RAHASIA ISTANA BUNGA

RAHASIA ISTANA BUNGA
Bab 32: Kepergian Sang Pangeran


__ADS_3

Seorang utusan dari daerah perbatasan utara datang menghadap sang Putra Mahkota di pengadilan istana. Prajurit utusan itu membawa selembar surat gulung yang terikat pita merah. Tanpa melepaskan baju zirahnya, utusan itu bersimpuh di hadapan Putra Mahkota dan para menteri.


Lin Zian, setelah dipaksa Shen Yanzhia akhirnya mau memasuki istana dan menghadiri pengadilan yang dipimpin kakaknya. Melihat utusan itu datang, ia langsung meminta izin untuk mengambil surat yang dibawanya. Lin Zian sangat yakin bahwa surat itu datang dari Bai Ru yang ia tinggalkan musim gugur lalu ketika dirinya kembali ke ibukota.


Perasaan tidak enak menyelimuti hati Lin Zian. Isi surat itu pasti bukanlah sebuah kabar gembira. Selama ia menjadi seorang jenderal militer di perbatasan utara, pita merah hanya digunakan untuk menggambarkan situasi darurat atau situasi berbahaya. Jika surat ini datang ke istana secepat ini, artinya ada yang tidak beres dengan keadaan di perbatasan sana.


"Didi, apa isi suratnya?" tanya Lin Yang setelah memberikan izin pada Lin Zian untuk membuka dan membaca surat itu.


"Sesuatu telah terjadi di perbatasan utara. Jenderal yang kuutus untuk bertugas di sana sedang dalam bahaya," jawab Lin Zian. Wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran yang sebisa mungkin ia tahan agar semua orang di sini tak melihatnya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Lin Yang setelah Lin Zian selesai berbicara.


"Seseorang harus membantunya."


Aula pengadilan mulai riuh dipenuhi suara para menteri dan pejabat yang beradu pendapat. Dalam sekejap, suasana khidmat pengadilan berubah seperti sebuah pasar yang ramai. Para pejabat dan menteri itu sibuk mendiskusikan siapa yang pantas dikirim ke perbatasan utara untuk membantu para prajurit dan Jenderal Bai Ru.


"Bagaimana jika kita mengutus Marquis Zingyuan, Zhi Haoyan untuk pergi?" usul Menteri Pertahanan.


"Jika kita mengirim Marquis Zingyuan, perbatasan timur akan melonggar. Apalagi, jumlah tentara yang berada di bawa kendali Marquis Zingyuan hanya sekitar tiga ribu tentara." Usul Menteri Pertahanan ditepis oleh Menteri Pengawasan.


"Kalau begitu, mengapa tidak kita utus saja Pangeran Kedua? Bukankah Jenderal Bai Ru adalah kawan lamanya?" Perdana Menteri tiba-tiba bersuara. Mendengar namanya disebut-sebut, Lin Zian berbalik menatap perdana menteri tua itu dengan tajam, menunggu kelanjutan kata yang akan diucapkannya.


"Pangeran Kedua gemilang dalam peperangan bersama Jenderal Bai Ru. Aku rasa dia kandidat paling cocok untuk pergi," lanjut Perdana Menteri.


Lin Zian menatap malas pada menteri tua itu. Sudah ia duga, seseorang pasti akan selalu mengusik ketenangannya. Seseorang pasti akan selalu berusaha mencari cara agar ia segera meninggalkan ibukota. Dengan dalih seperti urusan militer, kecil kemungkinan Lin Zian dapat menolak dan mengabaikannya. Bagaimanapun, keselamatan para prajurit di perbatasan utara dan keselamatan Bai Ru lebih utama dibanding citranya sebagai Pangeran Kedua yang tidak peduli pada politik kerajaan.


"Tapi, adikku baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Aku khawatir kepergiannya merenggangkan keluarga harmonisnya," ujar Lin Yang. Putra Mahkota itu jelas tidak setuju dengan usulan Perdana Menteri.


"Yang Mulia, pergi ke medan perang di perbatasan adalah kewajibannya sebagai seorang pangeran dan seorang jenderal militer. Harap untuk tidak mencampurkan urusan negara dengan perasaan keluarga."


Tidak mencampurkan urusan negara dengan perasaan keluarga? Apa otak Perdana Menteri sudah rusak karena termakan usia hingga ia lupa bahwa dua putrinya dikirim ke istana sebagai selir dengan mengatasnamakan kepentingan negara? Apa Perdana Menteri tua ini menjadi bodoh hingga melupakan bahwa sebuah negara dibangun atas dasar kekuasaan sebuah keluarga? Lalu mengapa ia bisa mengatakan untuk tidak mencampurkan keduanya?


Lin Zian semakin muak dengan situasi di pengadilan ini. Jika ia bertahan sampai rapat pengadilan selesai, kepalanya bisa pecah dipenuhi ocehan-ocehan para pejabat dan menteri yang seolah-olah tidak ingin berhenti membuatnya kesal setengah mati. Lin Zian menatap kakaknya yang tengah duduk di pinggir singgasana Kaisar. Lin Zian mendapati sebuah kebimbangan dari raut wajah Lin Yang.


"Karena Tuan Perdana Menteri sudah mengatakannya, maka aku hanya bisa menerimanya dengan kelapangan hati. Kalau begitu, aku mohon undur diri."


Tanpa menunggu persetujuan dari kakaknya, Lin Zian beranjak pergi dari aula pengadilan. Ia dapat mendengar dengan jelas cemoohan dan ejekan para pejabat yang membicarakan ketidaksopanannya di belakangnya. Mereka bahkan mengatakan bahwa Pangeran Qin sama sekali tak beretika, meninggalkan ruang pengadilan tanpa izin dan menyebutnya tidak menghormati Kaisar dan Putra Mahkota.


Lin Zian bahkan sudah lupa kalau dirinya adalah Pangeran Kedua dari daratan Ling saat ini. Ia merasa dirinya hanya sebuah boneka yang digunakan untuk memperkuat dan melemahkan kekuasaan. Jika ia kuat, ia akan dianggap memberontak. Jika ia lemah, maka para pejabat dan menteri itu tak akan memberinya muka. Lin Zian lebih suka menjadi orang biasa. Ia lebih suka ketika dirinya bisa bebas berkeliaran dan bergaul tanpa status sebagai keturunan suci kekaisaran di barak militer, berbaur bersama puluhan ribu prajurit yang sudah lama berada di bawah kendalinya.


Lagi pula, siapa yang memberinya gelar seperti itu?


"Kau akan benar-benar pergi?" tanya Shen Yanzhia ketika Lin Zian baru sampai di kediaman Qin.


"Dari mana kau tahu?"

__ADS_1


"Apa kau tidak tahu kalau tembok dan tiang juga memiliki mata dan telinga?"


Kabar rencana kepergiannya ke perbatasan utara menyebar begitu saja. Padahal, pembicaraan mengenai hal itu baru saja lewat beberapa saat yang lalu. Selain penggosip, orang-orang istana ternyata sangat pandai menyebarkan berita. Kemampuan menguping mereka ini pasti akan sangat berguna jika dipakai untuk menjadi mata-mata!


"Seseorang harus pergi agar beberapa orang menjadi tenang. Kedudukan kakakku harus kuat terlebih dahulu, baru bisa terbebas dari semua hal mengesalkan yang membelenggu ini," jelas Lin Zian sambil membuka jubah kerajaannya. Ia lalu menyampirkannya di sebuah gantungan kayu di dekat meja belajarnya.


"Akhir-akhir ini kau sangat sering berada di Paviliun Timur milikku ini, apa kau benar-benar menginginkan seorang bayi?" tanya Lin Zian.


"Apa katamu?"


"Kubilang sepertinya kau benar-benar menginginkan seorang bayi."


"Memangnya kau sudah menemukan pedagang bayi?"


Wanita ini tampaknya masih tidak mengerti.


"Mengapa harus membeli? Apa kau tidak tahu kalau kita bisa membuatnya?"


Shen Yanzhia terdiam menatap Lin Zian. Keningnya mengkerut, mencoba menerka arti dari perkataan suaminya.


"Kau tidak percaya kalau aku benar-benar bisa membakar paviliun milikmu jika kau berkata hal-hal yang tidak kumengerti lagi?"


Suhu udara di Pavilun Timur tiba-tiba menjadi panas. Lin Zian dan Shen Yanzhia saling beradu tatap dengan tajam dan dahi berkerut. Mata mereka seolah-olah seperti sebuah bola yang hendak keluar dari sebuah lubang. Di beberapa saat terakhir, Lin Zian menolehkan pandangannya ke samping dan menghentikan kontak matanya dengan Shen Yanzhia.


"Baiklah, aku tidak akan mengatakannya lagi."


"Ini pertama kalinya kau pergi jauh dan pasti akan sangat lama."


Tatapan Shen Yanzhia tak lagi setajam tadi. Sekarang, wanita ini sudah mulai bersikap normal seperti biasa.


"Kita tidak bisa memutuskan untuk menolak."


Shen Yanzhia sangat tahu. Perintah kerajaan memang tidak bisa ditolak. Jika Kaisar atau Putra Mahkota menyuruhnya mati, maka ia harus mati. Termasuk dekret pernikahan yang membuatnya masuk ke kediaman Qin sebagai permaisuri Pangeran Qin yang tidak bisa ia tolak, situasi Lin Zian juga tidak jauh berbeda. Apalagi, status dan kedudukan Lin Zian sangat tinggi hingga tak mungkin mengingkarinya sesuka hati.


Tapi, mengetahui pria itu akan pergi di awal musim semi ini, ia sedikit tidak rela! Sekarang, pria itu bukan lagi seorang kesatria lajang yang bebas berkeliaran dan bepergian. Pria itu sekarang memiliki seorang permaisuri yang berstatus sebagai seorang putri kesayangan Ibu Suri!


"Bahkan di awal musim semi, aku tidak bisa menikmatinya bersama seorang suami. Apa daya, aku harus melewatinya seorang diri."


Melihat Shen Yanzhia mengeluh, hati Lin Zian menjadi tidak tega. Kata-kata yang dilontarkan Shen Yanzhia, meskipun tidak tulus, tetap meninggalkan bekas di hatinya.


Wanita ini begitu bebas sebelumnya. Shen Yanzhia pasti sudah terbiasa menikmati setiap festival musim semi dalam keramaian dan kebebasan. Sekarang, setelah ia resmi menikah dengannya, wanita itu bahkan hanya bisa menikmati awal musim semi sendirian di dalam kediaman yang sepi ini.


"Kapan kau akan berangkat?"


"Besok pagi."

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan pulang ke kediaman Pangeran Yun sekarang."


"Tidak bisa. Mengapa kau harus pulang?"


"Aku tidak ingin melihatmu pergi!"


Shen Yanzhia berbalik lalu berjalan keluar dari Pavilun Timur. Hari ini Lin Zian membuatnya kesal lagi. Jika ia tetap berada di sini selama Lin Zian pergi, apa bedanya dengan terkurung seorang diri dalam sebuah sangkar emas? Situasinya akan berbeda jika berada di kediaman Pangeran Yun. Selain bisa bercengkrama dengan ayahnya, Shen Yanzhia juga dapat mengawasi orang yang teracuni Rumput Biru dan berada dalam proses perawatan Ru Xiaolan dengan mudah. Hari-harinya tidak akan berlalu tanpa sebuah makna.


Shen Yanzhia mengurung diri di dalam Paviliun Barat sejak sore tadi. Saat bulan sudah bersinar di malam awal musim semi, wanita itu belum mau membukakan pintu kamar dan menampakkan batang hidungnya. Jam makan malam sudah lewat lama sekali dan Shen Yanzhia sama sekali tak memanggil satupun pelayan untuk membawakan makanan kepadanya.


Lin Zian berdiri di depan pintu masuk Paviliun Barat yang tertutup rapat. Jubah hitam beludrunya berkibar terbang oleh angin. Beberapa langkah di belakangnya, Tan'er berdiri sambil menundukkan kepalanya.


"Dia benar-benar tidak keluar?"


"Tidak, Tuan Muda. Nona sama sekali belum membuka pintu sejak sore hari tadi." Tan'er menundukkan kembali kepalanya.


Pelayan itu terkejut ketika mendengar suara dobrakan pintu. Ia ternganga ketika melihat pintu kamar Paviliun Barat terbuka karena tendangan Lin Zian. Pria itu langsung masuk begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Di dalam ruangan, Shen Yanzhia asyik menatap gantungan giok dan sesekali menenggak teh dingin yang sudah hampir basi. Wanita itu sama sekali tak mempedulikan suara keras dari pintu kamarnya yang dibuka secara paksa oleh Lin Zian. Bahkan ketika pria itu berdiri tepat di belakangnya pun, ia hanya menolehkan kepala sebentar lalu kembali pada kegiatannya sendiri.


"Kau tidak akan mencari kesenangan dengan yang lain di luar sana kan?"


"Tentu saja tidak. Untuk apa aku melakukannya?"


"Baguslah. Jika ya, aku akan menghancurkan seluruh isi kediaman ini!"


Lin Zian melepaskan jubahnya. Ia lalu menyelimutkannya pada punggung Shen Yanzhia yang hanya mengenakan pakaian tipir berwarna ungu muda.


"Ini masih awal musim semi. Jangan membiarkan dirimu sendiri seperti ini.”


Shen Yanzhia fokus menatap gantungan giok di tangan kanannya.


"Aku akan kembali sebelum festival puncak musim semi."


"Benarkah?"


Lin Zian mengangguk.


"Kalau begitu tepati janjimu! Tan'er, ayo kita pergi!"


Lin Zian mencekal pergelangan tangan Shen Yanzhia. Wanita itu lalu duduk kembali ke posisinya semula.


"Kau tetap akan pulang ke kediaman Yun?" tanya Lin Zian sambil menatap wajah cantik Shen Yanzhia yang tersinari cahaya lilin. Shen Yanzhia mengangguk ringan.


"Tinggallah di sini sebelum aku pergi."

__ADS_1


...***...


__ADS_2