
Meski Zhukai bergabung dengan sekte tujuh pedang dengan niatan untuk menebus kesalahan yang ia perbuat di masa lalu.
Tetapi ada batas di mana dia bisa melakukan apa yang sekte itu perintahkan.
Melihat bahwa tetua murid inti itu memiliki ide jahat tentangnya, bagaimana bisa dia hanya diam saja dan menuruti apa yang tetua itu perintahkan.
Kai menggunakan langkah bayangan untuk berpindah tepat secara langsung di depan tetua wanita itu.
Dia mendekatkan bibirnya kemudian berbisik, "Sebaiknya kau bersikap baik ****** sialan, ataukah ... Apa kau ingin aku memberimu hukuman kecil."
Zhukai menyeringai jahat sambil menggunakan kedua tangan untuk memainkan pantat tetua wanita itu hingga menyebabkan wajah tetua wanita itu memerah.
"Kyaa..."
Dengan sedikit tenaga, tetua wanita itu mendorong Zhukai menjauh dengan suara nafasnya yang berantakan.
Dia benar-benar ingin memberi Zhukai pelajaran tetapi detak jantungnya terus meningkat dengan cepat.
"Kenapa ini..."
Hati tetua itu berdetak semakin cepat.
Ini adalah pertama kalinya baginya untuk sedekat itu dengan seorang pria. Apalagi pria itu adalah murid barunya.
Tetua murid inti, Chen Xia mengangkat jarinya dan menunjuk Zhukai sambil berkata dengan marah.
"K–Kamu... kamuu... Aku pasti akan mengingatkan ini! Hmph."
Chen Xia kembali ke ruangannya sambil menutup pintunya dengan keras.
Sementara itu di luar kediaman Chen Xia, Zhukai dan teman sesama murid inti saling menatap satu sama lain.
"Eh, anu... saudara, apa yang baru saja kamu lakukan pada tetua? ini adalah pertama kalinya aku melihat tetua bersikap seperti itu." pria itu, Mo Kun bertanya dengan penuh rasa penasaran.
Zhukai sedikit tersenyum kemudian menjawab dengan acuh, "Tidak ada, hanya memberi beberapa hukuman pada seorang gadis nakal."
Kai berhenti sejenak kemudian menatap Mo Kun, "Ayo cepat antar aku ke ruanganku. Aku akan memberimu sebuah hadiah sebagai imbalannya."
"Tidak aku memili–..."
"Hadiah ini diberikan oleh tetua pertama kepadaku."
__ADS_1
Tepat setelah itu, sikap Mo Kun seketika berubah 180 derajat. "Ayolah saudara, aku bebas hari ini. Biarkan senior ini yang baik hati ini mengantar mu ke asrama."
Dengan begitu, Kai mengikuti Mo Kun ke asrama laki-laki yang berada tidak jauh dari kediaman tetua murid dalam.
Di dalam rumah Chen Xia, gadis itu masih berdiri di depan pintu sambil mendengar semua pembicaraan antara Zhukai dengan Mo Kun.
"Murid yang kurang ajar, lihat saja bagaimana aku memberimu hukuman besok." ucap Chen Xia dengan wajah merah sekaligus kesal.
Ingatan tentang Zhukai yang memainkan pantat nya masih membekas dengan jelas di dalam pikirannya.
Entah seberapa keras dia mencoba menghapus ingatan itu dari pikirannya, tetapi ingatan itu terus muncul hingga membuat Chen Xia menjadi semakin malu.
***
Setelah tiba di kamarnya, Zhukai segera memberikan sebuah teknik pada Mo Kun. Itu tidak lain adalah teknik miliknya sendiri dan bukan pemberian dari tetua pertama.
Karena Kai memiliki harapan tertentu pada Mo Kun, dia setidaknya mencoba membantu Mo Kun untuk mengembangkan bakatnya.
Saat pertama kali Kai melihatnya, Mo Kun memiliki semacam aura tertentu yang membuatnya tertarik.
"Pedang pemecah angin, hahaha! Bahkan dari namanya teknik ini terdengar sangat hebat. Terimakasih saudara, beritahu aku jika kau memiliki masalah di masa depan. Senior ini pasti akan datang untuk membantumu." ucap Mo Kun sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Baiklah senior, aku akan mengingat itu." Kai membalas salam itu dengan melakukan hal yang sama.
Dia sedikit meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku sambil menghela nafas pelan.
"Aku yakin besok ketika pengajaran di mulai, tetua itu pasti memiliki beberapa ide jahat terhadapku." Zhukai terkekeh sambil mengeluarkan selembar kertas dengan tulisan aneh di kertas itu.
"Hmm, kurasa sudah waktunya aku mempelajari teknik ini."
Zhukai membuat sebuah dinding pelindung yang berada di sekitar kamarnya. Dia tidak ingin membuat keributan dengan ledakan yang mungkin terjadi ketika dia berlatih nanti.
Zhukai menatap kertas itu sekilas kemudian membakarnya hingga menjadi abu.
"Haahh, teknik ini sedikit lebih rumit dari yang aku perkirakan. Tapi itu tidak masalah."
Zhukai menekan seluruh Qi di dalam tubuhnya hingga membuat wajahnya memerah padam.
Suhu tubuhnya terus meningkat hingga beberapa detik selanjutnya, tubuh Zhukai mengeluarkan banyak asap yang membuatnya cukup tertekan.
Boomm!!
__ADS_1
Ledakan terjadi sesaat setelah Kai mengubah Qi miliknya menjadi true energi. Kasur serta perabotan lain yang ada di sekitarnya hancur menjadi abu dan menyisakan Kai yang seorang diri sedang melayang di udara dengan lapisan energi tebal di sekitarnya.
Ledakan kali terjadi, kini tidak hanya lantai kamarnya yang hancur, tetapi juga terlihat sedikit retakan di lapisan pelindung yang telah ia buat.
Detik berikutnya, ketika Kai ingin mengubah seluruh Qi milikmu menjadi true energi, sesosok bayangan hitam yang mengeluarkan niat membunuh yang sangat pekat tiba-tiba saja muncul tepat di belakangnya.
Sosok bayangan dengan aura intimidasi yang begitu kuat seketika membuat pelindung itu hancur.
Pada saat yang sama, ledakan dari perubahan true energi kembali tercipta.
Boommm!!
Ledakan terakhir itu seketika mengejutkan teman yang tinggal di sebelah Zhukai sekaligus tetua murid inti.
"Ledakan apa itu!?" Chen Xia yang sangat khawatir segera membuka pintu rumahnya dan melesat pergi untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Tapi begitu Chen Xia sampai di sana, asrama murid laki-laki masih terlihat sangat normal seperti tidak terjadi apapun di sana.
Chen Xia menghampiri salah satu murid laki-laki yang ada di sana kemudian bertanya.
"Liu Ma, bisa jelaskan ledakan apa itu barusan."
Pria yang di panggil Liu Ma itu segera memberi hormat dan kemudian menjelaskan apa yang telah ia lihat sejauh ini.
"Aneh sekali, kau juga merasakan ledakan itu bukan. Tapi mengapa tidak ada apapun yang terjadi." Chen Xia berpikir keras setelah mendengar penjelasan dari Liu Ma.
Dia kemudian mengalihkan pandangannya dan menemukan sosok yang tidak sedap di pandangan.
Orang itu tidak lain adalah Zhukai, pria yang baru saja melecehkannya beberapa saat yang lalu.
Tubuh Chen Xia bergidik begitu melihat senyuman jahat di wajah Zhukai. Ia tanpa sadar mundur satu langkah dengan wajah pucat.
"I–Ini tidak benar, aku adalah seorang tetua murid inti. Bagaimana aku merasa ketakutan oleh murid ku sendiri." Chen Xia berkata dalam hatinya.
Tanpa ia sadari, Zhukai sudah berada tepat di depannya dan tiba-tiba memeluknya sambil berbisik.
"Ada apa gadis kecil, apakah kamu merindukanku?" Zhukai menyeringai semakin lebar sambil meremas kedua pantat wanita itu.
"Kyaa~... S–Siapa, siapa juga yang merindukanmu." Chen Xia mendorong Zhukai menjauh sementara dirinyalah berjalan mundur.
Tubuhnya terus bergetar dengan wajahnya yang semakin merah.
__ADS_1
****
Bersambung..