RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 18: Tidur Bersama di Penghujung Musim Gugur


__ADS_3

Istana kediaman Pangeran Yun menyala terang. Setiap paviliun menjadi benderang seperti lampion. Di dalam setiap paviliun-paviliun itu terdapat satu hingga dua penghuni yang sedang mempersiapkan diri untuk makan malam bersama.


Perayaan kepulangan nona kediaman yang sudah menikah adalah suatu tradisi yang selalu dilakukan sebagai bentuk penyambutan dan penghormatan kepada pengantin baru. Makan malam bersama adalah cara paling sederhana untuk merayakannya. Tidak perlu hal yang mewah dan menghabiskan banyak uang, cukup dengan bersantap ria bersama dan merasakan kegembiraan dari perut yang kenyang.


Pada saat bulan meredup cahayanya, Shen Yanzhia dan Lin Zian masih belum mempunyai keinginan untuk keluar dari perpustakaan pribadi Pangeran Yun. Tidak peduli apakah mereka sudah ditunggu atau tidak, keduanya belum memutuskan untuk berhenti. Lampu-lampu lilin yang menyala tidak cukup terang karena sumbunya hampir habis. Mungkin, lampu-lampu lilin itu akan padam tidak sampai tengah malam.


“Sebenarnya buku apa yang kau cari?” Lin Zian bertanya.


“Teknik Pengobatan Kuno. Aku ingat ayahku mempunyai salinannya di sini.”


Lin Zian menatap sebentar ke arah Shen Yanzhia, lalu melemparkannya kembali ke tumpukan buku yang berserakan di lantai perpustakaan. Buku itu, meskipun ada salinannya, pastilah sangat langka. Buku asli dari Teknik Pengobatan Kuno sudah lama musnah dari dunia, dan hanya ada beberapa orang yang mampu menyalinnya.


Buku itu memiliki tingkat kesulitan bahasa yang rumit hingga orang yang membacanya mungkin harus berputar ulang. Pantas saja jika Shen Yanzhia merasa tidak puas berada di perpustakaan miliknya, karena buku itu memang tidak Lin Zian punya.


“Aku harus mendapatkannya. Jika tidak, orang sekarat itu akan mati.”


“Kau ingin menyelidiki giok itu?” Lin Zian tiba-tiba bertanya lagi. Shen Yanzhia terkejut.


“Kau mengetahuinya?”


Lin Zian mengangguk tenang.


Beberapa hari lalu ketika Shen Yanzhia marah sepulang dari perjamuan ulang tahun Ibu Suri di istana, dan ketika Shen Yanzhia tidak mau membuka pintu kamarnya, Lin Zian mulai curiga. Jika gadis itu hanya marah, reaksinya tidak akan sampai pada aksi mogok makan dan tidak keluar kamar. Gadis itu pasti telah menyadari sesuatu selepas insiden yang dibuat Selir Duan kepadanya. Lin Zian tidak mengungkit bahwa ia telah melihat giok yang dipegang Shen Yanzhia di malam itu, sebelum ia memastikan kebenarannya sendiri.


Lin Zian tidak berpikiran sederhana, dia tahu Shen Yanzhia membantunya karena sebuah alasan. Sekarang, semua perkiraannya terbukti. Gadis itu memang ingin menyelidiki giok itu lewat orang sekarat yang kebetulan terkait dengan kasus yang sedang diselidiki Lin Zian. Jika sekali mendayung dua pulau bisa terlewati, mengapa ia tidak mencobanya?


“Sekarang sudah malam. Buku itu mungkin tidak ada di sini lagi.”


“Tapi aku pernah melihatnya.”


“Kau bisa mencarinya di perpustakaan istana.”


“Istana terlalu jauh.”


“Tapi tidak sejauh perbatasan.”


“Bagaimana bisa itu menjadi sebanding?”

__ADS_1


“Aku membandingkannya karena aku bisa.”


Perdebatan kecil mereka membuat seseorang yang tengah berdiri di balik pintu luar perpustakaan terkekeh kecil. Meski tak bisa melihat wajah keduanya, Pangeran Yun sudah cukup puas memperhatikan sampai di sini. Tidak masalah apakah itu Shen Yanzhia atau Lin Zian yang memulai terlebih dahulu, yang terpenting keduanya bisa menjadi lebih dekat. Perdebatan itu, entah kenapa terasa begitu manis.


Pangeran Yun jadi teringat ketika dulu, dirinyalah yang selalu menjadi objek sasaran perdebatan Shen Yanzhia. Gadis itu tidak akan berhenti melawannya ketika ia berusaha memberikan hukuman yang adil atas keributan yang ditimbulkan Shen Yanzhia dan putri-putrinya yang lain. Perangainya yang keras kepala mungkin turun dari dirinya.


Gadis kecil itu terkadang sering menyelinap masuk ke ruang pribadi Pangeran Yun hanya untuk mengambil sebuah kertas atau mencari potongan surat yang datang dari dalam istana.


Pangeran Yun tidak pernah ingin memanjakannya, karena dia tahu bahwa putrinya itu mewarisi sifat leluhurnya, Kaisar terdahulu, yang mempunyai jiwa bebas namun sewaktu-waktu dapat memberontak. Pangeran Yun tidak ingin Shen Yanzhia menjadi besar kepala dan bertindak semena-mena.


Mungkin, bagi Shen Yanzhia, perlakuan tegasnya ini dapat dianggap sebagai bentuk ketidaksukaan atau salah satu bentuk dari pilih kasih. Pangeran Yun sendiri juga sering merasa bahwa ia sudah terlalu keras pada putrinya itu. Setiap kali mendengar Shen Yanzhia sakit, Pangeran Yun akan menjadi panik dan khawatir setengah mati, hingga ia sering datang menjenguk putrinya meskipun hanya satu kali.


Tampaknya, makan malam penyambutan kali ini harus dilalui tanpa sepasang manusia yang menjadi objek tujuan kegiatan ini, karena setelah satu jam berlalu sejak Pangeran Yun mendengar perdebatan kecil Shen Yanzhia dan Lin Zian, tidak ada tanda-tanda bahwa sepasang muda itu akan keluar. Hanya ada suara lembaran buku yang dibuka dan derit kursi kayu yang mungkin dipakai untuk pijakan kaki ketika hendak mengambil buku di rak yang lebih tinggi.


Tengah malam ketika semua penghuni mansion kediaman Pangeran Yun telah terlelap, dan setelah perut mereka kenyang karena perjamuan makan malam kecil, Shen Yanzhia dan Lin Zian baru selesai membereskan buku.


Sekali lagi, Shen Yanzhia tidak menemukan apa yang ia cari. Mungkin, buku itu sudah hilang atau dipinjam orang. Lin Zian mungkin benar, buku itu seharusnya ada di perpustakaan istana.


Pintu berderit begitu malam semakin dalam. Shen Yanzhia dan Lin Zian berjalan dengan langkah pelan menuju paviliun peristirahatan. Lin Zian lupa menanyakan pada ayah mertuanya di mana ia harus tidur. Lin Zian tidak terlalu mengenal tempat ini.


Jangankan kediaman pangeran, istana tempat tinggalnya dulu saja tidak ia kenal.


“Lantas, aku harus ke mana? Tidak mungkin kan kau membiarkanku tidur di depan kolam ikan?”


“Tunggu, tidak mungkin kan kau mau tidur sekamar bersamaku?”


“Apa yang salah dengan itu? Kita sudah menikah. Akan terlihat aneh jika kita tidur terpisah di tempat ini.”


“Ranjangku sempit.”


“Tubuhmu kurus. Aku yakin muat untuk dua orang,” jawab Lin Zian sambil berjalan masuk mendahului Shen Yanzhia.


Lin Zian menatap dekorasi kamar istrinya. Ruangan ini tidak sebesar kamar istrinya di kediaman Qin. Mungkin hanya sepertiganya saja. Dinding kamar itu terbuat dari kayu berkualitas tinggi, hampir serupa dengan dinding kayu di kediamannya. Gorden penutup jendelanya terbuat dari katun halus berwarna cokelat keemasan.


Di tengah ruangan ini ada sebuah meja dan kursi, di ruangan pinggirnya terdapat meja belajar lengkap dengan kertas dan tinta serta kuas. Di belakang meja itu terdapat sebuah rak buku kecil dan kedua sisinya dihiasi vas bunga krisan yang mulai mengering. Lin Zian beralih menatap ranjang yang ditutupi kain berwarna biru muda. Ya, memang tidak terlalu besar, namun cukup untuk dua orang.


“Berbaliklah sebentar,” pinta Shen Yanzhia.

__ADS_1


“Untuk apa?”


“Aku mau mengganti pakaianku.”


“Kenapa aku harus berbalik?”


“Zian!”


Lin Zian memilih untuk mengalah sebelum Shen Yanzhia benar-benar marah. Tengah malam seperti ini, jika terjadi keributan, seluruh kediaman akan bangun dan mengetahui bahwa hubungan ia dengan istrinya tidak berjalan seperti pasangan pada umumnya. Jika sampai berita itu sampai terdengar ke telinga Kaisar dan Ibu Suri, dirinya dan Shen Yanzhia pasti akan dihukum. Dia tidak ingin Shen Yanzhia mendapat masalah dan nama baiknya tergores.


“Kau sudah selesai?” tanya Lin Zian setelah beberapa lama.


“Sudah.”


Lin Zian membalikkan tubuhnya. Kini, ia dapat melihat dengan jelas Shen Yanzhia yang hanya mengenakan pakaian tipis berwarna putih. Rambutnya yang tadi disanggul dan dihiasi chai berwarna perak kini tergerai polos. Lin Zian terpaku sejenak. Wajah itu, terasa bersinar di bawah temaram lilin. Lin Zian kemudian mengerutkan kening. Matanya menatap lekat setiap bagian dari tubuh Shen Yanzhia.


Apakah wanita ini sudah gila?


Ini adalah penghujung musim gugur dan musim dingin mungkin akan tiba beberapa hari lagi. Suhu udara sudah mulai menurun di siang dan malam hari. Bagaimana mungkin wanita ini menggunakan pakaian yang begitu tipis di musim seperti ini? Apa wanita ini benar-benar tidak waras?


Lin Zian menanggalkan jubahnya, lalu membungkuskannya kepada Shen Yanzhia hingga tubuh istrinya itu benar-benar terlilit seperti kepompong. Shen Yanzhia tidak sempat melawan karena gerakan tangan pria itu begitu cepat. Ia berteriak kaget ketika ia merasa kakinya tak lagi berpijak di lantar dan tubuhnya terasa melayang di udara.


“Zian, apa yang kau lakukan?” pekiknya kepada Lin Zian.


“Menurutmu apa yang aku lakukan?”


“Lepaskan aku!”


“Apa kau benar-benar tidak waras? Apa kulitmu terbuat dari kayu hingga kuat menahan dingin?”


“Aku sudah terbiasa. Lepaskan aku!”


Lin Zian membaringkan tubuh terbungkus Shen Yanzhia di ranjang. Ia menggesernya hingga tubuh itu sampai di bagian pinggir ranjang yang berdekatan dengan tembok. Lin Zian lalu ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Shen Yanzhia, membelakanginya sambil menutupinya dengan selimut. Shen Yanzhia berusaha melepaskan dirinya. Tubuhnya bergerak ke kanan dan kiri hingga terdengar bunyi decit ranjang kayu.


“Lepaskan aku dulu!”


“Kalau kau tidak mau diam, aku akan benar-benar membungkusmu!”

__ADS_1


Malam menjadi semakin larut. Seluruh istana kediaman Pangeran Yun kini benar-benar sunyi. Tanpa sadar, kedua orang yang sedang tidur di ranjang yang sama itu berpelukan menyeka dingin yang merambat melalui celah-celah dinding kayu dan jendela.***


__ADS_2