RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 36: Janji Perdamaian


__ADS_3

Lembah Chang kembali damai setelah pertempuran yang berlangsung sengit selama berhari-hari. Ribuan mayat prajurit dari pasukan Ling dan pasukan Xiaxi yang bergelimpangan mulai dikuburkan sesuai dengan identitas mereka. Bau anyir dan bau bangkai dari mayat dan kuda yang mulai membusuk menguar memenuhi lapangan terbuka lembah itu.


Ribuan anak panah yang tertancap di tanah dan kereta perang tampak seperti sebuah hewan yang dipenuhi duri. Pedang-pedang tajam dan patah berserakan hampir di setiap tempat hingga tak menyisakan sedikit tanah pun untuk dipijak. Bahkan daun-daun di atas pohon dan di beberapa tempat yang agak jauh dari medan perang itu juga tak lepas dari bau darah yang menyengat, menempel pada permukaannya.


Sang Jenderal Muda Bangsawan, duduk di atas singgasana kebesarannya di barak militer. Beberapa orang jenderal bawahannya berdiri tegap di samping kiri dan kanan. Di hadapan singgasana itu, dua orang pria yang sedikit lebih tua dari jenderal besar dengan balutan luka-luka di tubuhnya sedang duduk menunduk. Tangan mereka terikat rantai besi. Dalam sekejap, ruang utama di tenda militer itu tampak seperti aula peradilan.


“Ah ini sangat menjengkelkan!”


Lin Zian melempar tatapan kesalnya ke arah samping. Sudah dua jam berlalu, tapi dua orang pria di hadapannya tak juga bersuara. Kedua pria itu adalah jenderal besar Xiaxi yang selamat dan sekarang menjadi tawanan perang. Meskipun tawanan perang, keduanya tidak diperlakukan dengan kejam. Dua orang jenderal musuh itu bahkan diobati terlebih dahulu sebelum dibawa ke ruangan ini.


“Kalian menyita waktuku! Aku semakin tidak bisa pulang dengan cepat!”


Dua orang jenderal Xiaxi itu saling bertatapan. Seperti inikah perangai Sang Jenderal Muda Bangsawan daratan Ling? Pria yang tampak seperti dewa perang dengan Pedang Bulan di tangan kanannya ketika perang itu ternyata dapat bersikap konyol di hadapan musuh seperti ini? Sungguh mereka tidak ingin mempercayainya! Pria itu seperti iblis yang mengamuk, mengayunkan pedang dan memenggal siapapun yang ada di hadapannya. Bahkan dengan sekali ayunan tangan, pria itu dapat menumbangkan dua hingga tiga orang prajurit Xiaxi.


“Kenapa? Kalian terpesona padaku?”


Dua orang jenderal tawanan itu semakin heran. Apa pangeran negara ini begitu narsis ketika mendapat kemenangan?


“Baiklah, aku sudah cukup bermain-main dengan kalian. Katakan, kalian ingin berdamai atau tidak?”


Lin Zian tiba-tiba menjadi serius. Pria itu menatap tajam dua pria di hadapannya. Tatapan itu seperti tatapan elang ketika melihat mangsa, membuat siapapun merinding dan merasa terintimidasi. Dua jenderal tawanan itu masih tidak bersuara. Keduanya malah menundukkan kepala.


“Apa jaminanmu jika perdamaian berhasil dilakukan?” Salah satu dari keduanya memberanikan diri bertanya sambil menengadahkan kepala, mencoba menatap wajah dan mata Lin Zian.


“Tidak ada perang, tidak ada perebutan wilayah! Ah, satu lagi! Bangsamu akan bebas masuk ke tanahku asalkan ia memenuhi syarat!”


“Maksudmu, sebuah pernikahan?”


“Itu hanya sebuah transaksi. Aku tidak tertarik melakukan pernikahan dengan orang-orang dari negaramu.”


“Tapi, kesepakatan perdamaian biasanya dicapai dengan sebuah pernikahan!” Jenderal yang lainnya membuka suara.


Lin Zian berdecih. Tak lama kemudian ia tertawa. Apa pikiran orang-orang Xiaxi selalu kuno seperti ini? Ada banyak cara untuk mencapai kesepakatan perdamaian dan menghentikan perang. Pernikahan? Pernikahan dua negara hanya sebuah transaksi politik yang sangat kotor dan tidak menarik!


“Apa yang kau tertawakan?” tanya salah seorang jenderal itu.

__ADS_1


“Aku menertawakan kebodohan kalian.”


“Kau!”


Dua orang jenderal tawanan itu hendak bangkit. Dua orang jenderal bawahan Lin Zian menghentikannya hingga mereka tetap berada dalam posisi berlutut. Lin Zian mengambil Pedang Bulan miliknya, mengusapnya dengan bajunya lalu mengeluarkannya hingga cahaya penerangan memantul di bilah yang tajam itu.


“Kau ingin bertarung denganku lagi?”


Dua orang tawanan ini sangat keras kepala. Lin Zian sudah berbaik hati dengan tetap membiarkan dua orang itu hidup. Di masa lalu, Lin Zian tidak pernah membiarkan satu orang musuh pun mengambil napas. Pria itu sekarang terlalu lelah. Dirinya sudah terlalu muak melihat darah dan memenggal kepala orang Xiaxi yang tidak henti-hentinya mengusik perdamaian daratan kekaisaran Ling.


Lin Zian melemparkan dua buah pedang ke hadapan dua jenderal tawanan itu. Pria itu kemudian menyuruh bawahannya untuk membuka ikatan rantai yang mengikat tangan keduanya. Pedang Bulan di tangannya ia pegang erat. Pria itu lalu berdiri sambil tak melepaskan tatapannya pada kedua orang itu.


“Aku memberimu kesempatan untuk melawanku. Majulah!”


Dua orang jenderal tawanan itu perlahan meraih pedang yang tergeletak di depannya. Keduanya dihadapkan pada pilihan yang sulit. Bukan hanya Lin Zian yang sudah lelah berperang, tapi keduanya juga sudah muak menumpahkan darah di tanah yang tidak pernah damai ini. Puluhan bahkan ratusan ribu prajurit dari kedua belah pihak kehilangan nyawanya sejak bertahun-tahun yang lalu. Lembah perbatasan yang sulit diakses ini menjadi sebuah lembah kematian yang selalu diwarnai darah dan bangkai sepanjang tahun.


Dua orang jenderal tawanan itu menyadari bahwa peperangan tidak akan menyelesaikan masalah. Lalu, apa salahnya jika berdamai? Mungkin, jika perdamaian tercapai, kedua negara ini dapat mengurangi dan menghentikan pertumpahan darah yang selalu membuat orang merasa takut. Peperangan mengerikan yang terjadi sepanjang tahun juga dapat dihentikan.


Akan tetapi, keduanya hanyalah bawahan. Kesepakatan perdamaian bukanlah sesuatu yang bisa mereka putuskan sendiri. Daratan kekaisaran Ling dan Xiaxi sudah menjadi musuh bebuyutan selama bertahun-tahun. Bahkan, Putra Mahkota dan Kaisar terdahulu juga gugur dalam peperangan dengan Xiaxi delapan belas tahun yang lalu. Kedua belah pihak sama-sama mengalami kerugian dan penderitaan.


“Kalau begitu, pergilah! Sampaikan pesanku pada Kaisar Xiaxi, bahwa daratan Ling sedang menunggu dengan sepenuh hati!”


Lin Zian meletakkan kembali Pedang Bulan miliknya ke tempatnya. Akhirnya, semua kekacauan ini menemui titik terang. Sekarang, dua jenderal tawanan itu tidak mempunyai kesempatan untuk melawan karena hampir seluruh pasukan yang dipimpinnya telah tewas. Jika mereka ingin hidup, maka pesan tawaran perdamaian harus sampai ke telinga Kaisar Xiaxi.


Dua jenderal tawanan itu lalu membungkukkan badannya memberi hormat. Jenderal konyol ini sangat tegas dalam memberi perintah. Diam-diam, keduanya menaruh kagum pada Lin Zian. Pria muda yang berstatus sebagai Pangeran Kedua dari Ling itu begitu cakap dalam memimpin pasukan. Di usia muda seperti itu, pria itu sudah mampu membuat pasukan Xiaxi yang dikirim untuk menyerang hancur lebur. Pria itu lebih cocok menjadi seorang pemimpin militer dibanding menjadi seorang pangeran.


“Di masa depan, aku tidak ingin bertemu kalian di medan perang lagi! Kau tahu seberapa besar rasa bosan dan kesalku karena harus berhadapan dengan kalian berkali-kali?”


“Kami akan berusaha,” jawab salah seorang dari keduanya.


“Bai Ru, berikan mereka kuda!”


Kedua jenderal tawanan itu lalu keluar dari tenda. Di depan altar pelatihan, mereka berhenti sejenak. Pandangan keduanya menyapu rata seluruh pemandangan yang ada di barak militer ini. Tidak lama setelah itu, keduanya naik ke atas kuda yang diberikan Bai Ru. Kuda-kuda itu langsung berlari kencang meninggalkan barak militer begitu tali kendalinya ditarik. Perlahan namun pasti, kedua jenderal tawanan itu hilang ditelan belantara hutan.


...***...

__ADS_1


Kekacauan bekas peperangan di Lembah Chang sudah selesai dibersihkan dan dibereskan. Semua mayat sudah ditempatkan di tempat peristirahatan mereka yang terakhir dengan didahului upacara besar-besaran. Mereka yang tewas tentu meninggalkan jasa ketika menjadi prajurit yang setia. Sebaliknya, bagi mereka yang berkhianat, tiang gantungan dan hukuman lain sudah menunggu di depan mata.


Sepuluh hari setelah peradilan di tenda utama, sepucuk surat datang dari Xiaxi ke Lembah Chang. Surat itu berisi penerimaan dan persetujuan perdamaian. Kaisar Xiaxi dalam suratnya berkata bahwa dalam beberapa minggu ke depan, utusan dari negerinya akan datang ke istana Ling bersama seorang putri. Lin Zian kembali tertawa. Ia sudah menduga bahwa kaisar yang satu ini akan menggunakan pernikahan sebagai perjanjian damai, sama seperti kaisar-kaisar yang lainnya.


Pria itu tak dapat lagi menghitung berapa lama ia sudah berada di sini. Hari-hari yang ia lalui hanya berisi latihan, penyusunan strategi, dan pertarungan. Sesekali ia merasa sepi di malam hari ketika semua prajurit sudah beristirahat, menikmati malam dengan berdiam diri di ruangan pribadinya sambil menerawang jauh dengan pikirannya sendiri.


“Berapa lama waktu menuju puncak musim semi?” tanyanya pada Bai Ru.


“Sekitar empat hari lagi. Apa sesuatu telah menganggumu?”


“Aku hanya teringat sesuatu.”


Lin Zian hanya mempunyai waktu selama empat hari untuk sampai ke ibukota. Jarak dari Lembah Chang menuju Rouwu memakan waktu setidaknya satu minggu dengan mengambil rute tercepat. Jika empat hari lagi adalah festival puncak musim semi, Lin Zian mungkin sudah terlambat dan mengingkari janjinya pada Shen Yanzhia. Ia khawatir Shen Yanzhia akan benar-benar bertindak sesuai perkataannya pada waktu itu. Wanita itu tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Pria itu sebenarnya bisa kembali lebih awal karena semua urusan di sini sudah selesai. Xiaxi tidak akan lagi berani menyerang karena sudah menyetujui kesepakatan perdamaian. Tapi, Lin Zian tetap tidak bisa tenang sebelum lembah ini benar-benar aman dan Xiaxi menepati janjinya. Pria itu juga tidak bisa meninggalkan Bai Ru seorang diri ketika keadaan baru saja membaik.


Ia takut Xiaxi melanggar janjinya dan keadaan menjadi berbalik. Jika itu terjadi, ia akan membuat seluruh daratan Ling kecewa dan membuatnya dicap sebagai seorang pangeran yang tidak bertanggungjawab. Bagaimanapun, pergi ke tempat ini adalah keinginan dari dirinya sendiri, meskipun sempat disinggung para pejabat istana pada saat itu.


“Aku tidak tahu seperti apa musim semi di Rouwu sekarang ini.”


Lin Zian memandang bulan yang sedang menggantung di langit Lembah Chang. Bulan itu bulat sempurna. Cahaya bulan itu begitu terang hingga jalan-jalan menjadi terang dan sela-sela pepohonan dan ranting menjadi bercahaya. Di tempat terpencil ini, langit daratan Ling terasa lebih jernih.


“Jenderal, kau merindukannya?”


“Siapa yang memberimu keberanian untuk menebak isi hatiku?”


Bai Ru mundur beberapa langkah.


“Orang yang tidak pernah tersentuh wanita sepertimu sangat mudah ditebak ketika sedang jatuh cinta.”


Lin Zian membalikkan tubuhnya lalu menatap tajam Bai Ru. Pria itu lalu mengambil sebuah tombak dan melemparkannya ke arah Bai Ru. Jenderal bawahan itu langsung menangkapnya dengan cepat. Ia sudah terbiasa bersikap waspada ketika ia membuat Lin Zian merasa kesal. Atasannya itu tidak akan melepaskannya dengan mudah.


“Bertarunglah dengaku, dan lihat sampai mana keberanianmu bertahan!”


Lantas, Lin Zian melewati malam yang cerah itu dengan bertarung bersama Bai Ru, berharap perhatiannya sedikit teralihkan. Lin Zian benar-benar berharap bisa tidur nyenyak malam ini

__ADS_1


__ADS_2