan mengirim Shen Yanzhia keluar dari ibukota. Ia hanya tahu penyebab Selir Duan melakukannya karena dendam pribadinya.
"Lanjutkan misimu. Kau tidak boleh menjadi lemah. An'er, begitu banyak orang di luar sana yang menunggu kejatuhanmu."
Perkataan Ibu Suri benar. Lin Zian tidak boleh menjadi lemah. Dia harus tetap kuat. Bahunya harus tetap tegak. Tidak boleh ada kesalahan dan kelemahan apapun. Lin Zian percaya pada takdir. Rasa sakitnya atas kepergian Shen Yanzhia dan menurunnya kesehatan Ibu Suri pasti akan terbayar dengan sesuatu yang membahagiakan
Lin Zian tidak bisa menjadi rapuh. Banyak hal yang harus ia selesaikan. Dia masih harus mengungkapkan kebenaran dan menberitahu dunia kalau negeri ini dipenuhi dengan tikus-tikus kotor yang tidak tahu diri. Lin Zian masih harus menangkap seorang penjahat tidak terampuni yang telah melenyapkan Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu. Dan yang lebih penting, Lin Zian masih harus menyelamatkan Shen Yanzhia yang keberadaannya tidak diketahui.
"Yang Mulia, menurutmu aku akan berhasil?"
"An'er yang kukenal adalah pria yang tangguh dan tidak mengenal kata menyerah."
Ibu Suri mengelus lembut kepala Lin Zian.
"Percayalah pada dirimu sendiri."
Lin Zian tidak bisa menahan tangis. Ibu Suri, meskipun lemah, tapi masih bisa menguatkan Lin Zian yang sehat. Di tengah sakitnya, wanita tua itu tidak kehilangan semangat dan kebajikannya. Dia justru menampilkan wajah berseri yang wibawanya tidak tertandingi.
Ibu Suri membuat Lin Zian malu pada dirinya sendiri.
"Yang Mulia, aku pasti berhasil."
Lin Zian memeluk tubuh lemah Ibu Suri. Dia menolak untuk rapuh. Lin Zian menolak menjadi lemah!
...***...
__ADS_1