
Tidak ada yang bisa menebak isi kepala Shen Yanzhia. Kepala kecil itu memiliki pola seperti sebuah sistem yang rumit dan sukar dipahami. Pemahaman yang dimilikinya sungguh merupakan sebuah misteri. Bagaimana mungkin seorang putri kesayangan dari ibu negara kekaisaran Ling ini begitu berbeda dengan yang lain?
Lin Zian menatapnya sejak lama. Wanita itu, sudah dua jam berada di ruang bacanya. Tangannya yang putih dan kecil sibuk menari di atas buku-buku yang tersusun rapi, yang sebagian darinya berdebu karena lama tidak dibuka.
Buku-buku yang sudah ia ambil dan ia baca sedikit, ia tumpukkan begitu saja tanpa mau menyusunnya kembali. Entah sudah berapa belas rak buku disambangi tangan halus wanita kecil itu. Mungkin lima belas, dua belas, atau tujuh belas rak. Meskipun begitu, tampaknya wanita itu masih belum menemukan sesuatu yang diinginkannya.
“Sampai kapan kau akan mengacaukan ruang bacaku?”
Lin Zian sedikit kaget ketika wanita itu mendelikkan matanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan. Lin Zian merasakan hawa panas dan tegang keluar dari diri Shen Yanzhia, berkobar seperti api yang menyala. Lin Zian baru tahu kalau istrinya itu memiliki kontak yang baik dengan buku.
“Daripada kau diam dan mengoceh, lebih baik bantu aku.”
“Aku sudah berbaik hati meminjamkanmu ruang bacaku. Kau wanita pertama yang kuizinkan masuk semenjak kediaman ini didirikan beberapa tahun lalu.”
Shen Yanzhia, yang sedang fokus mencari buku, melemparkan tatapan kesalnya kembali kepada Lin Zian. Ia kemudian mengambil sebuah buku secara sembarang, lalu melemparkannya ke arah Lin Zian.
Brak! Buku itu terjatuh di pinggir meja sebelum menyentuh kulit wajah Lin Zian. Shen Yanzhia melihat kekehan suaminya, mengejeknya sekali lagi. Sial, tenaga lemparannya tidak terlalu kuat.
“Ups. Sepertinya angin sedang tidak berpihak padamu,” ejek Lin Zian. Pria itu lalu tertawa kecil.
“Ruang bacamu sangat buruk! Aku akan pergi ke kediaman Yun untuk mencarinya!”
Gadis itu lalu keluar dengan tergesa. Wajahnya masam seperti manisan basi.
“Lalu siapa yang akan membereskan kekacauan yang kau buat?”.
“Kau punya banyak pelayan. Mereka tinggal di sini bukan untuk menumpang tidur dan makan.”
Lin Zian menggelengkan kepalanya. Perkataan Shen Yanzhia tidak pernah halus dan selalu saja sarkas. Dia pikir perangai Shen Yanzhia akan berubah seiring waktu karena wanita itu sudah tinggal cukup lama di kediaman ini. Tapi, siapa yang tahu? Sifat manusia ternyata tidak dapat diubah dengan mudah. Biarlah, Lin Zian juga tidak ingin memikirkannya lagi. Semakin dipikirkan, wanita itu akan terlihat semakin aneh.
“Tuan Muda, apa wangfei marah lagi?” Xu Chi tiba dengan sebuah nampan berisi teh hangat.
“Apa lagi yang dia perbuat?”
“Aku melihat wangfei menangkapi ikan-ikan koi peliharaanmu.”
“Apa kau bilang?”
“Oh ya, dia juga menyuruh koki istana kediaman untuk memotong dan memasaknya.”
Lin Zian memijit keningnya. Telinganya memerah.
“Lalu kenapa kau tidak mencegahnya?”
“Aku tidak berani. Bagaimana jika wangfei menenggelamkanku lagi?”
Lin Zian menghembuskan napas berat.
__ADS_1
“Sudahlah. Suruh pelayan pribadi nyonyamu untuk membereskan kekacauan yang sudah diperbuat olehnya!”
Lin Zian meneguk tehnya. Telinganya sudah tidak semerah tadi. Ia harus menarik napas lagi dan mengeluarkannya perlahan secara berulang. Setelah suasana hatinya sedikit tenang, Lin Zian keluar dari ruang bacanya. Ia ingin melihat, berapa banyak ikan koi yang masih tersisa di kolam kecil miliknya.
Dia terkejut ketika mendapati air di kolam kecil itu menyusut. Batu-batu penahan air kolam berserakan, tak lagi berada di tempatnya. Ya, Shen Yanzhia sungguh sangat pintar sekali! Gadis itu tidak hanya menangkap sepertiga dari jumlah keseluruhan ikan koi kesayangannya, tapi juga membocorkan tanggul kolam kecilnya!
Xu Chi meringis melihat kolam kecil kesayangan tuannya kacau seperti itu. Sebelumnya, tidak ada yang berani mendekati kolam kecil itu selain Lin Zian sendiri dan Xu Chi. Ikan koi hidup di kolam itu adalah ikan koi mahal yang Lin Zian pelihara beberapa tahun ketika dirinya menyempatkan diri untuk pulang ke ibukota. Harganya dua kali lipat dari harga sutra brokat yang dipakai untuk membuat pakaian Kaisar. Sekarang, nasib ikan-ikan itu berakhir tragis di tangan majikan perempuannya.
“Ke mana dia pergi?” tanya Lin Zian.
“Kalau tidak salah, wangfei pergi ke kediaman Yang Mulia Pangeran Yun. Kereta kudanya juga sudah berangkat.”
“Xu Chi, kau tetaplah di sini. Aku akan menyusulnya.”
Sementara itu, kereta kuda Shen Yanzhia sudah lebih dulu sampai di kediaman Pangeran Yun. Penjaga langsung membantunya turun dari kereta. Shen Yanzhia lalu berjalan memasuki gerbang. Ketika ia sampai di halaman depan, ia merasa heran. Kediaman ini sepi. Tidak ada banyak pelayan yang berlalu lalang seperti saat-saat ketika ia masih tinggal di sini. Selain itu, ia juga tidak melihat Zhang Qi berkeliaran di sini. Tidak seperti biasanya.
Seorang pelayan lalu menghampirinya dengan tergesa. Pelayan itu sepertinya terkejut karena kedatangan nona ketiganya yang tiba-tiba seperti ini. Pelayan itu lalu membawa Shen Yanzhia masuk ke dalam aula ruang tamu dan memintanya untuk menunggu.
Sejenak Shen Yanzhia berpikir, mengapa ia diperlakukan seperti tamu? Dia bukan orang asing! Dirinya masih tetap bagian dari keluarga Yun meskipun dia telah menikah dengan Pangeran Qin. Shen Yanzhia menyadari kebodohan sesaatnya. Ia kemudian keluar dari aula. Kakinya melangkah menuju taman di tengah kediaman, yang letaknya berhadapan dengan paviliun Pangeran Yun.
“Ayah!”
Shen Yanzhia mempercepat langkahnya ketika matanya menemukan sosok Pangeran Yun yang tengah berbincang dengan seseorang di gazebo. Pangeran Yun dan orang itu sedikit kaget dengan teriakannya, lalu menggelengkan kepala dan tertawa.
“Kenapa kau tidak mengabariku dulu? Di mana menantuku?”
“Kau sangat pintar berbicara.”
“Paman Zhi! Lama tidak bertemu!” Shen Yanzhia menyapa seseorang yang ada di depan Pangeran Yun.
“Salam, Permaisuri Qin.”
“Panggil aku seperti biasa. Aku tidak mau membawa gelar berat dan merepotkan seperti itu. Di mana Hao’er? Apa dia sudah kembali?”
“Hao’er baru akan kembali minggu depan. Salju di bagian barat luar ibukota turun lebih awal. Dia mungkin harus membantu penduduk menghadapi awal musim dingin dulu,” jelas orang itu. Shen Yanzhia mengangguk mengerti.
Marquis Zhi Haoyan, adalah ayah Zhi Hao’er. Dia adalah sahabat Pangeran Yun sejak keduanya masih muda. Marquis Zhi Haoyan ditugaskan Kaisar untuk mengawasi daerah perbatasan timur ibukota. Dia memegang kendali atas dua ribu prajurit, dan hanya akan bergerak jika ada perintah langsung dari Kaisar. Jumlah ini lebih kecil dari prajurit yang ada di bawah kendali Lin Zian.
Marquis Zhi Haoyan memiliki dua orang anak, Zhi Hao’er sebagai anak pertama dan Zhi Shiyan sebagai anak bungsunya. Shen Yanzhia tidak terlalu dekat dengan anak bungsu Marquis Zhi Haoyan karena sejak muda, Zhi Shiyan sudah dimasukkan ke Akademi Zinwu, akademi yang khusus mendidik anak-anak untuk menjadi cendekiawan cerdas dan mumpuni.
“Aku tahu kau kemari karena memerlukan sesuatu, Zhi’er,” ujar Pangeran Yun kemudian.
“Bagaimana Ayah tahu?”
“Kau ini putriku. Bagaimana mungkin aku tidak mengenali sifatmu?
“Ayah, apa aku boleh mengunjungi perpustakaanmu?”
__ADS_1
“Pergilah.”
Pangeran Yun menatap kepergian putrinya dengan lembut. Pangeran Yun berpikir setelah Shen Yanzhia menikah, ia akan kehilangan ketiganya itu. Tapi, pemikiran itu tidak terbukti. Shen Yanzhia masihlah putrinya yang berharga dan nakal, kekanak-kanakan seperti biasa. Tatakrama yang diajarkan Guru Istana sepertinya memang tidak pernah masuk ke telinga gadis itu. Shen Yanzhia masih bersikap sembarangan seperti biasa. Entah bagaimana Pangeran Qin menghadapinya, ia tak tahu.
Awalnya Pangeran Yun khawatir jika Shen Yanzhia akan membuat Pangeran Qin murka. Tapi, sejak ia melihat keduanya di istana, Pangeran Yun lega. Anak dan menantunya itu sepertinya memiliki hubungan yang cukup baik.
Seorang pelayan muda menghampiri Pangeran Yun dengan hormat. Pelayan itu lalu memberitahukan bahwa Pangeran Qin telah datang berkunjung dengan sebuah kuda putih peliharaannya. Tak lama setelah pelayan itu pergi, Pangeran Yun melihat Lin Zian berjalan ke arahnya dengan anggun dan bersahaja. Jubah pangeran itu berikibar oleh angin.
“Salam, Pangeran Qin,” hormat Pangeran Yun.
“Paman Keempat, tidak perlu seperti itu. Aku juga putramu sekarang.”
Lin Zian menatap seorang laki-laki di depannya.
“Marquis Zhi Haoyan? Anda juga di sini?”
“Salam, Yang Mulia.” Zhi Haoyan memberi hormat.
“Tidak perlu sungkan, Paman Marquis. Bersikaplah seperti biasa.”
Lin Zian duduk di tempat yang sama dengan mertua dan gurunya. Pelayan kediaman Yun kemudian datang mengantarkan teh hangat yang baru bersama beberapa potong cemilan manis. Ketiga bangsawan itu berbincang hangat seperti teman lama yang baru bertemu setelah bertahun-tahun.
Banyak perubahan yang terlihat oleh Lin Zian terjadi pada Zhi Haoyan. Laki-laki perkasa itu sekarang memiliki cambang halus di sekitar wajahnya. Kulitnya juga sudah mulai kehilangan elastisitasnya hingga sebagian terlihat mengendur di balik jubahnya yang mewah.
Lin Zian membandingkan penampilan Marquis Zhi Haoyan yang sekarang dengan Marquis Zhi Haoyan tujuh tahun yang lalu, ketika dirinya dikirim ke barak militer untuk berlatih bela diri dan berperang. Marquis Zhi Haoyan saat itu masih bertugas di perbatasan sebelum dipindahkan tugasnya ke perbatasan timur ibukota tiga tahun kemudian.
Selama tahun-tahun itu, Lin Zian mendapatkan banyak pelatihan yang ketat dan ilmu bela diri hingga ia berhasil menjadi jenderal muda bangsawan dari kerajaan yang tangguh dan besar namanya seperti sekarang. Marquis Zhi Haoyan juga selalu memberinya nasihat bahwa ia tidak boleh memiliki dendam apapun kepada keluarga kerajaannya.
“Paman Keempat, aku kemari untuk mencari istriku yang kabur setelah menangkap ikan-ikan koi kesayanganku. Apa Paman Keempat tahu di mana dia sekarang?”
Pangeran Yun dan Marquis Zhi Haoyan tertawa.
“Zhi’er ada di perpustakaanku. An’er, pergilah.”
“Terima kasih, Paman Keempat. Paman Marquis, aku akan berkunjung dan menemuimu lagi nanti.”
Setelah kepergian Lin Zian, para orang tua itu melanjutkan kembali obrolan mereka. Sesekali keduanya tertawa renyah ketika mereka mengenang masa muda mereka. Kemudian, mereka juga murung ketika mengingat kejadian pahit yang pernah mereka alami.
Pangeran Yun dan Marquis Zhi Haoyan juga menyinggung persahabatan anak-anak mereka sejak kecil, persahabatan Shen Yanzhia dan Zhi Hao’er. Jika titah kekaisaran tidak tiba, Pangeran Yun berencana menikahkan Shen Yanzhia dengan Zhi Hao’er ketika tidak ada satu pria pun yang mau menikahi putrinya
“Tampaknya, Pangeran Qin kita begitu menyayangi istrinya,” ujar Marquis Zhi Haoyan.
“Usia mereka hanya terpaut dua tahun. Wajar bila keduanya sering bersikap kekanak-kanakan.”
“Wangye, apa kau akan terus menyembunyikannya?” tanya Marquis Zhi Haoyan.
“Tidak lama lagi, putriku pasti akan segera mengetahui kebenarannya. Aku tidak perlu memberitahukan apapun kepadanya,” jawab Pangeran Yun tenang. Marquis Zhi Haoyan hanya mengangguk dan berharap bahwa suatu saat, kebenaran yang terungkap tidak akan menimbulkan masalah apapun bagi kekaisaran ini. Kebenaran, ya, kebenaran yang tidak diketahui selama bertahun-tahun.***
__ADS_1