
Di tribun penonton, salah satu kursi penonton yang awalnya kosong kini sesosok pria tiba-tiba muncul bersama dengan seorang wanita cantik di pangkuannya.
Kemunculannya segera menarik perhatian beberapa Kultivator yang duduk di dekatnya.
Bagaimana mungkin mereka tidak tertarik, paras cantik Qi Yue seolah menyihir mereka hingga membuat tatapan mereka terus terfokus padanya.
"Hehehe, Hubby apa yang akan kau lakukan pada mereka." Qi Yue bersikap manja layaknya anak kecil.
Zhukai diam tanpa menjawab, di belakangnya sosok transparan dengan mata merah menyala menatap para Kultivator yang menatap cabul pada Qi Yue.
Tekanan yang begitu besar dari sosok itu membuat para Kultivator bergidik ngeri.
Mereka segera mengalihkan pandangan mereka dari Qi Yue karena takut dengan sosok transparan yang berada di belakang Zhukai.
"Hmm, apakah kamu akan terus duduk di sini?" melihat bahwa para Kultivator itu telah mengalihkan pandangan mereka dari istrinya.
Kai mendengus kemudian bertanya pada Qi Yue yang saat ini masih duduk di pangkuannya.
"Tidak, duduk di sini lebih nyaman bagiku..." jawab Qi Yue.
Kai menghela nafas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Baiklah, sebelum itu kami pakailah cadar terlebih dulu. Wajah cantikmu akan menarik perhatian yang tidak perlu." tegas Zhukai.
Dengan wajah cemberut, Qi Yue mengambil cadar dari cincin ruang.
"Hmph, baiklah..."
Saat ini, tatapan Zhukai di fokuskan pada Mo Kun dan kedua rekan wanitanya yang saat ini sedang melarikan diri.
"Kita sudah lari cukup jauh, karena hutan ini juga sangat luas. Akan memakan waktu yang cukup lama bagi mereka untuk menemukan kita." Mo Kun berkata sambil menyeka keringat di keningnya.
Tepat saat itu juga, Mo Kun mendengar suara pertarungan yang terjadi tidak jauh dari tempat mereka.
"Kalian diam di sini terlebih dulu, aku baru saja mendengar suara pertarungan tidak jauh dari sini. Aku akan pergi dan memeriksa nya." jelas Mo Kun.
Sebelum dia melangkahkan kaki, Ouyang Jin menarik kerah bajunya dan berkata dengan suara pelan.
"Hati-hati..."
Mendengar itu, Mo Kun tersenyum kemudian mengangguk. "Terimakasih...."
Dia kemudian melesat meninggalkan kedua rekan wanitanya untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Karena sebentar lagi malam akan tiba, Mo Kun harus bergerak cepat dan segera kembali pada rekan-rekannya.
"Hampir sampai."
__ADS_1
Ketika suara pertarungan semakin keras terdengar oleh telinga nya, Mo Kun mulai memperlambat langkahnya sambil menyembunyikan hawa keberadaan nya.
Saat dia melihat apa yang ada di balik pepohonan, dia bisa melihat dua binatang buas yang berada di ranah Supreme God saling bertarung satu sama lain.
"Melihat dari banyak luka serangan yang di terima oleh beruang itu, pertarungan ini akan berakhir dengan cepat."
Benar saja, setelah Mo Kun menunggu selama setengah jam. Suara ledakan yang terus bergema di telinganya tiba-tiba menghilang.
Saat dia melihat apa yang terjadi dari balik pepohonan, tubuh beruang hitam tergeletak di atas tanah sedangkan tubuh ular raksasa memiliki luka yang sangat parah.
Mo Kun menggenggam erat pedang di tangannya dengan tubuhnya bergetar.
Dia menatap tajam pada ular raksasa itu sambil berpikir dalam benaknya, "Haruskah aku melawannya sekarang? Bahkan jika kelabang itu terluka parah, dia masihlah seekor hewan di ranah Supreme God."
Setelah keragu-raguan sesaat, Mo Kun akhirnya memantapkan tekadnya.
"Tidak, jika aku ingin bertambah kuat. Aku tidak bisa bertindak sepengecut ini."
Akhirnya, setelah Mo Kun menarik nafas dan menghembuskan nya beberapa kali. Dia akhirnya melesat keluar dari balik pepohonan sambil menggenggam sebilah pedang di tangannya.
"Jiwa pedang!!..."
Sebuah cahaya menyelimuti tubuh Mo Kun hingga akhirnya memunculkan gambaran pedang menyala berwarna hijau di belakang punggungnya.
Pada saat yang sama, otot-otot di sekujur tubuhnya membesar dengan cetakan pedang kecil terukir di tengah keningnya.
Swosshh!!
Dengan mata menyala, Mo Kun melesat bagaikan predator yang menatap mangsanya.
Ular raksasa yang menyadari kehadiran Mo Kun segera mengeraskan kulitnya. Sayangnya, dia sedikit lambat untuk bereaksi.
Akhirnya, tusukan yang berisikan kekuatan fisik serta Qi miliknya, satu tusukan pedang itu memberi luka yang cukup dalam pada ular raksasa.
Teriakan dari ular raksasa itu menggema dan menciptakan gelombang angin yang mendorong tubuh Mo Kun menjauh.
Setelah beberapa saat, ular raksasa itu menatap Mo Kun dengan niat membunuh.
Dia membuka mulutnya, terlihat dua taring yang tajam dan berlendir. Itu mungkin alasan mengapa beruang hitam itu bisa kalah darinya.
"Gawat!!!.." saat Mo Kun tersadar, dia segera menghindari serangan ular itu.
Dentang-dentang!!
Suara pertempuran mereka berdua terus menggema di hutan. Mo Kun kembali mengayunkan pedangnya beberapa kali.
__ADS_1
Sayangnya, kulit ular ini telah berubah sangat keras layaknya sebuah baja.
Saat Mo Kun terfokus menghindari serangan dari taring ular itu, ekor ular itu mengayun dengan sangat cepat kearahnya.
Mo Kun yang tidak menyadari itu menerima serangan dari ekor ular tepat di pinggang kanannya.
Dia terhempas jauh hingga tubuhnya menghantam pohon besar. Pedang di tangannya terlempar jauh sedangkan Mo Kun memuntahkan banyak darah segar.
"Uhuk!!!... Haaa, apakah aku memang selemah ini."
Di saat Mo Kun melihat ular raksasa itu melesat kearahnya, dia hanya diam tanpa mencoba menghindar.
Bukannya dia tidak mau, tetapi setelah menerima satu serangan dari ular itu tulang rusuk dan tulang kakinya telah hancur.
Adalah sebuah keberuntungan bahwa Mo Kun masih hidup setelah menerima serangan itu.
"Kurasa ini adalah akhir dari hidupku."
Saat Mo Kun memejamkan matanya, ingatan di mana Zhukai mengajarinya dan bersusah payah membantunya tiba-tiba membangkitkan sesuatu di dalam dirinya.
Saat Mo Kun membuka mata, ular raksasa itu sudah sangat dekat kearahnya dengan mulut terbuka lebar.
"Sword Emperor, nafas kaisar pedang!!.."
Boommm!!
Ledakan yang begitu besar terjadi setelah Mo Kun mengeluarkan tekniknya, suara ledakan itu terdengar dengan jelas di telinga Ouyang Jin dan Nalan Ruyue yang sedang menunggu Mo Kun di bawah pohon besar.
"Arah itu, mungkinkah!!!...."
Dengan wajah cemas sekaligus panik, kedua wanita itu segera berlari menuju ke tempat di mana sumber ledakan itu berasal.
Sementara di dunia luar, para penonton yang melihat itu terdiam. Bahkan Li Cangtian yang melihatnya memperlihatkan senyuman puas.
"Kekeke, seperti yang di harapkan dari orang yang menarik perhatianku. Bahkan dengan perbedaan ranah seperti itu, dia bisa membunuh ular raksasa itu."
Sementara itu di kursi penonton di mana Zhukai duduk, dia mengerutkan keningnya dengan wajah tidak puas.
"Pria bodoh ini... Mengapa kau baru mengeluarkan teknik itu di saat-saat terakhir bodoh!..." Kai mencibir saat melihat bagaimana pertarungan Mo Kun melawan ular raksasa.
"Sudah-sudah, kejadian itu bisa menjadi pengalaman yang baik untuknya Hubby." ucap Qi Yue saat dia melingkarkan lengannya di leher Zhukai.
"Haahhh, kurasa kau benar. Setelah babak pertama ini berakhir aku akan memberinya beberapa pelatihan. Tak kusangka dia juga bisa mempelajari teknik Sword Emperor secepat itu."
Kai berkata sambil menunjukkan sedikit rasa antusias.
__ADS_1
****
Bersambung...