RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 28: Ruang Rahasia Istana Ruo Shui


__ADS_3

Delapan belas tahun yang lalu ketika daratan Ling masih damai, istana kekaisaran begitu ramai setiap harinya. Ribuan pelayan sibuk berjalan ke sana ke mari sambil membawa berbagai macam barang yang akan digunakan. Asap kayu bakar dan bau masakan selalu mengepul dari dapur kerajaan.


Kasim-kasim sibuk membantu melayani pakaian dan keperluan para pangeran, sedangkan dayang-dayang sibuk membantu menyiapkan segala keperluan para putri, selir, dan nyonya istana. Setiap pagi hari, semua penghuni istana mulai sibuk menyiapkan hari. Istana yang begitu besar dan luas ini tidak pernah sepi.


Istana Guanling, istana yang kini ditempati Ibu Suri, adalah istana kediaman Kaisar terdahulu. Saat masih hidup, Kaisar yang agung dan bijaksana itu menghabiskan empat puluh tahun masa hidupnya di istana yang sederhana namun sangat indah ini. Setiap tiba musim dingin, Istana Guanling adalah tempat yang paling hangat dan paling nyaman untuk mengistirahatkan diri.


Di tempat inilah, Ibu Suri menyaksikan Putra Mahkota terdahulu dan anak-anak suaminya yang lain tumbuh dan bermain. Istana ini selalu terbuka bagi setiap pangeran yang ingin datang dan menemui ayah mereka. Jika malam tiba, cahaya bulan dapat dengan leluasa dinikmati keindahannya melalui taman istana yang indah dengan bunga-bunga dan lampion-lampion gantung.


Semenjak Kaisar terdahulu meninggal dalam peperangan dan rakyat daratan Ling kehilangan pemimpin dan Putra Mahkota mereka, keindahan Istana Guanling seakan redup. Sinar bulan yang biasanya indah untuk dinikmati berubah menjadi sinar kegelapan yang mengerikan, mengingatkan seluruh keluarga istana bahwa pemilik dari tempat yang indah itu telah tiada.


Tidak ada lagi keramaian yang terdengar setiap pagi dan sore hari, tidak ada lagi tawa dari para pangeran dan putri serta selir-selir yang terdengar. Kematian pemilik istana ini begitu memilukan, meninggalkan bekas yang sangat mendalam bagi siapapun yang pernah menginjakan kakinya di sini. Meskipun pemilik istana ini sudah tiada, kenangan yang tercipta di tempat ini tidak akan hilang begitu saja.


Bagi seorang ratu yang ditinggal mati oleh raja dan putra mahkotanya dalam waktu yang bersamaan, mengambil alih tempat tinggal pribadi mendiang suami adalah tindakan tepat untuk sedikit mengobati kepedihan di hati. Ibu Suri yang saat itu sedang berduka langsung menjadikan Istana Guanling sebagai tempat tinggalnya yang baru, membangun dan menghidupkan kembali suasana dan keceriaan di tempat indah itu tanpa sedikitpun menghilangkan atau mengganti barang-barangnya. Kini, Istana Guanling tidak sesunyi dulu ketika Kaisar terdahulu meninggal.


Ibu Suri menatap bangunan depan Istana Guanling dari taman depan. Atap istana yang tinggi dan besar itu memutih tertutup salju. Tanah-tanah berhias rumput di sekitarnya juga ikut memutih. Wanita tua itu mengeratkan jubah berbulunya. Mi Shaoshi, pelayan pribadinya yang telah hidup bersamanya sejak masih menjadi seorang nona besar keluarga Han hingga menjadi seorang ibu negara seperti saat ini membantu memapahnya.


“Shaoshi, berapa lama aku hidup di sini?” tanyanya pada Mi Shaoshi. Sambil tetap membantunya berjalan, pelayan itu lalu menjawab dengan ragu.


“Mungkin sekitar empat puluh tahun, Yang Mulia. Aku ingat ketika Anda pertama kali menginjakkan kaki ke istana ini sebagai permaisuri mendiang Kaisar, Anda masih berumur tujuh belas tahun.”


Ibu Suri menghentikan langkahnya. Ia mengingat kembali masa-masa mudanya ketika masih menjadi seorang permaisuri. Saat itu, suaminya baru berumur dua puluh tahun dan statusnya masih menjadi seorang putra mahkota. Dirinya dinobatkan menjadi ratu ketika suaminya naik takhta di umur tiga puluh tahun dan dirinya sendiri berumur dua puluh tujuh tahun. Ia dan sang Kaisar bersama-sama memimpin seluruh daratan Ling selama dua puluh tahun hingga suaminya itu meninggal di usia lima puluh tahun.


“Saat suamiku meninggal, aku sudah hidup di sini selama tiga puluh tahun. Sekarang, waktu-waktu sudah berlalu. Coba kau hitung lagi, berapa lama aku di sini?”


Mi Shaoshi menggerakkan jari-jarinya dan mulai menghitung.


“Jika saat Kaisar meninggal Anda sudah hidup selama tiga puluh tahun di sini, berarti umur Anda saat itu adalah empat puluh tujuh tahun. Delapan belas tahun sudah berlalu semenjak kematian Kaisar dan Putra Mahkota. Yang Mulia, Anda sudah tinggal di sini selama empat puluh delapan tahun!”


“Bukankah aku sudah sangat tua?”


Ibu Suri tertawa bersama pelayannya. Tawa itu begitu ringan dan membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut merasa senang dan bahagia. Seorang kasim kemudian menghampiri keduanya dan memberitahu bahwa Pangeran Qin dan istrinya datang berkunjung. Setelah dipersilahkan, dua sosok manusia yang disayanginya itu muncul dari balik gerbang istana yang megah dan berkilau.


Ibu Suri lantas membawa sepasang suami istri itu ke belakang Istana Guanling. Setelah melewati sebuah pintu gerbang yang tinggi dan besar, mereka sampai di depan sebuah bangunan megah yang tidak kalah indahnya dengan Istana Guanling. Sesaat keadaan menjadi hening. Shen Yanzhia dan Lin Zian terpukau atas keindahan dan kemegahan yang terpampang di depan mata mereka.


“Yang Mulia, ini?”


“Benar, Zhi’er. Ayo masuk.”


Bangunan itu adalah Istana Ruo Shui, istana kediaman Ibu Suri sebelum ia pindah ke Istana Guanling. Letaknya tepat di halaman belakang Istana Guanling. Luasnya hampir sepertiga dari luas Istana Guanling. Bangunan utamanya hampir sama seperti Istana Guanling, hanya saja pilar-pilar penyangganya terbuat dari kayu yang dilapisi marmer, bukan marmer murni seperti di Istana Guanling.

__ADS_1


Bunga-bunga yang menghiasi taman dan mekar di musim semi atau musim panas di istana ini jauh lebih banyak dan lebih indah daripada di istana yang lain. Sejak Ibu Suri pindah ke Istana Guanling, Istana Ruo Shui sengaja dibiarkan kosong dan tidak boleh ditempati siapapun bahkan jika itu adalah selir Kaisar. Meskipun tak berpenghuni, Istana Ruo Shui masih terawat dengan sangat baik.


“Di mana Bibi Yan?” tanya Shen Yanzhia ketika mereka sampai di tangga depan istana.


“Aku memberinya hari libur selama musim dingin,” jawab Ibu Suri.


Shen Yanzhia ingat, Bibi Yan adalah pelayan yang ditugaskan untuk mengurus istana ini. Pertemuan terakhirnya bersama pelayan setengah baya itu adalah beberapa bulan yang lalu, ketika ia berlari untuk bertemu dengan Ibu Suri dan menanyakan perihal dekret pernikahannya dengan Lin Zian. Bunga plum yang saat itu dimintanya belum sempat ia bawa ke kediaman dan terlupakan.


“Masuklah.”


Bagian dalam istana ini hampir seluruhnya dilapisi giok hijau yang berkilau. Di setiap sudut ruangan terdapat seperangkat lilin penerang yang utuh berwarna kuning keemasan. Dinding-dinding istana ini ditempeli berbagai macam lukisan dan syair-syair puisi. Berbagai perabotan berlapis emas dan perak tersusun dengan rapi. Di sudut ruangan tamu, ada sebuah jubah kebesaran ratu berwarna emas bertahtakan manik-manik ruby putih berkilau.


Shen Yanzhia memicingkan mata untuk menikmati setiap keindahan dan kemewahan yang ada di dalam istana ini. Kaisar terdahulu begitu baik dan pengertian hingga memberikan sebuah istana beserta barang-barang megahnya kepada Ibu Suri. Sepertinya, Kaisar terdahulu memang sangat mencintai Ibu Suri.


Mata Shen Yanzhia beralih pada sebuah lukisan berisi seseorang yang sedang memakai jubah indah berwarna putih. Tubuh orang di lukisan itu begitu tegap dan gagah, berwajah tampan, dan bersahaja. Tangan kanan orang itu memegang sebuah pedang yang tajam dengan rumbai cokelat di pegangannya. Mata orang di lukisan itu begitu bercahaya sehingga benar-benar seperti mata orang hidup. Rambutnya yang digulung sebagian sungguh membuat siapapun terpesona jika berada dalam dunia nyata.


Untuk sesaat, Shen Yanzhia berada dalam keheningan. Suara-suara di sekitarnya tak lagi terdengar. Matanya tertuju untuk mengamati setiap bagian dari lukisan orang itu. Wajah tampan di lukisan itu, pedang di tangan kanannya, jubah putihnya, seolah-olah membawa Shen Yanzhia kepada seseorang yang berada jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Seperti sebuah sihir yang dilemparkan melalui tatapan mata, Shen Yanzhia menjadi begitu tidak berdaya. Ada sebuah rasa sakit yang muncul dari hatinya yang terdalam. Rasa sakit itu benar-benar terasa seperti sebuah tusukan pedang di musim dingin.


“Zhi’er, kenapa kau menangis?”


Shen Yanzhia seperti ditarik paksa keluar oleh seseorang. Ia menoleh. Ibu Suri dan Lin Zian menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Mengapa ia menangis tanpa ia sadari? Dan rasa sakit itu, mengapa tiba-tiba datang dan menghilang begitu saja? Apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya?


“Dia… Dia putraku,” jawab Ibu Suri dengan nada bergetar.


“Dia Putra Mahkota terdahulu?” Lin Zian ikut bertanya karena terkejut. Ibu Suri mengangguk. Sorot matanya meredup menyembunyikan kepedihan.


“Paman jauh lebih tampan dari ayah Kaisar!”


“Zhi’er, apa kau sudah lupa padanya?” tanya Ibu Suri.


“Apa aku pernah berjumpa dengannya?” Shen Yanzhia balik bertanya.


“Tentu tidak, anakku. Putraku sudah meninggal ketika kau lahir.”


“Lalu mengapa Yang Mulia bertanya padaku?”


Ibu Suri menghela napas sejenak.

__ADS_1


“Aku pernah membawamu kemari beberapa tahun lalu. Saat itu kau juga pernah melihat lukisannya.”


Shen Yanzhia kembali memandangi lukisan itu. Otaknya berputar mencari serpihan ingatan beberapa tahun lalu. Ibu Suri memang pernah membawanya ke tempat ini sebelumnya. Hanya saja, Shen Yanzhia tidak begitu memperhatikan setiap detail dari tempat ini.


“Ingatanku buruk dalam mengenali wajah seseorang,” ujar Shen Yanzhia pelan.


Ibu Suri memaksakan diri untuk kembali tersenyum. Ia kemudian membawa Shen Yanzhia dan Lin Zian ke sebuah ruangan belajar yang di sisi kanan dan kirinya terdapat rak-rak buku berjajar dengan rapi. Di rak buku paling belakang terdapat sebuah patung berbentuk elang yang sedang mengepakkan sayapnya.


Ibu Suri menggeser patung elang itu. Ia kemudian menggeser rak buku dan lemari yang berada di samping patung elang. Lin Zian segera membantu wanita tua itu. Setelah menggeser rak dan lemari, Ibu Suri lalu merobek lukisan yang tertempel di dinding belakang bekas rak dan lemari.


Shen Yanzhia dan Lin Zian dapat melihat sebuah pintu kayu kecil dari balik lukisan yang dirobek itu. Hati mereka bertanya sebenarnya apa yang akan dilakukan oleh wanita tua yang sangat mereka hormati itu. Ibu Suri lalu menggeser pintu itu hingga terbuka lebar. Mata Shen Yanzhia melebar tak percaya.


Sebuah ruangan rahasia! Shen Yanzhia dan Lin Zian melangkahkan kaki memasuki ruangan, mengikuti Ibu Suri yang sudah masuk terlebih dahulu. Ruangan ini dipenuhi dengan perhiasan dan perabotan dari emas dan perak yang sangat cantik dan berkilau.


“Gunakanlah untuk membantu mengevakuasi orang-orang desa sekitar sungai sebelum musim semi tiba,” ucap Ibu Suri.


Shen Yanzhia dan Lin Zian menghentikan langkah mereka, menatap Ibu Suri dan beberapa peti besar di depannya. Tangan Ibu Suri lalu bergerak untuk membuka peti-peti besar itu. Debu-debu yang beterbangan dari atas tutup peti itu sesekali membuat Ibu Suri bersin.


“Ini adalah peninggalan Kaisar terdahulu yang aku simpan. Tidak ada siapapun yang tahu mengenai hal ini. Aku sengaja menyembunyikannya karena aku tahu, banyak tikus licik yang siap mencurinya kapan saja dengan berbagai alasan yang membosankan,” terang Ibu Suri setelah membuka beberapa peti besar. Peti-peti itu ternyata berisi emas dan perak yang jumlahnya sangat banyak.


“Karena aku tidak dapat menggunakan kekayaanku, maka gunakanlah ini. Jangan sampai siapapun tahu bahwa aku membantu kalian.”


“Tapi Yang Mulia, ini sangat banyak dan berharga. Bagaimana mungkin kami berani menggunakannya?” tanya Lin Zian sedikit ragu.


“Nilainya jauh lebih tinggi jika dapat digunakan untuk menyambung napas seseorang,” ujar Ibu Suri dengan tegas.


Lin Zian dan Shen Yanzhia saling berpandangan. Bagaimana mungkin mereka berani menggunakannya? Ini adalah peninggalan Kaisar terdahulu, dan mungkin sangat berharga bagi Ibu Suri karena Kaisar sendiri yang langsung memberikannya. Terlebih lagi, jumlahnya sangat banyak.


“Bagaimana cara kami memindahkannya?” tanya Shen Yanzhia setelah beberapa saat.


“Pindahkan malam ini juga saat pergantian jam penjaga istana. Mintalah pasukan rahasiamu untuk membantu memindahkannya.”


Ibu Suri lalu mengambil sebuah jepit rambu emas bertatahkan manik ruby merah berbentuk bunga dari salah satu lemari. Wanita itu kemudian memberikannya pada Shen Yanzhia. Ia juga mengambil sebuah belati bergagang perak dan memberikannya pada Lin Zian.


“Anggap saja sebagai hadiah. Keduanya kudapatkan ketika aku sedang mengandung anakku.”


Setelah itu, ketiganya keluar dari ruangan. Ibu Suri menggeser kembali lemari dan rak buku hingga keadaan kembali seperti sedia kala. Mi Shaosi datang membawa sepoci teh beserta tiga buah gelas kecil. Ibu Suri lalu mengajak Shen Yanzhia dan Lin Zian untuk duduk di sebuah ruangan yang dipenuhi lukisan dan hiasan dinding. Wanita tua itu tampak kelelahan.


Ketika Ibu Suri memejamkan mata, Shen Yanzhia berbisik pada Lin Zian,

__ADS_1


“Aku mengingat sesuatu.”


......***......


__ADS_2